
Ruang tunggu yang baru saja diliputi rasa bahagia karena berhasil mendapatkan point kedua, tiba-tiba saja hening seketika. Aku dan temanku tak percaya dengan apa yang baru saja kami lihat.
Biarkan aku menjelaskan situasinya. Silva yang memasuki arena dengan membawa tombak sebagai senjata pilihannya mulai bersiap untuk bertarung ketika memasuki arena, wajahnya yang tegang dengan amarah itu menjadi tontonan bagi kami.
“Hah! Lihat ekspresinya itu!” ungkap Viona, “Kevin! Kau harus menghancurkan wajah bodohnya itu! Aku percaya padamu!” teriak VIona dari ruang tunggu ketika menonton dari kristal sihir.
Kami sempat berpikir jika itu akan membuat kami diunggulkan karena dia akan bertarung dengan kepala yang penuh emosi. Tapi berbeda dengan dugaan kami, seketika setelah pertarungan dilangsungkan.
Silva mulai melemparkan tombaknya sehingga membuat Kevin terkejut dan mulai kehilangan keseimbangan, Kevin berhasil menangkis tombak yang Silva lemparkan dengan melemparkannya ke udara.
Swiiing~ Bruk!
Namun Silva langsung berlari dan menendang Kevin yang kehilangan keseimbangan. Dia juga berhasil mendapatkan kembali tombaknya itu, sedangkan kini Kevin mulai terjatuh karena mendapatkan serangan telak dari Silva.
Kevin mulai memuntahkan darah dari mulutnya akibat tendangan Silva. Pemandangan ini membuat kami yang berada di ruang tunggu hanya bisa terdiam.
“Kevin …” gumam Viona.
Saat ini Kevin benar-benar terbuka tanpa pertahanan. Dia mencoba bangkit, namun Silva tak memberi sedikitpun kesempatan untuk Kevin menyesuaikan diri. Silva langsung melancarkan serangannya lagi ke arah Kevin, dia memukul rusuk milik Kevin dengan tombaknya sehingga membuat Kevin kembali mengeluarkan darah dari mulutnya.
Viona yang melihat semua itu mulai berlari ke arah lorong arena. “Sial!”
“Viona, tunggu!” Aku lalu mengejarnya, diikuti oleh Adelyn.
Yeeeeaaaaah! Seharusnya kalian bergerak seperti itu dari awal!
Teriakan dari penonton begitu menggema seketika sesampainya kami di lorong arena. Kini kami melihat dengan jelas Kevin yang sedang di serang tanpa henti oleh Silva, Kevin memang bisa menahan serangan yang mungkin berakibat fatal baginya, tapi karena luka yang dia dapat sebelumnya itu membuat pergerakannya jadi terhambat.
Sreeng! Duk! Bruk!
Lagi-lagi Kevin terjatuh karena serangan dari Silva. Dia benar-benar terpojokkan sekarang, tubuhnya juga telah mulai kehilangan keseimbangannya karena memuntahkan banyak darah.
Dengan tubuh tergontai-gontai, Kevin mulai kembali bangkit. Dia menggelengkan kepalanya dan mulai menatap tajam ke arah Silva yang kini hanya memperhatikannya.
“Kenapa?! apa hanya ini yang bisa kau lakukan? Sedari awal kalian memang tidak sebanding dengan kami, jika saja Jex tidak mengikuti emosinya, teman wanitamu itu juga pasti akan merasakan hal yang sama sepertimu,” ucap Silva.
“Berisik! Aku … aku hanya sedikit terkejut, bodoh!” jawab Kevin dengan napas yang tidak beraturan.
“Kau seharusnya tahu posisimu saat ini.”
Setelah mengucapkan hal tersebut, Silva langsung kembali menyerang Kevin, dia mengayunkan tombaknya itu ke arah tangan kanan Kevin yang sedang memegang pedang.
Kevin mencoba menahan serangannya itu, namun karena badannya yang mulai kelelahan, dia tak berhasil menahan serangan Silva sepenuhnya dan membuat pedang yang dipegang olehnya terlempar.
Trank, trank, trank, sreeeet.
Suara pedang milik Kevin yang terjatuh benar-benar terdengar keras, semua orang yang menyaksikannya hanya terdiam menunggu gerakan Silva berikutnya.
“Sekarang kau telah tamat!” ucap Silva.
Dia berlari ke arah Kevin dan menghantam kepala Kevin dengan keras, sehingga membuat Kevin terlempar ke luar arena.
Woooooaaaahhh!!!
Sorakan dari penonton menghentikan lamunan kami dan segera berlari ke arah Kevin. Beruntung Kevin tidak terlihat seperti mengalami luka fatal, namun dia tetap harus segera diobati.
Para pengawas langsung menghampiri Kevin dan memberikan pertolongan pertama padanya. Aku yang melihat semua ini mulai merasakan darahku mengalir dengan lebih cepat, aku akhirnya melirik ke arah Silva yang menatap kami dari atas panggung arena.
Mata kami berdua saling bertemu memberikan pesannya masing-masing, ‘Ini belum berakhir!,’ seperti itulah yang kami pikirkan.
Igor mulai mengumumkan hasil dari pertandingannya. “Baiklah! Dengan ini saya mengumumkan, pemenang dari pertandingan ini adalah, Tim Merah!”
Yeaaahh! Hancurkan mereka! Jangan kalah dari anak-anak kemarin sore itu!
Gemuruh dari penonton benar-benar mengisi stadion, suaranya membuat getaran di sekitar dinding stadion. Silva yang telah diputuskan sebagai pemenang hanya memberikan kami senyum kecil dan berlalu kembali ke ruang tunggu tim Merah.
Viona langsung menggenggam tangan Kevin yang terkulai di tanah. “Jangan bicara dulu! Kita belum kalah, percaya saja pada, Deron!”
“Viona benar, kita belum mendapatkan hasil akhir dari pertandingan ini,” tambah Adelyn.
“Serahkan saja sisanya padaku, kau sudah bekerja dengan baik,” ucapku.
Kevin hanya tersenyum mendengar semua perkataan kami, dia lalu dibawa oleh para pengawas kembali ke ruang tunggu tim biru setelah diberikan pertolongan pertama. Kevin juga ditemani oleh Viona menuju ruang tunggu.
Adelyn yang berada di sampingku mulai mengatakan sesuatu padaku. “Hati-hatilah. Kau pasti bisa melewatinya.”
“Tentu, aku tidak akan bertindak gegabah,” jawabku.
Dengan begitu Adelyn mulai kembali ke ruang tunggu, sedangkan aku langsung menaiki panggung arena dan menunggu kedatangan peserta terakhir dari tim merah … Albert.
Albert! Albert! Albert!
Teriakan dari penonton menggema menyerukan nama Albert.
“Sepertinya ini akan lebih menyenangkan untuk mengalahkan anak bodoh itu,” ucap Guru melalui telepati.
“Kau benar Guru, apakah kita perlu sedikit bermain-main?”
“Jika kau mengatakan itu sebelum pertandingan dimulai, mungkin aku akan memukul kepalamu itu,” jawab Guru, “tapi untuk saat ini … hancurkanlah bocah itu! biarkan dia tahu apa akibatnya macam-macam dengan seseorang yang mengemban nama Volva! Aku akan mengizinkanmu untuk bertindak semaumu untuk sekarang.”
Mendengar semua perkataan Guru, aku akhirnya tak bisa menahan emosiku lagi. Aku pasti akan menghancurkan Albert demi Kevin dan Tristan. Albert yang sedang dipuji-puji oleh penonton ini akan segera mendapatkan semua balasannya.
Karena semangat yang begitu membara untuk menghancurkan Albert, aku jadi tak sadar telah mengeluarkan senyum mengerikan dari wajahku. Aku mencoba menutupi wajahku dengan tanganku, tapi badanku seperti memiliki pikirannya sendiri. Senyumku memang tertutup oleh tanganku, tapi badanku jadi bergetar hebat karenanya.
Igor yang melihat keanehan dariku, akhirnya mulai bertanya padaku. “Hei, apa kau tak apa?”
“Tidak, aku baik-baik saja, aku sangat baik-baik saja …” jawabku tanpa berhenti berlaku aneh.
“... baiklah, tapi jika kau merasa seperti ada sesuatu yang mengganggumu, tolong bicarakanlah padaku sebelum pertandingannya aku mulai.”
“Tentu …”
Saat aku sedang berbicara dengan Igor, Albert akhirnya muncul dan mulai menaiki panggung arena. Sebentar lagi, hanya sebentar lagi aku bisa menghajarnya sesuka hatiku, aku tak perlu menahan diri lagi seperti sebelumnya. Aku bebas!
Dengan wajah bodoh, dia menunjuk ke arah Guru yang ada di pundakku. “Kenapa kau selalu membawa burung itu?” tanya Albert padaku.
Aku tak menjawab pertanyaannya itu dan terus memasang wajah mengerikan ini.
“Apa sebegitu inginnya kau untuk dihajar olehku?! Hentikanlah wajah bodoh itu! Itu membuatku jijik!”
Aku tetap tak mengindahkan ucapannya itu.
‘Kau akan tamat hari ini!’ batinku.
Igor yang memperhatikan ucapan Albert mulai bertanya padaku mengenai Guru. “Nak, apa itu adalah familiarmu?”
“Benar …”
“Baiklah,” ucapnya. Kini dia mulai menggunakan sihir pengeras suara. “Baiklah dengan ini, saya akan memulai pertandingan ke 4, apa kalian berdua siap?” tanyanya pada kami.
“Tentu!”
“Baiklah, Mulai!”
Setelah diberikan aba-aba, aku dan Albert mulai menyerang satu sama lain. Serangan dari pedang kami saling bertemu dengan kuat.
Trenk!
Waktu yang telah aku tunggu-tunggu akhirnya tiba, saat ini aku bisa menghajarnya tanpa ada yang menghalangi, konsekuensi melawan bangsawan? Omong kosong! Sekarang aku hanya ingin menghajarnya, aku akan membuatnya menyesal telah membuatku marah!