
Sampailah Diana dan Cherly di apartemen Diana, Cherly nampaknya masih terlihat ketakutan saat ini. Bahkan wajahnya terlihat sangat pucat sekali, ia takut terjadi apa-apa setelah ada orang yang mengirim kotak itu pada Diana.
"Tenang aja kali, ini kotak buat gue. Jadi lu gak usah khawatir," ucap Diana sambil menatap Cherly yang sedang cemas di sofa.
"Tetep aja tau gak, lu tuh gak ada takut-takutnya yah. Setelah di kirimin kayak gitu lu masih bisa tenang aja," balas Cherly yang tidak habis pikir kenapa Diana masih bisa tenang.
"Terus gue harus gimana? Histeris karena di kirimin yang kayak gitu? Lagian mau gimanapun masalah ini tuh gak bisa di selesain dengan cara gue histeris tau gak," ucap Diana yang memang menurutnya ini bukanlah masalah yang besar.
"Ah sudahlah gue pusing sama jalan pikiran lu, mau pulang aja," balas Cherly.
"Ya udah sana, tapi kalau nanti ada yang ngirimin kotak di mobil lu, lu langsung kasih ke gue aja," ucap Diana.
Cherly yang awalnya sudah bangun malah kembali terduduk sambil cengengesan menatap Diana, "Gue pulangnya nungguin Anggara pulang aja," ujar Cherly.
"Penakut lu," ledek Diana.
"Ih biarin kali," balas Cherly.
Mereka menunggu kepulangan dan kedatangan Julian bersama Anggara di apartemen Diana, Diana saat ini sedang menyiapkan cemilan untuk Cherly di dapur.
"Mau minum apa?" tanya Diana agak berteriak.
"Apa ajalah," balas Cherly dari ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
Setelah beberapa menit kemudian Diana datang sambil membawa nampan yang berisikan cemilan dan juga minuman, Diana duduk di samping Cherly.
"Kok belum pulang juga yah mereka?" tanya Cherly sambil menatap pintu utama.
"Ya tungguin aja, mungkin mereka masih di jalan," balas Diana santai sambil memakan cemilan yang tadi ia bawa dari dapur.
"Lu udah bilang sama Julian soal itu?" tanya Cherly.
"Belum, bentar gue ambil ponsel dulu," balas Diana yang langsung mengambil ponselnya.
Sementara itu di kantor Julian sedang mengecek beberapa data keuangan, perusahaannya saat ini sedang mengadakan kerja sama dengan perusahaan lain. Dan kerjasama kedua perusahaan itu berjalan dengan lancar.
"Ada apa?" tanya Andi yang melihat Julian bengong setelah mengangkat telpon.
"Diana di teror," balas Julian.
"Teror apa lagi sih?" tanya Andi yang rasanya sudah bosan mendengar itu.
"Entahlah, aku harus pulang sekarang," Balas Julian yang ingin segera pulang dan memastikan Diana saat ini baik-baik saja atau tidak.
"Aku ikut," Andi pun ingin tau teror apa yang kali ini Julian dapatkan.
"Tapi kerjaan mu bagaimana?" tanya Andi sambil menatap Julian.
"Alika," Julian memanggil asisten barunya.
"Baik tuan ada apa?" Alika masuk ke ruangan Julian dan langsung menghadap ke arah Julian.
"Kau bereskan kerjaan ku, aku ada urusan," balas Julian yang langsung meninggalkan tempat itu.
Andi mengikuti Julian dari belakang. Di tempat lain seorang pria yang berniat balas dendam pada Julian sedang kegirangan karena rencana pertamanya berjalan dengan lancar.
Pria itu pun sedang menelpon sang wanitanya, "Lagi pula kenapa kau tidak langsung membunuhnya saja? Kan beres jadinya," tanya pria itu.
"Tidak, aku akan membuat dia benar-benar merasakan apa yang di namakan kematian yang sesungguhnya. Aku akan membuat mentalnya terlebih dahulu yang mati, lalu setelah itu kehidupannya dan setelah kehidupannya yang mati barulah aku akan membunuh jiwanya," balas wanita dari sebrang telpon.
"Kamu memang benar dia tidak punya hati, tapi ia akan merasa gagal jika kekasihnya sampai terluka apalagi sampai mati," balas si wanita.
"Beberapa hari lagi aku akan membunuh kekasihnya, kau tunggu saja tanggal mainnya," sambung si wanita.
"Benarkah? Apakah itu tidak terlalu cepat untuk membunuh wanita itu?" tanya si pria lagi.
"Tidak, ini malah akan menjadi waktu yang pas," balas si wanita itu dengan wajah yang yakin.
"Baiklah aku serahkan semuanya padamu," ucap si pria.
"Ya sudah aku harus bekerja, jadi jangan ganggu aku lagi," balas wanita itu sambil mematikan ponselnya.
Di tempat lain Julian baru sampai di apartemen Diana bersama dengan Andi, Julian datang langsung menghampiri Diana dan mengecek keadaan Diana saat ini.
"Kamu gak papah kan?" tanya Julian sambil memeluk Diana.
"Enggak aku gak papah, udah ah lepasin," balas Diana sambil melepaskan pelukan Julian.
"Kalau boleh tau, teror apa sih yang lu dapet?" tanya Andi sambil menatap Diana.
"Tuh liat aja sendiri di kotak itu," balas Diana sambil menunjuk kotak yang ada di samping pintu masuk.
Andi langsung mengambil kotak tersebut, setelah mengambilnya Andi duduk di samping Julian untuk membuka kotak tersebut.
"Bau banget sih," ucap Andi sambil menutup hidungnya, di kotak itu tercium bau bangkai.
"Bentar-bentar, sebelum di buka. Kalian gak liat Anggara apa? Aku udah mau pulang takut tau," tanya Cherly.
"Enggak," balas ketiganya berbarengan.
Cherly menatap ketiga orang itu dengan tatapan kesal, "Ya udah biasa aja kali," ucap Cherly.
Andi membuka kotak itu perlahan dan terlihat isi kotak itu, "Lu udah buka tadi?" tanya Andi sambil menatap Diana.
"Udah kok," balas Diana.
Julian merebut kotak itu, sebelum mengambil isi yang ada di kotak tersebut Julian mengambil sarung tangan dari saku jasnya dan langsung memakainya. Setelah memakai sarung tangan barulah Julian mengecek dengan lebih detail isi kotak itu, ternyata di dalamnya juga ada plastik yang di dalam plastik itu terdapat kertas.
Julian menyobek plastik itu dan mengambil kertasnya ternyata di sana ada tulisan yang bertuliskan, "Kau akan menjadi teman kekasihku di dunia lain sebentar lagi," Kira-kira seperti itu lah tulisannya.
"Lu punya musuh?" tanya Andi sambil menatap Diana.
"Enggak tau, tapi aku kayaknya gak pernah buat salah deh sama orang lain. Maksudnya gak buat salah tuh salahnya gak yang besar-besar banget gitu," balas Diana.
"Berarti ini orang yang mau balas dendam sama lu, tapi dia mau melampiaskannya sama Diana. Karena mereka tau kalau sama lu langsung tuh bakalan susah," ucap Andi yang mengambil kesimpulan dari semua ini.
Julian menatap Andi, "Kita bicaranya di kamarnya Diana aja," Julian mengajak Andi untuk bicara di tempat lain.
"Baiklah," setuju Andi.
Mereka berdua pun pergi ke kamarnya Diana, sedangkan Diana dan Cherly kini malah saling tatap.
"Gue beneran takut," ucap Cherly ketakutan.
"Udahlah mungkin orang iseng," balas Diana.
"Gak lucu tau gak, lu bilang ini semua cuman iseng. Emang otak lu tuh udah gak jalan sekarang," ucap Cherly yang kesal dengan Diana