Eldrea Academia and The One That Stars Chose

Eldrea Academia and The One That Stars Chose
Chapter 43 : Hellen Bagian 5



Kota Gallopolis. Sebuah kota yang dipenuhi oleh kanal-kanal menghias sekitaran kota. Bangunannya sendiri sungguh terlihat seperti sebuah karya seni. Bangunan yang dibuat berjejer dengan ketinggian dan material dasar yang sama.


Perahu dan Sampan yang ada di setiap aliran kanal itu juga menjadi daya tarik dari kota ini. Sebuah kota yang sangat indah. Kota favorit wisatawan ini adalah daerah kekuasaan Duke Lucius Maxford. Keluarga dari Hellen.


Setelah memberikan kami waktu selama 6 bulan untuk berlatih di bawah arahan Adelyn. Guru, meminta aku dan temanku untuk ikut bersama dengannya untuk menginvestigasi kebenaran tentang, Hellen.


Beruntung kami dapat keluar untuk sementara waktu dari akademi. Semua itu karena medali yang didapatkan sebagai hadiah memenangkan duel dengan Albert. Jika tidak ada medali itu, mungkin kami akan kesulitan mencari cara untuk pergi keluar akademi.


Saat ini kami sedang mencari informasi mengenai kediaman Duke dari sebuah bar paling terkenal di Gallopolis, Agua. Nama yang sangat cocok mengingat isi bar itu sendiri memiliki banyak sekali dekorasi ala pelaut.


Bau dari alkohol dan seafood telah menyerbak memenuhi bar. Terlihat banyak sekali petualang dan pelaut sedang minum bersama di dalam sana. Sungguh tempat yang sangat cocok untuk mencari informasi.


“Bagus, sepertinya kita tidak akan kesulitan mencari informasi di sini,” ucap Guru.


Karena sekarang kita berada di luar akademi, Guru jadi bisa bebas bergerak tanpa harus menjadi burung. Kami mulai mencari tempat duduk untuk kami. Tak lupa, kami juga memesan beberapa makanan dan alkohol untuk Guru.


“Guru, kita kemari karena ingin mencari informasi. Bukan untuk membiarkanmu meminum alkohol,” protesku.


Kevin hanya terkekeh mendengar ucapanku. “Tidak apa, Deron. Sesekali, Nona juga harus bisa menikmati kehidupannya sendiri.”


“Syukurlah temanmu ini tak sebodoh dirimu,” tambah Guru.


Kami mulai menyantap makanan yang telah kami pesan. Setiap makanan yang dihidangkan benar-benar memiliki rasa yang begitu lezat. Bahan yang mereka gunakan benar-benar masih segar, sehingga membuat cita rasanya jadi begitu kuat.


“Sial, ini enak sekali!” ucap Viona seraya terus mengunyah makanannya.


Kevin menganggukkan kepalanya dengan antusias, dia tak bisa berhenti menyantap makannya. “Benar! Acqua Pazza, Calamari Ripieni, Fritto misco di pesce. Semua makanan ini benar-benar nikmat!”


“Wow, kau bahkan bisa menghapal semua nama-nama makanan ini?!” ucapku kagum.


“Cepat segera habiskan makanan kalian dan jangan berbicara ketika sedang makan!” Tegur Guru


“Baik!”


Tanpa sadar kami sudah menghabiskan makanan kami begitu saja. Sebenarnya aku tak terlalu kaget dengan kecepatan makanku, aku malah lebih terkejut karena Kevin dan Viona kini mulai bisa mengimbangi kecepatan makanku.


Kurasa latihan keras bersama Adelyn benar-benar mengubah mereka berdua. Bisa dibilang Adelyn sangat tahu bagaimana cara untuk mendorong batas kemampuan dari Kevin dan Viona.


Sejak pertama kami berlatih dengan Adelyn. Kevin dan Viona sudah mulai makan dengan lahap sepertiku. Setidaknya dengan begini kami sudah tak perlu khawatir akan asupan gizi lagi.


Ketika kami baru selesai makan, aku bisa merasakan beberapa orang sedang menatap ke arah kami. Tatapan dari mereka itu terlihat seperti sebuah tatapan tak senang. Apakah ini karena kami yang masih di bawah umur berada di dalam bar?


Beberapa orang petualang berbadan besar mulai menghampiri meja kami dari jauh. Mereka terlihat seperti sedang ingin melakukan sesuatu pada kami. Ketika mereka tiba di meja kami. Seseorang yang memiliki kepala pelontos mulai mengajak bicara Guru.


“Hei, Nona. Kenapa kau malah minum dengan bocah-bocah ini? Jika kau memang kesepian, kami siap menemanimu kapan saja,” ucap pria tersebut seraya menyeringai.


Sepertinya dia adalah pemimpin dari kelompok petualang tersebut. Teman dari pria itu juga hanya terkekeh di belakangnya. Mereka benar-benar terlihat menjijikkan saat ini.


“Ugh! Berhenti mengganggu, Nona!” bentak Viona.


“Woah! Gadis kecil, sepertinya kau tidak tahu sedang berbicara dengan siapa, huh?!”


“Tentu aku tahu, aku sedang berbicara dengan orang botak tanpa otak.”


Mendengar ejekkan dari Viona mulai membuat beberapa geratan di kepala pelontos petualang itu. “Sepertinya kau perlu diberi sedikit pelaran, bukan begitu teman-teman?”


“Benar boss! Sebaiknya kita jual saja gadis itu untuk dijadikan seorang budak.”


“Haha! Kau benar, sebaiknya kita jual saja bocah-bocah itu dan bawa, Nona ini untuk menemani malam kita!”


Guru sama sekali tak menggubris ucapan dari para petualang tersebut dan terus meminum bir miliknya. “Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan?” tanya Guru pada kami.


“Baiklah, Tuan-tuan. Mari ikuti saya keluar dari bar jika memang itu yang kalian mau,” ucap Guru pada para petualang itu.


Guru mulai bangkit dari tempatnya duduk dan pergi keluar bar, dia mengajak para petualang itu untuk berbicara di sebuah gang kecil yang ada di dekat bar. Petualang yang tak tahu apa-apa itu hanya mengikuti Guru dengan kegirangan.


Sungguh bodoh, mereka tak tahu bahaya macam apa yang akan mereka hadapi. Aku, Kevin dan Viona juga mulai mengikuti ke arah mereka pergi. Ketika kami sampai di gang yang telah dijanjikan.


Kami dapat melihat Guru dikerubungi oleh para petualang itu. Para petualang itu mengeluarkan senyum menjijikkan dari wajah mereka, sedangkan Guru hanya berdiam diri di tengah-tengah mereka.


“Hehe, Nona. Kau memang pandai,” ucap ketua petualang itu.


“Akhirnya kita bisa merasakan perempuan cantik boss!”


“Benar, saat ini kita akan segera berpesta!”


Guru yang sedang berdiri di tengah mereka mulai melirik ke arah kami. “Baiklah, ayo mulai pestanya anak-anak.”


"Yeaahh!" teriak para petualang bodoh itu.


Dengan aba-aba dari Guru, kami bertiga langsung menyerang para petualang itu. Serangan tiba-tiba kami membuat para petualang itu tak berkutik sama sekali. Beberapa dari mereka memang mampu menyerang balik, tapi mereka tetap terlalu lemah.


Tak perlu waktu lama bagi kami untuk mengalahkan para petualang tersebut. Setelah berhasil mengalahkan mereka, kami mulai mengumpulkan mereka di satu tempat, kami juga mulai mengikatkan tali pada mereka untuk diintrogasi.


“Lepaskan kami bajingan!”


“Diamlah! Jika kau ingin tetap hidup maka beritahukan apa yang ingin kami tanyakan,” ucap Guru.


“Hah! Bodoh, kau pikir siapa kami ini?! kami dilindungi oleh Red Scorpion!”


“Red Scorpion? Apa itu?” tanya Guru pada kami.


“Kalau tak salah, itu adalah sebuah kelompok kriminal yang sering menjarah para pedagang dan petualang di jalur dagang Eldrea,” jawab Kevin.


“Begitukah? Apa kau tahu di mana tempat mereka membuat markas?”


“Di gunung Yolk.”


“Hmm, gunung Yolk, ya? tunggu di sini sebentar.”


Guru mulai melakukan teleport dan menghilang dari pandangan kami. Melihat itu semua, pemimpin dari para petualang yang kami ringkus ini mulai membuka suaranya.


“Hah! Memangnya apa yang bisa dilakukan penyihir bodoh itu?!”


Tak lama setelah dia mengatakan itu, Guru pun kembali dengan sebuah kepala dari orang yang tidak aku kenali di tangan kanannya. DIa lalu melemparkan kepala tersebut ke hadapan para petualang itu.


“Apa ini serius?!”


“Boss apa yang kami lihat ini nyata?!”


“Ke-kepala itu?!”


“Ketua!!!”


Ternyata kepala yang dibawa oleh Guru tadi itu adalah kepala dari ketua kelompok kriminal tersebut. Padahal Guru pergi tak terlalu lama tadi. Entah apa yang terjadi di sana, tapi aku yakin jika Guru telah membantai kelompok bernama Red Scorpion tersebut.


Guru mulai melangkah mendekat pada para petualang, dia juga mulai mengeluarkan api kecil di tangannya. “Jadi, maukah kalian bekerja sama denganku?”


Para petualang tersebut mulai menelan ludah karena pemandangan yang sedang mereka saksikan saat ini.


Gulp!