Eldrea Academia and The One That Stars Chose

Eldrea Academia and The One That Stars Chose
Chapter 29 : Kelas A dan Kata Terlarang



Hari ini adalah hari kelima aku masuk akademi, siapa yang akan menyangka jika aku akan langsung naik dua tingkat ketika baru saja masuk selama lima hari. Sekarang aku bersama dengan Kevin dan Viona sedang berada di ruang Guru untuk menemui wali kelas kami yang baru.


Untuk Guru Margareth sendiri, dia sedang berada di ruangan Gareth untuk mencari beberapa informasi tambahan mengenai kelompok misterius yang sedang kami cari-cari.


Sama seperti terakhir kali aku ke sini, ruang guru benar-benar dipenuhi berkas para pengajar di meja-mejanya, hanya saja sekarang aku tidak datang sendirian. Di dalam sini aku juga bisa melihat Herald yang sedang menyiapkan berkas miliknya untuk mengajar.


“Oh, lihat bintang baru kita ini,” ucapnya melihat kedatangan kami.


“Terima kasih,” ucap Kevin.


Viona memperhatikan ke sekitar sebelum bertanya pada Herald.”Pak, apa kau selalu jadi yang terakhir untuk bersiap mengajar di kelas?”


Bibir Herald mulai menyunggingkan senyum.”Sepertinya itu benar,” jawabnya, “tapi sepertinya hari ini ada yang lebih terlambat dariku.”


“Apa dia yang akan menjadi wali kelas kami yang baru?” tanyaku padanya.


“Benar, mempersiapkan berkas-berkas ketika mendapatkan murid baru memang agak menyita waktu,” sahut Herald, “Tapi kalian tak perlu khawatir, ini memang sudah jadi tugas kami sebagai pengajar.”


Kreek …


Terdengar suara pintu yang terbuka ketika kami sedang berbincang dengan Herald, kami bisa melihat seorang pria dengan wajah tampan dan tubuh tinggi nan atletis sedang berjalan ke arah kami dari arah pintu sembari membawa beberapa berkas di tangan kanannya.


“Ah, selamat pagi, Tuan Igor. Apa anda sudah selesai mempersiapkan berkasnya?” tanya Herald pada pria itu yang tak lain adalah Igor sang wasit.


Igor mulai tersenyum ke arah kami dan menatap Herald. “Selamat pagi, Tuan Herald. Aku baru saja selesai mempersiapkan berkas-berkas perpindahan kelas mereka,” jawabnya pada Herald. Igor lalu menoleh ke arah kami. “Selamat pagi, anak-anak. Mungkin kalian sudah bisa menebaknya setelah mendengar percakapanku dengan, Tuan Herald. Aku akan menjadi wali kelas baru kalian di kelas A nanti, semoga kita bisa bekerja sama ke depannya.


“Ah, selamat pagi, semoga kami bisa mendapat ajaran terbaik dari anda, Tuan!” jawab kami bertiga serentak.


“Tentu, aku juga mengharapkan hal yang sama dari kalian, bagaimana pun kalian telah menjadi bintang baru di akademi ini, kurasa hanya tinggal menunggu waktu sampai kalian bisa masuk ke kelas Royal.”


“Anda terlalu berharap pada kami, Tuan,” sahut Kevin.


“Benar, kami baru saja naik ke kelas A dengan sedikit keberuntungan,” tambah Viona.


Igor mulai menggelengkan kepalanya pelan. “keberuntungan juga bagian dari sebuah usaha. Tanpa ada usaha yang bertemu dengan kesempatan, sebuah keberuntungan tidak akan pernah terjadi.”


Apa yang dia ucapkan ada benarnya, keberuntungan tidak dapat diraih seseorang jika orang tersebut tidak pernah berusaha sebelumnya.


“Baiklah, kalau begitu tolong ikuti aku,” ucap Igor, “Aku akan mengantar mereka ke kelas terlebih dahulu, semoga harimu menyenangkan,” lanjut Igor berpamitan dengan Herald.


“Tentu, silakan.”


Kami akhirnya mengikuti Igor menuju ruang kelas A yang berada di ujung koridor akademi, dekat dengan ruang serba guna milik kelas magic, sehingga suasana di sini benar-benar nyaman untuk dipakai belajar karena taman-taman yang ada di sekitarnya.


Berbeda dengan ruang kelas C yang terdengar berisik dari luar kelas ketika tidak ada Guru yang mengawasi, di sini sungguh hening. Ketika kami memasuki ruang kelas A, murid-murid yang sedang membaca buku mulai menghentikan aktivitas mereka dan menunjukkan wajah semringah karena melihat kedatangan kami.


‘Apa mereka seantusias itu untuk belajar?’ batinku.


“Baiklah, teman-teman sekalian. Seperti yang sudah kalian ketahui mulai sekarang mereka bertiga akan mulai masuk ke kelas A, aku mohon kalian dapat membantu mereka beradaptasi dengan lingkungan baru mereka, mengerti?” ucap Igor.


Setelah itu kami dipersilakan untuk memperkenalkan diri kami masing-masing dan mulai duduk bagian tengah kelas. Berbeda dengan kelas C  yang berisikan tiga baris meja ke samping dan belakangnya, di kelas A, mereka memiliki 6 baris bangku ke belakang dan 3 baris ke samping.


Jumlah murid yang terbilang 2 kali lipat dari Kelas C ini menandakan bahwa sangat sulit untuk lulus dari kelas A sehingga banyak sekali murid yang memaksimalkan waktu 3 tahun yang diberikan oleh akademi.


Mungkin inilah alasan kenapa murid-murid dari kelas A lebih fokus dalam belajar bahkan ketika tidak ada Guru yang memperhatikan mereka, karena jika mereka gagal dalam 3 tahun, mereka akan terpaksa dikeluarkan oleh akademi.


“Baiklah, sepertinya sampai  situ saja pelajaran hari ini, jika ada yang ingin kalian tanyakan, kalian bisa datang ke ruang guru untuk menemuiku seperti biasa,” ucap Igor mengakhiri kelas.


Mendengar ucapannya itu, sepertinya banyak sekali murid yang melakukan konseling dengannya ketika jam istirahat. Aku hanya bisa berharap jika ujian nanti tidak akan terlalu menyulitkan kami bertiga. Mungkin tidak akan terlalu menyulitkan untukku, tapi aku sedikit mengkhawatirkan Kevin dan Viona.


“Apa kalian pikir aku akan bisa mengikuti kelas A dengan baik?” tanya VIona pada kami.


“Tentu, Vio. Aku sangat yakin kau pasti bisa melewatinya,” jawab Kevin.


“Benar, jika kau memiliki kesulitan, mungkin kita bisa melakukan kelompok belajar agar kita bisa lulus bersama,” tambahku.


“Hei, itu bukan ide buruk!” ucap VIona, “jika aku dibantu belajar oleh kalian berdua mungkin saja aku bisa lulus dengan lebih cepat dari sini.”


Ucapan VIona membuat beberapa murid menoleh ke arah kami, sepertinya kata ‘lulus’ itu sangat terdengar sakral oleh para murid dari kelas A.


“Apa kau bisa mengikut sertakan kami?” ucap seorang murid laki-laki.


“Benar, bukankah Deron adalah murid dengan nilai tertinggi ketika penerimaan murid baru, dia pasti genius!” sahut perempuan di sebelahnya.


Tanpa kami sadari, kami telah menarik perhatian semua murid yang akan pergi untuk istirahat di luar kelas, dan membuat kami dikerumuni oleh banyak orang.


“Hah, Terima kasih, VIo!” ucap Kevin sedikit kesal karena situasi ini.


VIona mencoba keluar dari kerumunan para murid lainnya. “Hei! Aku tak tahu jika ini akan terjadi!”


Dikerumuni oleh murid sebanyak ini benar-benar membuat kami merasa sesak, jika saja mereka bukan seorang murid, aku pasti akan melemparkan mereka dengan Wind Blow.


“Baik, Sudah cukup semuanya!” Perkataan Igor menghentikan para murid. “Aku tak keberatan jika kalian sangat ingin belajar dari Deron tapi kita bisa melakukannya nanti, sekarang pergilah istirahat.”


Sepertinya Igor tidak langsung pergi ke ruang Guru karena melihat para murid mulai berlari mengerubungi kami, syukurlah. Jika dia tidak ada, entah apa yang akan terjadi pada kami nantinya.


“Yaaaaah” ucap para murid sedikit kecewa.


Akhirnya mereka mulai memberi kami ruang untuk bernapas. Kini aku, Kevin dan Viona mulai terduduk lemas, karena lega bisa bernapas.


“Sepertinya kita harus menjaga ucapan kita mulai sekarang,” tutur Kevin.


Aku dan Viona hanya mengangguk pelan mendengar ucapan Kevin. “Kau benar,” ucap kami bersama.


Dengan ini kami mempelajari satu hal yang akan sangat membantu kami bertahan di kelas A. ‘Jangan pernah mengatakan kata ‘lulus’ di depan para murid dengan masa depan suram.’