
Aku dan kedua temanku mulai mengganti pakaian menjadi pakaian olahraga dan pergi ke track lari akademi, di siang hari ini kami memulai latihan ini dengan berlari 10 putaran dan melanjutkannya dengan sparing ringan di tengah lapangan yang ada di track lari.
Latihan siang ini kami lakukan dengan sangat berhati-hati untuk tidak terlihat seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu. Semua rencana yang telah kami lakukan bisa sia-sia jika kami dicurigai oleh orang lain.
Satu-satunya yang dapat kami lakukan saat ini hanya berusaha untuk tetap terlihat tenang dan menjalani keseharian kami seperti biasanya. Bersikap tenang ketika kondisi hati kami yang panas benar-benar menyulitkan sekali.
Ketika kami baru selesai berlari, kami dapat melihat Albert dan komplotannya berusaha mendekati kami dengan wajah menjengkelkan yang terpampang dari wajah mirip bulldognya itu.
“Tak kusangka kalian akan dapat berlatih dengan tenang ketika si babi sedang dalam masa kritis seperti ini,” ucap Albert, “Sepertinya ikatan pertemanan kalian itu hanya sebuah tipuan agar kalian bisa terlihat seperti pahlawan yang membantu orang lemah, benar begitu?”
Kami berusaha tak mengindahkan provokasinya itu dan hanya mengelap keringat kami yang bercucuran. Ini adalah hal yang cukup sulit untuk menahan diri ketika kita tahu siapa pelaku di balik insiden yang dialami oleh Tristan, tapi kami harus bisa menahannya.
Sembari meminum air dari botol yang dibawanya, Viona berkata. “Hei, apa kalian dengar sesuatu?”
“Entahlah, yang aku dengar hanya gonggongan anjing liar,” seru Kevin.
Aku menunjuk ke arah Albert berada. “Oh, apakah maksudmu Bulldog yang terlihat tersesat itu.”
Wajah Albert dan temannya itu mulai terlihat memerah, terutama Silva si kaki tangan Albert paling setia. Dia langung maju ke arahku dan menatapku dengan tajam seperti mau melahapku.
“Jaga ucapanmu bajingan!” ucapnya sembari mengenggam kerah bajuku.
“Woah! Yang satu ini terlihat sangat tidak jinak, bukan begitu teman-teman?” provokasiku.
“Kau benar, sebaiknya kita menjauhi mereka, siapa yang tahu mereka mengidap rabies atau tidak,” lanjut Kevin.
“Kalau begitu kita hanya perlu pergi,” ucap Viona sebelum melanjutkan ucapannya, “Atau kita bisa mengusir mereka … seperti ini!” dia menendang tangan Silva yang mencengkramku.
Tendangan tinggi dengan tubuh sedikit menyamping, Dollyo Chagi, salah satu tendangan dari seni bela diri Taekwondo, tendangan yang benar-benar menyeramkan, dia bisa saja mengincar kepala Silva, tapi kita masih harus menahan diri untuk saat ini.
Melihat semua itu, Jex, salah satu dari si kembar mulai melangkah maju dan berteriak. “Hoi! Kau berani menantang kami?!” ucap Jex sembari mendekat pada Viona.
“Kenapa kami tak berani?” tanya Viona, “dan bukankah kau hanya seorang karakter pendamping dari kelompok anjing liar itu?” dia mendekatkan dirinya pada Jex dan menatapnya dengan tajam. “Jika kau karakter pendamping, maka berlaku lah seperti itu!” ucapnya.
Viona benar-benar terlihat menakutkan, mata coklatnya itu terlihat seperti tanah gunung berapi yang siap meletus kapan saja. Terlihat tenang namun menyimpan bahaya yang luar biasa di dalamnya, jika Jex tak berhati-hati, dia bisa ditelan oleh kemarahan VIona.
“Sebaiknya kita mengajarkan sedikit sopan santun pada wanita busuk ini,” tutur Rex, kembaran Jex sembari melangkah mendekat pada VIona dan Jex.
Namun sebelum bisa mendekat pada VIona, Rex telah ditahan terlebih dahulu oleh Kevin yang berdiri dihadapannya. “Sebaiknya kau tak melangkah lebih jauh.” ucap Kevin mengancam.
Melihat semua itu, Silva yang masih berdiri di depanku mulai melirik ke arah Albert dan berkata. “Sebaiknya kita mendisiplinkan mereka, Tuan.”
“Kau benar, sebaiknya kita mendisplinkan mereka.” Albert mengatakan semua itu sembari mencoba bergerak mendekat.
“Apa yang sedang kalian lakukan di sana?” ucap seseorang.
Mendengar perkataan yang ditujukan pada kami membuat kami berhenti seketika. Kami dapat melihat, Gareth sedang mengawasi kami dari jauh. Dia mulai mendekat pada kami dan menanyakan hal serupa.
“Apa kalian tak mendengarku? Apa yang sedang kalian lakukan ini?”
Melihat kedatangan, Gareth membuat kami semua terkejut karenanya, atau mungkin lebih tepatnya, membuat Albert dan komplotannya terkejut dan mundur beberapa langkah dari kami.
“Kami tidak tahu pasti, Tuan. Kami hanya sedang berlatih dan mereka mendatangi kami dan mulai memprovokasi kami,” ucap Kevin.
Mendengar perkataan itu, Wajah Albert dan komplotannya mulai terlihat panik. Sedangkan kami hanya memasang wajah layaknya anak kecil yang tidak tahu apa-apa.
Dengan gelisah Silva mulai berbicara pada, Tuan Gareth. “Tidak, Tuan! Kami hanya ingin menyapa adik tingkat kami, tapi mereka malah mulai menghina bangsawan seperti, Tuan Albert!”
Gareth mulai memperhatikan kami satu persatu dan berkata. “Aku paham jika kau marah, tapi itu bukanlah alasan yang bagus untuk mengganggu latihan orang lain, terlebih di akademi ini, status sosial tidak berlaku. seharusnya kau tahu akan hal itu mengingat kau adalah senior mereka,” ungkapnya.
Silva hanya bisa tertunduk diam mendengar perkataan Gareth, dia tahu betul jika itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengganggu seseorang, namun sifat naifnya itu benar-benar menghancurkannya.
“Maaf, Tuan.” Silva tak bisa berkutik karena semua itu.
Kini kelompok Albert hanya bisa tertunduk menahan perasaan marah mereka. Benar-benar pemandangan yang enak dilihat. Aku sangat menikmati situasi tersebut. Sekarang tak ada seorangpun yang berbicara.
“Tuan, jika kau tak keberatan, aku ingin mengusulkan sesuatu,” ucap Kevin pada Gareth memecahkan keheningan.
“Apa itu?”
“Karena kami masih perlu banyak berlatih, bagaimana jika kami melakukan duel dengan para senior. Dengan begitu kami bisa mendapatkan ilmu yang lebih banyak dari mereka.”
Perkataan Kevin membuat Albert dan komplotannya terkejut. Ekspresi bodoh mereka benar-benar tak bisa disembunyikan.
Gareth mulai melirik padaku dan Viona yang berada di belakang Kevin. “Apa kalian yakin? Mereka adalah senior kalian.”
“Baiklah, jika seperti itu mau kalian, aku akan mengizinkan kalian melakukan duel seperti usulan teman kalian ini.” Gareth mengangguk perlahan. “Sparring akan diadakan besok lusa pada jam istirahat.”
Mendengar semua itu membuat Albert dan komplotannya menampakkan senyuman layaknya orang bodoh.
Albert mulai mengangguk kegirangan. “Kalau memang seperti itu, tak seharusnya kami menolak permintaan dari adik tingkat kami ini, bukan begitu teman-teman?” tutur Albert pada komplotannya.
Tanpa menyembunyikan ekpresi kegembiraan mereka, para bawahan Albert menjawab serentak. “Benar, Tuan.”
Yes! Mereka dapat memakan umpan yang kami berikan dengan begitu mudahnya. Ini terlihat seperti kami sedang memancing di kolam ikan yang sudah tak diberi makan selama berhari-hari. Rasa lapar mereka membuat mereka tak memperhatikan kail pancing yang akan mencelakakan mereka.
“Baiklah, jika begitu saya sarankan kalian kembali ke kegiatan kalian masing-masing,” saran Gareth.
“Baik!”
Setelah diperintahkan seperti itu, Albert dan kelompoknya itu mulai menarik diri dari hadapan kami. Ekpresi bahagia yang tak tertahankan mulai keluar dari kami bertiga.
“Yaaaa!”
Kami berteriak bersama dan mulai tertawa karena rencana kami telah berhasil tanpa ada gangguan sama sekali.
Kevin benar-benar tertawa dengan sangat keras. “Ahahaha! Aku tak menyangka rencana dadakan yang dibuat semalam benar-benar bisa berhasil.”
Viona langsung merangkul pundak Kevin dan berkata. “Haha! Sudah kubilang kita percaya saja pada rencananya, Deron! Dia memang jenius!” ucapnya, “Tapi aku juga sedikit terkejut, tak kusangka akan mendapatkan mereka semudah dan selancar ini.”
“Benar, kau benar VIo!” Kevin menjawabnya tanpa berhenti tertawa, setelah dia menenangkan dirinya dia mulai bertanya padaku. “Tapi bagaimana kau bisa memikirkan semua itu?”
“Tak ada yang spesial dari semua itu, aku bisa membuat rencana seperti ini karena mereka hanyalah bocah bodoh yang berlagak karena tittle orang tuanya. Bocah seperti mereka cenderung bertindak secara impulsif.” Dengan rasa bahagia aku menjelaskannya pada mereka.
“Kau benar-benar luar biasa,” ucap Kevin.
Senyuman tulus dari mereka berdua benar-benar membuatku terharu karenanya. Ikatan kami seolah terus menguat setiap detiknya. Tak kusangka pertemuan singkat ini bisa jadi sedalam ini dalam waktu singkat.
“Sepertinya kalian berhasil menangkap ikan-ikan bodoh itu,” ucap Guru yang telah kembali dari ruangan Gareth dalam bentuk burung.
“Nona!” Sapa Kevin dan Viona bersamaan.
Mereka tak kuasa menahan rasa bahagia mereka. Untung saja tak ada orang di sini saat ini. Jika ada orang yang melihat, mungkin mereka akan dianggap tidak waras karena memanggil ‘Nona’ pada seekor burung.
Guru sendiri selama ini hanya memperhatikan kami dari jauh sejak kami mulai berlatih. Dia bertindak seperti itu untuk berjaga-jaga jika Albert melakukan konfrontasi, sehingga dia bisa memanggil Gareth dengan segera melalui telepatinya.
Begitulah alasan kenapa Gareth bisa datang tepat waktu ketika situasi tengah panas-panasnya seperti tadi. Rencana kecil yang benar-benar sukses, dengan begini Gareth juga tidak akan memiliki halangan untuk membantu kami menyelesaikan masalah dengan Albert.
“Aku sama sekali tak meragukan kalian, kalian telah bekerja dengan baik,” ucap Guru.
Apa yang dia sampaikan benar-benar membuat kami senang sehingga membuat wajah kami tertarik begitu saja dan menunjukkan senyuman.
“Terima kasih!” ucap kami serentak.
Kami akhirnya memutuskan untuk melanjutkan latihan kami dan mulai melakukan sesi sparing seperti yang telah kami jadwalkan. Kevin dan Viona secara bergiliran melakukan sparing denganku. Mereka memutuskan ini mengingat aku yang masih sangat ‘mentah’ dalam bela diri.
Namun ketika sedang melakukan sesi sparing, aku merasa seperti ada seseorang yang sedang memperhatikanku dengan intens. Ini tak terasa seperti niat untuk membunuh, tapi tetap ini mengangguku. Aku akhirnya memeriksa ke sekeliling namun tak melihat siapapun yang ada di sekitar track lari ini. Apa ini hanya perasaanku saja?
“Ada apa?” tanya Viona yang sedang sparing denganku.
“Tidak, tidak ada. Mari kita lanjutkan saja.”
“Kau tak boleh lengah ketika kita melakukan duel dengan Albert,” ungkapnya.
“iya, aku mengerti, kau tak perlu khawatir.”
Akhirnya kami melanjutkan sparing kami dan memutuskan untuk makan siang setelah selesai. Setelah mengganti pakaian dan membersihkan diri di kamar mandi yang ada di gedung serba guna.
Kami langsung menuju kafetaria dan memakan makan siang kami. Namun sama seperti saat sedang berada di track lari, di sini aku juga merasa seperti ada seseorang yang memperhatikanku. Aku kembali melihat ke sekeliling, namun hasilnya tetap sama seperti sebelumnya. Memang sekarang banyak orang di kafetaria, tapi mereka hanyalah murid yang sedang makan siang, aku tak melihat satupun orang mencurigakan.
“Kenapa kau bertindak aneh dari tadi?” tanya Viona.
“Benar, apa ada sesuatu yang mengganggumu?” lanjut Kevin.
“Tidak, sepertinya hanya perasaanku saja. Sedari tadi aku selalu merasa seperti ada orang yang memperhatikanku.”
“Woo, lihat ‘Tuan Populer’ kita ini,” ejek Kevin.
Mereka masih menyinggung soal Adelyn tadi, mungkin memang sebaiknya seperti ini. Memang aku terganggu dengan perasaanku ini, tapi setidaknya tatapan yang aku rasakan itu tidak diniatkan untuk membunuh. Itu semua sudah cukup.