Eldrea Academia and The One That Stars Chose

Eldrea Academia and The One That Stars Chose
Chapter 21 : Anggota Kelompok Bagian 1



Matahari pagi yang ada di musim semi terasa sangat menyejukkan.  Para murid yang berjalan bersama dengan teman-temannya terlihat sangat ceria. Mereka mengikuti arahan yang diberikan pada kemarin siang dan pergi bersama secara berkelompok, ketika melewati hutan akademi.


Terlihat hewan-hewan kecil seperti kelinci dan musang beberapa kali menunjukkan dirinya kepada para murid yang sedang melewati hutan dari balik semak-semak. Siapapun pasti tak percaya jika akan ada orang asing menyerang mereka dari sana. Bagaimanapun itu hanya alasan yang dibuat-buat oleh Gareth.


Kevin dan VIona yang telah menungguku di depan gedung asrama laki-lakipun menyambutku dengan senyumdi wajah mereka. Pagi ini kami sangat bersemangat, aku tak perlu menanyakan kenapa mereka berdua merasa begitu bersemangat karena sepertinya kami semua memiliki alasan yang sama untuk merasa seperti ini.


“Ahli strategi kita sepertinya memang selalu membutuhkan waktu lama untuk bersiap di pagi hari,” ucap Kevin mengejek.


“Apa kau selalu bangun terlambat?” tanya Viona.


“Bisa dibilang seperti itu, ketika aku tinggal di hutan, pagi hari itu sangatlah terasa dingin sehingga membuatku selalu kembali tidur. Sepertinya itu sudah menjadi kebiasaanku untuk bangun jam 8 pagi,” jawabku, “Tapi sekarang aku harus bangun jam 7 karena kelas mulai setelah jam 8,” lanjutku mengeluh.


Dengan sedikit tertawa VIona menjawab perkataanku. “Yah, tapi sebaiknya kau membiasakan diri untuk hal tersebut. Ada pepatah mengatakan ‘jika kau bangun terlambat, rezekimu bisa dimakan goblin’ atau yang seperti itulah.”


Kevin menghela napas panjang mendengar ucapan Viona. “Ayam, VIo, ayam ….”


“Ayam? Jika memang dimakan ayam, berarti setiap kita memakan ayam, kita itu sedang memakan rezeki orang lain?”


Aku dan Kevin tak bisa berkata apa-apa. Kami benci mengakui hal ini, tapi apa yang dikatakan oleh Viona itu sangat masuk akal. Sepertinya dia juga bisa naik kelas dengan cepat karena pikirannya yang imajinatif itu.


Bahkan Guru yang berada di pundaku sebagai burungpun mengatakan hal serupa. “Selama hidupku yang telah melewati 2 generasi, itu adalah hal konyol yang paling masuk akal yang pernah aku dengar.”


Kami tertawa setelah mendengar ucapan Guru. Memang benar, percakapan-percakapan seperti inilah yang dapat menguatkan setiap ikatan dalam hubungan manusia. Sungguh, siapa yang akan menyangka jika percakapan kecil seperti ini justru adalah hal utama yang bisa menguatkan manusia dari setiap cobaan dalam hidupnya.


“Hah! Lihat orang-orang bodoh ini sedang tertawa dengan seekor burung. Benar-benar cocok untuk kebodohan mereka,” ucap Albert sembari melewati kami.


Silva yang berjalan bersama Albert pun ikut memprovokasi kami. “Kuharap kalian tidak lupa, jika duel memerlukan anggota yang sama diantara kedua belah pihak. Kalian tak mau dipermalukan dihadapan setiap murid bukan?”


Kami mengabaikan provokasi dari mereka dan hanya memperhatikan mereka pergi melewati kami. Punggung 4 ikan itu benar-benar menggodaku untuk menusuknya dengan tombak ikan, tapi aku tetap harus menahan diri. Besok, besok mereka akan mendapatkan semua balasannya.


Viona menyeringai karena ulah mereka. “Kita lihat saja besok ….”


“Kau benar, VIo. Kita masih harus menahan diri untuk sekarang. Tapi ucapan Silva ada benarnya, kita masih memerlukan orang untuk bergabung bersama kita saat ini. Mengingat sifat mereka, aku akan ragu jika mereka mau mengurangi jumlah anggotanya ketika melakukan duel,” ungkap Kevin.


Sekarang kami mendapatkan sebuah masalah baru, jumlah anggota kelompok kami agak menyulitkan kami untuk tetap melaksanakan duel dengan Albert dan bawahannya. Aturan menjengkelkan ini dibuat untuk mendatangkan perasaan adil bagi setiap kelompok yang melakukan duel.


“Kurasa kita hanya bisa mengambil seorang murid miskin secara acak, kita hanya perlu memberikan dia uang sebagai kompensasi keikut sertaanya,” ucap Viona menyarankan kami.


Kevin menggelengkan kepalanya dan menghela napas. “Tapi tetap saja, memaksa seseorang bertarung dengan kita itu cukup berlebihan,”


“Sepertinya kita hanya perlu menyuruh orang itu mengundurkan diri di awal duel, sehingga kita tetap dapat melaksanakan duel tersebut,” saranku, “Tapi itu sama saja membiarkan satu ikan lolos begitu saja setelah kita menebar jala.”


Kami menghela napas secara bersamaan, sepertinya memikirkan hal ini sekarang tidak akan membawa kami ke manapun. Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke kelas terlebih dahulu.


Hutan yang kami lewati telah mulai sepi karena kami memakan waktu banyak di depan gedung asrama tadi. Kebanyakan murid telah sampai di akademi saat ini, begitulah pikirku pada awalnya.


Siapa sangka ketika kami sudah sampai di depan gerbang akademi. Kami dapat melihat kerumunan murid yang sedang memperhatikan seorang wanita. Wanita cantik dengan seragam putih yang benar-benar memikat setiap mata lelaki.


Adelyn kini sedang berdiri di depan gerbang, memperhatikan ke arah kami muncul tanpa memperlihatkan sedikitpun ekspresi di wajah cantiknya itu. Dia terlihat bagaikan bintang paling terang di langit malam. Mengingat dia adalah putri es yang menduduki peringkat pertama, itu jadi daya tarik tersendiri sehingga membuat setiap murid yang ada di sana memilih untuk memperhatikannya.


“Apa menurut kalian dia sedang menunggu kita?” tanya VIona.


“Kurasa itu tidak benar, mungkin dia hanya ingin bertemu dengan, Deron,” jawab Kevin.


“Itu tak mungkin.” Aku membantah ucapan Kevin. “Dia tak mengatakan jika akan menemuiku lagi kemarin, seharusnya sekarang tak ada hal yang perlu dia bicarakan denganku.”


“Kau memang bodoh soal urusan cinta,” ungkap Viona, “Manusia tidak perlu alasan untuk menemui orang yang di cintainya.”


“Vio benar, kita tak memerlukan alasan seperti itu.” lanjut Kevin.


Apa benar itu adalah alasan Adelyn berada di depan gerbang saat ini? Ucapan mereka memang masuk akal, tapi jika dia ingin membicarakan tentang perasaanya, kenapa dia harus melakukannya di depan semua orang?


Ketika kami telah sedikit mendekati Adelyn, dia langsung berbicara pada kami. “Aku telah menunggu kalian, bisakah kalian ikut bersamaku sebentar?”


Ucapannya itu membuat kami bertiga saling melempar tatap. Kini perhatian dari setiap murid mulai mengarah pada kami. Karena merasa gelisah, mau tak mau kami mengikuti ajakan Adelyn untuk saat ini, kami tak terbiasa menjadi pusat perhatian seperti ini.


Adelyn membawa kami ke gedung serba guna dari kelas bela diri. Saat ini gedung serba guna terlihat kosong karena murid-murid sedang mempersiapkan diri untuk memasuki kelas pagi.


Kami bertiga yang terheran dengan ucapan Adelyn kembali saling melempar tatap. Kami tak memiliki sedikitpun petunjuk tentang apa yang akan diminta oleh Adelyn pada murid kelas C.


“Kalau boleh tahu, hal apa yang ingin kau minta pada kami,” tanya Kevin.


“Aku ingin ikut serta sebagai kelompok kalian ketika melakukan duel dengan murid kelas B itu.”


Mata kami terbelalak mendengar permintaan Adelyn.


“Bagaimana kau bisa tahu akan hal ini? Dan kenapa kau ingin ikut bersama kelompok kami?” Kevin kembali bertanya padanya.


“Aku mendengar tentang duel kalian karena anak-anak dari kelas B tersebut menyebarkan beritanya. Sepertinya mereka sangat menantikan duel dengan kalian, dan …” Adelyn berhenti sejenak dan mulai memejankan matanya dengan wajah yang memerah.


“Dan …?”


“Dan, aku, aku hanya tak ingin, Deron kecewa karena duelnya dibatalkan jika kalian kekurangan anggota, itu saja.” Wajahnya benar-benar memerah ketika mengatakan itu semua.


Kevin dan Viona mulai memperhatikanku sembari menunjukkan gigi mereka, senyuman mereka benar-benar membuatku malu karenanya.


“Bagaimana menurutmu, T-E-M-A-N?” ejek Viona padaku.


Tanpa sadar aku menjawabnya dengan nada yang sedikit meninggi karena malu. “Boleh! Tentu dia boleh ikut! Kita juga memerlukan anggota tambahan saat ini.” Aku tertawa kecil setelah mengatakan semua itu untuk menutupi rasa maluku.


“Bagus! Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu kalian ketika jam istirahat di sini. Jangan sampai terlambat, oke?!” Adelyn langsung berlari meninggalkan kami di ruang latihan.


Dengan perginya Adelyn dari ruang latihan. Aku bisa melihat Kevin dan VIona mulai menunjukkan ekspresi serupa ketika mereka menggodaku di perpustakaan kemarin. Sepertinya sekarang aku akan kembali menahan malu dalam beberapa saat ini.


...----------------...


Setelah selesai mengikuti kelas pagi, aku dan temanku akhirnya pergi menuju ruang latihan seperti yang telah disepakati kami sebelumnya. Di sana kami langsung bisa menemukan Adelyn yang mengenakan seragam olahraga.


DIa benar-benar terlihat cantik dengan pakaian yang serba putih. Kurasa julukannya sebagai putri es itu bukan hanya karena sifat dinginnya itu, tapi juga karena keserasiannya dengan warna putih.


Adelyn yang sedang berdiri sambil memegang pedang kayu itu mulai tersenyum pada kami. “Senang kalian datang seperti yang dijanjikan.”


“Yah, kami tak mau menghalangi percintaan teman kami ini,” ejek Viona dengan senyum lebar di wajahnya.


Ucapannya membuat aku dan Adelyn tertunduk malu. “Syukurlah jika kalian merasa begitu,” ucapnya.


Mendengar jawabannya itu membuat Kevin dan Viona cengengesan, mereka terus saja menyenggolku dengan sikunya.


Aku mencoba berbicara dengan gelagapan. “Ah, sebaiknya kita langung melakukan latihan kita saja, kita tak punya banyak waktu, Benar!” aku sedikit menekankan ucapan terakhirku.


“Benar, Deron benar,” lanjut Adelyn.


Kevin yang hanya diam saja mulai melirik ke arah VIona dan berkata. “Apa sebelumnya ada yang bilang kita akan berlatih bersama, VIo?”


“Tidak, aku tidak mengingat ada yang mengatakan semua itu, apa mereka telah berbicara dahulu di belakang kita, Kevin?”


“Aku rasa seperti itu, VIo.”


‘Sial, mereka berpura-pura bodoh dengan situasi saat ini. Ayolah teman, berhenti menggodaku!’ batinku.


Aku dan Adelyn hanya diam dengan wajah yang memerah. Sepertinya Kevin dan VIona benar-benar menikmati situasi ini.


Viona mulai tertawa karenanya. “Ahahaha! Kalian tidak perlu malu seperti itu!” ucapnya pada kami berdua. “Baiklah sebaiknya kita mulai mengganti pakaian kita sebelum memulai latihan,” lanjutnya.


Tanpa menghilangkan senyuman diwajahnya, Kevin menjawab Viona. “Kau benar, sebaiknya kita bergegas mengganti pakaian kita sekarang.”


Dengan begitu kami akhirnya mulai mengganti pakaian meninggalkan Adelyn yang berada di ruang latihan. Ketika aku sedang mengganti pakaianku, Kevin masih saja menggodaku di sana. Aku benar-benar malu karenannya.


Setelah selesai mengganti pakaian, kami mulai berkumpul di ruang latihan untuk berlatih menggunakan pedang. Bisa dibilang ini adalah latihan pertamaku menggunakan senjata, jadi aku sedikit bersemangat dan mulai menghiraukan ejekkan dari Kevin dan Viona.


Pedang … sepertinya aku bisa terlihat gagah ketika mengenakannya.