Elle

Elle
BAB 25 . KAU IBU KU



"Tuan Lego ... ?" pekik gadis itu membelalakan kedua matanya, yang tak lain adalah Elle.


"Mau sampai kapan kau menindih tubuh ku?" ucap Daniel bernada kesal seraya memalingkan wajahnya kesamping.


"Ah, m-maaf ...." Elle bergegas bangun dan merapihkan kembali pakaiannya, begitu pun Daniel merapihkan jaket kulitnya, dan menepuk pelan dibagian siku dan kedua lututnya yang terlihat kotor.


Elle begitu terperanjat ketika kedua bola matanya mengitari keadaan sekitar, mobil sedan berwarna silver yang nyaris menabraknya kini tersungkur dibahu jalan. Bagian depan mobil ringsek, kap mobil dan bumper rusak parah sungguh pemandangan yang mengerikan. Tubuhnya bergetar hebat dan raut wajahnya berubah menjadi pucat. Pikirannya menggiring ia untuk berandai. Andai saja, pria dihadapannya tidak menolongnya. Mungkin saat ini dirinya hanya tinggal sebuah nama.


"Aaaww ...." Tiba-tiba Elle meringis kesakitan memegang tengkuk lehernya. Ia merasakan rasa panas merangkak dari leher yang perlahan mulai menjalar ke jantung.


Daniel yang mendengar ringisan Elle, segera memeriksa keadaan gadis dihadapannya.


Pria yang masih dengan wajah datarnya, meneliti tubuh Elle terutama bagian leher. Ia menyibakan rambut Elle kesamping secara pelan. Dengan teliti ia memeriksa setiap inci bagian leher jenjang gadis itu, kiranya terdapat luka memar.


"Tak ada luka lecet mau pun memar," ucap Daniel setelah memeriksa keadaan tubuh Elle.


"Hanya saja ... dibagian tatto mu mengeluarkan cahaya samar berwarna merah," sambung Daniel mengerutkan dahi hingga kedua alisnya saling bertautan, merasa aneh dengan penampakan tatto dileher gadis bermanik biru itu.


"Tatto? Aku tidak memiliki tatto ...." Kernyit Elle keheranan, dan Daniel yang menangkap ekspresi wajah Elle, berpikir mungkin itu luka akibat kecelakaan yang baru saja menimpa mereka.


"Aku akan mengantar mu ke rumah sakit," ucap Daniel menawarkan diri.


"Tidak perlu, aku tidak mau merepotkan mu, dan terimakasih banyak sudah menolongku. Jika tadi kau tidak menolongku mungkin aku sudah--" Jawab Elle sungkan, seraya membayangkan hal buruk yang nyaris menimpanya.


"Dimana tempat tinggal mu?" tanya Daniel memotong ucapan Elle.


"Hah?"


"Aku akan mengantar mu pulang," sambungnya, seraya melangkah menuju mobil yang terparkir diseberang jalan dari tempatnya berdiri. Dan Elle pun mengekorinya dari belakang.


Keduanya sudah berada dalam mobil, Daniel melajukan mobilnya dibawah kecepatan rata-rata. Dan Elle memberi arahan jalan menuju tempat tinggalnya pada pria yang masih berekspresi datar itu.


"Turunkan aku didepan rumah yang bercat warna putih, itu tempat tinggalku," tutur Elle menunjuk rumah yang kini menjadi tempat tinggalnya.


Yang sedari tadi Daniel memperlihatkan ekspresi datar diwajahnya, berubah menjadi ekspresi wajah mengeras, terlihat otot rahangnya menegang dan tatapannya menajam, menatap lekat rumah yang ditunjuk Elle.


"Terimakasih banyak untuk pertolongan mu hari ini." ucap Elle membuka pintu mobil dan menutupnya kembali, seraya tersenyum tipis ke arah pria yang masih bersikap dingin. Daniel langsung melajukan mobilnya, tanpa membalas ucapan terimakasih Elle.


Dibalik tirai Alex memerhatikan mobil yang tak asing baginya, keterkejutan dan rasa takut terlihat jelas diraut wajahnya.


Elle berjalan dengan tubuh sedikit gontai, dan membuka pintu yang sudah disambut Alex.


"El, tadi siapa yang mengantar mu dan kenapa kau tidak bersama Lucas?" cecar Alex antusias disertai rasa khawatir.


"El, kau sakit?" Alex memerhatikan wajah Elle yang pucat, dan memeriksa suhu tubuhnya dengan meletakan punggung tangannya didahi Elle.


"Kau demam, aku antar kau ke kamar." Alex menuntun Elle kekamar dan membantunya berbaring ditempat tidur.


"Aku akan menelpon Lucas." Alex hendak merogoh handphonenya disaku celana, tapi ia urungkan ketika Elle melambaikan tangannya, memberi tanda agar ia tidak menelepon Lucas.


"Baiklah, aku akan mengambil obat dan juga kompresan." Alex yang paham langsung keluar dari kamar.


Alex masih termenung, hati dan pikirannya masih tertuju pada sosok pria yang mengantarkan Elle. Namun sejurus kemudian ia menepis pikirannya, mungkin saja matanya salah mengenali orang, pikirnya. Ia pun kembali ke kamar Elle dengan membawa obat dan kompresan, dengan telaten ia merawat gadis yang tengah kehilangan ibunya itu.


***


Mata yang terkatup indah menjelajahi dunia mimpi, kini mulai mengerjap membawa kembali ke alam sadarnya.


"Cepat bangun, kau sudah melewatkan makan siang. Yang pasien disini itu aku, kenapa kau yang terlelap tidur." Ketus nyonya Martha pada Lucas yang menguasai tempat tidurnya.


"Semalaman aku tidak tidur." Desah Lucas menghampiri ibunya yang tengah duduk disofa, dan mendaratkan tubuh di sampingnya.


Beberapa saat mereka menciptakan keheningan. Kecanggungan terasa dikeduanya.


"Bu, apa ibu membenci ku?" tanya Lucas membuka obrolan, namun matanya tak berani menatap sang ibu, ada rasa takut menghimpit jantungnya, akan jawaban yang akan dilontarkan wanita disampingnya.


"Bukan kau yang aku benci ... " lirih nyonya Martha, menahan genangan butiran bening dimatanya.


"Ahh, tentunya kau membenci wanita yang melahirkan ku." gelak Lucas tersenyum tipis.


"Tidak, aku tidak pernah membencinya mau pun diri mu. Aku membenci diri ku sendiri." Menatap Lucas nanar.


"Aku berharap wanita yang melahirkan mu adalah wanita ******, dengan begitu aku tidak akan menjalani kehidupan semenyedihkan ini. Tetapi pada kenyataannya ibu mu wanita terhormat, ia wanita yang sempurna. meski ia tidak memiliki nama dan keglamoran yang sudah ku miliki sejak lahir. Namun ia memiliki segalanya yang aku butuhkan dan juga cinta ayah mu," ucap nyonya Martha menatap lekat manik putranya.


Lucas terkesiap mendengar penuturan ibunya, karena selama ini ia berpikir bahwa dirinya lahir dari seorang *******.


Nyonya Martha menangkap raut wajah Lucas, ada rasa keingintauan tentang sosok wanita yang melahirkannya.


"Abigail Lucas. Itu nama ibu kandung mu. Ia gadis perkebunan dari kota kecil, dengan keluguanya telah berhasil memikat ayah mu. Tetapi bukan dia yang hadir diantara kami, melainkan aku yang hadir diantara mereka," sambung nyonya Martha, dengan tangisannya yang tak terelakan lagi, semua kenangan pahit yang membelenggunya bertahun-tahun ia tumpah ruahkan dihadapan anak yang selama ini ia rindukan.


Lucas merengkuh tubuh sang ibu kedalam dekapannya. Ia merasakan kepedihan yang menyingalir bersama tangisannya.


"Tak perlu mengandung dan melahirkan ku. Cukup berikan aku cinta, dan jadikan aku putra mu. Maka kau ibuku!"


~ Wulania ~