Eldrea Academia and The One That Stars Chose

Eldrea Academia and The One That Stars Chose
Chapter 39 : Hellen Bagian 1



Pemandangan di depan kami ini benar-benar membuat kami tak bisa berkata-kata. Apa guru kembali muda? Tidak, itu tidak mungkin. Lagi pula guru masih di usia terbilang muda saat ini. Tidak ada alasan untuk guru kembali jadi remaja. Lalu siapa orang di depan kami ini?


Semua tentang wanita yang berdiri di depan kami ini benar-benar mirip sekali dengan guru. Matanya, gaya bicaranya, cara dia berdiri, bahkan sikap angkuhnya itu juga sangat mirip dengan guru. Satu-satunya yang berbeda darinya hanyalah rambutnya yang berwarna hitam, tidak seperti guru yang memiliki rambut berwarna merah.


Dengan daging sapi yang masih memenuhi mulutku, aku mencoba bertanya padanya. “Maaf, sepertinya kami salah mengenalimu,” ucapku padanya, “kalau boleh tahu, sebenarnya kau ini siapa?”


“Kunyahlah dahulu makananmu itu! Dan kalau kau penasaran siapa aku. Aku adalah, Hellen Maxford. Seorang magician terbaik di akademi saat ini dan akan menjadi magician terbaik di dunia di masa depan nanti!” jawabnya.


Cara dia menjawab pertanyaanku sungguh mirip dengan guru. Hanya saja, dia masih menjadi seorang murid di akademi saat ini. Apa guru dahulu juga seperti dia ini? Aku mulai mengunyah makananku dan menelannya sekaligus.


Cough! Cough!


Aku terbatuk karena menelan makananku sekaligus, aku langsung buru-buru meneguk segelas air putih yang ada di samping piring makananku.


“Ugh! Kenapa kau jorok sekali?!” ucap Hellen.


Tanpa mempedulikannya aku terus meneguk air minumku sampai semua makanan yang ada di mulutku habis. Aku lalu menoleh pada Hellen sekali lagi. “Maaf, tapi kau benar-benar mirip dengan seseorang yang kami kenal.”


Kevin dan VIona yang telah menelan daging dari mulut mereka juga mulai angkat bicara. “Benar, kau sungguh mirip dengannya,” tambah Viona.


“Apa kau punya saudari atau semacamnya yang menghilang?” tanya Kevin.


Mendengar pertanyaan Kevin, Hellen hanya menggeleng pelan. “Tidak, semua saudaraku masih ada di kediamanku.”


“Kediamanmu?” ucap Kevin bingung. Dia lalu mulai berpikir sejenak dan tiba-tiba terperanjat karena sesuatu. “Apa kau adalah putri dari, Lucius Maxford?!” tambah Kevin.


“Benarkah?! bangsawan yang ahli berdagang itu? Apa kau benar anak dari Lucius Maxford?!” tanya Viona bersemangat.


“Benar, aku adalah anak ke tiga dari ayahku. Apa kalian sudah mengerti betapa menakjubkannya diriku?”


Sial, dia benar-benar mirip dengan guru ketika berkata seperti itu. Sepertinya aku harus menanyakan hal ini pada guru ketika kita bertemu nanti. Bagaimana pun juga ini tidak masuk akal, aku juga ragu jika dia adalah anak guru mengingat guru yang membeku selama puluhan tahun.


“Kau menghampiri kami karena cara kami makan benar? Kalau begitu kami minta maaf karena itu. Bolehkah kami melanjutkan makan kami?” ucapku pada Hellen.


“Kenapa kau bersikap biasa saja ketika mendengar nama keluargaku?!” jawab Hellen, “apa kau tidak tahu seberapa berpengaruhnya keluargaku ini? Ayahku adalah seorang duke yang berperan besar dalam perekonomian kerajaan!”


Aku mulai menghela napas panjang karenannya, dia memang mirip dengan guru, tapi hanya sekadar mirip saja. “Dengar ini, aku tak peduli seberapa hebat keluargamu itu. Jika kau ingin diakui olehku dan orang lain. Maka berhenti membanggakan keluargamu dan berjuanglah untuk mendapatkan pengakuan setiap orang.”


Mendengar ucapanku membuat dia terdiam seketika. Wajahnya itu mulai memerah dan matanya yang mulai basah. Apakah aku sudah kelewatan? Tidak, aku memang harus mengatakan semua itu demi kebaikannya juga.


Hellen mulai berlari keluar kafetaria dan membuat semua orang memandangku dengan tatapan menyalahkan. Sepertinya bagi mereka ini, aku adalah lelaki kurang ajar yang berani menyakiti hati dari seorang putri bangsawan.


“Hei! Cepat kejar dia!” seru Kevin.


“Itu benar, kau sudah kelewatan tadi!” lanjut Viona.


Terdengar juga orang-orang mulai membicarakanku saat ini.


Lihat dia, bukankah itu keterlaluan?


‘Itukan perkiraan kalian saja!’ batinku.


Dengan perasaan setengah hati, mau tak mau aku mengejar Hellen keluar kafetaria seperti saran dari Kevin dan VIona. Ketika aku keluar dari kafetaria, aku tak bisa menemukan sosok Hellen sama sekali.


‘Kemana dia pergi?’


‘Kenapa dia bisa pergi secepat itu. Bahkan di tempat seluas ini pun aku tak bisa melihat sosoknya sama sekali. Apa dia berbelok ke suatu tempat? Entahlah, lebih baik aku segera mencarinya.’


Aku mulai mengelilingi akademi dan mencari keberadaan Hellen. Namun mencari seseorang di tempat seluas ini itu sungguh menyulitkan. Hanya intuisiku saja yang bisa aku andalkan sekarang.


Ketika aku sedang berlarian mencari keberadaan Hellen, aku dapat melihat beberapa murid yang sedang berkerumun di koridor akademi. Para murid tersebut terlihat seperti sedang memperhatikan sesuatu.


Dengan sedikit rasa penasaran aku lalu mendekati kerumunan murid-murid itu. Mencoba mencari tahu apa yang sedang mereka perhatikan itu. Betapa terkejutnya aku ketika melihat apa yang menjadi tontonan dari para murid ini.


Di tengah-tengah kerumunan para murid. Hellen sedang terduduk di lantai. Di depannya juga ada beberapa orang yang tak aku kenali menggunakan tudung berwarna hitam. Mereka tampak marah ketika melihat Hellen yang sedang terduduk dilantai.


Ketika aku hendak menghampiri Hellen. Tiba-tiba saja ada seorang laki-laki yang berlari ke arah mereka. Dia langsung berdiri di depan Hellen dan menatap tajam ke arah orang-orang yang terlihat seperti sedang membully Hellen.


“Bukankah dia itu anak dari keluarga Khan yang runtuh?”


“Kenapa dia ikut campur urusan murid kelas magic?”


“Apa dia dekat dengan, Nona Hellen?”


“Tidak! Jangan sampai itu terjadi, aku tak mau jika, Nona Hellen dekat dengan pria seperti itu!”


“Benar, Nona Hellen bisa ikut kena sial jika bergaul dengan bangsawan runtuh”


Orang-orang yang menonton hal ini mulai membicarakan pria bernama Khan tersebut. Pria itu sendiri tampak tak mengindahkan ucapan dari setiap orang. Dia terus berdiri di sana menatap tajam ke arah orang-orang yang menggunakan tudung.


‘Kenapa orang-orang senang sekali membicarakan orang lain seperti ini? Apa untuk menunjukkan kehebatan diri mereka? Apa mereka bersyukur karena bukan merekalah yang ada di posisi orang yang sedang mereka bicarakan? Ini benar-benar konyol.’


Melihat pemandangan seperti ini sungguh membuatku kesal. Orang-orang yang terlihat seperti sedang merundung Hellen tersebut pun mulai membuka tudung mereka. Aku bisa melihat kulit mereka yang berwarna hitam, rambut berwarna biru gelap dan kuping mereka yang lancip.


‘Dark Elf?’


Dari apa yang aku dengar, Dark Elf merupakan ras yang masih satu keturunan dengan High Elf. Perbedaan diantara mereka itu terletak pada penampilan mereka dan juga cara mereka melihat dunia ini sendiri.


“Menyingkirlah bangsawan runtuh!” ucap orang yang kurasa pemimpin dari para dark elf tersebut.


“Buatlah aku menyingkir dari sini jika memang kau mampu!” jawab pria bernama Khan itu.


Sepertinya suasana saat ini mulai memburuk. Mereka benar-benar terlihat seperti akan segera bertarung sekarang ini. Jika mereka bertarung sekarang, mereka akan menyeret banyak orang ke dalam pertarungan mereka.


‘Lebih baik aku menghentikan mereka sekarang.'