
Telepati adalah sebuah sihir yang mampu membuat seseorang berkomunikasi dengan orang lain hanya dengan pikirannya saja. Selama pikiran dari kedua orang yang melakukan telepati terhubung. Maka telepati bisa dilakukan kepada siapa saja.
Namun bukan berarti aku bisa melakukan telepati begitu saja pada setiap orang walau sudah mengetahui caranya. Setiap manusia punya defense mechanismnya masing-masing.
Jika hubunganku dengan orang yang akan aku hubungi tidak begitu kuat. Maka biasanya otak dari orang yang akan kuhubungi itu akan melakukan pertahanan pada sihirku, dengan menganggap sihirku sebagai “benda asing” yang memasuki otaknya.
Ketika itu semua terjadi. Maka otak dari orang yang kucoba hubungi itu akan merasakan rasa sakit. Memang hanya rasa sakit ringan seperti sakit kepala biasa, tapi itu tetap akan mengganggu orang tersebut.
Setelah mengetahui semua cara kerja dasar dari telepati, Gareth mulai menjelaskan padaku bagaimana caranya membuat koneksi dengan telepati.
“Pertama-tama, pikirkanlah orang yang ingin kau hubungi. Setelah kau tahu siapa yang ingin kau hubungi. Salurkan mana pada otakmu dan pikirkanlah apa yang ingin kau sampaikan.”
“Kurasa aku sudah paham dengan cara kerjanya,” potongku.
Gareth mulai menaikkan alisnya dan menatapku dalam-dalam. “Apa kau yakin?”
aku hanya mengangguk pelan. “Iya.”
Aku mulai mencoba melakukan apa yang telah Gareth jelaskan padaku. Pertama aku mengalirkan mana ke dalam otakku, dan mulai memikirkan apa yang ingin aku sampaikan pada guru.
“Guru, apa kau dapat mendengarku? Aku perlu bicara denganmu sekarang.”
Aku tak mendengar sebuah jawaban dari guru sama sekali. Apakah aku gagal dalam menggunakan kemampuanku? Tidak, aku tak boleh menyerah begitu saja, aku harus mencobanya sekali lagi.
“Guru, mohon dengar aku. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan.”
Lagi-lagi aku tak mendengar satu pun jawaban dari guru. Apa perkiraan kami tentang kemampuanku itu salah? Lalu bagaimana dengan aku yang bisa belajar sihir dan bela diri? Apa benar ini hanya kebetulan belaka?
Ketika aku sedang memikirkan hal-hal tersebut. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk punggungku, aku yang merasakan tepukan lembut di punggungku itu mulai berbalik untuk melihat orang yang menepukku.
Guru yang sedang berdiri di belakangku mulai tersenyum padaku. “Kenapa? Bukankah ada yang ingin kau bicarakan?”
Entah sejak kapan Guru berada di belakangku. Apa dia melakukan teleport? Mengingat dia sudah sangat familiar dengan ruangan Gareth. Seharusnya dia bisa melakukan teleport tanpa harus melihat arah tujuannya.
Karena jika dia tak mengetahui pasti tempat dia mendarat ketika melakukan teleport. Bisa saja dia menghancurkan tubuhnya karena bertabrakan dengan benda lain ketika membuka distorsi ruang dan waktu.
“Apa kau mendengar telepati dariku?” tanyaku padanya.
Guru mulai mengangguk pelan. “Tentu.”
“Lalu kenapa kau tak menjawabku?”
“Kau berbicara seperti orang yang putus asa, jadi sepertinya akan lebih baik jika kita berbicara langsung.”
Memang benar ketika aku melakukan telepati, aku berusaha keras agar apa yang aku ucapkan sampai padanya. Tapi bukan berarti aku merasa putus asa ketika memanggilnya.
“Lupakan saja soal putus asa. Ada hal yang perlu aku sampaikan ….”
Aku menjelaskan tentang Hellen padanya. Bagaimana miripnya mereka berdua. Mulai dari fisik sampai ke sikap mereka. Mendengar semua ceritaku, Guru mulai mengeluarkan wajah serius.
Guru mulai menaruh tangan kanannya di dagunya. Kebiasaan yang sering dia lakukan ketika memikirkan sesuatu yang sangat penting. Setelah beberapa saat dia berpikir, dia mulai melirik ke arah Gareth.
“Apa kau tahu siapa murid ini?” tanya Guru pada Gareth.
“Aku tak pernah bertemu dengannya karena pekerjaanku, maaf.” jawab Gareth.
Kurasa apa yang diucapkan Gareth ada benarnya, dia tak terlalu sering bertemu dengan murid-murid akademi. Sepertinya murid yang sering dia jumpai itu hanya aku dan beberapa murid dari kelas royal.
“Aku tak tahu ke mana aku harus mencarinya.”
“Jika dia memang berasal dari kelas magic, maka kurasa gadis bernama Lina itu akan mengetahui tentang bocah ini.” ungkap Guru, “mari kita pergi sekarang,” ajaknya.
“Semoga kalian dapat menemukan petunjuk tentang hal ini,” ucap Gareth ketika kami pergi.
Guru langsung berubah menjadi burung dan langsung hinggap di pundakku. Tanpa membuang banyak waktu lagi, aku langsung berlari menuju ruangannya Lina. Mengingat sebentar lagi kelas akan segera dimulai.
Aku berlari melewati koridor akademi dengan sekuat tenaga melewati beberapa murid yang berlalu lalang. Saat ini aku sangat ingin untuk menggunakan sihir untuk meningkatkan kecepatan lariku, tapi itu hanya akan menarik banyak perhatian padaku. Aku tak boleh bertindak secara gegabah.
Ketika aku sedang berlari melewati Kafetaria, Kevin dan VIona yang baru saja keluar dari sana terlihat begitu terkejut karena melihatku berlari. “Deron?!” ucap mereka berdua.
Aku tak memiliki waktu untuk menjawab mereka dan terus saja berlari menuju gedung serba guna kelas magic. Beberapa kali aku bisa mendengar kedua temanku itu berlari mengikuti ku.
“Hei!”
“Maaf!” seru dari jauh Kevin.
“Jangan berlarian di koridor bodoh!”
“Maaf! Kami minta maaf!” kali ini suara Viona yang kudengar.
Sepertinya mereka tak sengaja menabrak beberapa murid karena mengikutiku. Bahkan beberapa kali mereka juga terus memanggil namaku. Namun aku memilih untuk terus berlari.
‘Nanti juga mereka akan tahu ketika sampai di ruangan Lina’ batinku.
Ketika sampai di depan ruangan Lina, aku langsung mendobrak masuk pintu ruangannya. Teman-temanku juga sudah berhasil mengikutiku ke dalam sana. Di ruangan itu aku tak bisa menemukan Lina.
“Kemana dia pergi?”
Kevin dan Viona yang masih mencoba mengatur napas mereka karena harus berlari setelah makan mulai menepuk pundakku.
“Kenapa kau berlari seperti itu?” tanya Kevin.
Viona yang sedang mencoba mengatur napasnya juga mulai mendengus kesal. “Sial, rasanya aku mau muntah karena harus berlari seperti tadi.”
“Kemana Lina pergi?” tanyaku pada mereka berdua.
Mendengar pertanyaanku yang tiba-tiba hanya membuat mereka menaikkan alisnya dan saling menatap satu sama lain. “Nona Lina?” ucap mereka berdua terheran.
Aku mulai membalikkan badanku dan menatap kepada mereka berdua. “Benar!” jawabku tergesa.
Ketika aku sedang memperhatikan kedua wajah temanku yang keheranan itu, aku bisa mendengar suara langkah kaki dari arah tangga yang kami lalui menuju lantai tiga ini.
Tuk! Tuk! Tuk!
Suara dari sepatu hak tinggi. Apa itu Lina? Aku langsung bergegas melihat suara langkah siapa itu dengan melewati kedua temanku. Ketika aku mencoba melihat pemilik dari suara tersebut.
Mataku mulai terbelalak karena melihat sang pemilik suara langkah tersebut. Ternyata orang yang sedang melangkah naik ke atas itu adalah Hellen. Dia menatap ke padaku dari anak tangga paling atas.
“Kau?!” ucapnya seraya mematung di anak tangga.
“Ketemu!” ucapku sembari tersenyum padanya.