Cycopathic And Secret

Cycopathic And Secret
Hilang



Di tempat lain Malik sudah mempersiapkan startegi untuk penyerangan dan penyerbuan Julian, kini ia sedang berbicara dengan salah satu orang kepercayaannya.


"Kita akan lakukan besok," tegas malik.


"Baik tuan, saya akan siapkan segalanya sekarang," balas pria kepercayaan Malik tersebut.


Malik pun mengangguk dan menyuruh pria itu untuk pergi dari hadapannya menggunakan isyarat tangan. Pria itu pun keluar untuk segera menyelesaikan tugasnya, sedangkan Malik kini tengah tersenyum bahagia.


Di tempat lain tiba-tiba Diana sakit perut, jadi ia malam ini tidak bisa datang ke rumahnya Julian. Ia akan ke rumahnya Julian besok saja, kini Diana dan Julian sedang telponan.


"Sayang aku gak papah kok sendiri di sini," ucap Diana mencoba menyakinkan Julian.


"Beneran? Tapi iyah juga sih. kamu kan hebat," balas Julian.


"Apaan sih? Aku gak hebat, cuman emang gak papah kok," ucap Diana sambil cengengesan.


"Sakitnya sakit banget?" tanya Julian.


"Sekarang sih udah mendingan, cuman kalau untuk pergi ke rumahmu kayaknya aku gak bisa, kalau pun harus naik taksi kayaknya masih akan terasa sakit kalau duduk," balas Diana.


Diana saat ini sedang membaringkan tubuhnya di kasur, ia juga memegang sebuah buku Novel yang judulnya Waktu. Sambil telponan ia juga membaca novel.


"Ok deh kalau gitu, besok aku akan jemput kamu. Sekarang kamu tidur yang nyenyak, jangan lupa cuci muka sebelum tidur. Nanti kumannya ikutan tidur sama kamu," pesan Julian.


Diana tersenyum, "Iyah, kumannya nanti aku buang dulu," balas Diana.


"Ya udah aku matiin yah telponnya," ucap Julian.


"Ok," balas Diana.


Julian pun mematikan ponselnya, setelah itu Diana menyimpan ponselnya di meja yang berada di samping tempat tidurnya. kini ia mengubah posisi tidurnya ia menatap langit-langit kamarnya, lalu ia tersenyum.


"Selamat tidur," ucap Diana sembari menutup matanya.


Beberapa jam berlalu, matahari sudah mulai terbit di langit mengantikan sang bulan yang sudah terjaga semalaman memberikan cahaya kecil untuk menerangi bumi.


Diana membuka mata cantiknya dengan perlahan-lahan, setelah itu ia duduk sambil merentangkan tangannya. Hari ini ia ada kelas, jadi ia harus ke kampus dulu sebelum akhirnya ia pergi ke rumah Julian.


Semalam ia sudah membereskan barang-barang yang akan ia bawa ke dalam koper, Diana pun berjalan menuju kamar mandi untuk membilas tubuhnya. Beberapa menit kemudian ia keluar hanya menggunakan handuk, ia bersenandung cantik.


Diana memang tidak punya suara bagus layaknya penyanyi, namun yah suaranya memang masih bisa ia didengarkan dengan baik oleh orang lain, tidak terlalu sakit di telinganya.


Diana menatap ponselnya untuk mengecek jam, "Ternyata masih jam 7 pagi," ucap Diana.


Ia mengambil pakaiannya di lemari setelah semuanya selesai, Diana langsung berangkat menuju kampus.


Di tempat lain Alika sedang menunggu kedatangan Julian, karena hari ini ada rapat penting, namun sampai jam segini Julian belum juga datang. Padahal biasanya Julian sudah datang, Alika berpikiran mungkin Julian masih menghawatirkan ibunya, jadi ia belum berangkat sampai sekarang.


"Maaf, Pak Julia nya belum datang? Udah di tunggu di ruang rapat," ucap salah satu karyawan pada Alika.


"Belum, biar saya coba telpon," balas Alika.


Alika berjalan menuju mejanya lalu mengambil ponselnya untuk menelpon Julian, namun Julian tak mengangkatnya walaupun Alika sudah menelponnya beberapa kali.


"Aduh Julian kemana sih?" tanya Alika kebingungan.


Ia pun kepikiran untuk menelpon Andi, karena ia tau kalau Andi biasanya bersama Julian. Saat menelpon Andi tak lama kemudian Andi langsung mengangkatnya.


"Halo ini siapa yah?" tanya Andi dari sebrang telpon.


"Julian? di sini aku gak lagi sama Julian, sebenarnya dari tadi malam telponnya emang gak di angkat-angkat," jawab Andi yang juga tidak tau keberadaan Julian, pasalnya dari semalam Julian tidak mau mengangkat telponnya.


"Makasih buat infonya, nanti kalau kamu ketemu Julian tolong hubungi aku yah," ucap Alika.


"Ok," balas Andi, Andi saat ini masih di rumahnya dan baru bangun tidur.


Sedangkan itu di kampus Diana sudah bersama Cherly di kelas, kelas sudah di mulai beberapa menit yang lalu, tapi Diana merasa ad yang tidak beres.


"Kok gue ngerasa ada yang aneh yah sama hati gue?" tanya Diana kebingungan sambil menyimpan tangannya di dada.


"Maksudnya?" tanya Cherly kebingungan.


"Iyah gue gak enak hati, kek bakalan ada sesuatu yang terjadi gitu," jelas Diana.


"Ah mungkin itu cuman perasaan lu doang kali, tenang aja gak bakalan ada yang terjadi, berfikir positif aja," balas Cherly, ia memang tau kalau kehidupan Diana memang tidak akan tenang selama masih bersama Julian.


"Yah semoga aja emang ini cuman perasaan gue aja, udah ah lanjutin aja," Diana akhirnya melanjutkan pembelajarannya, karena kalau terlalu banyak ngobrol pun takutnya nanti ketauan dosen dan mereka pasti di hukum, atau kalau tidak di keluarkan dari kelas.


Beberapa menit berlalu, mereka kini sudah berada di kantin untuk makan siang. Diana melihat ponselnya ternyata ponselnya mati karena kehabisan batere.


"Yah mati, tadinya aku mau telpon Julian," ucap Diana sambil menghembuskan nafas beratnya.


"Ih si Andi ngapain telponin gue sebanyak ini? Kurang kerjaan atau gimana yah nih anak," ucap Cherly saat melihat ponselnya. Ternyata Andi sudah menelpon Cherly sangat banyak, namun Cherly tak sama sekali mengangkatnya.


"Telpon balik coba, siapa tau ada hal penting," titah Diana, mereka masih terlihat santai.


"Bentar gue telpon balik," balas Cherly, Cherly menelpon Andi.


Tetapi Andi tak mengangkatnya, "Nih anak gimana sih? Tadi nelpon puluhan kali, tapi sekarang kok malah gak di angkat," ucap Cherly kesal.


"Coba sekali lagi," titah Diana.


Cherly pun kembali mencoba untuk menelpon Andi, tetapi lagi-lagi Andi tak mengangkatnya.


"Gak dia angkat lagi," ucap Cherly.


"Sini biar gue yang telpon," Diana mengambil ponsel milik Cherly.


Diana mencoba menelpon Andi sedangkan Cherly makan, ia tak mau ambil pusing. Setelah beberapa percobaan akhirnya Andi mengangkat telponnya.


"Halo," ucap Andi, namun suaranya terdengar sedang kecapean.


"Ada apa lu tadi telponin Cherly?" tanya Diana.


"Lu Diana kan?" tanya balik Andi.


"Iyah," balas Diana.


"Lu liat Julian gak? Atau Julian lagi sama lu gak?" tanya Andi.


"Enggak tuh, aku gak liat dia dari kemarin," balas Diana.


"Kayaknya ada yang gak beres deh, soalnya rumahnya Julian berantakan banget di tambah banyak bercak darah di tembok, tapi pas gue sama Alika gak nemuin siapa-siapa di dalem," jelas Andi.


"Gue pergi ke sana," balas Diana sambil menarik Cherly untuk ikut bersamanya.


"Ih mau kemana sih? Makanan gue belum abis," ucap Cherly.