
Beberapa bulan berlalu, Diana dan Julian baru saja menyelesaikan tugasnya untuk membunuh seorang mafia yang sudah berani mengancam bosnya Diana. Mereka kini tengah tertawa sambil berjalan pulang, mereka berjalan kaki melewati lorong demi lorong jalan.
"Bagaimana hari ini? Apakah sedikit sulit?" tanya Diana sembari merangkul pundak Julian.
"Semuanya tidak akan sulit bila kita lakukan bersama," balas Julian.
Diana tertawa, "Bagaimana kalau kita minum dulu, klub tak jauh dari sini," Diana mengajak Julian untuk minum di klub.
"Baiklah, itu ide bagus," Julian menyetujui ajakan Diana, kini sebelum pulang mereka akan minum-minum terlebih dahulu untuk melepaskan semua kelelahannya.
Setelah jarak yang lumayan jauh, kini mereka sudah sampai di klub tersebut, bahkan mereka sudah duduk di kursi dengan beberapa botol Wine di depannya.
"Ini untuk mu," Diana menuangkan wine ke gelas Julian, Julian pun meminumnya.
Ponsel Diana berbunyi ternyata bosnya sudah mentransfer uang yang ia janjikan jika berhasil menjalankan tugasnya dengan benar, "Uangnya udah di transfer," ucap Diana sambil memperlihatkan saldo ATM nya.
"Baiklah bagus, walaupun sebenarnya uang itu tidak terlalu berguna untuk kita," balas Julian, ia rasa melakukan semua ini hanyalah untuk kesenangan, bukan semata-mata untuk mendapatkan uang.
"Benar," ucap Diana, Diana menyenderkan kepalanya di pundak Julian, mereka minum sampai mereka benar-benar kehilangan kesadarannya.
Tak terasa hari sudah mulai pagi, kini waktu sudah menunjukkan pukul 3. Diana membuka matanya perlahan, karena efek alkohol yang ia minum sudah sedikit menghilang, "Sayang bangun, kita harus pergi dari sini," Diana membangunkan Julian.
Julian ikut membuka matanya, "Apa sayang? Aku masih ngantuk," tanya Julian.
"Kita teruskan di rumah tidurnya, nanti matahari keburu keluar," balas Diana.
"Baiklah," Julian bangun sembari merentangkan tangannya.
Diana ikut bangun dan berdiri di samping Julian, "Kau sudah bayar?" tanya Julian.
"Semalam juga langsung aku bayar," balas Diana.
"Ya sudah, sekarang tinggal kita pulang," Julian menggandeng tangan Diana, mereka berdua pun pulang ke rumah yang mereka dapatkan.
Beberapa saat kemudian, matahari sudah terbit dan menyinari bumi. Diana dan Julian ketika siang hari menjalankan kehidupan seperti manusia pada umumnya, Diana saat ini sedang masak di dapur untuk makan siang.
Tetapi tiba-tiba Julian datang dan memeluk Diana dari belakang, "Lagi apa yang?" tanya Julian, Julian menyimpan dagunya di pundak Diana.
"Aku lagi masak, oh iya katanya besok Cherly mau nikah yah sama Anggara," balas Diana.
"Iyah, kemarin sih Cherly kayaknya emang ngomong gitu," ucap Julian.
"Bagaimana kalau nanti sore kita ke Indonesia buat menghadiri pernikahan Cherly, besokkan kita gak punya jadwal," usul Diana.
"Aku sih terserah kamu aja," balas Julian.
"Ya udah, sekarang kamu lebih baik beresin barang-barang yang akan kamu bawa ke Indonesia. Aku mau masak dulu, bentar lagi juga selesai," ucap Diana.
"Baiklah," Julian melepaskan tangannya dan pergi ke kamar untuk menyiapkan semua barang-barang yang akan ia bawa saat akan ke Indonesia.
Sedangkan Diana kini meneruskan masaknya, setelah semuanya matang Diana menyiapkan masakannya di meja makan, di tempat lain Julian juga sudah selesai membereskan barang-barangnya. Kini ia kembali ke dapur untuk makan bersama Diana, sesampainya di sana semua makanan sudah tersusun rapih di meja makan.
Julian mengambil tempat di samping Diana, "Rajin banget kamu hari ini," goda Julian.
"Aku lagi seneng karena Cherly mau nikah, makannya aku rajin banget hari ini," balas Diana, ia memang senang dengan pernikahan Cherly.
Diana menyiapkan makanan ke piring Julian, "Nih makan yang banyak," ujar Diana sembari melengkung kan senyumannya.
Mereka pun makan bersama. Di tempat lain Cherly kini sedang sibuk menyiapkan pernikahannya, ia juga kini sedang memikirkan Diana yang tak kunjung membalas pesannya.
"Diana udah lupa kali yah sama aku," ucap Cherly pada Anggara.
Mereka sedang duduk berdua di kursi yang berada di dekat kolam renang, "Mungkin mereka sibuk belajar, mereka kan pergi ke Amerika untuk belajar," balas Anggara, Anggara hanya di beritahu kalau Diana dan Julian itu pergi ke Amerika untuk kuliah.
"Ah Iyah aku lupa kalau dia itu gak tau apa-apa," ucap Cherly dalam hati sembari menatap Anggara.
"Kenapa kamu liatin aku kayak gitu?" tanya Anggara.
"Apa? Enggak papah kok," balas Cherly sambil cengengesan.
"Aku ke dalem dulu yah," Anggara pamit ke dalam.
"Ok," balas Cherly.
Anggara berjalan menuju ruang utama di rumah Cherly, sedangkan saat Cherly akan menghampiri Anggara, Andi datang dan langsung duduk di kursi bekas Anggara. Membuat Cherly tak jadi pergi, ia kembali duduk sembari menatap Andi.
"Ada apa?" tanya Cherly, ia tau kalau Andi ingin bicara padanya.
"Diana dan Julian masih gak ada kabar?" tanya balik Andi tanpa menatap Cherly.
"Belum, tadi pagi juga udah aku coba telpon tapi sayang dia gak angkat-angkat," balas Cherly dengan raut wajah yang sedih.
"Ya udah lu yang sabar aja, mungkin mereka emang lagi gak bisa di ganggu sekarang ini," ucap Andi.
"Yah semoga aja mereka emang kayak gitu, aku yakin mereka pasti baik-baik aja," balas Cherly meyakinkan dirinya sendiri kalau mereka berdua memang baik-baik aja.
"Kapan lu nikah?" tanya Cherly mengalihkan pembicaraan, karena Cherly melihat Anggara kembali ke sana.
"Eh kapan lu ke sini?" tanya Anggara saat melihat Andi.
"Barusan," balas Andi.
"Kagak gue mah nanti aja nikahnya kalah udah puas main," tambah Andi sembari tersenyum.
"Eh jangan gitu, nanti keburu di rebut orang lain tau," ucap Anggara.
"Oh iya masuk yuk, kita makan dulu," tambah Anggara.
"Gak usah, gue datang ke sini cuman mau liat-liat doang," tolak Andi.
"Ih gak boleh gitu, yuk makan dulu. Nyokap gue udah masak banyak tuh," Cherly mengajak Andi untuk makan dulu sebelum pulang.
"Ya udahlah kalau kalian maksa aku makan deh, padahal niatnya aku mau makannya besok aja di sini mah, mau ngabisin makanan besok," akhirnya Andi mau di ajak makan.
Andi dan Cherly bangun dari duduknya lalu berjalan bersama dengan Anggara ke dalam untuk makan, setelah berada di meja makan mereka langsung melakukan makan bersama. Keluarga Cherly tak ikut makan karena sudah selesai beberapa menit lalu, kini yang makan hanya mereka bertiga.
Setelah selesai Anggara pamit pulang, karena ia tak mungkin terus berada di rumah Cherly, sedangkan di rumahnya juga masih banyak kerjaan. Andi pun sama pamit pulang, karena hari sudah mulai sore, di tambah Andi ada janji dengan kekasihnya malam ini.
Ia berjanji akan kembali lagi besok pagi, untuk melihat pernikahan Cherly dengan Anggara.