Eldrea Academia and The One That Stars Chose

Eldrea Academia and The One That Stars Chose
Chapter 28 : Duel Dengan Bulldog Bagian 6



Debu-debu beterbangan di area sekitar Silva dan para pengawas itu terlempar. Kini semua mata tertuju padaku yang memberikan peringatan pada Silva yang mencoba menyerangku dengan niat membunuh.


“Jika kau ingin membunuh seseorang, maka sebaiknya kau juga harus bersiap untuk terbunuh …” ucapku dengan nada yang sedikit bergetar karena emosi.


Whoaaa!


Sial dia keren sekali!


Bro kau adalah panutan kami sebagai seorang swordman!


Kyaaa! Tuan lihat aku!


Sepertinya ucapanku terdengar ke seluruh penjuru stadion dan membuat para penonton histeris. Aku panutan seorang swordman? Tolong jangan, aku tak mau membuat semua swordman menjadi brutal sepertiku tadi.


Dan apa yang mereka maksud dengan melihat mereka? Terlalu banyak orang untuk ku lihat di bawah sini.


Suara Guru mulai terdengar dari dalam kepalaku. “Sepertinya kau jadi sedikit populer, huh?”


“Aku hanya berniat untuk melakukan apa yang aku mau saja, entah kenapa mereka malah menyukainya.”


“Yah, manusia memang mahkluk yang aneh,” ungkap Guru.


Para pengawas lainnya mulai turun masuk ke area arena bertarung untuk membantu orang-orang yang terlempar oleh sihir milik Guru, kini mereka memberikan pengobatan pertama pada Albert dan lainnya.


Keadaan di sini benar-benar chaos, para murid yang menonton terus bersorak menyerukan namaku, sedangkan di bawah sini para pengawas sedikit kewalahan karena harus memberikan pertolongan pertama kepada beberapa orang sekaligus.


Melihat semua ini, Gareth yang berada di tribun khusus pengawas mulai memasuki arena dan memberikan beberapa patah kata dengan sihir pengeras suara. “Baiklah, tolong tenang sedikit semuanya.”


Mendengar ucapannya itu, suasana dalam stadion mulai kembali hening. Semua orang benar-benar menantikan apa yang akan dikatakan oleh Gareth saat ini di atas panggung arena.


“Terima kasih karena kalian sudah mau mendengarkan apa yang akan orang tua ini katakan,” ucap Gareth, “sekarang saya selaku kepala akademi akan mengumumkan hasil pertandingan ini, dikarenakan Tuan Igor sedang membantu pengawas yang lainnya.”


Terlihat setiap wajah yang ada mulai berseri ketika mendengarkan apa yang sedang Gareth ucapkan. Wibawa yang dimiliki sungguh luar biasa sehingga menghipnotis kami semua yang mendengarnya.


“Hasil dari pertandingan ini, dimenangkan oleh, Deron dari tim biru!” ungkap Gareth, “oleh sebab itu, saya mengundang masing-masing anggota dari tim biru untuk naik ke atas panggung arena sekarang.”


Yeaaah!


Deron! Deron! Deron!


Aku tak bisa berkata apa-apa saat ini, bukan karena aku yang disanjung oleh semua orang, tapi fakta bahwa mereka berhasil sepenuhnya mengabaikan keadaan Albert dan Silva saat ini benar-benar membuatku ngeri.


Semua itu tidak lain dan tidak bukan karena wibawa dari Gareth yang berhasil menghipnotis mereka, sehingga melupakan kejadian brutal yang baru saja mereka saksikan.


“Kau sungguh mengertikan, Tuan.” ucapku pada Gareth dengan sedikit berbisik.


Gareth hanya tersenyum kecil padaku setelah mendengar ucapanku.


Ketiga temanku yang menonton dari ruang tunggu akhirnya telah sampai di arena, mereka juga mendapatkan sambutan yang sangat meriah dari para penonton.


VIona! VIona! VIona!


Kevin! Semangatlah, kau tidak terlalu buruk!


Nona Adelyn! Cinntailah kami!


Beberapa dari sambutan yang diberikan oleh penonton itu sepertinya agak terlalu berlebihan, tapi kurasa mereka bertiga layak mendapatkannya. Mereka telah berusaha semaksimal mungkin.


Setelah semua anggota tim biru berada di atas panggung arena, Gareth kembali menyampaikan beberapa patah kata. “Terima kasih karena kalian telah menunjukkan pertandingan yang begitu menakjubkan pada kami semua,” ucapnya, “sekarang biarkan saya selaku kepala akademi, mengumumkan hadiah bagi kalian yang berhasil memenangkan pertandingan ini.”


Ucapannya itu membuat kami berempat penasaran, kami tak pernah mendengar soal hadiah atau semacamnya.


“Baiklah, hadiah untuk ketiga murid kelas C, mereka bertiga akan mulai memasuki kelas A mulai saat ini, apa ada yang keberatan?” ucap Gareth.


“Apa?!”


“Tuan, apa ini tidak masalah? Maksudku jika itu, Vio atau pun Deron aku bisa memahaminya, tapi kalau aku, aku kalah ketika bertanding tadi,” ucap Kevin.


“Sepertinya, Nak Kevin tidak menyadari potensinya sendiri,” jawab Gareth membuat kami kebingungan, “pertandingan hari ini adalah pertandingan antar tim, dan arahan darimu itu juga berhasil membawa kemenangan bagi timmu yang berisikan 3 murid kelas C, itu semua patut untuk diapresiasi,” jelasnya.


Viona mulai merangkul pundak Kevin dan tersenyum padanya. “Itu benar, kau juga ikut andil dalam kemenangan kita, jika masalahmu saat ini itu karena kau kalah, maka berlatihlah lebih giat lagi!”


Kevin hanya tertawa mendengar ucapan Viona. “Hahaha, tak kusangka aku akan mendengar itu dari mulutmu, VIo.”


“Apa maksudmu?!”


Mendengar percakapan mereka berdua, aku akhirnya ikut tertawa karenanya.


Gareth hanya tersenyum melihat kedekatan kami. “Saya senang melihat persahabatan diantara kalian bertiga,” ucapnya.


“Terima kasih!” ucap kami berbarengan.


Gareth mulai melanjutkan pengumumannya. “Untuk hadiah selanjutnya, masing-masing dari setiap murid akan diberikan medali yang akan mengizinkan mereka keluar dari akademi ketika mereka menginginkannya, namun kesempatan ini hanya bisa digunakan satu kali, jadi tolong pergunakan lah dengan bijak.”


Prok! Prok! Prok!


Suara tepuk tangan dari penonton mulai menghiasi penyerahan medali dari Gareth. Medali silver dengan logo burung phoenix di tengahnya itu mulai tergantung di leher kami.


Setelah upacara penyerahan medali selesai, Aku, Kevin dan Viona memutuskan untuk segera kembali menuju asrama, seharusnya kami melanjutkan kelas masing-masing, tapi karena kami tiba-tiba saja naik kelas, membuat aku, Kevin dan Viona harus mengatur ulang jadwal untuk besok.


Namun sebelum kami kembali ke asrama, Adelyn menghentikan langkah kami. “Maaf, apa aku bisa bicara sebentar?” tanyanya.


“Tentu! Apa kau mau berbicara dengan kami atau berbicara dengan Deron saja?” tanya Viona padanya.


Kevin tertawa karena perkataan Viona. “Hahaha, kau benar-benar tak memberikan mereka waktu sedikit saja untuk berbincang dengan santai, VIo.”


“Dengan santai, ya,” sahut Viona dengan sedikit mengejek.


“Deron, aku hanya ingin berbicara dengan Deron!” jawab Adelyn dengan wajah yang merah merona.


Karena Kevin dan Viona yang terus menggoda kami, akhirnya aku dan Adelyn memutuskan untuk pergi menjauh dari mereka berdua.


Adelyn membawaku ke sebuah taman yang berada persis di depan gedung serba guna milik kelas magic. Bangunan gedung tersebut sungguh berbeda dengan milik kelas bela diri, bangunan yang terdiri dari 3 lantai tersebut terlihat seperti sebuah miniatur dari gedung utama akademi.


Bebatuan dan atap dari jerami yang berwarna hitam itu benar-benar menyatu dengan indah bersama tanaman-tanaman yang ada di taman ini. Aku juga bisa merasakan banyak sekali energi mana dari sana.


“Maaf membawamu ke sini tiba-tiba,” ucap Adelyn sesampainya kami di sana.


“Tak apa, aku sama sekali tak keberatan,” ucapku, “jadi ada perlu apa kau ingin berbicara denganku?”


Adelyn terlihat ragu untuk mengatakan niatnya itu. “Anu ….” dia mulai memperhatikan sekitarnya beberapa saat dan mulai menghela napas panjang. “Bagaimana kau bisa melakukan serangan seperti itu?”


Sepertinya apa yang dia maksud itu mengenai kombinasi antara penggunaan fisik dan sihir dalam gaya bertarungku. “Seperti yang kau lihat, aku hanya dibantu oleh familiarku di sini,” jawabku mengelak.


Wajah masam mulai ditampakkan oleh Adelyn. “Begitu ya ….” pipinya yang sedikit mengembang benar-benar terlihat imut.


‘Maaf, tapi aku tak bisa mengatakan semua kebenarannya padamu,’ batinku.


“Baiklah, maaf karena telah menyita waktumu, aku akan kembali ke kelasku, semoga kau bisa mengikuti kelas barumu besok, dah!” ucapnya berpamitan.


“Dah!” jawabku sembari melambaikan tangan padanya.


Setelah berbincang singkat dengan Adelyn, aku akhirnya kembali menuju asramaku untuk mempersiapkan kelas besok.


“Sebaiknya kau tak terlalu menarik kecurigaan gadis itu,” ucap Guru merujuk pada Adelyn.


“Kau benar, Guru.”


Apa yang dikatakan oleh Guru benar, melihat kepekaan yang dimiliki oleh Adelyn. Lebih baik aku tak terlalu menarik perhatiannya mengingat dia bisa saja menjadi hambatan untukku ke depannya.