Eldrea Academia and The One That Stars Chose

Eldrea Academia and The One That Stars Chose
Chapter 46 : Darah di Taman Bunga Bagian 3



“Woaaaahh!”


“Kalian hebat sekali!”


Teriakan dari penonton mulai memecahkan keheningan yang ada di koloseum. Pemandangan yang sedang mereka saksikan ini sepertinya tidak terlalu mereka pedulikan sama sekali.


Melihat kegembiraan mereka karena ada tiga anak kecil yang mampu membunuh seluruh kompetitornya itu benar-benar membuat kami muak. Tidak ada kemanusiaan yang bisa kami lihat di koloseum.


“Dasar orang-orang sinting!” ujar Viona kesal memperhatikan penonton yang menari dan berteriak gembira.


Tanpa sadar aku sudah mengepal tanganku dengan keras. “Kita harus menahan ini sedikit lagi.”


Suara napas kasar terdengar dari Kevin, wajahnya benar-benar terlihat menyeramkan saat ini. “Jika saja ini bukan untuk rencana kita ….”


Aku mengerti tentang perasaan mereka, tapi kami harus bisa menahan perasaan kami untuk saat ini. Setidaknya sampai kami direkrut oleh Duke sialan itu, hanya sebentar lagi.


“Sungguh menakjubkan! siapa sangka kita akan melihat sebuah pembantaian dari tiga anak kecil!” tutur si pembawa acara menggunakan sihir pengeras suara. “Sekarang kita akan menyaksikan penyerahan hadiah bagi ketiga pemenang kita!”


“Yeaaah!!!”


Kini seorang prajurit yang terlihat seperti memiliki pangkat tinggi mulai menghampiri kami, dia diikuti oleh dua prajurit lainnya. Satu prajurit membawa sebuah nampan merah dengan sebuah kantung di atasnya, dan satunya lagi membawa nampan dengan tiga buah medali di atasnya.


“Yang benar saja, mereka ingin menghadiahi kita karena telah membantai orang-orang itu?!” ucap Viona sedikit berbisik.


Kevin yang berusaha keras menahan amarahnya pun membalas ucapan Viona. “Tahanlah sebentar lagi, Vio ….”


Kemarahan kami bertiga sudah sangat sulit untuk dibendung. Jika saja kami tidak butuh mendekati Duke sialan itu, kami pasti tidak perlu melewati semua ini.


Wajah dari prajurit terlihat sangat dingin, matanya seolah sedang menelanjangi kami dengan terus menatap tajam ke arah kami. Prajurit tersebut mengangkat tangan kanannya, memberi aba-aba pada bawahannya.


Prajurit yang sedang membawa nampan berisi kantung itu mulai mendekat padaku, si pemimpin tersebut mulai memberikan kantung itu padaku. Matanya masih tak henti-henti menatap tajam padaku.


“Duke Lucius ingin bertemu dengan kalian setelah dari sini,” ucap prajurit tersebut.


Aku berusaha menenangkan diriku, aku tak bisa menjawabnya dengan suara penuh amarah. “Ehem, baik Tuan, tapi di mana kami akan menemui, Tuan Lucius?”


“Setelah dari sini, kalian bisa pergi ke kediaman Duke,” jawabnya, dia juga mulai memberi aba-aba pada prajurit satunya dan memberikan medali itu pada kami. “Medali ini akan membuat kalian diizinkan masuk ke kediaman Duke.”


“Terima kasih, Tuan!” jawab kami serentak.


Upacara penyerahan hadiah telah selesai sekarang, kami mulai pergi keluar arena dan langsung menuju hutan. Darah di tubuh kami menghilang seketika kami keluar koloseum, senyum kecil juga mulai menghiasi wajah kami bertiga.


Sesampainya di hutan, aku langsung mengarahkan tangan kananku ke atas dan mulai menggunakan sihir Hell Hole. Ratusan orang mulai keluar dari sana, mereka adalah para peserta dari koloseum tadi.


Wajah mereka dipenuhi dengan kebingungan. Saat ini mereka hanya berdiri diam, memperhatikan sekitar mereka dan sesekali tubuh mereka sendiri. Reaksi mereka itu sangat wajar, karena yang mereka tahu, mereka telah mati saat ini.


“Maaf karena membuat kalian menjadi bagian dari rencana kami,” ucapku menarik perhatian mereka yang sedang bingung.


...----------------...


Kita akan kembali ke saat di mana aku memberi tahukan teman-temanku tentang ideku. Wajah dari Guru dan kedua temanku dipenuhi dengan pertanyaan, semua itu karena aku yang secara tiba-tiba menawarkan sebuah rencana, ketika kami mendengar usulan dari para petualang yang kami tahan.


“Jadi, ketika kita akan mengikuti kejuaraan, kita akan menyamar menjadi anak miskin. Akan sangat sulit untuk kita menarik perhatian Duke bodoh itu, jika kita keluar sebagai berlian yang telah dimiliki oleh orang lain,” jelasku.


“Idemu cukup masuk akal, kurasa kita bisa melakukannya,” jawab Guru.


“Setuju!” sahut Kevin dan Viona.


“Baiklah, jika begitu kita akan melakukan rencana ini,” ucapku.


Pemimpin dari para petualang yang sedang kami tahan mulai memotong pembicaraan kami. “Maaf, tapi sepertinya kalian melupakan sesuatu yang sangat penting.”


”Dan apa itu?” tanya Guru.


Mendengar penjelasan darinya membuat kami diam membisu, kami tak mungkin bisa membunuh orang sebanyak itu. Semua harapan yang telah kami dapat mulai sirna seketika.


“Kita tidak mungkin bisa membantai manusia …” ungkap Kevin murung.


Viona hanya tertunduk lesu karenanya. Namun ketika kami sedang terdiam, Guru mulai menjentikkan jarinya dan berkata pada kami. “Ilusi! Kita bisa menggunakan sihir ilusi!” ungkapnya.


Sihir ilusi memang sudah sangat normal ditemui, salah satu jenis sihir ilusi yang pernah aku lihat adalah sihir transformasi. Sihir ini mampu menipu kenyataan yang dilihat oleh orang lain sepenuhnya.


Namun sihir ini membutuhkan banyak sekali mana, tidak mudah untuk menggunakan sihir ilusi sebesar itu untuk menutupi seisi koloseum, tapi semua itu jika orang lain yang melakukannya.


“Kau benar Guru!” jawabku, “kita bisa menggunakan sihir ilusi untuk menipu semua orang di sana.”


“Tentu saja, sekarang kalian tidak perlu cemas tentang membantai manusia,” sahut Guru, "kalian hanya perlu membuat mereka pingsan dan tidak membunuh satu sama lain."


Kevin dan Viona yang tadi memasang wajah murung mulai semringah. Sekali lagi harapan datang pada kami. “Kau sungguh luar biasa, Nona!” ucap mereka berdua.


Dengan begini, kami telah memiliki rencana untuk menarik perhatian si bodoh Duke itu. Kami mulai memutuskan peran kami masing-masing, Guru akan masuk sebagai penonton dan memasang sihir ilusi raksasa dari bangku penonton hingga semua orang pergi.


Dan seperti yang sudah kalian ketahui, kami akan masuk sebagai peserta dan bertarung di dalam sana. Namun untuk membawa para peserta itu, Guru menyuruhku untuk menggunakan kemampuanku.


“Deron, kau perlu menggunakan kemampuanmu itu untuk membuat sebuah sihir yang bisa membawa semua peserta ke dalam dimensi lain. Buatlah layaknya kantung dimensi raksasa untuk ratusan orang,” ucap Guru.


“Apakah aku bisa melakukan itu?” tanyaku.


“Coba saja, aku percaya padamu.”


Dengan perasaan ragu, aku mulai mengikuti saran dari Guru. Siapa sangka ternyata apa yang Guru ucapkan itu benar, aku bisa membuat sihir milikku sendiri hanya dari sugesti yang aku berikan pada diriku.


Aku masih tak tahu kenapa aku bisa memiliki kemampuan seperti ini, tapi jika ini memang berkat yang diberikan tuhan padaku. Maka aku hanya perlu menggunakannya sebijak mungkin. Begitulah rincian dari rencana besar kami untuk menarik perhatian dari Duke.


...----------------...


“Terima kasih!” ucap para peserta yang selamat itu serentak.


Mereka terlihat sangat bersyukur karena masih bisa hidup, memang mereka masih membutuhkan uang untuk menjalani kehidupan mereka, tapi bukan berarti mereka harus mengorbankan nyawa mereka begitu saja.


“Aku anggap kalian sudah sadar akan seberapa berharganya nyawa kalian semua,” ucapku pada mereka.


“Tentu!”


Seseorang mendekat padaku dan berkata. “Kami pasti akan membalas kebaikan kalian ini,” ucapnya, “kami juga akan berusaha membuat kelompok kami sendiri. Jika suatu saat kalian membutuhkan bantuan, kami akan selalu siap untuk membantu kalian kapan pun itu.”


Ucapannya itu diiringi senyum dari tiap peserta yang selamat. Rasa syukur menyelimuti diriku, dan kurasa kedua temanku juga merasakan apa yang aku rasakan.


Kami juga memberikan hadiah emas yang kami terima dari kejuaraan pada mereka untuk membuat kelompok yang mereka bicarakan. Para peserta itu tak henti-henti berterima kasih pada kami.


“Sekali lagi, kami mengucapkan terima kasih pada kalian,” ucap perwakilan dari peserta selamat, “Namaku, Jack. Aku berjanji pada kalian, jika suatu saat nanti kalian akan mendengar kabar baik dari kami.”


“Terima kasih, Tuan Jack. Perkenalkan namaku, Deron Volva, dan ini kedua temanku.” jawabku sembari menunjuk Kevin dan Viona


“Aku Kevin, Kevin Turner!”


“Viona, Viona Railey!”


Kami saling melempar senyum satu sama lain ketika memperkenalkan diri masing-masing. Syukurlah mereka bisa menemukan arti hidup baru saat ini.


Mereka akhirnya berpamitan dengan kami dan meninggalkan kami di hutan ini. Sekarang waktunya untuk kami bersiap menuju kediaman Duke. Sebentar lagi, kami akan segera mengetahui misteri di balik cloning Guru.


“KIta akan segera membongkar kebusukan para bangsawan itu!” ungkap Kevin.


“Yeaaaah!” teriakku dan Viona.