
Saat ini Adelyn sedang memberikan penjelasan mengenai tehnik berpedang padaku secara terpisah. Kevin dan Viona sendiri saat ini sedang melakukan pemanasan dengan mengayunkan pedang mereka masing-masing 100 kali.
“Berpedang sendiri tidak memiliki terlalu banyak gerakan di dalamnya, bisa dibilang kau hanya perlu menebas, menusuk dan menangkis serangan. Tapi walaupun begitu sikapmu lah yang sangat menentukan segalanya. Perlu kau ingat, berpedang bukan hanya tentang mengayunkan senjata melainkan tentang menebas jatuh seseorang.”
Adelyn mulai mengangkat pedang kayu yang dia pegang dengan kedua tangannya dan menatapku dengan tajam. “Tolong selalu ingat hal ini. Kau harus selalu mengeluarkan sikap layaknya sedang bertarung entah di manapun kau berada, sangat penting untuk menjaga sikap tempur dalam kehidupan sehari-hari dan membuat sikap tempur menjadi sikap sehari-harimu.”
Aku tak terlalu mengerti apa yang dia maksudkan itu.
Melihatku yang sedikit kebingungan. Adelyn mulai menarik kembali pedangnya. “Aku tahu mungkin ini membingungkan, tapi kuharap kau mampu mengikuti arahanku. Berbeda dengan magician yang ‘bebas’, ahli bela diri harus selalu siaga karena mereka menggunakan tubuh dan pikirannya untuk bertarung.”
“Baiklah, sepertinya aku bisa sedikit memahami tentang yang kau beritahukan padaku ini.”
Senyum mulai mencuat dari bibir Adelyn. “Syukurlah. Sebaiknya kau sekarang mencoba untuk menirukan gerakan kami, tolong perhatikan ini.” Adelyn mulai memperagakan beberapa tehnik berpedang seperti menebas, menusuk dan menangkis.
Gerakan yang dia tunjukkan benar-benar halus, namun tetap mengeluarkan aura layaknya badai. Gerakan kecilnya saja sudah bisa seperti ini, aku penasaran bagaimana aura yang akan dia tunjukkan jika dia bertarung.
Kevin dan Viona yang sedang melakukan pemanasanpun mulai menghentikan aktifitasnya dan memperhatikan Adelyn yang sedang memberikan demonstrasi padaku.
“Wow, gerakannya benar-benar halus,” ungkap Kevin.
“Kau benar, aku tak tahu perlu berapa lama untuk bisa melakukan gerakan seperti itu,” sahut Kevin.
Sepertinya gerakan yang ditunjukkan oleh Adelyn berhasil memukau mereka juga.
Setelah melakukan demonstrasi, Adelyn mulai memejamkan matanya, menghela napas dan melirik padaku. “Bagaimana?”
“Indah … entah harus bagaimana aku menggambarkannya. Itu terlihat seperti tarian yang mendatangkan badai.”
“Terima kasih. Kalau begitu cobalah melakukan seperti yang aku demonstrasikan tadi, kau tak perlu melakukannya semirip mungkin, cukup ikuti saja badanmu.”
Aku mulai mengikuti apa yang dikatakan oleh Adelyn. Aku mencoba melakukan setiap gerakan yang dia tunjukkan padaku, menebas, menusuk dan menangkis. Namun berbeda dengan Adelyn yang terlihat seperti menari, aku malah terlihat seperti sedang menakut-nakuti hewan liar dengan menghentakkan kakiku.
Adelyn tak bergeming sama sekali ketika melihatku melakukan demonstrasi. Berbeda dengan Kevin dan Viona, mereka terlihat seperti ingin menyampaikan sesuatu, namun mereka menahannya karena Adelyn yang tetap diam memperhatikanku.
Setelah aku selesai menirukan gerakan dasar yang Adelyn tunjukkan. Adelyn mulai bertepuk tangan. “Bagus. Memang ‘sedikit’ kasar, tapi kita masih bisa meningkatkannya.”
“Maafkan aku karena menunjukkan sesuatu yang begitu buruk.”
“Ah, tidak, aku tak bermaksud seperti itu!” Adelyn mulai berdehem sebentar. “Aku memang mengatakan kau terlihat sedikir ‘kasar’, tapi bukan berarti itu buruk. Gerakanmu terlihat seperti itu dikarenakan pergerakan kakimu yang tidak alami itu.”
“Kaki?”
Penjelasannya memang panjang, tapi aku sendiri mulai bisa memahami tentang yang ingin dia sampaikan. Kurasa kesalahanku adalah mencoba meniru ‘keindahan’ yang dia tunjukkan dan bukan pemahaman tentang caranya berpedang.
Aku menganggukkan kepalaku ketika mendengar penjelasan Adelyn. “Baik, terima kasih. Sepertinya aku bisa sedikit memahami apa yang mau coba kau sampaikan.” Aku langsung mencoba melakukan apa yang Adelyn sarankan.
Kali ini aku melakukan gerakan dasar dengan arahan dari Adelyn, aku merasakan perbedaan yang sangat jauh ketika mencoba saran darinya. Jika tadi aku mencoba memaksa tubuhku, kali ini rasanya tubuhku mulai bergerak dengan sendirinya.
Setiap tebasan dan tusukan yang aku lakukan benar-benar mengalir layaknya air yang mengalir deras, terasa ringan namun tetap memberikan tekanan pada setiap serangannya.
Ketika aku selesai melakukan demonstrasi. Tampak wajah kaget dari mereka bertiga, aku tak mengerti kenapa mereka berekspresi seperti itu ketika aku hanya mengayunkan pedangku beberapa kali.
Viona yang matanya masih terbelalak mulai berkata padaku. “Apa ini serius? Bagaimana kau melakukannya hanya dengan arahan kecil seperti itu?”
“Entah, kurasa itu karena aku mulai memahami cara kerjanya,” ucapku, “Apakah ada yang salah dari gerakanku tadi?”
“Bung! Jika itu adalah kesalahan, aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika kau melakukannya dengan sempurna!” seru Kevin padaku.
Mendengar ucapan Kevin, VIona mulai menggelengkan kepalanya. “Benar! Dan apa maksudmu dengan ‘hanya memahami’? jika seseorang bisa melakukan semua itu dengan hanya memahami sebuah teori, kita tak mungkin perlu untuk melakukan latihan intens setiap harinya!”
“Vio benar, Deron. Walaupun kau bisa memahaminya, tapi tubuhmu seharusnya tidak bisa mengikuti keinginanmu begitu saja!”
Aku tak memahami apa yang mau mereka coba sampaikan, aku mulai melirik ke arah Adelyn untuk mencari penjelasan tentang reaksi yang mereka tunjukkan itu, namun dia hanya terdiam dengan mata terbelalak.
“Maaf, apa ini memang sehebat itu?” tanyaku pada Adelyn.
Adelyn mulai menggelengkan kepalanya dan mulai menarik napas panjang. “Itu, sungguh luar biasa. Memang aku yang menyarankan itu padamu, tapi aku tak pernah menyangka kau akan bisa melakukannya hanya dengan sedikit arahan dariku.”
Sepertinya semua ini tidak bisa di pahami oleh mereka bertiga. Tapi jika yang mereka katakan itu benar, sepertinya ada hal lain dalam diriku yang bisa membuat keinginanku menjadi kenyataan.
Guru yang sedang memperhatikan kami dari langit-langit sebagai seekor burungpun mulai berbicara padaku dengan telepati. “Sepertinya kau memikirkan hal yang sama seperti yang sedang aku pikirkan,” ucapnya, “Aku rasa selama kau bisa mengerti dasarannya, sepertinya kau bisa melakukan apapun yang kau mau.”
“Kau benar Guru, entah kenapa rasanya aku selalu bisa mendapatkan apa yang mau aku inginkan selama aku bisa memahami cara kerja dasarnya, tapi apa memang itu memungkinkan?”
“Aku juga tak pernah melihat kasus seperti ini, tapi sepertnya selama kau bisa memahami dasarnya dan mensugesti pikiranmu itu, kurasa kau akan bisa melakukan apapun yang kau mau menggunakan tubuhmu.”
“Sugesti, huh?”
Semua ini sangat mirip seperti ketika aku memulai menggunakan sihir, aku bisa menggunakannya tanpa mana hanya karena aku berhasil mensugesti diriku sendiri? Ini semua memang terdengar tidak masuk akal tapi hanya ini satu-satunya hipotesis yang bisa kami simpulkan saat ini.