
Gelap, semua yang aku lihat mulai gelap karena efek dari racun yang aku hirup. Di saat-saat terakhir sebelum pandanganku mulai kabur, aku sempat melihat api yang sangat besar berada di depan wajahku.
Aku tak dapat memastikan apa aku telah dibakar hingga mati atau tidak saat ini, karena sekarang aku sama sekali tak bisa merasakan tubuhku. Hampir semua indra dari tubuhku telah menghilang, hanya pendengaranku yang masih tersisa saat ini.
“AAARRRGGHH!!!”
Apakah teriakan itu berasal dariku yang telah dibakar hidup-hidup oleh pria berjubah itu? Aku tak tahu, aku sama sekali tak bisa merasakan apa-apa, aku merasa seperti sedang melayang keluar dari tubuhku. Hanya pendengaranku saja yang bekerja saat ini.
Kematian ini, entah mengapa terasa sungguh menenangkan saat ini. Walau pun aku merasa sedikit kesal karena gagal melakukan apa yang aku mau, tapi setidaknya aku bisa merasa sedikit tenang sekarang. Kakek, apakah aku bisa bertemu dengan orang tuaku jika aku pergi ke akhirat sekarang?
“Tuan Messenger!”
Suara ini … ini adalah suara dari orang yang sedang aku buru, suara milik SIlva, kenapa diakhir hayatku, aku malah mendengar suara bajingan itu? Sepertinya dendamku belum terbalaskan sepenuhnya hingga itu dapat menghantuiku bahkan sebelum aku mati.
“Deron! Deron sadarlah! Deron!”
Ini … ini adalah suara dari teman-temanku, Kevin dan Viona. Syukurlah, setidaknya hal terakhir yang aku dengar bukan suara bajingan itu. Teman-teman, semoga kita bisa bertemu lagi di akhirat nanti.
“Apa … bis … Ron … buh?”
“Ten … lah … dia … dak … ati.”
Sayup-sayup aku mendengar suara percakapan dari beberapa orang. Pandanganku yang menghilang juga mulai kembali secara perlahan, bahkan aku mulai bisa merasakan tubuhku lagi saat ini.
‘Apa aku belum mati?’
Kepalaku rasanya berat sekali, terasa seperti ada sebuah batu besar yang menahan kepalaku untuk bangun. Apa ini halusinasiku karena terbunuh dengan begitu sadis? Aku sama sekali tak tahu apa-apa.
“Deron! Deron sudah sadar!”
Suara itu, itu suara Kevin. Terdengar juga beberapa langkah kaki tak beraturan mendekat padaku saat ini. Penglihatanku sudah mulai membaik sekarang, aku dapat melihat langit-langit yang terbuat dari batu dengan plafon kayu sebagai dekorasinya.
Aku mulai berusaha untuk bangkit, sepertinya aku sudah cukup lama terbaring di lantai ini. Ada juga 2 buah buku yang ditumpuk untuk menyangga kepalaku. Apakah ini ruangan Lina?
“Deron!”
Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku. Di sana aku dapat melihat Kevin dan VIona yang sedang menatapku dengan mata berkaca-kaca. Di belakang mereka berdua aku dapat melihat Guru dan Lina yang memperhatikanku dari jauh.
Viona mulai melompat padaku, berniat memelukku yang masih setengah sadar. “Deron!”
Aku mencoba membuka mulutku, namun rasanya masih begitu sulit sekarang. Aku terus memaksakan mulutku untuk berucap, tapi aku hanya bisa mengeluarkan suara yang lirih. “Apa yang terjadi padaku?”
“Itu tidak penting! Yang terpenting adalah kau baik-baik saja sekarang,” ucap Viona tersedu.
Setelah beristirahat beberapa saat, aku akhirnya mulai bisa membawa kembali kesadaranku. Teman-temanku juga mulai menceritakan kejadian apa yang terjadi ketika aku pingsan di depan pria berjubah itu.
...----------------...
Ketika aku mulai tak sadarkan diri, Guru yang melihatku berlari secara tiba-tiba dari ruangan Lina, mulai ikut mengejarku dengan mengikuti jejak mana miliknya yang tertanam di dalam tubuhku.
Saat itu dia melihatku yang terbaring hendak diserang oleh pria tersebut. Tak pikir lama dia langsung melancarkan serangan api yang hanya difokuskan pada pria tersebut tanpa mengenai sekitarnya.
Menurut mereka, serangan api itu sangatlah kuat namun juga terkontrol dengan baik. Serangan yang dilancarkan Guru benar-benar tidak membuang mana secara sia-sia. Mendengar semua itu, kurasa api yang sempat kulihat sebelum penglihatanku menghilang sepenuhnya itu adalah serangan milik Guru.
“Nona Margareth benar-benar luar biasa! Dia sangat menawan ketika melahap pria itu dengan apinya!” ucap Viona dengan penuh semangat.
“Sudahlah, itu tak terlalu penting,” sela Guru, “sekarang mari kita bahas bocah tombak itu.”
“Ah, benar, bagaimana dengan bajingan itu?” tanyaku.
“Sekarang dia sedang berada di ruangan Gareth,” jawab Guru, “Dia sedang dimintai keterangan mengenai alasannya dan juga siapa orang yang membantunya itu.”
Guru mulai melangkah mendekat ke arahku yang terduduk di lantai. Dia mulai merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah kalung dari sana. “Kau ingat kalung ini?” ucapnya.
Benar, kurasa aku dapat mengingat kalung itu. Jika tidak salah itu adalah kalung yang melahap Hell Blaze yang kutembakkan pada pria misterius itu. “Aku sangat ingat kalung itu, kalung apa itu sebenarnya?”
“Ini kalung milikku, kalung buatan tanganku sendiri.” Guru menghentikan ucapannya sejenak, dan mulai mengeluarkan sihir pemisah ruang untuk membuat suara kami tak dapat didengar orang lain.
“Ini adalah kalung yang aku berikan pada Trishia …” lanjutnya dengan suara yang lirih.
Jika kalung itu adalah milik Trishia, murid Guru yang menghilang. Maka dapat dipastikan jika murid Guru telah tiada saat ini. Aku hanya bisa menatap mata berwarna merah Guru mulai terlihat seperti mata ikan mati.
Dia mungkin adalah seorang manusia terkuat di dunia saat ini. Tapi dia tetaplah seorang manusia dengan hati yang rapuh. Kekuatan saja tak bisa menahan perasaan sakit di hatinya.
Kami hanya diam tanpa mengeluarkan suara saat ini. Sihir pemisah ruang milik Guru juga telah dia non aktifkan. Kevin, Viona dan Lina yang melihat kami diam seribu bahasa ini juga tak mengeluarkan suara sama sekali.
Mereka dapat melihat kesedihan dari wajah Guru. Tak mau merusak suasana, Guru akhirnya beranjak pergi keluar ruangan. Dia membutuhkan waktu sendiri untuk menguatkan hatinya.
“Apa, Nona Margareth baik-baik saja?” tanya Viona khawatir.
Aku menggelengkan kepalaku pelan dan mulai memperlihatkan sedikit senyum. “Aku tak tahu,” ucapku, “maaf, sepertinya aku juga harus pergi mencari angin segar.”
Setelah meminta izin pada temanku, aku langsung pergi meninggalkan gedung serba guna kelas magic. Aku berjalan melewati Magical Garden tanpa tau arah tujuanku. Biarlah kakiku membawaku ke tempat yang ingin dia tuju.
Aku terus menarik napas dalam-dalam ketika sedang berjalan, mencoba memaksakan udara segar untuk menghempaskan rasa berat ini. Dadaku terus kembang kempis karena aku yang tak henti-henti menarik napas dan mengeluarkannya.
Namun ketika aku sedang melakukan kegiatan tersebut, tiba-tiba saja aku bisa mencium sedikit bau darah yang datang dari arah kananku. Aku langsung menengok ke arah bau darah itu muncul.
Itu adalah hutan yang ada di akademi. Sepertinya aku tanpa sadar sudah berjalan keluar komplek akademi dan ada di tengah jalan menuju asrama. Dengan perasaan tak enak, aku mencoba untuk masuk ke dalam hutan tersebut. Mencoba mencari tahu bau darah apa ini.
Semakin aku masuk ke dalam hutan tersebut, bau darah yang aku cium mulai terasa semakin pekat. Bau ini datang dari bau darah segar. Aku berhenti sejenak ketika bau itu jadi sangat menyengat. Sumber baunya sudah sangat dekat denganku.
Kini di depanku telah terlihat sebuah pohon beringin yang sangat besar, aku yakin. Di balik pohon itu, aku dapat melihat apa yang menyebabkan bau ini. Jantungku mulai berdetak lebih cepat. Aku mulai mencoba mengatur napasku, berusaha untuk tenang.
Dengan benak yang telah dipenuhi oleh pikiran negatif, aku lalu melangkahkan kakiku melewati pohon tersebut. Mataku mulai terbelalak melihat apa yang ada di balik pohon tersebut. Betapa terkejutnya aku ketika disuguhkan pemandangan mengerikan itu.
Di balik pohon itu, aku dapat melihat seseorang mengenakan jubah hitam dan celana putih yang dipenuhi oleh darah sedang berdiri di tengah-tengah puluhan mayat. Mayat-mayat itu mengenakan pakaian yang sama dengan pria yang aku kejar sebelumnya. Orang misterius itu hanya diam tak bergerak sedikit pun di tengah kumpulan mayat-mayat itu.
Dia memancarkan aura yang sangat kuat, namun tak membuatku takut sama sekali karenannya. Apa dia ada di pihak orang yang menyerang akademi? Atau mungkin ada di pihak kami? Tak bisa memikirkan kemungkinannya, aku mulai mencoba memberanikan diri untuk membuka suara.
“Siapa kau?” tanyaku padanya dengan suara yang bergetar.
Orang tersebut lalu menoleh ke arahku dan mulai berlari menjauh ke dalam hutan. Aku tak dapat melihat wajah dari orang tersebut. Yang dapat aku lihat hanya sedikit cahaya hijau zamrud yang terpancar dari matanya ketika menoleh padaku.
“Tunggu!”
Aku berusaha mengejarnya, namun belum sempat aku berlari. Rasa sesak di dadaku mulai kembali lagi. Sepertinya efek racun yang kuhirup belum sepenuhnya keluar dari tubuhku, sehingga terpaksa aku membiarkan orang tersebut pergi saat ini. Aku tak bisa mengambil resiko ketika hampir saja mati sebelumnya.
‘Siapa orang itu?’ batinku sembari memegangi dadaku yang sesak.