
Kerumunan yang mengitari Hellen mulai semakin padat. Lebih banyak lagi orang yang tertarik oleh kerumunan ini. Sementara itu orang yang berada di depan Hellen saat ini sudah terang-terangan melakukan provokasi pada kelompok Dark Elf itu.
Suasana saat ini sudah mulai memburuk. Mereka benar-benar terlihat seperti akan segera bertarung saat ini. Jika mereka bertarung sekarang, mereka akan menyeret banyak orang ke dalam pertarungan mereka.
‘Lebih baik aku menghentikan mereka sekarang.’ batinku.
“Ada apa ini? Kenapa kalian berkumpul di sini?”
Ketika aku hendak menghentikan mereka. Tiba-tiba saja ada suara dari seseorang yang menarik perhatian semua orang. Secara perlahan kerumunan yang ada di seberangku mulai terbuka dan memperlihatkan sosok Igor dari balik kerumunan.
Syukurlah, aku jadi tidak perlu terlibat. Igor yang melihat wajah-wajah tegang dari pria bernama Khan dan para Dark Elf itu mulai bertanya sekali lagi. “Ada apa ini?” pertanyaannya tidak dijawab oleh mereka.
“Aku tanya sekali lagi. Apa yang terjadi di sini?!”
Orang yang terlihat seperti pemimpin dari para Dark Elf itu mulai berdecak kesal. “Mari kita pergi dari sini,” ucapnya pada kelompoknya. Mereka langsung pergi melewati kerumunan itu
“Hei, Rexi Nerva! Mau kemana kau?!” seru Igor dengan suara yang sedikit meninggi.
Walau pun Igor memanggil mereka dengan suara yang meninggi. Para Dark Elf itu sama sekali tak mengindahkan ucapannya dan terus berlalu begitu saja. Orang-orang yang melihat itu semua hanya bisa terdiam karena bingung dengan apa baru saja mereka lihat.
‘Rexi Nerva, huh?’
Igor yang diacuhkan oleh Rexi dan teman-temannya mulai mendengus kesal, dia hanya bisa menutupi wajahnya yang memerah karena menahan amarah. Sementara itu Hellen mulai dibantu berdiri oleh pria bernama Khan.
“Kau tak apa?” tanya pria itu pada Hellen.
“Iya, kau tak perlu repot-repot membantuku ….”
Igor yang telah sedikit menenangkan dirinya mulai menghela napas panjang. Dia mulai memperhatikan sekitar dan kembali berteriak pada kerumunan yang masih ada di sini. “Apa yang sedang kalian tonton?! cepat kembali ke kelas kalian masing-masing!”
Teriakan dari Igor itu membuat kerumunan yang sangat padat ini mulai terpencar dengan begitu cepat. Karena orang-orang yang tadi berkumpul sudah mulai pergi. Kini Igor dan aku mulai saling menatap satu sama lain.
“Deron?” ucapnya terheran, “Kenapa kau berdiri di sana?”
“Saya dari tadi berdiri di sini, Tuan.”
*Wosh~ *
Tiba-tiba saja suasana mulai hening seketika. Apa ada yang salah dengan ucapanku?
Igor mulai menggeleng kepala dan menghela napas panjang. “Aku tak bertanya sejak kapan kau berdiri di sana … yang aku maksudkan itu, kenapa kau tak kembali ke kelas seperti yang lain?”
“Oh! Aku ada urusan dengan wanita ini,” sahutku sembari menunjuk Hellen yang sedang ditenangkan oleh pria bernama Khan.
Mendengar ucapanku, Hellen dan pria itu mulai berbalik melihatku dengan sedikit terkejut. Ketika Hellen melihatku, dia mulai menyeringai padaku. Sepertinya dia benar-benar marah dengan apa yang aku ucapkan di kafetaria.
Melihat reaksi Hellen yang seperti itu membuat pria yang berada di sebelahnya mulai bersikap agresif padaku. Dia langsung berlari menghampiriku dan mulai menarik kerah bajuku.
“Jadi kau yang membuat Hellen menangis?!”
“Emm, kurasa iya.”
“Bajingan!” Pria itu mulai melayangkan tinjunya kepadaku.
Igor yang melihat kejadian ini mulai berlari menghampiri kami. “Anthony! Jangan berbuat gegabah!” Jadi nama pria yang menyerangku ini adalah Anthony.
Karena Anthony tak berhenti ketika ditegur oleh Igor. Mau tak mau aku harus menghindari serangan yang dia layangkan padaku. Ketika tangannya mulai mendekat pada wajahku, aku langsung memiringkan kepalaku dan menekuk siku miliknya ke arah dalam tubuhnya.
Gerakan yang aku lakukan membuat serangannya tak mengenaiku sekaligus melepas cengkeramannya pada kerah bajuku. Dia mulai terlihat kesakitan karena sikunya yang kudorong dengan kuat.
“Aww, berhenti sialan!” keluhnya.
“Kalau begitu tenangkan dirimu dahulu,”
Beruntung Igor berhasil menangkapnya sehingga tendangannya tak sampai padaku. “Berhenti! Apa kau mau bertemu dengan kepala sekolah karena terus membuat masalah?!”
Anthony masih terus saja berontak ketika ditahan oleh Igor. Tanpa mempedulikan mereka berdua, aku langsung menghampiri Hellen dan membuatnya terkejut sampai membuat dia berada dalam posisi siaga.
“Tenanglah, aku hanya ingin meminta maaf.”
“Hanya itu? Apa kau pikir aku akan percaya begitu saja?!”
Aku hanya menaikkan bahuku seraya berkata. “Entahlah, urusan percaya dan memaafkankukan adalah urusanmu,” ucapku, “urusanku hanya untuk meminta maaf,” lanjutku.
Hellen yang mendengar perkataanku mulai menurunkan sikap siaganya itu dan melihatku dalam-dalam. “Apa kau serius ingin meminta maaf?”
“Yah … kurasa aku memang telah mengatakan hal yang berlebihan padamu.”
Dia tak menjawab ucapanku dan mulai tertunduk memperhatikan lantai. Melihat reaksinya seperti itu benar-benar membuatku bingung. Apa aku tak sengaja membuatnya menjadi lebih marah lagi?
Ketika aku masih menebak-nebak tentang apa yang dipikirkan oleh Hellen, dia tiba-tiba saja menaikkan kepalanya, menatap mataku dan memukul perutku dengan sangat keras. Pukulannya memang tak terlalu kuat, tapi tetap saja terasa di perutku.
“Argh! Kenapa kau menyerangku tiba-tiba?!” tanyaku padanya.
“Anggap saja itu adalah balasan atas apa yang kau perbuat padaku,” jawabnya seraya tersenyum, dia pun melanjutkan ucapannya itu. “Sekarang kita impas!”
Hellen mulai pergi meninggalkan kami semua, sedangkan Anthony yang tadi berusaha membantunya malah dia tinggalkan bersama Igor yang sedang kewalahan karena menahan Anthony yang terus berontak.
Karena tak mau terseret dalam masalah yang lebih dalam, aku mulai beranjak pergi sembari memegangi perutku yang masih terasa sedikit sakit. Biarlah Igor dan Anthony terus bergulat satu sama lain.
“Hei lepaskan aku!” seru Anthony.
“Diamlah! Setidaknya harus ada satu orang yang ikut untuk terkena hukuman!”
Mendengar teriakan mereka berdua benar-benar membuatku lega karena bisa pergi dari sana. Jika aku terjebak di sana, aku pasti dipaksa mendengarkan ceramah dari Igor atau semacamnya. Ditambah Anthony yang masih terlihat agresif padaku.
Setelah meninggalkan mereka berdua, aku langsung mencari keberadaan guru. Tempat pertama yang muncul dalam benakku adalah ruangan milik Gareth. Akhirnya aku langsung beranjak ke ruangannya.
Tok! Tok! Tok!
Aku mengetuk pintu Gareth beberapa kali. Tak lama pintu tersebut pun mulai terbuka dengan sihir milik Gareth. Tanpa menunggu pintu itu terbuka sepenuhnya, aku langsung berlari masuk ke dalam sana.
Di dalam sana hanya ada Gareth yang sedang duduk di meja kerjanya. Tanpa menoleh padaku, dia mulai bertanya tentang alasan kedatanganku kemari.
“Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?” ucapnya seraya tersenyum dari balik meja.
Aku mulai menoleh ke sekeliling dan mencari keberadaan guru, tapi aku sama sekali tak bisa menemukannya. “Maaf, Tuan. Apa kau melihat guru? Aku memiliki suatu urusan dengannya.”
“Maaf, tapi aku sama sekali belum melihat, Nyonya Margareth saat ini.”
Jadi dia tak ada di sini. Kemana dia pergi? Sepertinya hanya ada satu cara untuk menemukannya dengan cepat.
“Baiklah, kalau begitu … bisakah kau memberi tahuku cara kerja sihir telepati?”
Karena banyak sekali kejadian yang terjadi akhir-akhir ini, Aku dan Guru lupa pernah punya janji untuk mempelajari sihir Telepati.
Gareth tampak bingung dengan permintaan mendadak dariku. “Kenapa tiba-tiba?”
“Tak ada waktu untuk menjelaskannya.”
Dengan masih terlihat bingung, Gareth mulai mengiyakan permintaanku. “Baiklah.”
Gareth lalu menjelaskan padaku bagaimana cara kerja dari Telepati. Dengan begini aku bisa mencoba hipotesis mengenai kemampuanku sekaligus mencari guru dengan cepat.
Semoga saja perkiraanku dan guru mengenai kemampuanku itu memang benar.