
Trank!
Benturan dari pedang kami mengeluarkan suara yang begitu nyaring. Wajah bulldog Albert kini ada di depanku. Wajah yang benar-benar ingin kuhancurkan.
“Hanya segini saja?” ucapnya.
“Kau ingin lebih?”
Aku mulai menekan pedangku lebih kuat lagi sehingga membuat Albert terdorong karenanya. Wajahnya yang berubah panik itu membuatku sangat bergairah.
Albert berdecak pelan ketika mencoba menahan seranganku. “Ck! Tak buruk!” ucapannya sangat berbanding terbalik dengan ekspresinya itu.
“Tak buruk? Aku bahkan belum memulai seranganku bodoh!”
Aku mulai melirik ke arah Guru yang kini sedang terbang di atas kami berdua. Mendapat kode dariku, Guru langsung mengeluarkan cahaya dari matanya. Semua itu dia lakukan untuk mengecoh semua orang yang menonton agar aku bisa leluasa menggunakan sihir.
Sihir angin mulai ku tekankan pada pedangku, sehingga membuat tekanan yang kuberikan pada Albert semakin meningkat dan membuatnya jatuh tersungkur.
“Ugh! Jangan pikir ini sudah selesai!” ucapnya.
“Tidak, ini bahkan belum dimulai …” jawabku.
“Brengsek!”
Albert lalu bangkit dan mulai menyerangku dengan sekuat tenaga, serangannya tak terlalu merepotkan, aku bisa menghindarinya dengan mudah berkat bantuan sihir angin yang aku berikan pada kakiku.
Berkat itu semua aku jadi terlihat seperti sedang menari-nari di atas arena menghindari serangan beruntun Albert.
Wush! Swooosh! Wush!
Semua orang bisa mendengar dengan jelas suara angin yang diciptakan pedang Albert karena tidak mengenaiku sama sekali.
Seriuslah sedikit!
Kenapa kau bisa dipermainkan oleh bocah itu?!
Kau sebut dirimu bangsawan?!
Teriakan dari penonton yang kecewa akan performa Albert benar-benar membuatku semakin bergairah untuk mempermalukannya. Tapi aku harus menahan diri untuk tidak langsung mengalahkannya saat ini.
“Ahahaha! Hanya segini saja?” aku membalikkan pertanyaan yang dia berikan padaku.
“Berhentilah menghindar seperti tikus!”
“Bodoh! Kenapa aku harus mengikuti perintah lawanku?”
Albert yang termakan oleh provokasiku mulai bergerak dengan lebih gegabah. “Aku pasti akan mencincangmu!” ucapnya tanpa berhenti mengayunkan pedangnya terus menerus.
Wush!
Namun walaupun begitu, dia tetap tak bisa mengenaiku sama sekali, napasnya yang tak beraturan dengan wajah yang memerah karena dipermalukan olehku itu terlihat sangat lucu.
Kini dia berhenti menyerangku dan mulai mencoba untuk mengatur napasnya sejenak, dia juga mulai memejamkan matanya sembari menaruh pedangnya itu di depan wajahnya.
Aku hanya memperhatikannya yang berusaha sekuat tenaga saat ini, Ketika aku memperhatikannya, pedang yang dia pegang itu mulai mengeluarkan aura berwarna abu.
“Pedang aura, huh?” ucap Guru melalui telepati.
“Apa itu berbahaya?” tanyaku.
“Pedang aura memang menjengkelkan, tapi dilihat dari warnanya itu, sepertinya dia belum bisa menguasai pedang aura sepenuhnya.”
“Jika memang begitu kita tak perlu terlalu cemas,” ucapku, “mari kita biarkan dia mengeluarkan seluruh kemampuannya, sehingga kita bisa mempermalukannya lebih dalam lagi.”
“Tak kusangka bocah naif seperti dirimu itu bisa seperti ini.”
“Aku juga berpikir seperti itu,” jawabku, “tapi siapa peduli soal itu? Saat ini kita hanya harus menghajarnya bukan?”
“Kau benar, teruslah bersikap seperti ini ke depannya, jangan pernah bersikap lembek seperti kemarin.”
“Baik Guru!”
Guru benar, aku tak bisa terus bersikap lembek seperti sebelumnya, tak semua masalah bisa aku hindari hanya dengan bersikap defensif, kadang kala aku harus bersikap agresif seperti saat ini.
Mungkin dia ingin sedikit pamer dengan kemampuannya menggunakan pedang aura yang setengah jadi itu, tapi bukannya terlihat keren, tindakannya itu malah membuat dirinya terlihat semakin bodoh dengan membuang tenaganya pada hal yang tidak perlu.
“Sepertinya pedang aura itu tak bisa menutupi kebodohan penggunanya, ya?” ucapku memprovokasi Albert.
Albert mulai menambah kecepatan berlarinya itu. “Diamlah! Kau pasti akan menyesal setelah mengatakan semua itu!”
“Hah! Kita lihat saja.”
Dia langsung mengayunkan pedangnya itu dengan niat membelahku menjadi dua, memang benar serangannya ini lebih kuat dari sebelumnya dan juga tak memberi celah untukku menghindar, tapi itu jika aku hanya menggunakan kekuatan fisikku.
Aku langsung mengalirkan sihir angin dan listrik secara bersamaan untuk menghindari serangannya itu dan bergerak dengan cepat ke belakang tubuhnya.
Woahhh!
Sial! apa itu mungkin dilakukan manusia?!
Hei, berhenti mendukung bangsawan bodoh itu, kita memiliki bintang baru di sini!
Para penonton mulai semakin bersemangat karena gerakan yang aku tunjukkan tadi. Suasana yang ada di dalam stadion telah berubah seketika, kini semua penonton mulai berbalik mendukungku dari pada Albert.
Karena suasana yang berubah secara tiba-tiba ini, Albert jadi bergerak secara impulsif, dia mengayunkan pedangnya tanpa tujuan yang jelas dan memberikan celah yang begitu besar padaku.
“Baiklah, kurasa sudah cukup bermain-mainnya, sekarang habisi dia!” seru Guru padaku.
Sembari menghindari semua serangan tanpa arah Albert, aku pun menjawab saran dari Guru. “Aku juga berpikir seperti itu.”
Di tengah ayunan pedang Albert itu, aku langsung menendang pundaknya dengan sedikit aliran listrik dan membuatnya terjatuh seketika menghantam lantai.
Bruuk!
Krek!
Efek dari tendanganku benar-benar luar biasa, sehingga membuat lantai arena menjadi retak. Aku juga bisa mendengar suara tulang yang patah dari tubuh Albert. Tanpa membuang banyak waktu, aku langsung menghajarnya dengan pukulan beruntun ke wajahnya.
Bruk! Bruk! Bruk!
Crat! Cret! Crat!
Setiap pukulan yang aku berikan juga kualirkan sedikit sihir angin agar hantamannya semakin keras. Seranganku itu membuat wajah Albert mulai tak karuan dengan darah yang terus berceceran.
Aku memukuli wajah Albert sambil tertawa kegirangan. “Ahahaha! Biar aku rubah sedikit struktur wajahmu itu! Jika kau memang bangsawan maka jangan pernah memiliki muka seperti bulldog!”
Semua serangan itu terjadi dengan begitu cepat sehingga Igor sang wasit sedikit terlambat untuk bergerak menghentikanku. Dia langsung berlari menghampiriku yang sedang asik memukuli wajah Albert.
“Hei! Berhenti!”
Mendengar ucapan Igor, aku langsung menghentikan seranganku begitu saja. “Baiklah, aku berhenti.”
Igor hanya terdiam melihat tingkahku. Bagaimana tidak, orang yang menyerang lawannya secara brutal malah berhenti ketika ada orang yang menyuruhnya begitu saja.
Memang benar aku ingin menghajar Albert lebih banyak lagi, tapi wajahnya yang sekarang dipenuhi oleh darah itu sudah cukup untuk membuatku puas saat ini. Setidaknya dia tidak akan bisa merasakan wajahnya itu untuk sementara waktu.
Swooosh!
“Deron, awas!” Guru tiba-tiba berteriak di dalam kepalaku.
Sebuah tombak dengan aura berwarna biru tua sedang terbang dengan cepat ke arahku saat ini dan mulai melewati kepalaku, untung saja karena peringatan dari Guru, aku bisa menghindari serangan tersebut dengan tepat waktu. Jika aku telat sedetik saja, kepalaku pasti akan hancur akibat serangannya itu.
“Bajingan! Kubunuh kau!” teriakan dari Silva menggema ke seluruh penjuru stadion.
Dia berlari ke arahku dengan sangat cepat, saat ini niat membunuh yang dia berikan itu begitu kuat, sehingga membuat para pengawas yang menyadari hal itu mulai berlari untuk menghentikan Silva, tapi mereka tak sanggup mengejarnya.
Ketika Silva sudah berada di dekatku, dia langsung menarik sebuah belati yang lagi-lagi dialiri oleh aura dari pinggangnya dan langsung mengayunkannya padaku. Dia mengincar leherku dengan belati tersebut.
Namun sesaat sebelum dia berhasil menebas leherku dengan belati yang dia ambil itu, Guru lalu mengepakkan sayapnya dan mengeluarkan sihir angin yang begitu kuat sehingga membuat Silva dan beberapa pengawas yang mengejarnya terpental begitu jauh.
Dampak dari serangan yang Guru berikan begitu besar sehingga membuat semua orang yang menyaksikannya hanya terdiam tanpa bisa mengeluarkan suara sedikit pun.
Di tengah keheningan itu aku mulai berkata pada SIlva. “Jika kau ingin membunuh seseorang, maka sebaiknya kau juga harus bersiap untuk terbunuh ….”