
Bau dari mayat-mayat yang ditinggalkan ini benar-benar menyengat, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Melihat kumpulan mayat-mayat ini membuatku terpikir bagaimana pemandangan ketika peperangan terjadi.
“Ini sangat buruk.”
Aku menelan ludah ketika melihat mayat-mayat ini. Badan mereka yang dipenuhi oleh darah itu membuatku bergidik ngeri. Perlahan aku mencoba mendekati salah satu dari mayat tersebut. Terlihat sebuah luka tebasan di lehernya.
“SIal!”
Ini pertama kalinya aku melihat mayat manusia yang dibunuh. Apa ke depannya aku juga harus membunuh manusia seperti saat ini? Aku menggelengkan kepalaku karena memikirkan hal tersebut.
“Tidak, aku tak seharusnya berpikir seperti itu.”
Ketika aku memperhatikan mayat yang ada di hadapanku, aku bisa melihat sebuah medali yang kukenali. Pertama, aku mendapati medali yang mirip dengan pria yang aku kejar tadi. Medali tersebut terlihat masih utuh, berbeda dengan medali yang aku lihat sebelumnya.
Terlihat medali itu memiliki gambar laba-laba di tengahnya dan jaring laba-laba yang dipenuhi oleh kupu-kupu di pinggirannya melingkari medali tersebut. Kupu-kupu dan laba-laba. Entah kenapa ini terasa familiar sekali.
Entah kenapa aku merasakan perasaan tak enak ketika melihat medali tersebut. Aku mencoba mengesampingkan perasaanku mengenai medali ini dan mulai memasukkannya ke dalam kantungku. Untuk barang kedua yang aku lihat. Terlihat sebuah benda yang terbuat dari perak.
“Sial! Yang benar saja bajingan!”
Aku benar-benar kesal ketika melihat benda tersebut, bagaimana tidak. benda yang aku lihat itu merupakan Lencana dari Eldrea. Lencana yang dikhususkan untuk orang-orang dengan pangkat Captain atau Komandan. Kenapa mayat-mayat ini memiliki Lencana Eldrea? Apa ini ada hubungannya dengan Albert yang kupermalukan?
Benar kata guru, para bangsawan menjijikkan itu benar-benar membuatku muak. Jika ini yang mereka lakukan di belakang orang lain. Apa aku bisa melakukan hal serupa pada mereka?
Tidak, aku tak akan melakukan hal serupa seperti yang mereka lakukan. Setidaknya aku akan melakukannya dengan membuat neraka bagi mereka, aku tak akan bersikap baik dengan hanya membunuh orang yang mengangguku dan temanku.
Di tengah lamunanku tentang para bangsawan itu, aku dapat mendengar suara dari semak-semak yang berasal dari tempat aku masuk ke hutan tadi. Tanpa pikir panjang aku langsung mengantungi lencana yang kupegang dan mengambil posisi siaga memperhatikan arah suara itu.
“Argh bau apa ini? Apa ada orang di sana?”
Terdengar seseorang berkata dari balik pohon beringin yang sempat aku lalui. Tak lama dari itu, aku dapat melihat seseorang yang mengenakan jas berwarna coklat keluar dari sana.
“Deron? Hei ada apa ini? Apa kau yang melakukan semua ini?!” ucap orang tersebut setelah melihat kumpulan mayat di sekitarku.
Orang itu ternyata adalah Igor. Wali kelasku dan sang wasit ketika aku melakukan duel dengan kelompok Albert. Dia terlihat sangat syok ketika mendapatiku berdiri di tengah-tengah kumpulan mayat.
“Hei! Coba jelaskan sebenarnya apa yang terjadi?” ucap Igor.
“Aku tak tahu, aku datang kemari karena mencium bau darah ketika sedang berjalan di sekitar sini.”
“Apa kau mencoba berbohong padaku?” Dia mulai melihat ke sekeliling. “Tidak, bagaimanapun ini terlihat seperti serangan dari seseorang yang ahli menggunakan pedang. Terlebih ini adalah perbuatan dari seseorang yang handal dalam menggunakan pedang aura. Luka di leher mereka benar-benar rapi, tak mungkin orang yang berduel tanpa menggunakan pedangnya bisa melakukan ini.”
Sepertinya dia mengacu padaku yang tidak menggunakan pedangku sama sekali ketika berduel dengan Albert. Memang benar saat itu aku hanya menghindar dan memukuli Albert dengan tanganku, tapi bukan berarti aku tidak bisa menggunakan pedang.
“Terima kasih atas pengertiannya. Apa kau bisa membantuku untuk membawa mereka?” tanyaku padanya.
“Tidak, biarkan aku saja yang membawa mereka untuk menginvestigasinya, sebaiknya kau kembali ke akademi sekarang,” jawabnya, “dan jangan berkeliaran di luar akademi seperti ini lagi, mengerti?!”
“Baik, maafkan aku, kalau begitu akan kuserahkan situasi ini padamu.”
“Tentu, kau juga sebaiknya menemui, Nona Lina. Kau terlihat sangat pucat sekarang.”
Sepertinya karena efek dari racun dan juga tubuh yang belum fit sepenuhnya membuatku terlihat pucat. Sebaiknya aku mengikuti saran darinya, aku juga tak boleh berada di sini dan membuat kecurigaan Igor padaku lebih banyak lagi.
Setelah kembali dari hutan, aku langsung masuk ke dalam untuk menemui teman-temanku. Di sana mereka terlihat sangat muram, mereka hanya terduduk diam di depan ruangan Lina. Sepertinya mereka masih khawatir denganku dan guru yang tiba-tiba saja pergi dengan wajah sedih.
“Deron!” ucap VIona ketika melihatku.
Kevin dan Viona yang sedang terduduk mulai menghampiriku dengan tergesa-gesa. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Kevin padaku.
“Aku baik-baik saja. Apa kalian melihat guru?”
Mereka hanya menggelengkan kepala mereka. Terlihat kecemasan dari wajah mereka. Sungguh, aku sangat bersyukur karena memiliki teman seperti mereka ini.
“Kalian tak perlu cemas soal guru, dia bukanlah orang yang akan terlarut dalam kesedihannya,” ucapku menenangkan mereka, “Lalu di mana Lina?”
“Nona Lina sekarang sedang merawat Tristan, kami juga sudah menengoknya,” jawab Kevin.
“Oh ya? Bagaimana keadaan Tristan saat ini?”
“Dia baik-baik saja, syukurlah karena lemaknya yang banyak itu, tubuhnya jadi bisa tetap mendapatkan energi yang sangat dia butuhkan saat ini.” tutur Kevin.
“Yah, setidaknya dia bisa diet walau sedang dirawat,” canda VIona.
Aku hanya tertawa mendengar ucapan VIona. “Syukurlah jika Tristan baik-baik saja. Setidaknya masalah Tristan sudah teratasi sekarang.”
Kevin dan VIona mulai saling melempar tatap, mereka terlihat seperti memiliki pertanyaan di kepala mereka. Namun mereka mencoba menahan rasa penasaran mereka itu.
“Apa ada sesuatu yang salah?” tanyaku.
“Tidak.” Mereka menggeleng pelan.
“Hei sebaiknya kita mencari, Nona Margareth sekarang,” saran Viona.
“Vio benar, kita harus mencarinya,” lanjut Kevin, “Apa kau tahu dia sekarang sedang ada di mana?”
“Aku tak tahu dia di mana sekarang.”
“Kalau begitu ayo cari dia, kurasa dia tidak terlalu jauh dari sini,” seru Kevin.
Kami akhirnya pergi mencari guru. Beberapa tempat sudah kami lewati, namun tetap tak menemukan guru sama sekali, aku mencoba merubah caraku mencarinya. Sebaiknya aku mulai berpikir seperti guru saat ini.
‘Jika aku jadi guru, di mana tempat yang mungkin akan aku datangi ketika sedih?’ batinku.
Ketika aku membayangkan tempat yang mungkin akan guru datangi, aku mulai terbesit sebuah tempat dalam benakku. Tanpa pikir panjang aku langsung mengajak Kevin dan Viona untuk pergi ketempat yang kurasa akan dikunjungi guru.
“Ketemu!” ucap kami ketika berhasil menemukan Guru.
Seperti dugaanku, Guru benar-benar berada di atap akademi. Memperhatikan langit Kerajaan Eldrea. Ketika aku mencarinya, aku teringat ketika sedang berbicara dengan Yohan di kantor Guild Master, Guru yang terlihat sedih selalu memperhatikan langit dari balik jendela Guild Master.
Aku rasa itu adalah kebiasaannya ketika sedang merasa sedih. Setidaknya dengan kebiasaannya itu, aku bisa menemukannya sekarang. Viona yang sedari tadi cemas akan Guru mulai berlari dan memeluknya dari belakang.
Guru yang kaget mulai membalikkan badannya dan membalas pelukan Viona, dia juga memperlihatkan senyum dibalik wajah sedihnya. Melihat itu semua membuat hatiku merasa lega.
Bahkan manusia terkuat di dunia juga butuh sebuah pelukan ketika sedang merasa sedih.