Eldrea Academia and The One That Stars Chose

Eldrea Academia and The One That Stars Chose
Chapter 44 : Darah di Taman Bunga Bagian 1



Para petualang yang kami ikat itu mulai memberikan sedikit informasi untuk kami setelah mendapatkan sebuah paksaan dari Guru. Ada beberapa informasi yang bisa kami gunakan untuk mendekati Duke Lucius.


Informasi pertama, Lucius sering sekali pergi ke kerajaan setiap 3 bulan sekali. Biasanya, Lucius akan meminta bantuan petualang untuk menjadi bantuan tambahan dari iring-iringannya  mengingat dia pergi dengan uang hasil dagangnya.


Informasi kedua. Petualang yang Lucius rekrut merupakan pilihan dari komandan pengawal pribadinya. Biasanya petualang yang dapat di rekrut itu berada dalam tingkat 5 ahli bela diri atau magician circle 5.


Mendengar semua itu memang menguntungkan kami untuk mendekati Lucius, tapi jika kami harus ditest terlebih dahulu sebelum bisa mendekatinya. Maka ini akan menjadi masalah untuk kami, mengingat kami belum ada di tingkat itu.


Aku, Kevin dan Viona saat ini ada di tingkat 4 bela diri. mungkin aku bisa saja lolos karena aku adalah seorang magic  swordman, tapi akan sangat sulit untuk Kevin dan Viona lulus dalam test tersebut.


Kami tak bisa memisahkan diri begitu saja dan mengurangi jumlah anggota dalam kelompok kami. Mencari petunjuk tentang sesuatu kejadian yang sudah lama terjadi itu akan sangat sulit jika hanya dilakukan berdua saja.


"Sepertinya ini akan sangat sulit. Apa tidak ada cara lain?” tanya Guru pada para petualang itu.


“Mungkin ada, tapi ini akan lebih sulit lagi, apa kalian yakin?”


“Yah, tentu saja.”


“Ada satu hal yang bisa kalian lakukan untuk bergabung tanpa mengikuti test tersebut, tapi ini akan sangat sulit untuk dilakukan. Setiap 1 bulan sekali, Gallopolis biasa melangsungkan kejuaraan bela diri di koloseum, kalau kalian bisa menarik perhatian dari Duke, mungkin kalian tidak akan perlu melakukan sebuah test.”


Guru mulai melakukan kebiasaannya ketika sedang berpikir. “Menarik perhatian ya …?” gumamnya. Guru mulai melirik ke arah aku dan temanku. “Apa kalian bisa melakukan itu?”


“Sepertinya kami bisa mencobanya,” jawab Kevin.


“Yah, jika hanya itu satu-satunya cara, maka kita harus mencobanya,” lanjut Viona.


“Bagaimana denganmu?” tanya Guru padaku.


Aku tidak langsung menjawab perkataan mereka. Memang benar ini akan menjadi solusi dari masalah kami, tapi kata “menarik perhatian” yang disebutkan mereka itu sungguh mengganjal pikiranku.


Terlalu banyak cara untuk dapat menarik perhatian seseorang. Hanya ikut serta dan memenangkan kejuaraan saja tidak menentukan apa kita bisa menarik perhatian Lucius atau tidak.


Kepalaku mulai dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan yang bisa membuat Lucius tertarik pada kami. Apa yang akan aku pilih jika aku menjadi Lucius, seorang Duke yang memiliki koneksi ke dunia bawah?


Setelah berpikir beberapa saat tentang kemungkinan yang bisa menarik perhatian Lucius. Sebuah ide mulai terbesit di dalam kepalaku. Satu-satunya cara untuk menarik perhatian dari bangsawan yang memiliki koneksi dunia bawah.


“Deron?” ucap Kevin heran dengan diamku.


Aku yang sedang termenung mulai menatap ke arah mereka bertiga. “Aku setuju, bukan hanya itu, aku juga terpikirkan sebuah ide.”


Kevin dan Viona hanya menaikkan alisnya mendengar ucapanku, sedangkan Guru mulai tersenyum kepadaku. “Hoo, coba jelaskan pada kami tentang idemu itu.”


“Baik! Jadi ketika kita sedang bertarung dalam kejuaraan ….”


...----------------...


Koloseum merupakan sebuah tempat yang luar biasa besar. Tempat ini bisa menampung 50.000 orang penonton. Memiliki 80 pintu, 76 pintu untuk dimasuki oleh penonton dan 4 sisanya merupakan pintu khusus untuk para saudagar, pejabat dan gladiator, atau peserta kejuaraan.


Bentuk koloseum yang bundar terbagi menjadi 4 bagian. Tiap bagiannya sendiri dikhususkan untung status sosial yang berbeda. Koloseum juga memiliki tingkat ketinggian yang berbeda.


Semakin dekat tempat duduk tersebut dengan arena, maka semakin tinggi status sosial dari orang-orang duduk di tempat tersebut, tapi jika berbicara tentang tempat terbaik. Maka dapat dipastikan itu adalah teman duduk milik Duke.


Tempat duduknya berada di barisan paling depan, terletak di atas podium setinggi 2 meter dari lantai arena.  Semua orang bisa mengetahui itu tempat paling istimewa karena tempat itu ditutupi oleh sebuah atap yang membuatnya terlihat seperti sebuah kotak besar yang berisikan bangsawan-bangsawan kelas atas.


Kelompokku saat ini sedang berada di depan pintu koloseum, pintu bagi para peserta. Terlihat barisan para petarung yang akan mendaftar di depan pintu. Pemandangan ini menjadi tontonan tersendiri bagi setiap warga yang hadir.


Kami sendiri saat ini sedang mengenakan tudung hitam. Mencoba menyembunyikan jati diri kami sebagai murid dari akademi pahlawan. Semua ini kami lakukan demi keberhasilan rencana kami.


“Berhentilah seperti itu, kau mulai membuatku ikut cemas!” bentak Viona.


Aku hanya tersenyum pada mereka berdua. “Tenanglah, kita pasti akan berhasil, percaya saja padaku.”


Kevin dan VIona mulai mengangguk pelan, ketegangan di wajah mereka mulai sedikit melemas. Saat ini kami bertiga sedang menunggu antrean untuk daftar. Sedangkan untuk Guru, dia akan menonton kita di dalam koloseum.


Setelah menunggu beberapa saat. Akhirnya giliran kami untuk mendaftar di resepsionis yang berada di dekat pintu masuk. Resepsionis tersebut terlihat kaget ketika melihat kami bertiga yang berada dalam barisan.


“Apa kalian tersesat?” tanyanya.


“Tidak, Nona, kami ingin mendaftar,” jawabku.


“Kalian yakin?” dia kembali bertanya pada kami.


Semua reaksi itu terbilang sangat wajar. Memang tak biasa melihat anak seusia kami ikut dalam kejuaraan. Walau ini dinamakan sebuah kejuaraan. Sebenarnya ini adalah sebuah battle royal yang sangat sadis.


Semua peserta akan masuk ke dalam satu arena besar dan mulai bertarung hingga hanya menyisakan 10 orang yang selamat. Diperkirakan sudah hampir setengah juta jiwa meninggal ketika mengikuti kejuaraan.


“Kami yakin.”


Melihat keseriusan kami, resepsionis tersebut hanya bisa tersenyum sedih, dia lalu memberikan kami sebuah kertas yang akan ditempelkan di dada kami. “Kalian akan masuk sebagai sebuah kelompok benar?”


“Iya, Nona.” jawabku.


Sepertinya dia masih sangat khawatir karena melihat usia kami.


“Baiklah, kalau begitu semoga kalian bisa bertahan di dalam sana.”


Setelah selesai mendaftar, kami lalu masuk ke dalam koloseum melalui pintu peserta. Ketika kami memasuki pintu tersebut. Terlihat banyak sekali orang yang menyambut kedatangan kami bertiga.


“Lihat itu! Mereka masih anak-anak.”


“Kehidupan seperti apa yang telah mereka jalani sampai mengikuti kejuaraan?”


“Hei, nak! Berjuanglah, kami akan mendukung kalian!”


Para penonton benar-benar terlihat antusias ketika melihat kami. Memang mereka berkata seperti sedang mengasihani kami, tapi wajah mereka sama sekali tak bisa menyembunyikan perasaan mereka semua.


Kami sudah seperti sebuah “hiasan” khusus bagi kejuaraan. Dapat melihat anak seusia kami bertarung mempertaruhkan nyawa memang menjadi sebuah keistimewaan bagi para penonton.


Ketika para peserta telah berkumpul di dalam arena. Terdengar suara dari seseorang yang menggunakan sihir pengeras suara, mulai membuka acara dengan begitu antusias.


“Baiklah! Saat ini kita sudah memiliki 300 peserta yang mendaftar. Sebentar lagi kita semua akan segera menyaksikan mereka bertarung untuk memperebutkan hadiah ratusan keping emas! Namun sebelum itu, kita juga akan mendengarkan sambutan dari Duke tercinta kita, Tuan Lucius Maxford!”


Semua orang mulai melihat ke arah kotak khusus yang disediakan untuk tempat Duke menonton kejuaraan. Terlihat seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah mewah berwarna merah, mulai berdiri menatap ke arah para peserta.


“Dengan ini, saya, Lucius Maxford. Akan segera memulai kejuaraan edisi ke 149. semoga para peserta bisa menunjukkan kemampuan terbaiknya pada kita semua.”


YEEEEAAHHH!!!


Teriakan dari seluruh penonton menggema memenuhi koloseum. Sebentar lagi, kami para peserta yang berdiri berdempetan akan mulai membunuh satu sama lain. Melihat pemandangan ini benar-benar membuatku sedikit deg-degan.


Aku mulai menatap ke arah kedua temanku. “Kita pasti bisa melakukannya!”


“Ya!” jawab mereka serentak.