
VIona POV :
Gemuruh dari para penonton membuatku jadi sangat bersemangat, apalagi ketika aku memperhatikan wajah bodoh dari si Jex ini. Aku jadi tak bisa menyembunyikan kegembiraanku dan terus tertawa karenanya.
Sreeeng! Trank! Sriing!
“Ahaha! Apa hanya ini yang bisa kau lakukan?!” provokasiku padanya.
“Diamlah! Kau akan menyesal telah berbicara omong kosong seperti itu!”
“Ahahaha! kita akan melihatnya nanti!”
Sreeeng! Trink!
Wajahnya yang dipenuhi oleh emosi itu benar-benar membuatku bersemangat, dia terus saja mengayunkan pedangnya itu seperti orang bodoh, emosinya telah menelan semua kemampuannya.
Sriiing! Trenk!
Sepertinya aku terlalu terpaku pada ekspresi lucu yang dia tujukan padaku, aku jadi tersudut di ujung arena karenanya. Tapi ini hanya awal dari semua ini.
Memikirkan semua kemungkinan untukku menghajar si bodoh ini membuatku menyeringai tanpa sadar karena bersemangat.
‘Sebaiknya aku mulai serius sekarang ini,’ batinku.
Aku mulai menfokuskan diriku untuk mengalahkan ikan bodoh yang ada di hadapanku, aku pasti akan membalaskan dendam Tristan saat ini juga.
Melihatku yang sedang terpojok, Jex mulai mencoba memprovokasiku. “Hah! Ternyata kau hanya bisa omong besar!” ucapnya.
“Oh ya? Sepertinya aku tak merasa begitu.”
“Omong kosong!” Dia langsung berlari ke arahku dan mengayunkan pedangnya itu secara horizontal.
“kau pikir aku akan diam saja?!” aku menangkis serangannya dan mulai melancarkan serangan counter dengan mencoba menusuk dadanya.
Sreeeng!
Lagi-lagi dia berhasil menahan seranganku dengan menepis pedangku dari ujung pedangnya itu. Tapi aku tak akan membiarkan dia bernapas begitu saja, aku langsung melancarkan beberapa serangan gabungan padanya.
Trank! Trenk! Sriiing!
Percikan yang tercipta dari pedang yang beradu membuatku tak kuasa menahan rasa ‘lapar’ untuk ‘melahap’-nya hidup-hidup. Aku tak akan membiarkannya keluar dari arena dengan luka ringan saja.
‘Deron benar, mungkin membuat mereka cacat akan sangat menyenangkan!’
Kini keadaan sudah mulai berbalik, Jex yang sedari tadi menyerangku mulai terpukul mundur olehku, tapi tidak sepertiku yang dengan mudah menahan serangannya, dia terlihat sangat kewalahan saat ini.
Woaaah! Viona! Viona! Viona!
Ayolah Jex, serang balik dia! Jangan buat kami malu!
‘Jangan buat mereka malu? Yang benar saja!’
Gerakanku mulai bertambah cepat dan keras, selaras dengan semua teriakan dari penonton, serangan yang aku berikan benar-benar membuat Jex kewalahan.
Sreeeng! Sret!
Aku mengenainya! Tebasanku mengenai lengannya dan membuatnya berdarah, dengan keadaan ini aku mulai bisa melancarkan seranganku ke tubuhnya itu.
“Ahahaha! Mati kau!”
Jex yang kewalahan hanya bisa terdiam mendengar ucapanku.
“Kemana semangatmu tadi, Hah?!” ucapku padanya.
“Diamlah!”
Tanpa mengindahkan ucapannya aku langsung menebas tangan dan perutnya, tak lupa dengan beberapa tebasan ke kakinya itu, sehingga membuat dia jadi mulai melambat.
Srat! Sret!
Tebasanku mulai membuat tubuh Jex dilumuri oleh darah, tak mau membuang kesempatan, aku langsung menyerang tangan yang dia gunakan untuk memegang pedangnya itu sampai membuat pedangnya terlepas dari genggamannya.
Melihat semua celah yang ada karena pedangnya yang terlepas, aku langsung meluncur dan menghajar wajahnya dengan gagang dari pedangku sampai membuat wajahnya babak belur.
Brak! Bruk! Brak! Bruk!
Crat!
Aku terus memukuli wajahnya itu ketika dia tak berdaya di bawahku dan membuat darah berceceran darinya.
“Hei! Hentikan!” ucap Igor sang wasit.
...----------------...
Deron POV :
Viona masih menghantam wajah Jex dengan brutal, beruntung Igor mulai bergerak dengan cepat sehingga nyawa Jex masih terselamatkan, sepertinya pelindung sihir pada pedang itu tak terlalu membantu untuk mencegah kematian seorang murid.
Kami yang berada di ruang tunggu hanya terdiam melihat semua itu, Viona benar-benar mengerikan ketika dia marah. Beruntungnya aku menjadi temannya dan bukan korbannya.
Kevin hanya bisa menepuk jidatnya dan menggelengkan kepalanya. “Vio! Kau harusnya bisa menahan diri sedikit.”
“Yah, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama jika ada di posisi, Viona,” sahutku.
“Kau harus menahan diri!” jawabnya, “setidaknya jangan sampai membunuh, oke?” Kevin mulai menghela napas panjang
Adelyn yang memperhatikan kami mulai mengangguk setuju dengan Kevin. “Kevin benar, walau kau baru belajar bela diri, tapi kemampuanmu itu sungguh mengerikan, Deron.”
“Iya-iya, aku pasti akan menahan diri.”
Jujur saja aku juga belum pernah bertarung melawan manusia sebelumnya, tapi kurasa aku tak akan sanggup untuk membunuh manusia. Jadi setidaknya mereka tak perlu terlalu cemas padaku.
Kini tim medis mulai memasuki arena dan memberikan pertolongan pertama pada Jex, VIona yang sedang ditahan oleh Igor pun mulai terlihat tenang. Dengan bantuan dari tim medis, Igor akhirnya mulai mengumumkan hasil pertandingan dengan sihir pengeras suara.
“Baiklah, sekarang saya akan mengumumkan hasil pertandingannya, dengan ini saya menyatakan bahwa pemenang dari pertandingan kedua adalah, tim biru!”
Yeaaaa! Viona! Viona! Viona!
Gemuruh dari penonton benar-benar memenuhi stadion. Viona yang telah diumumkan sebagai pemenang akhirnya mulai kembali ke ruang tunggu dengan diiringi oleh teriakan dari penonton.
“Setidaknya dia berhasil membawa poin untuk tim kita,” ucap Kevin.
“Yah, kita harus tetap mengapresiasinya bukan?” jawabku.
Kevin mulai tersenyum karena ucapanku. “Tentu saja.”
Viona akhirnya sampai ke ruang tunggu dan mulai berteriak seketika setelah memasuki ruang tunggu tim kami. “Yahahaha! Bagaimana? Aku hebat bukan?” dia merayakan kemenangannya dengan bahagia.
“Kau luar biasa!” ucapku.
“Yah, selama kau menahan diri sedikit,” ucap Kevin.
“Apa maksudmu! Aku sudah menahan diri untuk tak membuatnya cacat,” sahut Viona.
Adelyn hanya tertawa melihat percakapan kami. “Hahaha, kau telah melakukannya dengan baik, Vio,” ungkapnya.
Suasana dari stadion benar-benar terdengar keras sampai terdengar sampai ruang tunggu, para penonton menyerukan untuk kami segera melanjutkan pertandingan kami.
Tak mau menyia-nyiakan keadaan saat ini, kami akhirnya mengutus Kevin untuk menjadi peserta selanjutnya sebagai penentu kemenangan kami. Kedudukan kami saat ini benar-benar menguntungkan kami.
“Baiklah semoga beruntung di luar sana!” ucapku.
“Jangan sampai kalah dan membuat kami malu, Oke?!” lanjut VIona.
Kevin hanya tertawa kecil mendengar ucapan Viona. “Aku pasti tak akan membuat kalian malu, tenang saja”
“Kami percaya padamu,” tambah Adelyn.
Setelah percakapan singkat itu, Kevin akhirnya mulai memasuki arena terlebih dahulu, sementara itu kami masih tak melihat siapa yang akan dikirimkan oleh Albert saat ini.
Di arena hanya ada Kevin yang berdiri menunggu lawannya, teriakan dari penonton yang mendesak tim Albert juga terdengar sangat lantang, mereka mengolok-olok tim Albert yang lambat memasuki arena.
Cepatlah keluar! Apa kalian tidak malu kalah dari adik kelas kalian!
Booooooo!
Semua dukungan dari penonton pada kami itu benar-benar meringankan beban yang ada pada pundak kami, kurasa Kevin juga merasakan hal demikian, dia benar-benar terlihat tenang di atas arena.
Setelah mendapat banyak desakan, akhirnya kami bisa melihat orang yang ditunjuk untuk maju oleh tim Albert, Silva. Dia memasuki arena dengan wajah tegang dan mata yang terus memelototi Kevin dari jauh.
“Hah! Lihat ekspresinya itu!” ungkap Viona, “Kevin! Kau harus menghancurkan wajah bodohnya itu! Aku percaya padamu!” teriak VIona dari ruang tunggu ketika menonton dari kristal sihir.
Aku sependapat dengan Viona, aku ingin sekali menghajar wajah bodoh yang ditunjukkan oleh Silva.
Semua keuntungan yang bertiup ke arah kami ini membuat kami jadi semakin bersemangat, kami pasti bisa mengalahkan mereka dengan mudah jika terus seperti ini … begitulah pikirku pada awalnya.
Saat ini, pemandangan yang ada di arena benar-benar membuat kami terdiam, Kevin sekarang telah terjatuh sesaat pertandingan telah dimulai. Dia memuntahkan banyak darah dari mulutnya, semua itu terjadi dengan begitu cepat.
Silva … tak kusangka dia akan bergerak seperti itu.