
"Biasa aja kali liatinnya," ucap Diana yang datang dari dapur sambil mengambil nampan yang berisi makanan.
"Yeh manusiawi kali kalau cewek liat cowok setampan Julian terpesona," balas Cherly sembari menggoda Diana.
Diana duduk di samping Cherly lalu meletakan minumannya di meja, setelah itu ia menatap Julian.
"Pakai baju sana," titah Diana.
"Enggak ah," balas Julian sambil duduk di samping Diana.
"Ih nanti nih anak malah makin terpesona sama kamu," ucap Diana sambil menatap sinis Cherly sekilas.
"Gak papah," balas Julian sambil menatap Diana.
"Ya udahlah terserah kamu aja kalau gitu, tapi pokoknya aku bakalan ngambek," ucap Diana kesal sambil memasang wajah marah.
"Gue bilangin lu sama Anggara," sambung Diana sambil menatap Cherly.
Cherly malah tertawa terbahak-bahak, "Lu lucu juga yah kalau lagi cemburu," balas Cherly.
"Iyah beby aku akan pakai baju, kamu tungguin yahh," ucap Julian, sebelum pergi Julian mencium kening Diana.
Julian kembali masuk ke kamarnya untuk berganti baju, sedangkan Diana kini mulai memakan cemilan yang tadi Cherly bawa.
"Ah gue ngantuk," ucap Cherly sembari merentangkan tangannya ke wajah Diana.
"Ih apaan sih? Ganggu aja tau gak?" balas Diana sambil menyingkirkan tangan Cherly yang berada di wajahnya.
"Gue mau tidur ah ngantuk," ucap Cherly sambil berdiri.
"Ya udah kamu tidur di kamar sebelah sana," balas Diana sambil menunjuk kamar yang berada di samping kamarnya.
"Ok," ucap Cherly sambil berjalan ke kamar itu, tapi sebelum tidur Cherly pergi ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan kakinya terlebih dahulu.
Setelah Cherly masuk ke kamarnya Julian keluar dari kamarnya dengan menggunakan kaos polos berwarna hitam, "Cherly mana?" tanya Julian sambil duduk di samping Diana.
"Ngapain tanyain dia?" tanya Diana judes.
"Ya ampun aku cuman tanya sayang, jangan berpikir aneh-aneh deh," balas Julian.
"Dia mau tidur katanya," ucap Diana.
"Oh," balas Julian sembari menganggukkan kepalanya, Julian membuka kresek makanan Cherly dan menemukan martabak telor. Ia pun mulai memakannya bersama dengan Diana.
"Besok aku akan suruh Andi jagain kamu di sekolah," ucap Julian.
Diana menatap Julian, saat Diana akan bicara Julian malah memotongnya.
"Aku tidak menerima penolakan, jika sampai kau masih deket sama pria itu maka aku tidak akan tinggal diam," sambung Julian sambil mengangkat kan satu alisnya.
"Baiklah," pasrah Diana sembari memalingkan tatapannya ke arah depan.
Julian merangkul pundak Diana, mereka pun menonton televisi bersama.
Di tempat lain ibu tirinya Julian sedang berada di meja makan bersama dengan pembantu rumah tangannya, ia berniat makan malam hari ini. Namun mendadak lampu di rumah itu mati, pembantu di rumah itu mencari senter untuk menerangi meja makan.
"Nyonya saya mau liat dulu ke luar, kayaknya ini cuman rumah nyonya saja yang mati lampu," ucap pembantunya.
Pembantu rumah tangga itu pergi untuk melihat saluran listrik di rumah itu, sedangkan ibunya Julian melanjutkan makan malam nya. Karena ia sudah tidak dapat menahan rasa laparnya, dengan penerangan senter.
Namun tiba-tiba ia mendengar suara teriakan seorang wanita yang seperti suara pembantunya, ia kaget dan menghentikan makannya. Setelah itu ia mengambil senter dan berniat mencari asal suara tersebut, ketika ia akan pergi ke ruangan listrik ia malah di kejutkan dengan pembantunya yang sudah berlumuran darah.
Lalu seketika lampu di rumah itu kembali menyala dan memperjelas keadaan pembantu tersebut, kepalanya hancur namun terdapat goresan pisau di sekujur tubuhnya. Ibunya Julian terjatuh ke lantai sembari memundurkan langkahnya, di lantai samping yang mayat tersebut bertuliskan kata.
"Ini semua akibat anak angkat mu," tulisan itu tidak begitu jelas namun masih bisa di baca.
Ibunya Julian semakin panik dan ketakutan saat ia juga menemukan tulisan, "Setelah ini giliran mu."
Ibunya Julian pun berteriak, tak lama setelah itu tetangga ibunya Julian yang mendengar teriakan histerisnya langsung menghampiri rumah itu. Mereka sama terkejutnya dengan ibunya Julian, dengan cepat beberapa orang menenangkan ibunya Julian. Sedangkan ada beberapa orang yang menghubungi polisi dan ada juga yang menghubungi Julian.
Di tempat lain Julian baru saja ingin berpamitan pulang pada Diana, saat di depan pintu Julian mendapatkan telpon. Ia langsung mengangkatnya, wajahnya nampak tenang, Diana masih berdiri di depan Julian sambil menatap Julian yang sedang mengangkat telpon dan berbicara pada orang yang ada di sebrang telpon tersebut.
"Siapa yang telpon?" tanya Diana sambil menatap Julian.
Julian memasukan kembali ponselnya ke saku bajunya, "Tetangga ibuku, katanya di rumahku ada pembunuhan," balas Julian.
"Benarkah? Siapa yang di bunuh nya?" tanya Diana, ia takut yang di bunuh itu adalah ibunya Julian.
"Pembantu di rumah, sekarang kamu mau ikut ke rumah?" balas Julian sembari bertanya apakah Diana akan ikut bersamanya.
"Aku ikut, bentar aku bangunin Cherly dulu. Kasian kalau aku tinggal di sini," ucap Diana yang kembali masuk ke apartemennya untuk mengambil tas dan membangunkan Cherly yang sedang tertidur.
Beberapa menit berlalu, kini Cherly, Diana dan Julian sudah berada dalam mobil, "Sumpah demi apapun gue takut, lu liat nih gue sampai merinding," ucap Cherly sambil menunjukkan tangannya ke hadapan Diana.
"Lu pikir gue enggak? Sama aja kali, ya udahlah kita berusaha tenang aja," balas Diana.
Setelah sekian menit yang agak lumayan lama akhirnya mereka sampai di rumah ibunya Julian, di sana sudah terdapat garis polisi. Ternyata polisi sudah datang lebih dulu ke tempat itu sebelum Julian, saat mereka turun Cherly memegang erat tangan Diana karena takut.
Mereka pun masuk ke TKP untuk melihat apa yang terjadi, "Ah gue takut, sumpah itu bikin gue mual," ucap Cherly sambil menutup matanya karena tak mau melihat keadaan mayatnya.
"Ya udah tenang aja, gimana kalau sekarang kita ke ibunya Julian aja," ajak Diana.
"Itu ide bagus," setuju Cherly, mereka berdua menghampiri ibunya Julian yang sedang menangis di sofa.
Ibunya Julian sepertinya sedang di tanyai beberapa hal oleh polisi, tapi karena masih kaget ibunya Julian tidak menjawab satupun pertanyaan polisi tersebut.
"Maaf Pak, boleh saya bantu menenangkannya?" tanya Diana sebelum duduk di samping ibunya Julian.
"Kalau boleh tau, anda siapanya yah?" tanya balik salah satu polisi yang ada di sana.
Karena yang bersama ibunya Julian ada dua polisi, "Saya pacarnya anaknya tante ini, saya juga sudah dekat sekali dengan tante ini," balas Diana.
"Oh baiklah kalau begitu, anda silahkan duduk, coba tenangkan," polisi itu pun mengizinkan Diana duduk bersama Cherly untuk membantu menenangkan ibunya Julian.
Diana dan Cherly langsung duduk di sana, Diana memeluk ibunya Julian.
"Tante harus tenang yah, biar polisi bisa dengan mudah menemukan orang yang melakukan semua ini. Kalau sudah di temukan, tante bisa tenang deh. Tante mulai bicara baik-baik aja yah," ucap Diana lembut.
Diana pun melepaskan pelukannya, sementara itu ibunya Julian langsung menceritakan apa yang ia tau saja dengan detail.
Sementara itu di sisi lain Julian juga di tanyai oleh polisi yang lain, mengenai pelakunya. Karena di sana ada tulisan yang di tunjukkan untuk Julian.