
Trenk!
Suara benturan antara dagger yang digunakan untuk berlatih benar-benar terdengar sangat nyaring di ruang latihan kelas bela diri. Cara penggunaan dagger sendiri cukup berbeda dengan pedang.
Karena ukuran dagger yang lebih kecil dari pada pedang, kami terpaksa menggabungkan antara teknik bersenjata dan keterampilan tangan kosong ketika menggunakannya.
Namun itu jika kami bertarung sebagai sesama pengguna dagger. Ketika salah satu dari kami mengubah senjata kami. Dagger menjadi senjata yang kurang diuntungkan karena jarak serangnya yang terlalu pendek.
“Ugh! Ini benar-benar menyebalkan!” ucap Viona.
“Aku setuju!” ucap Kevin sebagai lawan sparingnya.
Sementara itu, aku mendapatkan Adelyn sebagai teman sparing ringan ini. Adelyn sendiri tidak banyak mengeluarkan gerakan yang sia-sia. Sungguh membuatku kesulitan karenanya.
“Apa kau sudah mengerti?” tanya Adelyn.
“Iya, kurasa Aku mengerti jika kau sungguh luar biasa, hap!” jawabku seraya terus menyerangnya.
“Woo, Deron menggoda Adelyn ketika sparing, haha!” ejek Viona.
Kevin yang kesulitan menahan serangan Viona juga memilih untuk mengejekku. “Haha, teman kita ini memang sesuatu bukan?” tambahnya.
Sembari terus menghindar dan melawan balik seranganku, Adelyn mulai menghela napas. “Ayolah teman-teman, kalian harus serius ketika berlatih ….”
Tanpa mendengarkan Adelyn, mereka berdua masih mengejekku seraya saling bertukar serangan. Sungguh, kenapa mereka tidak memilih fokus pada latihan mereka saja.
Yah, setidaknya mereka tetap melakukan sparing seperti yang sudah kami tentukan. Senjata baru yang dipilih Adelyn untuk kami pelajari ini memang benar-benar memberikan pandangan berbeda ketika kami menggunakannya.
Bagaimana pun juga senjata ini memang tidak dibuat untuk pertarungan satu lawan satu seperti yang sedang kami lakukan saat ini. Senjata ini adalah senjata yang di desain untuk para pembunuh bayaran.
Senjata mematikan ketika digabungkan dengan kemampuan bergerak secara diam-diam layaknya para pembunuh bayaran. Karena mereka harus terus bersembunyi ketika mendekati target mereka. Senjata ini jadi sangat cocok karena tak menimbulkan banyak sekali pantulan cahaya dari bilahnya.
Bruk!
Kevin terjatuh ke lantai ketika Viona berhasil menendangnya dan langsung meletakkan daggernya ke leher Kevin, dengan begitu pemenang dari sparing mereka adalah Viona.
“Aku menang!” ucap VIona sembari tersenyum girang.
Kevin yang tampak terkejut mulai mengeluarkan sebuah senyuman. “Sepertinya aku kalah lagi,” ucapnya seraya bangkit dibantu oleh Viona.
Sementara itu, aku dan Adelyn yang masih melakukan sparing terus bertukar serangan. Saat ini Adelyn mulai menaikkan tensi serangannya, dia mulai berlari ke arahku. Melihat jaraknya yang sudah dekat, aku langsung mencoba menghujamkan daggerku ke arah kepalanya.
Namun sebelum dagger milikku mengenainya, dia langsung menunduk seketika dan langsung memukul perutku hingga aku kesulitan bernapas. Pergerakkannya sungguh sangat lembut sehingga membuatku kesulitan untuk menebak arah dia akan menyerang.
Tanpa menunggu reaksiku berikutnya, Adelyn langsung menendangku dan menindihku seraya mengarahkan dagger miliknya ke wajahku. Sepertinya ini adalah kekalahanku. Kenapa perempuan yang aku temui selalu lebih kuat dariku?
Ketika Adelyn ada di atasku, aku bisa melihat wajahnya yang dingin itu dengan jelas. Wajah dingin layaknya pembunuh berpengalaman namun tetap tak menghilangkan kecantikannya. Perpaduan yang unik sekali, aku penasaran kenapa dia bisa memiliki wajah sedingin itu.
“Bagaimana?” tanyanya padaku.
“Luar biasa …” jawabku.
“Kau bermaksud memuji kemampuan bertarungnya atau wajahnya?” sahut Kevin tiba-tiba.
Rupanya Kevin dan VIona kini sedang memperhatikan kami berdua. Memang benar menonton Adelyn bertarung itu sungguh menakjubkan, tapi kurasa alasan mereka bukan hanya ingin menonton Adelyn.
“Tentu saja wajahnya, lihat posisinya yang di apit oleh paha Adelyn itu. Lelaki mana yang tak mau ada di posisi Deron sekarang?” tambah Viona.
Sebaiknya aku membiasakan diri untuk menerima ejekan dari Kevin dan VIona mulai saat ini. Memang ejekan mereka membuatku malu, tapi aku harus bisa menahannya sekuat mungkin.
“Ayolah teman-teman, kita harus berlatih dengan serius,” ungkapku.
Kevin dan Viona hanya tertawa mendengar perkataanku. “Baiklah!” ucap mereka serentak.
Kami langsung melanjutkan latihan kami setelah beristirahat sejenak. Sekarang kami mulai menukar lawan sparing kami, aku dengan Kevin dan Viona dengan Adelyn. Kami terus melakukan sparing dan bertukar pasangan terus menerus sampai kami lelah.
“Haah! Sial, aku tak menyangka ini akan menjadi sangat melelahkan,” ungkap VIona.
“Benar, tapi sepertinya ini sepadan,” sahut Kevin.
Aku masih mengatur napasku yang sudah tak beraturan. Latihan ini lebih melelahkan daripada latihan yang biasa kami jalani, namun walau begitu. Entah kenapa aku merasa ini membuatku jadi berkembang lebih cepat.
“Hei, apa kau mau ikut makan dengan kami?” tanya Viona pada Adelyn.
“Maaf, aku masih ada pekerjaan sehabis ini, aku akan makan setelah melakukan tugasku sebentar,” jawabnya.
“Kau masih ada pekerjaan? Apa mau kami bantu?” tanyaku padanya.
“Tidak, terima kasih atas perhatiannya, tapi aku sudah terbiasa melakukannya, kalian tak perlu khawatir.”
“Baiklah, tapi jika suatu saat kau butuh bantuan, kau bisa mencari kami, oke?”
Mendengar itu membuat senyuman mulai mencuat dari wajah Adelyn. “Tentu saja.”
Dengan begitu latihan kami hari ini telah selesai, aku dan temanku memutuskan untuk pergi makan di kafetaria seperti biasanya. Sedangkan Adelyn memilih untuk pergi ke kamarnya untuk melakukan pekerjaan.
Kami tak tahu pekerjaan seperti apa yang dia maksud, tapi kurasa itu tak jauh dari pekerjaan bangsawan atau pekerjaan dari murid top di akademi. Bagaimana pun juga kelas royal adalah panutan bagi setiap murid akademi, mereka pasti memiliki tugas mereka masing-masing untuk menjaga nama baik akademi.
Setelah berpisah dengan Adelyn, aku dan temanku mulai memesan makanan di kafetaria. Saat ini kami memutuskan untuk makan banyak protein dari daging dan kacang-kacangan.
Perkembangan otot itu sendiri tidak hanya timbul dari latihan saja, tapi dari asupan makanan yang kami beri pada tubuh kami. Sehingga memilih menu makan itu sendiri sudah sama pentingnya dengan latihan.
Oleh sebab itu makanan tinggi protein jadi sangat cocok untuk membantu otot kami yang rusak karena berlatih beregenerasi. Semua pikiran tentang protein dan daging ini membuat perutku tak kuasa menahan lapar.
“Selamat makan!”
Kami langsung menyantap makan siang kami dengan begitu lahap. Para murid yang ada di sekitar kami mulai memperhatikan kami makan. Sepertinya karena lelah, kami jadi memiliki nafsu makan yang tinggi.
“Lihatlah cara babi-babi ini makan.”
Tiba-tiba saja ada seseorang yang menghampiri kami ketika kami sedang makan dengan lahap. Sembari terus memasukkan makanan ke dalam mulut kami. Kami mulai menoleh ke arah suara tersebut.
Terlihat seorang wanita dengan mata berwarna merah serta wajah yang seolah berbicara. “Kalian manusia rendahan.” Wajah yang begitu familiar bagiku. Tidak, ini adalah wajah yang selalu aku jumpai.
“Guru!”
“Nona Margareth!”
Kami yang terkejut tak sengaja mengeluarkan makanan dari mulut kami. Melihat ini semua wanita itu mulai mengerenyitkan wajahnya seraya berkata. “Ugh, menjijikkan sekali! Dan siapa yang kalian panggil itu?! aku bukan Guru kalian atau bahkan Nona margasiapalah itu!”
Dia bukan guru? Tapi kenapa aku merasa dia sangat mirip dengan guru? Siapa sebenarnya wanita ini? Sial aku tak bisa memikirkan satu pun jawaban dari semua pertanyaanku.
Dengan daging sapi yang masih menggantung di mulut kami masing-masing, kami mulai saling melempar tatap karena kebingungan.