Eldrea Academia and The One That Stars Chose

Eldrea Academia and The One That Stars Chose
Chapter 45 : Darah di Taman Bunga Bagian 2



300 orang peserta sudah memenuhi arena koloseum saat ini. Walau arena koloseum sangat luas, tempat ini tetap penuh sesak karena jumlah peserta yang berpartisipasi. Badan mereka terlihat sangar besar. Namun tak memberi tekanan apa-apa pada kami.


Semua itu karena kebanyakan dari para peserta ini ada di tingkat dua, mereka berani mempertaruhkan nyawa mereka, karena kesulitan bertahan hidup dengan kemampuan mereka saja. Bisa dibilang mereka adalah orang-orang terbuang yang putus asa.


Detak jantungku mulai berdetak tak beraturan karena merasa gugup. Terlihat wajah dari para peserta juga sudah sangat tegang. Beberapa dari mereka malah ada yang melihat ke arah kami berdiri.


Sepertinya para peserta di sekeliling kami berdiri akan mengincar kami terlebih dahulu. Di pertempuran hidup dan mati seperti ini memang sangat wajah jika mereka mengincar yang terlemah terlebih dahulu.


“Baiklah, untuk para peserta, keluarkan senjata kalian!”


Mendengar perintah dari si pembawa acara, semua peserta mulai mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Banyak sekali jenis senjata yang kami lihat saat ini, bahkan banyak yang ukuran senjatanya lebih besar dari badan kami.


“Baiklah mari mulai pertandingannya dengan hitungan mundur dari penonton!”


 Wajah dari para peserta sudah semakin tegang saat ini, semua orang yang ada di sini akan segera bertarung dan saling membunuh satu sama lain. Pertumpahan darah sudah tidak bisa dihindari sekarang.


“Satu!”


“Apa kalian siap?” tanyaku pada Kevin dan VIona.


“Dua!”


“Ya!” jawab mereka serentak.


“Tiga!!!”


Berbarengan dengan hitungan ke tiga dari para penonton. Para peserta yang sedang berdempetan, mulai menyerang satu sama lain. Belum sampai 10 detik kami memulai kejuaraan, sudah ada banyak mayat yang tergeletak di atas arena.


‘Sungguh brutal.’


Dugaanku tentang peserta lain yang akan langsung menyerang kami juga benar adanya. Saat ini kami bertiga sedang diserang dari segala arah. Berkat latihan yang kami lalui bersama Adelyn, kami jadi bisa bekerja sama dengan baik.


Puluhan senjata sedang mencoba menebas kepala kami saat ini. Ini memang sedikit menyulitkan, tapi bukan berarti kami tak bisa melewatinya. Saat orang-orang itu terus berdatangan, aku mulai melemparkan Wind Blow dan Shock Wave secara bersamaan pada mereka.


“Sekarang saatnya!” teriakku


“Baik!”


Kevin dan Viona yang sedari tadi hanya menahan serangan orang-orang itu, kini mulai menyerang balik. Keduanya berlari dengan cepat dan melompat ke atas bahu para peserta lain, lalu menebas kepala mereka satu-satu.


Untukku sendiri, karena aku sudah memiliki sedikit ruang untuk menembakkan sihir ke arah kumpulan para peserta, aku langsung menembakkan sihir api berskala besar untuk membakar mereka sekaligus.


“Hell Blaze!”


Puluhan peserta kini telah terbakar oleh apiku. Sihir api yang sungguh luar biasa besar itu, kini membakar mereka layaknya jerami yang dilahap api. Penyebaran api itu benar-benar mengurangi jumlah peserta yang ada.


“Wooooaaaaahhh!”


“Bocah itu membakar setengah dari peserta lainnya!”


“Siapa bocah-bocah itu?!”


Viona yang masih menebas orang-orang di belakangku itu mulai tertawa. “Haha! Penonton itu belum melihat semuanya!”


“Tunjukan pada mereka, Deron!” teriak Kevin.


“Tentu!” jawabku, aku langsung mengangkat tangan kananku ke atas dan membuka lebar-lebar tanganku. “Hell Hole!”


Hell Hole, sihir yang terinspirasi dari Black Hole. Sihir ini akan menyerap semua benda atau pun makhluk yang terbakar oleh Hell Blaze. Sebuah serangan yang sangat mematikan.


Para peserta yang sudah terbakar menjadi abu itu mulai masuk ke dalam tanganku. Pemandangan ini membuat semua peserta terdiam memperhatikanku. Tidak mungkin, mereka tidak merasakan takut saat ini.


“Sial apa itu?!”


“Yang benar saja! Tidak mungkin kami bisa melawan monster itu!”


Sepertinya pertunjukan yang aku pertontonkan itu berhasil. Saat ini, kami tak akan kesulitan untuk memenangkan kejuaraan. Para peserta yang tersisa kini mulai menelan ludah mereka.


Aku mulai berkumpul lagi bersama Kevin dan Viona, saling memunggungi satu sama lain. “Baiklah teman-teman, sekarang saatnya kita mengakhiri semua ini.”


“Kau benar. Mari tunjukkan pada Duke itu siapa kita ini.” sahut Kevin.


Viona hanya tertawa mendengar ucapan kami. “Kemarilah kalian bodoh!”


Teriakan Viona membuat para peserta yang sedang tertegun mulai berlari ke arah kami. Setidaknya saat ini masih ada 100 orang yang harus kami kalahkan. Angka yang luar biasa banyak, tapi bukan berarti mustahil.


“Bunuh bocah-bocah itu!”


“Kita bisa melanjutkan pertarungan kita setelah mengalahkan mereka!”


“HraaaahhhhH!”


“Kalian yang akan mati, bukan kami!” teriak VIona.


Kami langsung berlari ke arah para peserta itu dan mulai menebas mereka satu per satu. Dari sudut mataku, aku bisa melihat Kevin yang meluncur di antara kaki para peserta dan mulai menyerang mereka dengan gerakan yang sangat terarah.


Kevin menghindari semua serangan yang mengarah padanya dan bahkan membuat serangan lawan itu mengenai satu sama lain. Perhitungannya di situasi seperti itu memang sungguh menakjubkan.


“Sial, bocah ini sangat lincah!”


“Hei! Berhenti menyerang satu sama lain!”


“Kau pikir itu mudah bajingan!”


“Kenapa kalian malah berdebat satu sama lain? Ayolah serang aku dengan benar!” provokasi Kevin.


Ketenangan yang ditunjukkannya itu benar-benar menakutkan. Berbeda dengan Kevin, Viona saat ini malah bertarung dengan sangat brutal. Dia terus melompat di antara tiap serangan para peserta dan menebas mereka seperti sedang memotong rumput.


“Ayolah, jangan mau dipermainkan oleh gadis itu!”


“Dia bukan bocah biasa!”


“Arrggh!”


Viona terus tertawa ketika sedang menebas para peserta. “Apa hanya ini yang kalian bisa lakukan?!”


Banyak sekali peserta yang meninggal karena ulah mereka berdua. Siapa yang akan menyangka, jika 2 anak kecil itu akan menjadi monster yang sangat menakutkan, ketika diberi sedikit latihan.


Sedangkan untukku, aku saat ini sedang berdiri memperhatikan tiap gerakan dari orang-orang di depanku, mereka semua terlihat sangat berhati-hati, karena apa yang telah aku tunjukkan tadi.


“Kemarilah, atau aku yang akan datang pada kalian,” ejekku.


“Sial! Serang saja dia!”


Mereka kini mulai berlari ke arahku. Namun, sebelum mereka dapat mendekat padaku, aku langsung menembakkan Wind Blade pada mereka. Sebuah serangan sihir yang terbuat dari angin ini mampu membelah batu besar dengan rapi.


Creet! Craat!


Suara dari percikan darah yang ditimbulkan karena tubuh mereka terbagi menjadi dua. Hujan darah mulai terjadi di arena saat ini. Para peserta itu tidak bisa melawan kami yang berada jauh di atas mereka.


Belum setengah jam pertandingan dimulai, tapi semua orang telah meninggal karena perbuatan kami. Saat ini di arena hanya menyisakan 3 anak kecil yang berlumuran darah para peserta. Siapa yang dapat menyangka jika pemandangan seperti ini akan ada di kota indah ini.


Kevin melihat ke sekeliling kami. “Sungguh seperti taman bunga yang dipenuhi oleh darah.”


“Kau benar,” jawabku setuju.


Sedangkan Viona hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Keheningan di koloseum saat ini telah menjadi tanda berakhirnya kejuaraan. Aku dan temanku kini mulai menatap ke arah kotak, ke tempat Duke sedang menonton. Dari jauh, kami dapat melihat Duke membelalakkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


Sebuah pertanyaan terpintas dalam benakku saat melihat wajahnya itu. ‘Apa kau sudah tertarik dengan kami, bangsawan bodoh?’