Eldrea Academia and The One That Stars Chose

Eldrea Academia and The One That Stars Chose
Chapter 42 : Hellen Bagian 4



Kebenaran dari Hellen yang sangat mirip dengan Guru benar-benar menjadi sesuatu yang ingin aku ketahui. Kesamaan diantara mereka berdua itu bukan hanya sekadar mirip belaka. Aku merasa seperti ada sesuatu yang membuat Hellen bisa begitu mirip dengan Guru.


Saat ini mata milik Hellen yang terbelalak itu benar-benar menjadi pemandangan yang menyenangkan bagiku. Bukan bermaksud ingin menggodanya, tapi aku merasa begitu senang karena bisa menemukan Hellen secepat ini.


Namun berbeda dengan Hellen, dia saat ini terlihat seperti seseorang yang sangat tidak ingin beretmu denganku. “Kau?!” ucapnya terheran melihatku yang menyambutnya di atas anak tangga.


“Ketemu!” ucapku, “ada sesuatu yang aku harus bicarakan denganmu.”


“Tapi aku tak punya waktu untuk hal tersebut!” Hellen mulai membalikkan badannya dan berlari menuruni anak tangga.


Karena tak mau kehilangan satu-satunya petunjuk dari misteri ini, aku langsung mengejarnya yang mulai menjauh dariku. Beberapa anak tangga langsung aku lompati sekaligus. Membuat diriku dengan cepat mengejarnya.


Aku langsung menahan tangan milik Hellen ketika berhasil mengejarnya. Namun sial, ketika aku menahan tangan dari Hellen. Kakinya yang sedang menuruni anak tangga itu mulai tergelincir dan membuatnya terjatuh bersamaku.


“Woaah!”


Kami mulai tergelincir dan mulai terlempar jatuh dari setengah anak tangga yang ada. Guru yang ada di pundakku mulai terbang dan mengamankan dirinya sendiri. Aku sedikit kesal karena Guru tidak mencoba untuk menghentikan kami yang mulai mendekat pada lantai keras itu.


Melihat kemungkinan yang bisa membuat aku dan Hellen terluka. Mau tak mau aku harus menggunakan sihir untuk menyelamatkan kami berdua. Tubuh Hellen yang terjatuh itu mulai kutarik untuk mendekat padaku.


Ketika aku berhasil merangkulnya, aku langsung mengeluarkan sihir angin untuk menahan tubuh kami yang mulai jatuh dengan lebih cepat lagi. Tubuh kami yang terjatuh dengan kepala di bawah itu mulai mendapatkan keseimbangannya.


Sekarang badan kami mulai berada dalam posisi seperti akan mendarat, dengan begini kami setidaknya tidak akan terluka karena tergelincir tadi. Sihir angin yang kuhempaskan ke lantai itu juga masih meniup kami sehingga membuat kecepatan mendarat kami semakin berkurang.


Ketika tubuh kami mulai mendekat ke lantai. Angin yang meniup kami itu mulai mengangkat rok yang dipakai oleh Hellen sehingga membuatku bisa melihat apa yang ada di balik rok tersebut.


“Aaaack!” teriak Hellen seraya menahan rok miliknya yang tertiup angin.


“Tedy bear?” ucapku tak sadar.


Tak kusangka, di balik sikapnya yang arogan itu. Ternyata dia suka mengenakan dalaman yang sungguh imut. Sepertinya masih ada hal yang tidak mirip dengan Guru pada dirinya. Atau aku saja yang belum tahu?


Ketika aku memikirkan hal ini, aku jadi sedikit penasaran. Apa Guru juga mengenakan dalaman yang imut? Mengingat mereka berdua itu benar-benar mirip layaknya seorang cloning.


‘Tidak! Aku seharusnya tidak memikirkan hal ini!’


Kami akhirnya berhasil mendarat tanpa terluka sama sekali. Begitulah pikirku pada awalnya.


Plak!


Begitu kami berdua berhasil mendarat. Sebuah tamparan keras mulai melayang ke arah pipiku. Memang benar tadi itu adalah hal yang memalukan bagi Hellen, tapi aku-kan tak sengaja melakukan hal tersebut!


“Aww! Kenapa kau menamparku?!” rintihku.


Hellen yang wajahnya mulai memerah mulai menatapku dengan tajam. “Kau melihatnya kan?!”


“Melihat apa?! … oh apa maksudmu itu soal berua-”


Belum selesai aku mengucapkannya, Hellen mulai menendang bagian bawah perutku dengan begitu keras sampai rasanya telurku pecah di dalam sana. Perasaan ngilu ini benar-benar hebat sekali. Ini bahkan lebih sakit dari saat ketika aku disetrum oleh Guru.


“Aarrgh!” aku teriak kesakitan karena tendangan dari Hellen.


Kevin dan VIona yang melihat Hellen pergi serta aku yang sedang meringkuk di lantai itu terlihat sangat kebingungan dengan apa yang mereka lihat. Itu wajar saja karena mereka tak melihat semua kejadiannya.


“Deron …?” ucap Viona heran.


“Bung, kau kenapa?” tambah Kevin.


Guru yang sedang terbang itu mulai turun dan kembali berubah menjadi manusia. Dia juga beberapa kali melihat ke arahku dan menghela napas panjang seraya menggelengkan kepalanya. “Biarkan saja bocah bodoh ini.”


“Emm … baiklah.” ucap Kevin dan VIona.


Mereka mulai membiarkanku waktu untuk meredakan rasa ngiluku beberapa saat. Setelah aku mulai bisa duduk kembali, Guru mulai membuka suara mengenai kondisi Hellen.


“Karena si bodoh ini sudah merasa baikkan, lebih baik kita mulai membicarakan soal gadis itu,” ungkap Guru, “dia bukan hanya sekadar mirip denganku, bisa dibilang dia adalah cloning dari diriku sendiri.”


Ucapannya itu benar-benar membuat kami semua terkejut. Bahkan aku yang masih terduduk karena ngilu pun langsung berdiri karenanya. Sialnya perasaan ngilu itu mulai kembali lagi karena aku yang tiba-tiba berdiri.


“Aaahh … sial, sepertinya aku terkena karma dari, Herald.” keluhku.


Mereka hanya memasang wajah malas ketika mendengar keluhanku itu. Sikap tak peduli yang mereka tunjukkan itu benar-benar menyakiti harga diriku sebagai seorang laki-laki. Tapi aku tak bisa mengeluh soal hal tersebut.


“Kenapa aku memiliki murid bodoh seperti ini …” keluh Guru seraya menghela napas, “baiklah, dengarkan saja apa yang akan aku katakan mulai sekarang.”


“Baik!” seru Kami bertiga.


“Ketika aku melihat gadis itu, aku bisa merasakan mana milikku ada di dalam tubuh gadis itu ….”


“Mana milikmu? Apa itu sama dengan kasusku?!” potongku.


“Dengarkanlah dulu!” bentak Guru.”


“Ah, maaf.”


Lagi-lagi Guru menghela napas panjang karenaku. “Memang benar aku dapat merasakan mana milikku dalam tubuh gadis itu, tapi ini tidak sama seperti kasusmu, Deron. Ini terasa seperti mana milikku dimasukkan secara paksa pada tubuh gadis tersebut.”


“Seolah gadis itu adalah sebuah hasil eksperimen yang menggunakan serpihan dari jejak sihirku … tapi ini hanya hipotesisku belaka, kita masih harus mencari kebenarannya secepat mungkin. Jika memang ada yang menggunakan serpihan sihir milikku. Maka kita perlu mencari siapa pelaku yang melakukan eksperimen tersebut,” lanjut Guru.


Semua yang Guru ucapkan benar-benar membuatku terkejut. Kenapa mereka ingin menciptakan cloning dari Guru? Siapa sebenarnya mereka ini? Apa mereka orang yang sama dengan kelompok yang sedang kami cari?


Terlalu banyak pertanyaan dalam benakku saat ini, tapi ada satu hal yang sangat ingin aku ketahui sekarang. “Maaf, tapi bagaimana caranya mereka menggunakan serpihan dari sihirmu Guru?”


Guru terdiam sejenak ketika mendengar pertanyaan dariku. “… Aku rasa mereka menggunakan sedikit bongkahan es yang membekukanku. Hanya itu satu-satunya cara mereka bisa mendapatkan serpihan dari sihirku.”


Mengambil bongkahan es yang membekukan Guru? Jika memang itu adalah cara mereka mendapatkan serpihan sihir dari Guru. Maka dapat dipastikan ada seorang pembelot diantara para pahlawan.


Seseorang yang tega menjual temannya sendiri ketika temannya sedang tidak berdaya. Siapa pembelot ini? Kenapa dia tega melakukan ini pada temannya yang telah mengorbankan nyawanya untuk melindungi dirinya? Sial masalah ini semakin besar saja setiap kami mencoba menggalinya.


“Kita harus menemukan pelakunya secepat mungkin.” ucap Guru.


Aku, Kevin dan Viona mulai mengangguk pelan. Benar kata Guru, kita harus segera menemukan dalang dari semua masalah ini.