Eldrea Academia and The One That Stars Chose

Eldrea Academia and The One That Stars Chose
Chapter 35 : Master Bela Diri Bagian 1



Rooftop akademi sungguh memiliki pemandangan menakjubkan. Angin yang menyegarkan ini benar-benar menenangkan hati kami yang baru saja mengalami banyak hal di hari ini. Langit yang begitu cerah itu seolah berkata pada kami untuk berhenti menundukkan kepala.


Viona dan Guru yang sedang berpelukan membuaku dan Kevin terenyuh. Senyum yang Guru tunjukkan sungguh membuatku lega, aku harus berterima kasih pada VIona karena telah menguatkan Guru ketika sedih.


Tangan kecil milik Viona tak henti-henti mengusap punggung Guru. Berusaha menguatkan Guru karena telah kehilangan muridnya. Walau Kevin dan Viona tak mengetahui penyebab apa Guru bersedih, tapi mereka tetap menunjukkan kepedulian mereka dengan begitu tulus.


“Terima kasih …” ucap Guru.


“Tentu, Nona. Jika kau merasa sedih, kami pasti akan selalu ada di sampingmu,” jawab Viona menguatkan Guru.


Guru mulai melepaskan pelukan dari Viona dan menatap ke arah aku dan Kevin. “Terima kasih untuk kalian berdua juga.”


“Tak perlu berterima kasih begitu, Nona,” sahut Kevin.


“Yah, aku hanya melakukan apa yang harusnya seorang murid lakukan ketika Gurunya bersedih”


Senyum Guru tak henti-henti menghiasi wajahnya, dia mulai melangkah mendekat padaku dan mengeluarkan kalung milik Trishia sang pahlawan. “Sebaiknya kau menggunakan ini mulai sekarang,” ucapnya menyerahkan kalung itu padaku.


Aku hanya menatap kalung itu. Kalung dengan tali yang terbuat dari perak dan batu Ruby di tengahnya dengan bentuk oval. Kalung itu terlihat sangat cantik. Siapa pun pasti menginginkan kalung tersebut.


“Apa kau yakin dengan ini?” tanyaku sembari menatap mata Guru yang terlihat seperti habis menangis.


Guru hanya mengangguk pelan. Melihat keseriusannya itu membuatku tak bisa menolak pemberiannya, aku langsung mengambil kalung yang disodorkan Guru dan mulai mengenakannya. Kalung ini benar-benar cantik. Bahkan kalung ini juga bisa dipakai oleh laki-laki karena bentuknya ini.


Entah kenapa ketika aku mengenakannya, aku merasakan perasaan hangat di tubuhku. Bahkan aku merasakan suatu perasaan emosional dari kalung ini. Sepertinya Guru membuat kalung ini dengan penuh kasih sayang untuk Trishia muridnya.


“Terima kasih Guru, aku akan menjaga kalung ini baik-baik.”


“Tentu kau harus menjaganya, dan berjanjilah padaku,” ucapnya terhenti, “berjanjilah padaku untuk tidak mati sebelum aku.” Terlihat keseriusan dari matanya ketika dia mengatakan hal tersebut.


“Aku berjanji Guru.”


“Satu hal lagi.” Guru mulai mengeluarkan sesuatu dari kantung sihirnya. Itu terlihat seperti sebuah pil. Pil dengan warna merah menyala. “Ini, minumlah.” Dia mengulurkan pil itu ke hadapanku.


“Apa ini?”


“Pil ini adalah bagian dari diriku. Apiku mengalir di dalam sana. Setidaknya kau tidak akan mati karena keracunan setelah meminum ini,” ucapnya, “sekarang minumlah.”


“Baik Guru, tapi kenapa kau memberiku kedua benda berharga ini?”


Guru mulai mengusap kepalaku dengan senyuman di wajahnya. “Anggap saja ini sebagai hadiah ulang tahunmu, maaf karena aku terlambat memberikan hadiah ini untukmu.”


Mendengar semua itu membuatku ku sedikit terenyuh, aku memang tak mengharapkan hadiah atau apa pun itu, tapi pemberian ini merupakan sebuah tanda kasih sayangnya padaku. Memang benar aku belum lama mengenal Guru, tapi dia sudah memperlakukanku layaknya keluarganya sendiri.


Kevin dan Viona yang mendengar ucapan Guru mulai berlari ke arahku, mereka tampak terkejut akan sesuatu. Apakah ada sesuatu yang menganggu mereka?


“Kau baru saja berulang tahun?” tanya VIona padaku.


“Benar, tapi itu minggu lalu,” jawabku. Rupanya hal tersebutlah yang membuat mereka bereaksi seperti itu.


“Seharusnya kau memberitahu kami!” protes Viona.


Kevin hanya tertawa mendengar ucapan Viona. “Vio, kita baru bertemu dengan Deron selama 5 hari. Tak mungkin seseorang mengatakan kalau dia baru berulang tahun ketika pertama kali bertemu.”


Mulut Viona mulai membentuk huruf O, dia juga mulai menggaruk kepalanya. “Ah! Kurasa kau benar,” sahut Viona.


Kami mulai tertawa karenanya. Sifat Viona yang polos namun tetap peduli pada temannya ini sungguh luar biasa. Di sisi lain, Kevin yang kalem juga sangat peduli pada temannya. Mereka adalah kombinasi yang aneh, tapi kurasa karena itulah mengapa mereka spesial.


“Selamat ulang tahun Deron!” ucap mereka serentak setelah berhenti tertawa.


Senyuman mereka berdua terlihat sangat indah. Kurasa bagi orang lain. Hari ulang tahun merupakan sesuatu yang istimewa. Sepertinya aku juga mulai merasa demikian. Bukan karena ulang tahunnya, tapi karena orang-orang ini yang memberikan perhatian mereka padaku ketika aku berulang tahun. Aku harus membalas kebaikan mereka ini.


Viona yang melihatku membungkuk mulai menampar punggungku dengan sekuat tenaga.


Plak!


“Aww!” rintihku.


Suara tamparannya benar-benar keras. Bahkan aku masih tetap bisa merasakan bekas tangannya di punggungku saat ini. Tamparannya itu membuatku tegap seketika, Viona sendiri hanya tertawa kecil melihatku kesakitan.


“Haha, kau tak seharusnya membungkuk seperti itu pada temanmu. Bagaimana pun juga kita adalah teman. Sudah sewajarnya kita merayakan ulang tahunmu,” ucap Viona.


Aku dapat mereka bertiga sedang memperhatikanku dengan senyuman di wajah mereka. Sepertinya inilah yang sering disebutkan orang-orang tentang hubungan istimewa manusia. Pertemanan, persaudaran, kekeluargaan. Aku tak bisa menentukan mana yang benar dari ketiga itu, tapi yang mana pun itu, aku akan menjaganya dengan baik.


Angin mulai berhembus dengan lebih kencang lagi di atas sini. Guru yang sedang tersenyum itu tiba-tiba saja menampakkan wajah serius dan mulai menatap tajam ke arahku. Aku tak tahu kenapa dia mengeluarkan ekspresi seperti itu.


“Kenapa ada bau darah darimu?” ucap Guru dengan nada serius.


“Oh soal ini ....”


Aku lalu menjelaskan tentang apa yang kutemukan di hutan tadi. Aku juga memperlihatkan apa yang kutemukan pada mereka bertiga. Kevin dan VIona benar-benar terkejut dengan apa yang mereka saksikan, sedangkan Guru hanya memasang wajah datar.


“Syukurlah jika kau tidak diserang oleh orang lain,” ucapnya, “tapi kau seharusnya tak berkeliaran sendirian seperti itu ketika akademi baru saja diserang!”


“Maafkan aku Guru.”


“Baguslah kalau kau sadar atas kesalahanmu itu ….” Dia mulai menaruh tangannya di dagunya. Itu adalah kebiasaanya ketika sedang memikirkan sesuatu. “Sepertinya kita tak perlu mencari terlalu jauh soal kelompok ini.”


“Maksudmu mereka adalah kelompok misterius yang sedang kita cari?”


Guru hanya mengangguk pelan mendengar pertanyaanku. Kevin dan VIona yang memperhatikan benar-benar tampak bingung. Itu wajar mengingat hal ini sangat dirahasiakan pada orang lain.


“Maaf, tapi kelompok apa yang kalian maksud?” tanya Kevin padaku dan Guru.


Aku dan Guru mulai saling melempar tatap, kami tak tahu apa kami bisa mempercayai mereka tentang hal sebesar ini atau tidak. Guru mulai menghela napas panjang karenannya.


“Apa kalian siap untuk mempertaruhkan nyawa kalian?” tanya Guru pada Kevin dan Viona.


Mereka yang kebingungan mulai saling menatap satu sama lain. Bahkan mereka juga sempat menelan ludah karena pertanyaan yang guru lontarkan.


“Jika ada sesuatu yang dapat membahayakan kami, aku rasa kami memang perlu mendengar soal hal tersebut,” ungkap Kevin.


Viona mengangguk kencang karena gugup. “Kevin benar, lebih kami mengetahui hal tersebut untuk berjaga-jaga.”


Setelah mendapat persetujuan dari Kevin dan Viona, Guru lalu menjelaskan mengenai apa alasan kami masuk ke akademi, dia juga menjelaskan kenapa dia berpura-pura menjadi familiarku.


Kevin dan Viona hanya bisa diam karena terkejut dengan apa yang mereka dengarkan, aku tak tahu apakah ini keputusan yang tepat untuk memberi tahu mereka soal masalah kami.


“Baiklah kami paham situasi kalian saat ini,” ucap Kevin.


“Aku tak menyangka kalian sedang menghadapi situasi yang sangat rumit, kami pasti akan membantu kalian!” tambah Viona.


Walau mereka mengatakan semua itu, tapi masih terlihat raut keraguan di wajah mereka.


“Sebaiknya kalian mencari seorang mentor untuk mengajari kalian bela diri,” ucap Guru, “mulai sekarang, kalian akan terus bertarung dengan mempertaruhkan nyawa kalian. Jangan pernah ragu untuk membunuh lawan kalian, mengerti!”


“Baik!” jawab kami serentak.


Dengan begini aku akhirnya mendapat partner baru untuk menjaga punggungku ketika bertarung. Saran dari Guru juga ada benarnya, karena Kevin dan Viona tidak memiliki kemampuan sihir, mereka harus mencari mentor untuk melatih bela diri mereka menjadi lebih kuat lagi.


Kira-kira siapa yang dapat membantu kami berlatih bela diri di akademi?