Eldrea Academia and The One That Stars Chose

Eldrea Academia and The One That Stars Chose
Chapter 30 : Clumsy Alchemy



Magical Garden, sebuah nama dari taman yang ada di dekat ruang serba guna milik kelas magic. Taman yang dihiasi oleh berbagai jenis bunga yang membuat taman ini memiliki puluhan warna menghiasinya, dan satu fountain kecil di tengah-tengahnya  yang membuat taman ini tampak begitu indah.


Ada juga beberapa tanaman herbal dan tanaman sihir yang biasa digunakan oleh alchemy di akademi untuk membuat obat-obatan atau melakukan eksperimen, di tanam di dekat gedung serba guna.


Aku, Kevin dan VIona, saat ini sedang terduduk di sebuah bangku taman yang  di belakangnya ada sebuah pagar kayu tinggi dengan desain lingkaran besar di tengah-tengah pagarnya. Desain tersebut membuat kami bisa melihat langsung bunga-bunga di taman tanpa terhalang oleh pagar yang cukup tinggi dari bangku taman.


“Aku pikir aku akan mati karena dikerubungi oleh banyak murid,” keluh Viona.


Kevin yang sedang selonjoran di bangku taman mulai menghela napas mendengar ucapan Viona. “Sungguh, aku tak akan pernah mau untuk mengalami hal seperti itu lagi ….”


“Aku setuju denganmu,” sahutku pada Kevin.


Banyak sekali murid-murid yang berlalu lalang sembari membawa buku-buku tebal ketika kami duduk di bangku taman tersebut.


“Wow, lihat buku-buku itu, melihatnya saja sudah membuatku ingin muntah,” ucap VIona.


“Vio! Jangan sampai karena ucapanmu itu, kita jadi mendapatkan masalah lainnya, apa kau tidak kapok?” protes Kevin.


“Ah, benar, maaf teman-teman ….”


“Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu,” ucapku menenangkan Kevin.


Ketika kami sedang bersantai di Magical Garden, aku tiba-tiba dapat mendengar suara seperti orang yang sedang berbisik, namun terdengar sangat jelas di telingaku.


"Biarkan laba-laba menghancurkan keindahannya


Kepompong kecil akan dapat menjadi kupu-kupu ketika melihat bintangnya


Biarkan laba-laba menghancurkan keindahannya"


Suara itu terus aku dengar secara berulang kali, namun ketika aku melihat ke sekeliling, aku tak menemukan seorang pun yang terlihat seperti sedang berbicara padaku, begitu pula dengan Kevin dan VIona, mereka hanya terlihat lelah tanpa membuka mulutnya sama sekali.


Melihatku berlaku aneh karena terus melirik ke sekitar membuat Kevin menjadi penasaran dengan apa yang sedang aku cari.


“Ada apa? Apa ada seseorang yang kau kenal?”


“Tidak, aku tak mengenal siapa pun selain kalian dan Tristan,” jawabku, masih mencari pemilik suara misterius tersebut.


“Kau yakin? Kau benar-benar terlihat aneh.” ungkap Viona.


“Yah, sebenarnya tidak,” jawabku, “aku merasa seperti mendengar ada orang yang berbisik dari jauh, tapi suaranya sangat jelas di telingaku.”


Kevin dan Viona hanya bisa saling melempar tatap mendengar ucapanku. Aku tahu jika apa yang aku katakan itu sangat tidak masuk akal, tapi justru karena ini tidak masuk akal sehingga aku berperilaku seperti ini.


“Bung, kami tak mendengar suara apa pun,” ucap Kevin.


“Apa kau kecapean?” tanya Viona.


Aku tak terlalu mengindahkan suara mereka dan mulai bangkit untuk mencari arah suara tersebut. Melihatku yang pergi begitu saja, Kevin dan Viona pun ikut bangkit mengikutiku


Kami mulai memasuki gedung serba guna milik kelas magic dan menyusuri tiap lorong yang ada, sampai pada akhirnya kami melihat sebuah ruangan dengan bau tak sedap berada di lantai dua gedung serba guna.


Ruangan ini benar-benar terasa seperti sebuah berita buruk, mengingat kita ada di sebuah gedung  yang berada di tengah-tengah taman-taman yang cantik, tapi ruangan ini tak menampakkan kesejukan sama sekali, tak seperti ruangan lainnya.


Boom!


Kami bisa mendengar suara ledakan yang cukup keras dari dalam sana. Tanpa pikir panjang kami langsung berlari memasuki ruangan tersebut, dan ketika kami masuk ke dalamnya, kami bisa melihat kepulan asap berwarna ungu dengan bau yang sangat menyengat.


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


“Bau apa ini?” tanyaku.


“Kenapa kau menanyakan baunya ketika ada asap aneh yang menyelimuti kita,” jawab Viona.


“Apa ada penyerangan di dalam akademi?” tanya Kevin.


Kami tak bisa melihat apa-apa selain asap ungu tersebut. Dan ketika kami berusaha untuk melihat ke dalam ruangan tersebut, tiba-tiba saja kami dapat melihat sebuah siluet seorang wanita yang menghampiri kami.


Whaaaa!


Kami seketika berteriak karena melihat siluet tersebut layaknya melihat hantu di siang bolong.


Hiiiiik! Uhuk! Uhuk!


Sepertinya siluet orang tersebut mulai terbatuk ketika tak sengaja menghirup asap ini ketika berteriak.


“Siapa kalian?!” tanya orang misterius tersebut.


Dengan masih penuh waspada kami mencoba memperhatikan siluet orang tersebut, perlahan asap ungu yang menyelimuti ruangan tersebut mulai keluar dari jendela dan pintu yang terbuka lebar, sehingga kami mulai bisa melihat sosok misterius yang ada di depan kami ini.


Bayangan seorang wanita mulai terlihat sedikit demi sedikit, rambutnya yang panjang dan badannya yang dipenuhi oleh debu akibat ledakan itu sedikit membuat kami terkejut, sehingga tanpa sadar membuat kami mengambil posisi siaga.


“Kalian murid-murid yang ada di malam itu?” tanyanya.


“Nona Lina?”


Kami akhirnya bisa melihat sosok tersebut, ternyata dia adalah Lina, Guru dari kelas magic.


“Apa yang kalian lakukan di sini?” tanya Lina dengan suara tertahan.


“Maaf, kami tak sengaja mendengar ledakan besar dari sini,” jawabku.


Sembar mengibas-ngibaskan tangannya, Lina mulai bertanya lagi, kini dengan suara yang lebih jelas. “Ya, aku sudah mendengar hal itu, tapi kenapa kalian bisa berkeliaran di gedung serba guna kelas magic?”


Kami hanya saling tatap satu sama lain, karena tak memiliki alasan jelas mengenai keberadaan kami di sini. Tak mungkin aku harus mengatakan jika aku mendengar sebuah bisikan dari sini.


“Kenapa kalian hanya diam saja?”


“Ah, maaf, kami baru saja pindah ke kelas A dan beristirahat sejenak di bangku taman dekat gedung serba guna ini,” ucap Kevin memberi alasan.


Viona mulai menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Benar, itu benar!”


Lina hanya memperhatikan kami tanpa menjawab.


“Maaf, tapi apa aku boleh bertanya ledakan apa itu tadi?” tanyaku mencoba mengalihkan perhatiannya.


“Tadi aku mencoba membuat sebuah ramuan untuk mengobati teman kalian, tapi sepertinya ada seseorang yang menyabotase kuali yang kugunakan,” jawab Lina, “tapi itu tidaklah penting, apa kalian sadar kalau kalian tidak boleh berkeliaran di gedung serba guna milik kelas orang lain?”


“Maaf,” ucap kami serentak.


“Tapi apa maksudmu dengan menyabotase?” tanyaku.


“Entahlah, aku bisa sedikit mencium bau racun dari tanaman monkshood, dan ketika aku mau mengeceknya dengan membakar sedikit api, tiba-tiba saja itu meledak.”


“Racun?!” kami terperanjat mendengar ucapannya itu.


“Tenanglah, memang benar kita sudah terpapar oleh racunnya, tapi kita masih bisa menetralisirnya,” ucap Lina dengan santai.


Aku benar-benar tak percaya dia bisa mengatakan semua itu tanpa terlihat takut sama sekali, apa memang alchemy itu sudah terbiasa terkena racun dari eksperimen mereka?


Lina mulai mengambil sebuah botol dari rak yang ada di dalam ruang alchemy dan menuangkannya ke dalam 3 buah gelas, tak lupa dia juga menambahkan daun mint dan peterseli yang sudah di tumbuk ke dalam gelasnya.


Dia langsung memberikan gelas itu pada kami untuk diminum.


“Cepat, minumlah,” ucapnya sembari tersenyum.


Tanpa pikir panjang kami langsung meneguk obat tersebut sampai habis. Obat tersebut benar-benar terasa pahit, tapi memiliki after taste yang menyegarkan di dada kami.


“Terima kasih,” ucap kami.


“Apa kau tak meminumnya juga?” tanyaku pada Lina.


Lina yang tersenyum tiba-tiba mulai menunjukkan muka datar. “Sial, aku lupa kalau aku juga terpapar racun.”


Bruk!


Setelah mengatakan itu, Lina langsung terjatuh dengan tubuh yang mengejang di lantai. Sontak kami langsung berlari menghampirinya, aku juga langsung membuat  penawar racun yang tadi Lina berikan hanya bermodalkan ingatanku saja.


Beruntung karena masih ada sisa-sisa bahan di atas meja, aku berhasil membuat penawar racunnya tepat waktu, dan langsung meminumkannya pada Lina.


“Uhuk! Sial, kupikir aku akan mati …” ucap Lina seketika setelah sadar.


Sepertinya kebiasaan dia memberi obat pada orang lain itu membuatnya lupa bahwa dia juga membutuhkan obat sekarang ini.


“Syukurlah, Deron berhasil membuat penawarnya,” ucap Kevin.


“Kau ini bodoh atau apa?!” bentak Viona.


Lina hanya tertawa kecil karenanya. “Haha, maaf, maaf.”


Aku bersyukur dia bisa diselamatkan, tapi ada sesuatu yang mengganjal pikiranku, jika yang dikatakan Lina mengenai sabotase itu benar, siapa orang yang berani melakukan hal itu di akademi saat ini?