Eldrea Academia and The One That Stars Chose

Eldrea Academia and The One That Stars Chose
Chapter 37 : Master Bela Diri Bagian 3



Keelokan wajah Adelyn benar-benar tampak menawan. Bahkan ketika dirinya terlihat bingung karena permintaan tiba-tiba dari, aku dan temanku padanya. Memperhatikan kami yang tampak gelisah ketika meminta bantuan darinya membuatnya mencoba menenangkan kami.


“Coba jelaskan terlebih dahulu apa yang kalian ingin aku bantu?” tanya Adelyn.


Kami mulai menelan ludah. Takut jika saja dia tak bisa membantu kami untuk belajar bela diri. Dengan perasaan ragu, kami mulai membuka suara tentang niat kami. Ketika kami menjelaskan apa maksud kami, Adelyn hanya diam dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Melihat respon Adelyn seperti itu sungguh membuat kami semakin cemas. Bagaimana tidak, kami tak bisa memberi alasan yang begitu kuat untuknya dapat membantu kami. Tak mungkin bagi kami untuk memberitahukan alasan kami sebenarnya. Semua yang kami ucapkan hanya seolah-olah ingin membuat kami jadi lebih kuat untuk membantu orang-orang seperti Tristan.


“Apa kalian yakin? Kurasa kalian sudah cukup kuat …” ucap Adelyn terhenti.


“Kami yakin!” jawab kami serentak.


Viona lalu memegang tangan milik Adelyn dan mendekatkan wajahnya pada Adelyn. “Aku mohon … kami ingin menjadi lebih kuat seperti mu,” melasnya.


Adelyn yang dipojokkan oleh VIona hanya bisa tersenyum kikuk. “Baiklah baik, kumohon mundurlah sedikit. Wajahmu terlalu dekat.”


Tanpa mendengarkan ucapan Adelyn, VIona mulai mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi dengan wajah Adelyn. “Tolong … ya?”


Dengan semakin disudutkannya Adelyn, dia mulai mengangguk dengan cepat. “Iya, iya! Tolong jangan terlalu dekat Vio ….”


Mendengar ucapannya itu membuat Viona melepaskan Adelyn dan mulai berlari padaku dan Kevin. Kami sangat bahagia karena ucapan Adelyn yang setuju untuk membantu kami. Tangan kami yang saling berpegangan mulai melingkar dan melompat-lompat seperti anak kecil karenanya.


Sedangkan di sisi lain Adelyn mulai terduduk lemas karena ditekan oleh Viona. Aku sedikit merasa kasihan padanya, tapi itu hanya sedikit. Karena hanya dengan itulah dia akan mau membantu kami tanpa bertanya lebih lanjut. Sepertinya aku harus memberikan sedikit makan siangku pada VIona nanti sebagai ucapan terima kasih.


“Apa yang sedang mereka lakukan?”


“Apa mereka membully, Nona Adelyn?”


“Mana mungkin seperti itu, kau pikir siapa Nona Adelyn itu?!”


“Kau benar, tapi kenapa, Nona Adelyn terduduk di tanah?”


Para murid yang sedang berlalu lalang mulai memperhatikan kami yang melompat kegirangan. Ditambah dengan adanya Adelyn yang terduduk lemas di tanah itu membuat kami menjadi tontonan bagi setiap murid.


Semua perhatian itu membuat kami berhenti seketika dan mulai menarik Adelyn yang sedang terkulai lemas itu masuk ke dalam gedung serba guna kelas magic. Karena kami yang tiba-tiba menarik Adelyn, dia mulai terkejut karenanya.


“He-hei!”


Tanpa mengindahkan ucapannya. Kami langsung menariknya untuk mengikuti kami ke ruangan milik Lina. Sebaiknya kami melanjutkan percakapan kami di tempat yang tidak dilalui oleh banyak orang. Kami menarik Adelyn dengan sedikit berlari dan tertawa bahagia.


Setelah sampai di ruangan Lina, kami langsung duduk di lantai ruangannya. Lina yang sedang membaca buku mulai terperanjat karena kami yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya itu.


“Hei ada apa ini?!” ucap Lina.


Kami tak menjawab pertanyaannya itu karena masih terengah-engah akibat berlari sambil tertawa. Melihat kami yang masih mencoba mengatur napas, Lina hanya terdiam penasaran.


Lina mencoba mencari jawaban dari kedatangan kami. Hingga matanya itu tak sengaja melihat ke arah Guru yang sedang menjadi burung. “Ah! Benar, aku harus membuat obat untuk teman kalian … gunakanlah ruangan ini sesuka kalian, tapi tolong jangan acak-acak bukunya!”


Setelah mengatakan semua itu, Lina mulai berlari keluar ruangan menuju ruang alchemy. Entah tatapan macam apa yang Guru berikan sehingga membuat Lina pergi dengan tergesa-gesa seperti itu. Yah, bukan aku peduli juga. Setidaknya sekarang kita bisa berbincang dengan nyaman.


Kevin hanya mengangguk sembari mencoba mengatur napasnya. “Kau benar …” ucapnya, “dan terima kasih, Lyn,” tambah Kevin menunjukkan senyum.


Adelyn menghela napas panjang sebelum menjawab Kevin dengan tertunduk letih. “Tak perlu berterima kasih padaku ….”


Aku mengerti kenapa dia seperti itu. Bagaimana pun dia ini mau membantu kami karena paksaan dari Viona. “Terima kasih, kami benar-benar bergantung padamu,” ucapku sembari tersenyum padanya.


“Sungguh kalian tak perlu berterima kasih padaku seperti itu,” ucap Adelyn, “aku juga tak keberatan membantu kalian, apalagi setelah mengenal kalian,” tambahnya sembari membalas senyumku.


Kevin dan Viona mulai menunjukkan senyuman khas mereka ketika mereka berniat menggodaku. Kevin mulai menyenggol tangan Viona dan menutup mulutnya. Berlagak seperti mau berbisik pada VIona.


“Vio, lihatlah. Padahal aku juga tersenyum padanya, tapi dia tidak membalas senyumku,” ucap Kevin merujuk pada Adelyn.


Dengan melakukan gesture yang sama seperti Kevin, Viona melanjutkan godaan mereka padaku dan Adelyn. “Bodoh! Tentu saja dia tak membalas senyummu, dia itu milik Deron, ingat?”


Mendengar bisikan yang sengaja dikeraskan itu membuat wajahku dan juga Adelyn memerah karena malu. Teman-temanku ini memang sangat ahli dalam menggoda orang lain.


Di sisi lain Kevin dan Viona mulai tertawa karena melihat reaksi kami. Tanpa kami sadari tawa dari mereka berdua membuatku dan Adelyn ikut tertawa karenanya. Entah kenapa rasanya perbincangan bodoh ini malah membuat kami semakin dekat.


...----------------...


Adelyn menjelaskan beberapa hal pada kami. Mulai dari jadwalnya sampai porsi latihan baru untuk kami bertiga. kami semua sepakat untuk berlatih bela diri bersama Adelyn setiap hari minggu di tempat latihan kelas bela diri.


Menurut Adelyn, kami tidak hanya harus melatih kemampuan berpedang kami saja, tapi kami juga harus melatih beberapa senjata lainnya untuk dapat memahami lawan yang menggunakan senjata selain pedang.


Sepertinya dengan begini kami jadi harus mulai dari nol lagi. Memang saran dari Adelyn itu masuk akal, dan kurasa tidak ada salahnya juga untuk mencoba senjata lain selain pedang.


“Baiklah, apa ada yang ingin kalian tanyakan?” tanya Adelyn.


“Tidak, kurasa semuanya sudah mengerti dengan apa yang kau maksudkan.” jawab Kevin.


“Benar, aku juga sudah tak sabar untuk melakukan latihannya sesegera mungkin,” tambah Viona bersemangat.


Adelyn menggeleng pelan mendengar ucapan VIona. “Sebaiknya kita mulai latihannya besok saja. Hari ini kalian hanya perlu mempersiapkan diri kalian, kusarankan kalian membaca beberapa buku sebagai referensi untuk latihan besok.”


“Kenapa aku harus membaca buku untuk berlatih bela diri,” keluh Viona.


Sedangkan, Adelyn hanya tersenyum melihat reaksi malas dari Viona.


“Aku tak keberatan membaca beberapa buku,” sahutku.


“Yah, aku juga,” tambah Kevin.


Dengan malas Viona setuju untuk berpartisipasi dengan kami. “Baiklah ….”


Dengan begitu, telah diputuskanlah bagaimana cara kami berlatih mulai sekarang. Memang ini akan menjadi sangat berat karena kami masih tetap harus melatih kemampuan berpedang kami ketika mempelajari senjata lain.


Namun jika dibandingkan dengan hasil yang akan kami dapatkan, kurasa semua itu sangat sepadan.