
Ruang Alchemy mulai tampak jelas sekarang. Setelah menghilangnya asap-asap yang mengepul akibat ledakan dari racun dan api yang dinyalakan oleh Lina. Kami dapat melihat ruangan ini dipenuhi oleh tanaman herbal dengan kuali besar berada di tengah ruangan.
Sebuah karpet ungu berbentuk bulat juga ada di bawah kuali tersebut, beberapa tiang lampu lilin juga ada di tiap sudut ruangan. Tak lupa dengan kabinet dan lemari tempat menyimpan ramuan-ramuan buatan tangan Lina.
Kondisi Lina sendiri sekarang sudah mulai membaik, walau dia masih terlihat pucat karena efek racunnya, tapi setidaknya dia sudah mulai bisa kembali berbicara.
“Haha, maaf, maaf,” ucapnya.
“Kau harusnya memperhatikan dirimu terlebih dahulu sebelum orang lain!” bentak VIona.
Kevin berusaha menenangkan VIona dengan memegangi pundaknya serta diiringi tawa kecil. “Vio, kau tak seharusnya membentak seorang Guru.”
“Tak apa, yang dia ucapkan benar,” sahut Lina, “sejujurnya, aku terbilang sedikit terlambat meminum penawarnya, sebab itu hanya aku sendiri yang kejang-kejang dan kalian tidak.”
“Yah, syukurlah kalau kau sadar akan kecerobohanmu itu,” jawab Viona.
Lina mulai menggaruk kepalanya sembari tertawa kecil. “Haha, maaf, tapi sepertinya aku jadi merasa sedikit pusing karenanya. Lebih baik kalian juga tidak banyak bergerak sekarang ini.”
Sepertinya walau pun kami sudah meminum penawarnya, tapi racun yang terhirup oleh kami belum keluar sepenuhnya, oleh sebab itu Lina menyarankan kami untuk tidak banyak bergerak dahulu sekarang.
Lina juga menyarankan kami untuk memakan makanan yang memiliki kandungan untuk mengeluarkan racun di dalamnya seperti bawang putih, lemon, apel dan alpukat.
Setelah mendapatkan saran dari Lina, kami akhirnya memutuskan untuk makan siang di kafetaria dan terpaksa melewatkan latihan rutin kami. Terlalu beresiko untuk kami banyak bergerak ketika telah diperingati oleh Lina.
Terdengar suara Viona yang mendengus kasar ketika sedang makan siang. “Sial! Bisa-bisanya kita melewatkan latihan kita karena hal konyol seperti ini,” keluhnya.
“Sudahlah, VIo. Ini masih lebih baik daripada kita mati keracunan,” sahut Kevin.
“Maaf, karena aku kalian jadi mengalami hal ini,” ucapku.
Aku sangat menyesal karena menyeret mereka ke dalam masalah ini, tapi di satu sisi, aku juga masih penasaran dengan bisikan misterius yang aku dengar tadi. Itu bukanlah sebuah halusinasi belaka, aku benar-benar dapat mendengarnya dengan jelas.
Viona menggeleng sambil terus memasukkan salad ke dalam mulutnya. “Tidak, ini bukan salahmu, Deron,” ucapnya, “Kami memang tak mendengar apa-apa pada saat itu, tapi kurasa kau bukanlah orang yang akan bertindak begitu saja jika tak ada sesuatu yang penting.”
“Vio, benar. Kau tak perlu merasa menyesal seperti itu,” lanjut Kevin.
Syukurlah mereka tidak marah sama sekali padaku, tapi tetap saja aku merasa menyesal, karena itu semua terjadi berkat aku yang tiba-tiba saja berlari masuk ke dalam gedung serba guna milik kelas magic.
“Aku pasti akan membalas kebaikan kalian suatu saat nanti,” ucapku berterima kasih.
Kevin dan VIona mulai tersenyum padaku. “Kalau begitu kita akan menantikan hal tersebut,” ucap Kevin.
Kami melanjutkan makan siang kami saat ini. Kami hanya memakan salad yang diberikan perasan lemon dan juga potongan alpukat di dalamnya, serta minum dengan segelas jus apel.
Namun ketika kami sedang asyik menyantap makan siang kami, tiba-tiba saja kami dapat melihat kerumunan murid yang berlari di koridor akademi. Mereka terlihat sedang memperhatikan sesuatu yang menarik perhatian mereka.
“Hei gedung itu terbakar!”
“Gedung itu, ruangan apa yang ada di gedung itu?”
“Kalau tak salah itu adalah ruang perawatan.”
Layaknya terkena sambaran petir, kami bertiga yang mendengar ucapan dari para murid itu langsung terperanjat dari duduk kami.
“Tristan!” ucap kami serentak.
Terlihat dari koridor yang kami lewati, sebuah gedung sedang dilahap oleh api yang begitu besar. Gedung dengan dua lantai itu terbakar di lantai duanya. Itu adalah ruangan di mana tempat Tristan dirawat saat ini.
Tanpa membuang banyak waktu, kami langsung berlari ke arah ruang perawat tersebut tanpa memikirkan apa pun lagi, berusaha sampai ke ruang perawat secepat yang kami bisa.
Namun koridor saat ini dipenuhi oleh para murid yang menonton kebakaran. Ini benar-benar membuat kami kesulitan untuk lewat, sehingga membuat kami mulai menerobos para murid dengan sedikit paksa, bahkan sesekali kami tak sengaja mendorong mereka dengan cukup keras.
“Maaf. Kami sedang buru-buru!” ucapku.
“Hei! Menyingkirlah, itu bukan sebuah tontonan!” seru Viona.
“Hei berhenti mendorong!”
“Aww, sakit sialan, jangan berlari di tengah kerumunan!”
VIona yang ada di depan kami tak mempedulikan ucapan dari para murid tersebut dan terus mendorong mereka dengan lebih keras lagi. “Berisik! Biarkan kami lewat bajingan!”
Setelah berhasil melewati kerumunan itu dengan berdesak-desakan, kami akhirnya bisa masuk ke gedung tempat Tristan dirawat. Terlihat beberapa staff akademi sedang berusaha memadamkan api yang semakin mengamuk. Mereka terus menembakkan sihir dengan tipe air, namun itu tak terlalu membantu mereka.
Kepulan asap hitam benar-benar memenuhi gedung ini. Asapnya membuat kami kesulitan untuk bernapas. Melihat kedatangan kami di gedung tersebut, beberapa staff mulai menghampiri kami.
“Hei! Kalian tak boleh berada di sini, ini berbahaya!”
“Diamlah! Teman kami sedang dirawat di sana!” bentak Viona pada staff tersebut.
Kevin mulai melangkah melewati VIona dan langsung berhadapan dengan staff tersebut. “Biarkan kami lewat, Pak! Teman kami ada di dalam sana, kami mohon!”
“Tetap saja, ini terlalu berbahaya untuk kalian masuk ke sana!”
Staff tersebut benar-benar tak membiarkan kami lewat sedikit pun. Tapi karena kami yang sudah sangat panik, kami akhirnya memutuskan untuk menerobos para staff tersebut dengan ‘sedikit’ mendorong mereka hingga terpental.
“Maafkan kami! Tapi kami tak punya pilihan selain ini,” ucapku yang baru saja melemparkan beberapa staff ke luar koridor.
“Hentikan mereka!”
Terdengar suara dari para staff yang masih berdiri mulai mengejar kami ke dalam ruang perawatan dari belakang. Ketika kami sampai di depan ruang perawatan, aku langsung menembakkan Wind Blow ke arah pintu tersebut.
Dum!
Namun pintu tersebut tak bergeming sama sekali, semua yang kami lakukan sia-sia saja. Tak ada sedikit pun tanda pintu itu akan hancur atau pun terbuka sama sekali.
“Arrgh! Kenapa pintu ini kuat sekali?!” ucap Viona.
“Teruslah serang pintunya sekuat tenaga!” jawabku.
“Tapi ini benar-benar tak masuk akal! Bagaimana mungkin pintu ini tetap kokoh walau sedang terbakar oleh api?!” ungkap Kevin.
Kami terus berusaha sekuat tenaga untuk membuka pintu itu, namun tak menemukan hasil sedikit pun.
“Tristan!”
Kami mulai mencoba memanggil-manggil nama Tristan, berharap dia akan tersadar dan berusaha menyelamatkan dirinya sendiri. Namun semua itu sia-sia, kami tak menemukan tanda-tanda ada orang yang bergerak di dalam sana.
“Tenanglah nak!”
Di tengah kegelisahan kami, terdengar sebuah suara dari belakang kami, itu adalah suara milik Gareth.
“Tenanglah, teman kalian sudah berada di tempat yang aman,” ucapnya.
“Apa Tristan baik-baik saja?” tanya Kevin dan Viona bersamaan.
“Dia baik-baik saja, sekarang dia sedang ada di gedung serba guna kelas magic, dia sedang menerima perawatan dari, Nona LIna.”
Mendengar jawaban dari Gareth membuat kami merasa lega, sekaligus mulai merasa pusing seketika ketika karena menghirup terlalu banyak asap dari kebakaran ini.
“Sebaiknya kalian ikuti aku terlebih dahulu, di sini cukup berbahaya, “ucap Gareth, “dan sepertinya ada seseorang yang sengaja membakar gedung ini, sehingga kita harus berhati-hati,” lanjutnya.
“Ada yang sengaja membakar gedung?” tanyaku.
Belum sempat Gareth menjawab, kami mulai terhuyung-huyung karena kehabisan napas. Tanpa pikir panjang Gareth bersama beberapa staff akademi langsung menahan tubuh kami dan membawa kami ke hadapan Lina untuk segera diobati.
Dengan pandangan yang sedikit kabur saat di bopong oleh para staff, sebuah pemikiran terbesit dalam benakku.
‘Ada yang mengincar nyawa Tristan….’