
Perasaan sesak yang menyelimuti dada mulai terasa sedikit berkurang saat ini. Aroma bunga dan daun herbal dari Magical Garden sangat membantuku untuk menghirup udara segar setelah menghirup banyak asap kebakaran.
Dengan pandangan yang sedikit buram, aku mencoba untuk melihat ke sekeliling Magical Garden. Di sana aku melihat Kevin dan VIona yang sedang didudukkan di sebuah bangku taman yang terbuka luas di tengah-tengah taman.
‘Syukurlah’ batinku.
Aku merasa lega karena mereka telah dibantu oleh staff yang ada. Beberapa staff lain juga mulai masuk ke dalam gedung serba guna kelas magic untuk memanggil Lina yang sedang memberikan perawatan darurat pada Tristan.
Sayup-sayup aku bisa mendengar percakapan diantara para staff dan juga Gareth. Mereka sedang membicarakan tentang kemungkinan ada seseorang yang menyerang akademi dan menargetkan Tristan.
“Tuan, bagaimana pun juga, ini bukanlah sebuah masalah sepele, gedung yang telah dibangun oleh batu sihir itu bisa terbakar begitu saja, setidaknya ada seorang ahli yang membakar gedung tersebut dengan sengaja,” ungkap staff tersebut.
“Saya mengerti, tapi saat ini kita harus menghentikan api yang mulai menyebar terlebih dahulu, kita juga tak bisa membiarkan murid-murid menjadi korban karenanya,” jawab Gareth.
Rupanya benar, ada seseorang yang dengan sengaja menyerang akademi dan membakar gedung tempat Tristan dirawat. Saat aku sedang menguping, aku bisa mendengar suara kepakkan sayap dari seekor burung.
“Tuan, apa burung itu milikmu?”
“Itu benar,” jawab Gareth, “sebaiknya kau segera membantu staff lainnya sekarang, biar aku yang mengurus ketiga murid-murid ini, bagaimana pun mereka masuk ke sana karena khawatir akan teman-temannya.”
“Baik. Akan saya lakukan itu.”
Suara langkah kaki mulai berjalan pergi dari sini, sepertinya para staff itu telah pergi meninggalkan Gareth seorang diri. Dan apakah suara kepakkan sayap burung itu adalah Guru?
Aku mencoba membuka mataku dan mulai bangkit dari bangku yang kugunakan untuk berbaring. Pandanganku yang kabur mulai jelas secara perlahan, aku bisa melihat Gareth dan Guru yang ada di pundaknya sedang berdiri melihat ke arahku.
“Apa kau sudah sadar?” tanya Guru padaku.
Aku berusaha mengumpulkan suara untuk menjawabnya. “Sudah Guru.” Aku menoleh ke arah Kevin dan Viona yang kini sedang diobati oleh Lina. “Bagaimana dengan mereka?”
“Mereka baik-baik saja,” ucap Lina sembari terus mengobati mereka.
“Sebaiknya kita segera masuk ke dalam untuk membicarakan masalah ini,” saran Gareth.
Setelah Kevin dan Viona mulai tersadar dari pingsannya, kami akhirnya pindah ke ruangan Lina yang berada di lantai paling atas gedung serba guna. Ruangan kecil dengan banyak buku berserakan di mana-mana. Tak ada satu pun perabotan di dalam ruangan tersebut selain tiang lampu lilin yang mengeluarkan aroma peppermint.
Kami yang melihat itu tak bisa berkata apa-apa, siapalah kami dapat menilai ruangan orang lain. Diantara kami hanya Gareth yang tak memperlihatkan ekspresi terkejut sama sekali, sepertinya ini memang kebiasaan unik dari Lina.
Guru yang berada di pundak Gareth mulai bertransformasi menjadi wujud manusia. Tampaknya Lina sudah mengetahui soal keberadaan Guru, aku menebaknya karena dia tidak memperlihatkan reaksi terkejut sama sekali ketika melihat Guru bertransformasi
“Woaah!” ucap Kevin dan Viona berasamaan dengan setengah sadar.
Benar, seharusnya reaksi seperti inilah yang ditunjukkan ketika pertama kali melihat Guru bertransformasi.
Tanpa mempedulikan reaksi dari Kevin dan Viona, Guru mulai membuka percakapan. “Aku dapat merasakan sisa-sisa mana yang lemah dari gedung itu,” ucapnya, “dilihat dari jejaknya, sepertinya dia adalah salah seorang murid dari akademi.”
“Murid akademi?” tanya Viona kaget, “tapi itu sama sekali tidak masuk akal, bagaimana caranya seorang murid melakukan semua itu?”
“Sepertinya ada seseorang yang memberikan sebuah artefak pada murid itu.” Guru menoleh ke arah Gareth yang tampak shock. “Aku tahu ini mengejutkanmu, tapi kau harus segera mencari murid itu, setidaknya dia masih belum pergi terlalu jauh aat ini.”
“Anda benar. Saya akan mencoba memberitahukan para staff akademi untuk mencari murid tersebut,” jawab Gareth.
Setelah mendengar jawaban dari Gareth, Guru mulai mengeluarkan sesuatu dari kantung dimensi miliknya. “Aku juga menemukan benda ini.” Dia menunjukkan sekeping logam yang di tengahnya ada sebuah gambar laba-laba. “kurasa ini adalah sebuah tanda pengenal dari orang yang menyerang akademi.”
Sebuah medali dari logam dengan gambar laba-laba di tengahnya, apa medali tersebut ada sangkut pautnya dengan bisikan yang aku dengar tadi di taman? Dilihat dari bentuknya, sepertinya medali tersebut telah ikut terbakar di dalam sana, hingga kami kesulitan untuk melihat detail dari medali tersebut.
Pikiranku mulai dipenuhi semua ini. Medali dan penyerangan, aku tak bisa memahami semua ini. Tapi jika aku harus mencari siapa kemungkinan orang yang akan menyerang Tristan, kurasa itu adalah Albert.
Seseorang yang memiliki koneksi dengan Tristan, memiliki kemampuan untuk menyelinap dan menyerang akademi, dan yang paling penting, tidak sedang terluka parah. Setelah memikirkan itu dengan saksama, sebuah nama mulai mencuat dari benakku.
Aku langsung berlari dari ruangan Lina ketika tersadar siapa dalang di balik semua ini. Semua orang yang ada di ruangan Lina mulai terkejut karena melihatku yang lari secara tiba-tiba dengan kecepatan yang luar biasa tinggi.
Sihir listrik yang aku gunakan pada kakiku membuatku berlari dengan begitu cepat melewati bangunan-bangunan akademi. Tanpa mempedulikan orang-orang yang mungkin bisa melihat diriku saat ini, aku terus berlari menuju sebuah tempat yang aku rasa akan menjadi tempat orang itu bersembunyi.
Tanpa memperlambat lariku sedikit pun, aku langsung masuk ke gedung utama akademi dan mulai berlari menuju perpustakaan sekolah, menuju rak kategori swordman.
Telihat di sana seorang pria paruh baya mengenakan sebuah jubah hitam sedang bersama dengan seorang murid akademi. Aku seketika melemparkan Shock Wave pada mereka yang terlambat menyadari kedatanganku.
“Silva! Kau bajingan!”
“De-Deron?!”
Sayangnya seranganku berhasil dihindari oleh mereka, pria dengan jubah hitam itu berhasil membawa Silva menghindar menggunakan sihir tipe cahaya, Teleport. Sebuah sihir yang dapat memindahkan penggunanya ke tempat yang terjangkau oleh penglihatannya.
Mereka berpindah ke langit hutan yang ada di luar balkon perpustakaan dan mulai terjun menjauh dariku. Namun aku tak mau menyerah begitu saja dan mulai kembali berlari menuju mereka dengan sekuat tenaga. Aku melompat dari balkon perpustakaan dengan kecepatan tinggi, sehingga membuatku dapat menjangkau mereka berdua.
Pria dengan jubah hitam itu berdecak kesal. “Ck! Bocah ini tak mau menyerah.”
“Kemari kalian brengsek!”
Aku langsung merapalkan mantra untuk menyerang mereka berdua yang sedang terjatuh ke dalam hutan.
“Hell Blaze!”
Sebuah sihir tipe api yang dapat membuat pusaran api besar di area yang ditentukan, sebuah serangan yang baru aku pelajari ketika masuk ke circle 4.
“Matilah!” teriakku.
“Apa?! bagaimana bocah ini ada di circle 4 ketika masih menjadi seorang murid?” ucap pria berjubah itu.
Seranganku membuat pohon-pohon yang ada di hutan mulai terbakar dengan cepat. Silva dan pria tersebut juga ikut terbakar karenanya, tapi lagi-lagi seranganku gagal. Siapa sangka pria tersebut akan mengeluarkan sebuah kalung yang dapat menyerap sihir apiku begitu saja.
“Bajingan! Kalung apa itu?!”
“Kau tak perlu mengetahui hal itu, lagi pula kau akan segera mati!”
Setelah kami mendarat di hutan, pria tersebut mulai mengambil ancang-ancang untuk bertarung. Sedangkan Silva yang terjatuh di atas pohon, dia mulai menghantamkan dirinya sendiri ke tanah.
Hanya ada aku dan pria tersebut sekarang, setidaknya dengan begini aku akan bertarung satu lawan satu. Begitu pikirku pada awalnya. Siapa sangka ketika aku hendak bertarung, badanku mulai merasakan sakit yang luar biasa sehingga membuatku tertunduk di hadapan pria tersebut.
‘Ugh! Sial! Kenapa efek racunnya bekerja sekarang.’ batinku.
Melihatku tertunduk tanpa sebab, pria tersebut mulai mengeluarkan api berwarna hitam dari tangannya, berniat membakarku hingga mati dengan api hitam tersebut.
“Aku tak tahu kenapa kau terjatuh seperti itu setelah menyerang secara membabi buta, tapi sepertinya inilah akhir hidupmu,” ucapnya,” jika saja aku menemukanmu lebih awal, aku pasti akan membawamu ke hadapan, Tu-”
Kesadaranku mulai menghilang ketika pria tersebut berbicara padaku. Apakah ini adalah akhir dari hidupku seperti yang dia katakan? Sungguh sial, aku terlahir dan dibesarkan di dalam hutan, bahkan mati pun akan berada di dalam hutan.
Aku dapat melihat kobaran api yang begitu besar di depan mataku saat ini, tepat sebelum aku kehilangan pandanganku sepenuhnya.
AAARRGGHHH!!!!