Elle

Elle
BAB 14 . MENCARI LUCY



JANGAN DIBUKA !!


( Fragile atau tulisan peringatan yang ditulis oleh sipengirim pada sebuah paket ) .


"Sreeett..." seorang pria membuka perekat lapisan kertas bagian luarnya pada sebuah paket berukuran kotak besar, dan kembali menemukan tulisan peringatan .


SAM , AKU AKAN MEMBUNUH MU..!!!


"Paket dari siapa..??" tanya seorang wanita cantik bertubuh tinggi semampai, dengan gaya Sporty mengenakan kaus putih, jaket dan celana olah raga warna hitam .


"K-kau, mengagetkan ku saja.." tengok pria itu melonjak kaget seraya mengusap dadanya .


"Sam, aku akan membunuh mu..!!" ucap gadis itu membaca tulisan yang tertera pada paket .


"Hahhaa, jelas itu Lucas..!!" tawa gadis itu .


"Dasar bodoh, sudah jelas dipaket itu tertulis JANGAN DI BUKA Masih saja kau buka..!" umpat gadis itu pada teman prianya yang bernama Sam .


"Aku hanya penasaran" ucap Sam menggaruk belakang kepalanya .


*****


"Hoaaammm.." seorang gadis tengah menguap seraya meregangkan otot-otot tangannya .


"Minum ini, untuk menghilangkan pengar dikepala mu..!!" Lucas yang sedari tadi menunggu Elle bangun dari tidur nyenyaknya, menyodorkan teh herbal pereda pengar akibat mabuk berat .


"Terimakasih.. Emm, apa semalam aku mengacau..?!" tanyanya hati-hati .


"Cepat bangun dari tempat tidur mu, dan segera mandi !!" ucap Lucas sedikit kesal .


"Huft.., dia benar-benar marah" ucap Elle seraya melangkah ke kamar mandi .


E&C HOLDINGS


"Nona aku ingin bertemu dengan Lucy Monteno, ruangannya berada dilantai berapa..??" tanya Elle ramah pada seorang resepsionis .


"Maaf dengan siapa aku berbicara, dan boleh aku meminta kartu pengenal anda Nona??" tanya balik resepsionis itu .


"Aku putri dari Lucy Monteno, dan nama ku Elijah Cherelia Monteno . Bisa kau tunjukan dimana ruangan ibu ku?! Dan ini kartu pengenalku.." Elle menyodorkan kartu pengenalnya pada resepsionis .


Resepsionis itu terdiam seraya memperhatikan kartu pengenal Elle .


"Maaf Nona, hampir semua karyawan disini tidak ada yang pernah melihat langsung wajah Pimpinan, kecuali Direktur Utama dan jajaran atas perusahaan" tutur resepsionis itu lembut .


"Jika begitu, bisa kau tunjukan dimana ruangan Direktur Utama?!" tanya Elle sedikit khawatir tentang keberadaan ibunya .


"Saat ini tuan Jerome sedang tidak ada di Kanada, beliau tengah melakukan perjalanan bisnis di Luar Negeri . Jika anda mau, Nona bisa meninggalkan pesan atau nomor telepon yang bisa dihubungi" tutur resepsionis .


"Emm, aku tidak memiliki handphone" ucap Elle berbalik seraya menatap Lucas .


"Berikan saja nomor tuan Jerome, biar nanti kami yang menghubunginya !!" pinta Lucas pada resepsionis .


"Maaf tuan itu bersifat privacy, kami tidak bisa memberikannya.." tolak resepsionis itu dengan ramah .


"Baiklah ini nomor telpon rumahku" Lucas menyaut bulpoin dan kertas kecil diatas meja .


"Jika nanti dia sudah kembali dari perjalanannya, katakan putri dari Lucy Monteno mencarinya, dan suruh dia menghubungi ke nomor itu !!" pinta Lucas seraya menyodorkan kertas ke resepsionis .


"Tenanglah, ibu mu pasti akan baik-baik saja.." ucap Lucas memegang tangan Elle menenangkannya dari ke khawatiran .


Ditempat lain...


PRAAANG


Suara pecahan gelas berasal dari sebuah kamar, terlihat kucuran darah disela-sela jari seorang pria . Ia menyapu bersih semua barang yang ada diatas meja menggunakan tangannya, terlihat banyak serpihan kaca bertebaran dilantai yang berasal dari gelas dan minuman beralkohol .


"Ciiihh, dasar wanita sialan.." pria itu menggeram kesal menatap kesebuah layar monitor, seraya mengepalkan kedua tangannya yang berlumuran darah, beberapa saat kemudian tubuh pria itu limbung dilantai nafasnya tersengal-sengal, ia menutup rapat kedua telinganya seraya memejamkan mata . Dengan suara yang sudah parau ia memanggil para bawahannya, tidak butuh waktu lama, akhirnya para bawahan sudah berada dikamar pria tersebut . Salah satu dari mereka yang mengenakan kemeja biru berkaca mata, memiliki penampilan berbeda dari orang-orang yang berjas hitam, pria berkaca mata berusia 30 tahunan itu tengah menyuntikan obat penenang pada sang pemilik kamar, yang kemudian ia lanjutkan mengobati luka pada bagian telapak tangan .


"Chris bagaimana keadaan tuan Arael, apa ia baik-baik saja ??" tanya seorang pria paruh baya yang bernama Bart .


"Seperti biasa" jawab singkat pria bernama Chris itu .


"Ayah aku mempelajari keadaan tubuh tuan Arael, dan aku tidak dapat menemukan nama penyakitnya dalam dunia kedokteran" tanya Chris heran pada ayahnya .


"Kau tahu, nasib seseorang yang ingin tahu banyak tentang orang lain..?! Pada akhirnya mereka akan mati mengenaskan.." ucap Arael menghujani mereka dengan tatapan dinginnya, sontak keduanya terkejut mendapati Arael sudah berada dibelakang mereka .


"M-maaf tuan, bukan seperti itu maksud putraku.." ucap Bart menjelaskan dengan nada ketakutan, berbeda dengan Chris hanya diam tanpa bersuara .


"Antarkan aku ke wanita itu !!" pinta Arael pada Bart .


"Baik tuan" keduanya pun berlalu menuju kamar seorang wanita .


Chris masih terdiam seraya mengamati, pikirannya kembali kemasa lalu mengenang pertama kali ia bertemu dengan Arael, saat itu usianya 10 tahun ketika ayah serta pamannya bernama Jhon membawa Arael kerumahnya dengan keadaan yang terluka parah . Pertemuan keluarganya dengan Arael merubah perekonomian keluarga mereka, ia dapat dengan mudah melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi hingga ia menjadi seorang Dokter Spesialis Saraf ( Neurologis ) terkemuka, serta pamannya yang bernama Jhon menjadi pengusaha Real Estate yang cukup sukses .


"Ckleeek"


"Tinggalkan kami berdua Bart..!!" ucap Arael pada Bart yang dibalas anggukan dan berlalu keluar kamar .


Kini mereka saling menghadap bertatap muka untuk pertama kalinya .


"Berapa lama kau akan mengurungku disini..??" tanya wanita itu yang tak lain adalah Lucy .


"Ciih, kau pikir aku hanya akan mengurungmu saja disini tanpa membunuh mu..?!" seringai Arael menatap tajam ke arah Lucy .


"Aku tidak perduli apa yang akan kau lakukan padaku dikemudian hari, tapi aku memohonkan satu hal padamu . Tolong jangan menyakiti putriku lebih jauh lagi, dengan memberikan rasa kekhawatiran atas menghilangnya aku, itu sudah cukup menyakiti hatinya.." ucap Lucy lirih setengah memohon, terdapat kilauan dimanik matanya yang coklat menahan tangis .


"Sebelum mengkhawatirkan orang lain, seharusnya kau bertanya siapa aku, dan alasan aku mengurung mu..?!" sergah Arael menatap tajam ke mata Lucy .


"Elle bukan orang lain ia putriku..!!" ucap Lucy menatap lekat kedalam mata Arael .


"Aku tahu kau bukan berasal dari bangsa manusia, kau menjebak ku melalui kristal kalung Cherelia yang tersimpan di Museum, dan hanya bangsamu yang mengetahui jenis kristal apa itu" lanjutnya kembali seraya memalingkan pandangannya dari Arael .


Arael terkejut mendengar penuturan Lucy, ternyata wanita dihadapannya itu sengaja menghantarkan dirinya sendiri untuk menemuinya .


Tiba-tiba....


"Aaarghhh..." Arael teriak ia merasakan kembali rasa panas terbakar menyelusup ke jantungnya, berbagai suara bertabrakan ditelinganya dan ia memejamkan mata karena bayangan orang-orang disekitar berkelebat dipelupuk matanya . Seketika kerumunan orang berlari kearah Arael, dan terlihat Chris sudah bersiap dengan alat suntiknya hendak menyuntikan obat penenang pada Arael .


"Jangaan..!!" teriak Lucy mengangkat salah satu tangannya memberi tanda .


"Tuan Arael membutuhkan_"


"Itu hanya akan menenangkannya sementara, dan akibatnya akan lebih memberikan rasa sakit padanya"


"Tenanglah, cukup fokus pada suaraku dan bayangkan kau tengah memegang selembar kertas kosong yang terdapat satu titik, bayangkan titik itu adalah aku..!!" Lucy memeluk erat tubuh Arael yang bergetar hebat, menyalurkan kehangatan pada tubuh Arael yang dingin .


~ Wulania ~