Cycopathic And Secret

Cycopathic And Secret
Rahasia Besar



Hari sudah mulai siang, Diana semalam bersama Cherly dan Alika tidur di kamar tamu, awalnya Julian mengajak Diana tidur di kamarnya saja, namun dengan tegas Diana menolaknya, ia tidak mau meninggal Cherly bersama dengan Alika.


Entah kenapa Diana merasa ada yang tidak benar dengan Alika ini, namun ia tidak mau bicara apapun tentang apa yang ia rasakan pada Julian, ia takut salah tebak.


Diana sudah berada di dapur menyiapkan sarapan untuk semuanya yang saat ini ada di rumah itu, Julian datang menghampiri Diana dan memeluk Diana dari belakang.


"Beby, sudah bangun?" tanya Julian pelan dengan suara berat nya.


Diana kaget dengan pelukan tiba-tiba dari Julian, sampai-sampai nuttela yang ia pegang hampir jatuh.


"Ya ampun yang, kamu mah ngagetin aja," ucap Diana.


"Sekarang kamu duduk, biarin aku yang terusin semuanya," balas Julian, ia menuntun Diana untuk duduk saja di kursi meja makan.


"Tapi-" ucapan Diana terpotong oleh Julian.


"Sudah, kamu pasti capek dari tadi pagi siapin ini semua. Sekarang giliran ku," timpa Julian, pria itu mengambil roti tawar yang tadi sedang Diana bereskan bersama dengan coklat nuttela.


Karena di rumah ini hanya ada nuttela jadi Julian hanya menghidangkan roti tawar, dengan nuttela saja. Tidak lupa ia juga menyiapkan piring, air minum dan juga gelasnya.


Sementara itu Diana hanya memperhatikan Julian sambil tersenyum membalas senyuman yang Julian berikan padanya, setelah semuanya selesai Julian duduk di samping Diana.


"Yang lainnya belum pada bangun?" tanya Julian.


"Tadi sih pas aku ke sini belum bangun, tau deh sekarang mah," balas Diana.


"Kamu bangunin sana, aku juga mau bangunin ibuku," titah Julian.


"Ok," Diana segera berjalan menuju kamarnya, namun belum juga sampai di kamar tamu Cherly sudah menghampiri Diana bersama dengan Alika.


"Ahhhhhhh," ucap Cherly sambil merentangkan tangannya.


"Ngapain lu gak bangunin gue sih? Kan tadi pas gue bangun gue nyangka si Alika ini elu," tanya Cherly sambil merangkul pundak Diana.


Semalam mereka sudah berkenalan dan juga sudah mulai akrab.


"Udah coba gue bangunin, tapi lu nya kebo, gak bangun-bangun ya udah deh gue tinggalin ke dapur aja," balas Diana.


"Ya udah ke dapur sekarang yuk, lapar aku mau sarapan," ucap Cherly.


Mereka bertiga pun pergi ke meja makan bersama, sesampainya di sana rupanya Julian dan ibunya sudah ada di sana.


"Tante," sapa Alika sambil tersenyum ke arah ibunya Julian.


Cherly, Diana dan Alika langsung duduk di kursi meja makan. Tanpa bicara panjang lebar lagi mereka semua mulai sarapan, di tengah-tengah sarapan tersebut ibunya Julian bicara memecahkan ketenangan di pagi hari ini.


"Iyah tante," balas Diana sambil menatap ibunya Julian.


Julian yang mendengar nama Diana di panggil pun ikut menatap ke arah ibunya, yang lainnya pun sama.


"Gimana untuk beberapa hari ini kamu tinggal dulu aja di sini, buat temenin tante. Jadi kalau Julian kerja tante ada temennya, lagian bentar lagi kalian mau nikah kan? Kamu mau kan?" tanya ibunya Julian sambil menatap Diana.


Diana malah menatap Julian yang ternyata juga sedang menatap ke arahnya, Julian mengisyaratkan kalau keputusannya ada di tangan Diana.


Diana kembali menatap ibunya Julian, "Kalau aku sih mau-mau aja tante, tapi aku harus bawa beberapa barang ku dulu berarti di apartemen," balas Diana yang akhirnya menyetujui ajakan ibunya Julian.


"Makasih yah sayang," ibunya Julian sangat berterimakasih pada Diana.


Julian mendapat telpon yang ternyata itu dari pihak kepolisian, yang meminta Julian datang ke kantor polisi.


Sedangkan itu di tempat lain seorang polisi bernama Fikri, polisi yang jadi ketua di kasus yang menimpa keluarganya Julian. Ia tengah mengobrol dengan salah satu anak buahnya yang juga tengah mencari siapa pelaku pembunuhan tersebut.


"Saya rasa, Julian menyimpan banyak rahasia di kasus ini," ucap Fikri.


"Benar pak, kemarin dari yang saya liat ia sama sekali tidak terlihat panik, padahal ini teror untuk ibunya sendiri, dan terornya bukan main-main sampai nyawa yang di jadikan mainannya," balas anak buah Fikri yang merasa Julian memang menyimpan rahasia.


"Yah, Julian seperti tak ingin pelaku ini di temukan. Mungkin jika kita temukan pelakunya kita akan tau apa yang terjadi sebenarnya," ucap Fikri.


Julian jelas tidak mau sang pelaku tertangkap oleh polisi dalam keadaan hidup, jika sampai pelaku itu tertangkap maka berkemungkinan besar pelaku itu akan mengatakan siapa Julian ini. Karena Julian percaya kalau orang yang melakukan semua ini tau siapa dirinya yang sebenarnya, itu akan menjadi ancaman besar untuknya.


Walaupun tidak ada bukti tapi polisi akan terus menyelidiki Julian, dan kalau mereka tau siapa Julian maka kasus pembunuhan berantai yang dulu di tutup karena sudah tidak menemukan titik terang akan kembali di buka karena menemukan petunjuk baru.


Di tempat lain seorang ketua Mafia bernama Malik dari negara Turki datang ke indonesia untuk merencanakan penangkapan seseorang, yang tak lain adalah Julian.


Malik ini ingin balas dendam pada Julian karena dulu telah membunuh anaknya dengan sangat keji, setelah mencari tau bertahun-tahun akhirnya ia tau siapa yang telah membunuh anaknya tersebut.


Anaknya Malik adalah wanita pelacur yang pernah Julian sewa lalu Julian bunuh, anaknya Malik yang bernama Delisa itu kabur dari rumahnya karena tidak mau berurusan dengan dunia ayahnya. Lalu untuk menyambung kehidupannya ia menjadi wanita penghibur di salah satu klub malam.


Karena seluruh uang yang ia ambil dari rumahnya habis di pakai, pindah dari Turki ke Indonesia. Ia juga membeli rumah dan kendaraan, namun malangnya nyawanya justru melayang di tangan Julian.


Malik sampai di rumah peninggalan Delisa, ia menangis melihat foto-foto Delisa yang berjejer rapih di meja samping tempat tidur anaknya tersebut.


Ia mengambil satu foto Delisa yang tengah tersenyum manis sambil memandangi langit, "Anakku, akan ku balas kan sepuluh kali lipat rasa sakit yang kau Terima dari manusia bajingan itu," ucap Malik dengan nada kesal.


Ia meminta di tinggalkan sendirian di kamarnya Delisa, sedangkan para anak buahnya menunggu Malik di luar kamar itu. Malik bukan hanya punya anak buah dari Turki saja, namun juga dari Indonesia, karena ia sering transaksi ilegal narkoba ke Indonesia.


Dengan begitu banyak juga anak buahnya dari Indonesia, yang kemarin mencari tahu kematian anaknya pun salah satu anak buahnya yang berasal dari indonesia.


Setelah puas menangis Malik keluar dari kamar itu, lalu memanggil salah satu anak buahnya.