
Hari di mana duel diselenggarakan akhirnya telah tiba. Aku sudah mendapatkan beberapa ilmu yang bisa membantuku di dalam duel nanti, aku juga mendapatkan sedikit petunjuk mengenai diriku ini.
Dengan begitu aku dan kedua temanku, Kevin dan Viona mulai pergi ke sebuah tempat yang berada jauh di belakang komplek akademi. Mereka bilang duel kali ini akan dilakukan di area duel akademi yang biasa digunakan untuk turnamen antar akademi di dunia.
Aku tak mengerti kenapa akademi mengizinkan hal ini terjadi, apa ada sangkut pautnya Gareth dalam hal ini?
Setelah melewati gedung serba guna milik kelas bela diri, kami bisa melihat sebuah stadion besar yang luasnya 2 kali lebih besar dari track lari yang ada di akademi. Stadion itu terlihat begitu besar dengan atap yang terbuka.
Terlihat bangunan stadion itu terbuat dari bebatuan yang ditata dengan rapi serta dihiasi oleh bendera dan spanduk akademi di tiap sudut stadion. Di bagian depan stadion sendiri terdapat ukiran yang membentuk burung phoenix sebagai lambang dari akademi.
Lambang akademi itu terbuat dari puluhan batu sihir yang memiliki warna dasar merah. Akademi memilih phoenix sebagai lambang mereka, karena mereka ingin manusia dapat melakukan reinkarnasi layaknya phoenix. Bukan reinkarnasi secara harfiah tentu saja.
Mereka ingin kematian para pahlawan yang melawan kejahatan di masa lalu itu menjadi sebuah pemicu bagi umat manusia untuk tumbuh menjadi ras yang lebih baik lagi, layaknya phoenix yang mati untuk tumbuh. Pihak akademi juga ingin manusia bisa mati seperti itu. Walau itu mustahil untuk dilakukan seorang diri, tapi jika umat manusia bersatu, tak akan ada yang mustahil dilakukan.
Kami saat ini bisa melihat banyak sekali murid akademi yang sedang berjalan menuju stadion, sepertinya ucapan Adelyn mengenai Albert yang menyebarkannya ke seluruh akademi itu benar, tapi aku tak menyangka jika murid tingkat atas seperti kelas A dan kelas Royal juga akan ikut menonton duel ini.
Bahkan murid kelas magic juga ikut menonton, mungkin aku mengerti jika itu adalah kelas bela diri karena ini memang hal yang disenangi oleh mereka, tapi kelas magic? Seharusnya mereka menolak untuk datang ke sini.
Sepertinya meski pun Albert ini ada di kelas B, tapi reputasinya sebagai anak dari seorang bangsawan benar-benar berpengaruh padanya, terbukti dari para murid yang datang untuk menonton duelnya ini. Yah, jika memang dia ingin dipermalukan sebegitu besarnya, kami hanya harus mengabulkan permintaannya itu.
“Apa kalian siap?” tanya Kevin.
“Tentu,” sahut Viona, “Aku tidak pernah lebih siap dari pada saat ini. Aku benar-benar akan menghajar mereka semua.”
“itu tidak mungkin, Vio.” Kevin menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. “Duel akan dilaksanakan secara bergiliran sehingga kita hanya bisa melawan salah satu dari mereka.”
Viona berdecak pelan. “Iya, aku tahu itu, jadi kalian tidak boleh kalah sehingga kita bisa menghajar mereka semuanya!” ucapnya dengan penuh semangat.
“Tentu, aku tak ingin kalah dari ikan-ikan yang kita tangkap dengan begitu mudahnya, terutama dari ikan dengan wajah bulldog itu,” jawabku merujuk pada Albert si muka Bulldog.
Guru yang ada di pundakku mulai menggunakan telepati pada kami. “Tenang, kalian pasti bisa melewatinya,” ucapnya, “dan untukmu, Deron. Kau tak perlu menahan diri untuk tidak menggunakan sihir, karena aku akan bersamamu ketika duel nanti, aku bisa jadi pengecoh untuk orang-orang agar kau tidak ketahuan memiliki kemampuan untuk menggunakan sihir.”
“Baik, Guru. Terima kasih karena mau jadi pengecoh untukku.”
“Kenapa kau tidak ikut bertarung saja, Nona?” tanya Kevin pada Guru.
“Apa kalian ingin aku membunuh anak-anak itu?”
“Oh, tidak, kurasa itu tidak diperlukan.”
Viona mulai bergidik ngeri mendengar perkataan Guru. “Sepertinya, Nona sekarang ini hanya perlu menjadi pengecoh saja, tak lebih.”
Aku kagum sekaligus iri pada mereka berdua karena bisa menyadari kengerian yang ada di balik tubuh burung, Guru. Setidaknya mereka tidak akan mengalami apa yang pernah aku alami dengan kunciannya itu.
“Baiklah sebaiknya kita masuk ke ruang tunggu peserta,” ucap Kevin.
Viona mengangguk pelan. “Benar, seharusnya Adelyn juga sedang menunggu kita di sana.”
Kami akhirnya mulai masuk ke stadion dan memasuki ruang tunggu peserta yang ada di dekat pintu masuk menuju arena. Ruang tunggu yang terlihat indah dengan batu marmer berwarna putih bergerat emas itu benar-benar indah. Di sana juga ada beberapa kursi dan meja serta kristal besar yang ditujukan untuk para peserta yang sedang menunggu giliran dapat menonton pertandingan dari ruang tunggu.
Ada beberapa rak senjata juga yang bisa dipilih oleh peserta sebelum masuk arena. Senjata-senjata tersebut merupakan senjata asli yang dialiri oleh mana dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kematian ketika duel berlangsung.
Di tengah ruang ganti, kami bisa melihat Adelyn sedang berdiri tegap memegangi pedang berwarna putih yang ia angkat di depan wajahnya. Pedang dengan 2 bilah tajam itu benar-benar terlihat cantik. Aura pedang itu sendiri bersatu dengan Adelyn seolah pedang itu adalah potongan dari tubuh Adelyn itu sendiri.
“Hai! Apa kau menunggu lama?” ucap VIona seraya memasuki ruang tunggu.
Adelyn yang sedang berdiri tegap itu mulai menghentikan aktivitasnya dan mulai tersenyum pada kami. “Tidak, aku baru saja sampai.”
“Syukurlah,” ucap VIona, “Oh, apa itu pedangmu?”
“Benar.” Adelyn menganggukkan kepalanya. “Kami dari kelas Royal dapat memakai senjata kami sendiri ketika duel, namun sebelum masuk arena, akan ada seorang staff dari akademi yang datang untuk memberikan penghalang agar kami tak membunuh lawan kami.”
Mendengar itu Viona lalu menyikut Kevin. “Hei, apa kau mau menggoda wanitanya, Deron?”
Kevin hanya tertawa kecil mendengar ucapan Viona. “Haha, tentu saja tidak. Lagi pula apa kau pikir dia akan mau denganku?” tanyanya.
“Tidak sih … kau benar Itu sama sekali tidak mungkin.”
“Entah kenapa mendengarmu mengatakan semua itu membuat hatiku sedikit sakit, Vio.”
Di tengah candaan mereka berdua, wajahku dan Adelyn telah mulai memerah menahan malu. Aku dan Adelyn memang tak memiliki hubungan khusus, tapi tetap saja, setelah semua yang kami lalui, ini jadi sedikit memengaruhiku.
Tok! Tok!
Terdengar ketukan dari arah luar sehingga membuat kami melihat ke arah pintu masuk. Terlihat Gareth sedang tersenyum pada kami dari pintu masuk. “Maaf mengganggu kalian, aku ke sini untuk menerapkan sihir pada pedang milik, Nona Adelyn.”
“Ah! Tentu tidak apa.” Adelyn mulai melangkah mendekati Gareth dan memberikan pedangnya itu. “Silakan, Tuan.”
Gareth mulai menggunakan skill penghalang pada pedang tersebut. Setelah selesai menggunakan skillnya, dia lalu mulai pamit dari hadapan kami.
Namun walau tubuhnya itu mulai menjauh, aku bisa mendengar suara Gareth dari kepalaku. “Tuan dan Nyonya, Volva. Maafkan aku karena tidak menyapa kalian terlebih dahulu, aku juga minta maaf karena membuat duel ini jadi begitu besar, ini semua karena desakkan dari setiap murid yang ingin menonton pertandingan kalian, kuharap kalian bisa memahami situasiku yang tidak ingin mengecewakan murid-muridku.”
“Tenanglah, justru, Deron harusnya berterima kasih karena dengan begini dia bisa membalaskan dendamnya lebih baik lagi,” jawab Guru.
“Itu benar, Tuan,” balasku, “aku yang seharusnya berterima kasih saat ini.”
“Terima kasih atas pengertian kalian,” ucapnya, “kalau begitu, Tuan Deron. Semoga kau bisa bertanding dengan sekuat tenaga, aku akan menantikan pertunjukkan darimu, Tuan.”
“Baik, Terima kasih!”
Setelah selesai bersiap kami akhirnya mulai memutuskan urutan dalam duel ini.
Kevin mulai menjelaskan aturan duel kepada aku dan Viona. “Setiap tim akan mengirimkan seseorang untuk bertanding, ketika duel selesai, kedua peserta akan kembali ke ruang tunggu dan digantikan oleh peserta berikutnya. Kemenangan duel sendiri ditentukan dari poin yang dimenangkan oleh salah satu tim.”
“Lalu apa yang akan terjadi jika salah satu tim telah mengalahkan 3 peserta dari tim lawan?” tanyaku padanya.
“Maka tim itu akan dianggap sebagai pemenangnya, dan mengenai pertandingan berikutnya. Kedua tim bisa memilih untuk melanjutkan pertandingan atau tidak,” ucapnya, “biasanya jika seperti itu, tim yang kalah akan memilih untuk tidak melanjutkan pertandingannya, tapi kita tak boleh membiarkan mereka pergi begitu saja.”
“Benar! Aku tak ingin mereka pergi begitu saja setelah kita menangkap mereka, tidak seorang pun!” teriak Viona.
“Baiklah kurasa aku sudah mengerti dengan aturan mainnya,” ungkapku.
Adelyn mengangkat tangannya ketika kami berbicara. “Karena aku hanyalah anggota tambahan, aku akan maju terlebih dahulu, seharusnya anggota pertama yang dikirim itu adalah anggota terlemah dari tim tersebut, jadi kurasa kalian tidak perlu membuang tenaga untuk itu.”
Viona mulai menyeringai mendengar ucapan Adelyn. “Aku tak suka membiarkan orang lain menghajar mangsaku, tapi setidaknya ini lebih baik daripada kami tak bisa menghajar mereka sama sekali,” ucapnya, “kalau begitu, tolong jangan menahan diri melawan bocah-bocah itu!” pintanya pada Adelyn.
Adelyn hanya tersenyum mendengar ucapan Viona. “Baik, aku tidak akan menahan diri.”
Kevin yang sedari tadi memperhatikan mereka mulai menaruh tangannya di depan Adelyn. “Stop! Tolong tahanlah dirimu sedikit, Oke?”
Aku mengangguk setuju dengan Kevin. “Kevin benar, aku tak ingin mereka mati karena kau bertarung dengan serius. Tapi kalau cacat mungkin boleh juga.”
Mendengar ucapanku membuat mereka membelalakkan matanya, sepertinya aku mulai dipengaruhi oleh sifat Guru sehingga dapat mengatakan hal-hal extreme seperti itu.
“Wow, kupikir kau adalah tipe orang kalem, Deron,” ucap Viona.
“Benar, kupikir juga begitu,” sahut Kevin.
Setelah melakukan persiapan di ruang tunggu, kami akhirnya memulai pertandingan antara kami dan Albert. Semua murid yang datang menonton benar-benar terlihat antusias.
‘Albert … tunggu saja pembalasan dariku atas semua yang telah kau lakukan pada Tristan. Aku tak akan membiarkanmu begitu saja, kau akan membayar semuanya!’