Cycopathic And Secret

Cycopathic And Secret
Tertembak



Violet datang dan berhasil menembak tangan Malik sebelum Malik menembak Julian, saat Violet datang Andi pun datang dan menembak orang yang tadi membantu Malik menyerang Julian. Violet dengan santainya berjalan menghampiri Malik yang sudah terjatuh, Malik berusaha mengambil kembali pistolnya yang terhempas akibat tembakan Violet.


Violet berjongkok di hadapan Malik yang sedang terduduk, "Aku sudah peringatkan padamu dari dulu, jika ingin selamat pergilah sejauh mungkin dari ku," ucap Violet dingin sambil mengarahkan pistol ke kepalanya Malik.


Malik menatap Violet dengan tatapan tajam, mulutnya seperti tak bisa berkata-kata lagi.


"Kau berbuat kesalahan terbesar dalam hidupmu, yaitu membangunkan kembali iblis dalam tubuhku yang sudah lama tertidur," sambung Violet tegas.


"Aku bisa membunuhmu dan semua pasukan murahan mu itu dari kemarin-kemarin, hanya saja aku tidak mau membahayakan nyawa kekasihku. Jadi aku menunggu waktu yang pas untuk mengirim mu pulang ke neraka," lanjut Violet sambil tertawa terbahak-bahak.


"Harusnya saat kau dengan kabar aku meninggal, kau segera menghilang lah dari muka bumi ini. Untuk bersembunyi dari ku, bukan malah melakukan hal ini," sambungnya kembali.


"Berhenti bicara di depan ku!" Bentak Malik ke wajah Violet.


"Apa kau bilang? Berhenti?" tanya Violet, Violet menarik kerah baju Malik lalu menariknya ke arah tangga.


Di lantai bawah nampaknya masih terjadi tembak-tembakan dan juga perkelahian, walaupun tinggal tersisa beberapa orang saja. Karena yang lainnya sudah mati terkena tembakan dan juga tusukan pisau. Violet menembakan pistolnya ke atas untuk menghentikan perkelahian mereka.


Seketika benar saja, mereka yang ada di bawah menghentikan penembakan dan perkelahiannya. Mereka langsung menatap ke arah Violet yang sudah membawa Malik dalam keadaan yang menghawatirkan.


"Untuk kalian semua, berhenti dan bergabunglah dengan bos lama ku atau kalian akan mati di sini sama halnya dengan orang yang ada di tanganku?" tanya Violet.


"Baiklah kalau begitu, kita tidak akan melawan lagi," balas salah satu pasukan Malik, ia tak mau nyawanya melayang hanya untuk membela orang yang sebentar lagi akan mati.


"Bagaimana yang lainnya setuju?" tanya Violet.


"Kami setuju," yang lainnya pun setuju.


Lalu seketika Violet mendorong Malik dari lantai 3, saat Malik jatuh pun Violet menembaknya beberapa kali untuk memastikan Malik mati.


Setelah Malik mendarat dengan kondisi yang sudah di pastikan bahwa Malik mati, kepalanya hancur karena benturan dan juga tembakan yang Violet berikan padanya.


Violet berbalik dan menghampiri Julian yang sedang kesakitan karena terkena tembakan di kakinya, saat ini Julian tengah di tolong Andi.


"Aku titip Julian sebentar, ada hal yang ingin ku lakukan," ucap Violet sambil berlari pergi dari sana.


"Lu masih kuat kan? Tahan dulu yah bentar lagi nyampe rumah sakit," ucap Andi sambil membalut luka tembakan itu menggunakan sarung tangannya.


Beberapa menit berlalu, semua pasukan yang tersisa ikut masuk ke mobil lalu meninggalkan tempat itu, sedangkan Julian, Violet dan Andi sedang menuju rumah sakit untuk mengobati luka Julian.


Tapi tentunya itu rumah sakit khusus jadi tidak sembarangan rumah sakit, jika ke rumah sakit umum maka mereka akan banyak di tanya dan kemungkinan akan di serahkan ke polisi karena di tubuh mereka bertiga ada banyak luka dan darah. Di tambah Violet masih membawa pistol dan pisaunya juga.


Tadi Violet pergi untuk mengambil berkas, uang, emas dan harta lainnya milik Malik. Karena Violet tau kalau pria itu, akan selalu membawa hartanya kemanapun ia pergi. Menurutnya harta adalah segalanya jadi ia tidak bisa meninggalkannya ketika ia pergi, dari satu negara ke negara lain.


"Bos yang memperkerjakan ku dulu menyuruh ku mengambil uang dan seluruh hartanya Malik, jadi pastinya akan ku serahkan padanya, karena aku meminta pasukan bantuan padanya," jelas Violet.


Tiba-tiba di tengah pembicaraan mereka ponsel milik Violet berbunyi, ia menatap ponselnya untuk mengecek siapa yang menelpon dirinya. Setelah tau siapa yang menelponnya Violet meminta Andi untuk diam terlebih dahulu, sebelum akhirnya ia mengangkat telpon itu.


"Iyah ada apa?" tanya Violet.


"Kau berhasil?" tanya orang yang berada di sebrang telpon.


"Berhasil, akan ku serahkan semua uang dan yang lainnya pada anak buah mu nanti," balas Violet.


"Aku tidak membutuhkan itu, dengan tau Malik mati pun itu adalah imbalan yang luar biasa," ujar sang penelepon.


"Kirimkan saja berkas-berkas yang kau dapatkan dari sana, masalah yang dan barang-barang lainnya itu untukmu," sambungnya kembali.


"Baiklah kalau itu mau mu," balas Violet.


Telpon pun di matikan oleh Violet, tapi ponselnya kali ini kembali berbunyi membuat ia kembali mengangkat telponnya.


"Ada apa?" tanya Violet yang sudah tau kalau itu dari pihak rumah sakit.


"Kalian pulang saja, Julian biar aku yang urus. Kondisinya sekarang sudah membaik kok, jadi kalian tenang sajalah. Kalian kembali lagi besok saja setelah penampilan kalian benar," balas seorang dokter pria yang menelpon Violet.


"Baiklah jaga kekasihku sampai dia sembuh kalau kau tak mau ku ledakan rumah sakitnya," canda Violet.


"Iyah-iyah," balas dokter.


Violet mematikan kembali telponnya, lalu setelah itu ia memerintah Andi untuk mengantarnya ke apartemen.


"Uang dan perhiasan ini kau ambil saja dan bagikan secara merata pada orang yang tersisa tadi," ucap Violet.


"Boleh memangnya? Bukannya tadi kau bilang ini akan kau serahkan pada bos mu?" tanya Andi heran.


"Tadi ia menelpon ku dan hanya butuh Malik mati dan berkas-berkasnya saja, sisanya suruh aku ambil, tapi aku tidak butuh uang sebanyak itu, aku akan mengambilnya sebagian. Sisanya kau bagikan saja," balas Violet.


Setelah beberapa menit kemudian Violet sampai di apartemennya, dengan menutupi semua pakaiannya menggunakan mantel yang ada di mobil Violet langsung berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di apartemen ia langsung membaringkan tubuhnya di kasur.


"Rasanya tubuhku saat ini sudah retak, lelah sekali," ucap Violet, ia baru merasakan semua rasa sakitnya sekarang.


Sebelum tidur ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang di penuhi darah, ia juga membuang pakaian itu karena penuh darah. Setelah selesai mandi Violet mengobati luka di tubuhnya sendiri, sesekali ia merintis kesakitan, tapi Violet berusaha menahannya.


Sementara itu di rumah sakit Julian sudah tidur, ia baru saja di beri obat bius agar bisa beristirahat dengan baik. Andi pulang ke rumahnya dengan membawa uang dan juga beberapa koper emas batangan yang di berikan Violet, ia berniat membagikan uang itu pada orang-orang yang selamat dari pertempuran tadi.