
Pertandingan yang telah aku tunggu-tunggu akhirnya telah ada di depan mata, Adelyn sebagai perwakilan pertama kami mulai pergi menuju arena, di sana kami sudah bisa melihat Rex melalui kristal sihir yang ada di ruang tunggu.
Ketika Adelyn menginjakkan kakinya keluar dari lorong yang mengarah arena, terlihat mata para murid terbelalak dengan mulut yang menganga, mereka tak pernah menyangka jika salah satu anggota kami adalah murid nomor satu di akademi.
Rex yang sudah ada di arena benar-benar terpaku dengan wajah seperti orang bodoh. Badannya yang bergetar dengan wajah layaknya bayi yang akan menangis itu benar-benar membuat aku dan kedua temanku kegirangan melihatnya.
Tawa dari VIona terdengar dengan keras di ruang tunggu. “Ahahaha! Lihat wajah bodohnya itu!”
“Benar, wajah bodohnya itu memang harus ditampakkan di depan semua murid!” seru Kevin, “jangan pernah berharap kalian akan memiliki harga diri setelah melukai teman kami!”
Aku menganggukkan kepalaku mendengar ucapan Kevin. “Kau benar. Kita harus benar-benar menghancurkan mereka.”
“Tentu, aku tak akan melupakan niat utama kita di sini,” ucap VIona menyeringai.
Karena Adelyn tidak ada di sini, Guru akhirnya mulai ikut bersuara. “Aku tak keberatan kalian bersemangat untuk menghajar bocah-bocah itu, tapi kalian harus tetap tenang ketika ada di arena nanti, mengerti?!”
“Tentu!” jawab kami serentak.
Kini Adelyn dan Rex telah ada di arena, berbeda dengan Rex yang terlihat gemetaran. Adelyn terlihat sangat tenang tanpa memberikan sedikit pun ekspresi di wajahnya, tekanan yang dia berikan pada Rex benar-benar sangat kuat, bahkan kami yang ada di ruang tunggu pun bisa merasakannya.
Seorang pria muda tampan yang berada di tengah-tengah Adelyn dan Rex pun mulai berbicara menggunakan sihir pengeras suara. “Baiklah dengan ini, kami para pengawas yang menyelenggarakan pertandingan ini akan memulai pertandingan,” ucapnya,* “Saya, Igor Danantya, akan menjadi wasit dalam pertandingan ini, dimohon untuk kedua peserta berada di posisinya masing-masing sampai saya memberikan aba-aba.”*
“Baik!” ucap Adelyn dan Rex serentak.
“Sebagai pembeda antara kedua kelompok, tim yang terdiri dari Adelyn dan murid kelas C akan menjadi tim biru, dan murid kelas B akan menjadi tim merah. Harap untuk mengingat hal ini,” ucap Igor menjelaskan nama tim kami.
Dilihat dari cara dia memperkenalkan kedua tim, sepertinya Adelyn benar-benar dikagumi oleh semua orang, termasuk para staff yang ada di akademi.
Pemandangan di sana sendiri sangat berat sebelah, siapa pun yang melihatnya pasti akan berpikir demikian. Sungguh malang nasibnya Rex, bukan hanya menjadi pemeran sampingan dalam kelompok Albert, dia juga harus menjadi samsak hidup dalam pertandingan ini.
Aku bisa melihat Rex yang sedang gemetar ketakutan itu mulai melihat ke belakangnya, ke arah lorong masuk peserta timnya. Di sana aku melihat ada saudaranya Jex dan Albert sedang berbicara pada Rex.
Kami tak bisa mendengar apa yang mereka ucapkan, tapi aku yakin jika mereka sedang memberi semangat padanya, Rex yang mendengar perkataan mereka berdua mulai mengangguk dan kembali menatap Adelyn, kini dia tak terlihat terlalu gemetar seperti sebelumnya.
Igor yang telah memperhatikan mereka berdua mulai memberikan aba-aba untuk memulai pertarungan. “Baiklah, karena kedua peserta telah siap saya akan memulai pertandingannya,” ucapnya dengan sihir pengeras suara, “kalian siap? Mulai!”
Sesaat setelah Igor mempersilakan mereka bertarung, Adelyn langsung melesat ke arah Rex dan menendang ulu hatinya sampai Rex terlempar ke luar arena dengan keras. Suara dari tabrakan antara tubuhnya dengan dinding arena benar-benar terdengar keras, bahkan saat ini kami bisa melihat debu yang menutupi tempat Rex terlempar.
Woaaah!!!
Teriakan dari para murid yang menonton pertandingan benar-benar luar biasa, tendangan mematikan yang diberikan oleh Adelyn benar-benar menghidupkan semangat mereka semua.
“Baik! Dengan begini pemenang pertama dari pertandingan ini adalah tim biru!”
Igor mengumumkan kemenangan pertama kami, dan membuat kami yang ada di ruang tunggu benar-benar bersemangat saat ini.
“Sekarang biarkan aku yang maju!” ucap Viona bersemangat, “aku masih punya urusan dengan bajingan bernama Jex itu!”
Kevin hanya menghela napas panjang mendengar ucapan VIona. “Memangnya kau tahu siapa yang akan mereka kirim selanjutnya, Vio?”
“Tidak, tapi intuisiku mengatakan begitu!”
Kevin hanya tertawa kecil mendengar jawaban Viona. “Haha, baiklah jika memang itu maumu, tapi sebaiknya kau tak mengeluh jika yang mereka kirimkan bukan Jex.”
“Tak perlu khawatir, aku juga berpikiran sama seperti Viona,” ucapku pada Kevin.
“Lihat! Bahkan, Deron setuju denganku.” Viona mulai menunjukkan senyuman bangga di wajahnya.
Ketika kami sedang berbicara, Adelyn yang sudah selesai bertarung pun kembali ke ruang tunggu. Kami juga menyambutnya dengan gembira, sehingga membuatnya sedikit malu.
VIona langsung merangkul pundak Adelyn dan bertanya padanya. “Hei, kau memang luar biasa, Lyn!” ucapnya, “oh iya, apa yang dikatakan oleh kembarannya itu sebelum kalian mulai bertanding?” tanya Viona.
“Ah itu, dia bilang tak perlu takut padaku,” jawab Adelyn seraya menghela napas, “sepertinya karena ucapan kembarannya itu aku jadi tidak menahan diri ketika menghadapinya.”
Kasihan Rex, ternyata semua yang dia alami itu karena perbuatan saudara kembarnya sendiri yang tak sengaja memprovokasi Adelyn. Yah, aku memang merasa kasihan padanya, tapi aku juga ingin berterimakasih pada Jex yang membuat Adelyn marah.
‘Rasakan lah semua penderitaanmu itu,’ batinku.
“Oke, sekarang giliranku untuk pergi,” ucap Viona seraya pergi menuju arena.
Dia terlihat sangat bersemangat ketika pergi menuju arena. Kami yang ada di ruang tunggu hanya bisa mendoakan Viona di pertandingan ini. kami tak meragukan kemampuannya, tapi lawannya saat ini adalah murid kelas B, setidaknya dia memiliki kemampuan untuk masuk ke kelas B.
Jex yang ada di arena memperlihatkan wajah kesal ketika menunggu Viona memasuki arena, sedangkan Viona sendiri mulai memasuki arena dengan senyuman di wajahnya. Ekspresi yang ditunjukkan oleh Viona benar-benar membuat Jex naik pitam.
Sepertinya karena kekalahan saudara kembarnya, Jex jadi lupa jika dia seharusnya menjaga emosi dan tidak menunjukkan ketidak sukaannya itu pada para murid yang sedang menonton.
Kevin tertawa melihat ekspresi yang diperlihatkan oleh Jex. “Dasar ikan bodoh, dengan begini para murid akan tahu jika kalian hanya tukang bully yang menyedihkan.”
“Kau benar, sekarang mereka benar-benar tamat,” jawabku setuju dengan perkataan Kevin.
Adelyn yang mendengar percakapan kami mulai terlihat kebingungan. “Bully?” ucapnya.
Kami benar-benar lupa jika Adelyn tidak tahu apa-apa soal alasan duel diantara kami ini.
“Ah, iya itu benar, kami tak mau menyembunyikan alasan kami padamu, tapi sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menjelaskannya,” ucapku padanya.
“Tidak apa, syukur kalian tidak mengatakan alasan kalian melakukan duel padaku, jika aku tahu alasannya adalah pembullyan yang mereka lakukan.” Adelyn berhenti sejenak dan mulai melanjutkan ucapannya dengan nada pelan. “Aku mungkin akan membunuh lawanku tadi.”
Mendengar ucapannya itu membuat aku dan Kevin terdiam. Untung saja kami tak memberitahukan alasan pertandingan ini diselenggarakan, jika kami memberi tahunya, kurasa kita akan memiliki acara pemakaman saat ini.
Sementara itu, Viona dan Jex yang ada di arena telah mulai melakukan pertandingan. Seketika setelah Igor mempersilakan mereka bertarung, keduanya langsung bergerak maju dan mengayunkan pedangnya dengan kuat sehingga membuat percikan dari gesekan kedua pedang mereka.
Sreng. trink! Sreng, trank!
Jex yang sedang marah mulai membabi buta, sedangkan Viona hanya tertawa selama pertarungan. Pertarungan mereka menjadi tontonan yang sangat menarik bagi semua orang yang ada di stadion. Pemandangan itu membuat para penonton bersorak sorai, dan membuat mereka mulai meneriakkan nama Viona dan Jex yang sedang bertarung.
Yeaaah! Viona! Viona!
Ayooo Jex! Terus serang dia!
Atmosfer pertandingan ini sangat luar biasa. Walau pun begitu, Viona dan Jex tak menghiraukan semua teriakan penonton, mereka benar-benar terhanyut dalam pertarungan mereka.
Trink! Trank! Sreeeng! Trenk!
Percikan pedang terus terlihat dari benturan pedang mereka, walau pun ini adalah duel yang diadakan sebagai bentuk persahabatan murid. Mereka bertarung dengan niat saling membunuh.
Jex yang sedari tadi menyerang Viona dengan begitu beringas mulai berhasil menyudutkan Viona, tapi bukannya terlihat kewalahan, Viona justru memperlihatkan senyum mengerikan di wajahnya, sepertinya ini adalah sifat yang tersembunyi dari diri Viona.
Pemandangan ini membuat kami yang menonton dari ruang tunggu jadi sedikit gelisah, Viona memang tak terlihat sedang kewalahan. Tapi jika terus seperti ini, ini akan merugikannya.
‘Ayo Viona, kau pasti bisa!’