Cycopathic And Secret

Cycopathic And Secret
Pelaku Teror selama ini



Diana sampai di rumah Julian bersama dengan Cherly, ia menatap Andi dan Alika yang tengah berada di meja tamu menunggu kedatangan Diana.


"Dimana Julian?" tanya Diana panik.


"Kita gak tau dimana dia, kita udah cari dia ke mana-mana," balas Alika.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Cherly heran kenapa Alika ada di sana bersama dengan Andi.


"Tadi pagi di kantor Julian harusnya ada rapat, tapi Julian gak datang-datang, terus aku susul ke rumahnya karena di telponin Julian gak angkat-angkat. Aku takut dia ketiduran atau apa, tapi pas sampai di sini udah ada Andi yang lagi nyari-nyari Julian," jelas Alika ia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Kayaknya mereka di culik, tapi gue berasumsi mereka masih hidup," ucap Andi.


"Semoga aja," timpa Cherly.


"Terus kita harus apa sekarang?" tanya Alika.


"Kita cari Julian lah," balas Cherly, ia tetap tidak suka pada Alika.


"Mau cari Julian kemana? Sedangkan jakarta aja gede banget, mending kalau ada di jakarta. Kalau enggak gimana?" tanya Diana.


"Kita pergi ke markas," ucap Andi.


"Tapi," ujar Diana sambil menatap Alika, ia tidak mungkin mengikutkan Alika dalam ini semua. Karena ia tau Alika itu tidak tau apapun tentang Julian.


Andi dan Cherly ikut menatap Alika, mereka juga nampak bingung menjelaskan semuanya ini pada Alika.


"Baiklah aku tidak akan ikut campur, aku akan pergi ke kantor. Tapi tolong beri tau aku jika kalian butuh bantuan, sebisa mungkin aku akan membantu kalian," balas Alika, Alika yang sudah tau apa maksud mereka menatapnya langsung pergi dari sana.


Diana, Cherly dan Andi pun sudah berjalan menuju ke mobilnya. Tetapi Diana merasa ada yang ganjal dengan Alika tadi.


"Kalian ngerasa ada yang aneh gak sama Alika?" tanya Diana, Diana duduk di samping Andi yang menyetir mobil sedangkan Cherly duduk di bangku belakang.


"Emangnya kenapa? Perasaan biasa aja," tanya Andi heran.


"Kenapa dia bisa tau maksud kita tadi menatapnya, seolah-olah dia tau apa yang kita sembunyikan selama ini tentang Julian, yah maksudnya kalau dia gak tau apa-apa di bakalan tetep ikut dong. Tadi tuh malah seakan-akan ia tau kalau kita gak mau identitas Julian di ketahui oleh orang-orang," Jelas Diana.


"Karena jika kita mencari tahu pelakunya dengan sengaja ataupun tidak kita akan tetap memberitahu siapa Julian," sambung Diana.


"Kalau di pikir-pikir sih masuk akal, tapi kek nya kita pikirin nanti lagi aja di markas," balas Andi yang memang menyetujui ucapan Diana.


"Ok," setuju Diana.


Sampailah mereka di sebuah restoran tempat dimana para anak buah Julian bersembunyi dan berkumpul, sesampainya di sana Diana dan yang lainnya di sambut dengan hormat.


Mereka masuk ke ruangan rahasia, karena ada beberapa pengunjung yang memang hanyalah pengunjung ke restoran tersebut. Diana, Cherly dan Andi duduk di sebuah kursi dengan meja bundar, di sana ia menemui Reksa seorang pria yang Julian tugaskan untuk memimpin anak buahnya tersebut.


"Selamat datang kembali di sini, sudah lama kalian tidak datang mengunjungi kita di sini," ucap Reksa.


"Sudahlah aku tidak mau basa-basi, kita datang ke sini untuk meminta bantuan, karena sekarang Julian dan ibunya telah di culik oleh seseorang yang entah siapa," ujar Andi tak mau basa-basi.


"Dia juga bisa kalah kalau lawannya lebih banyak dan lebih tangguh darinya," timpa Cherly.


"Kau benar juga, lalu kalian punya orang yang di curigai siapa penculiknya?" tanya Reksa.


"Tidak, tapi akhir-akhir ini Julian memang selalu kena teror. Mungkin pelakunya adalah orang yang sama," balas Andi.


"Tidak, dari hasil pengamatan ku tidak. Aku sangat yakin kalau pelakunya bukan orang yang sama, karena aku tau siapa orang yang telah melakukan teror," Tiba-tiba Diana bicara dengan tegas tanpa rasa ragu sedikit pun, seakan tebakannya tidak akan salah.


"Dan dia tidak sekuat orang yang menculik Julian kali ini," sambung Diana.


Semua yang ada di sana terheran-heran melihat Diana, mereka seakan-akan bukan melihat Diana yang biasanya. Kini Diana tidak peduli apapun lagi, sekalipun identitas sebenarnya terbongkar. Yang ia pedulikan saat ini hanyalah keselamatan Julian, ia harus dengan cepat menyelematkan Julian, karena kalau tidak bisa-bisa Julian akan mati.


"Maksudnya tuh apaan sih? Jangan buat kita pusing," tanya Cherly.


Diana bangun dari duduknya, "Yang meneror ku selama ini sebenarnya adalah Alika," ucap Diana.


Andi dan Cherly kaget mendengar pernyataan Diana tentang Alika.


"Kenapa ku bisa beranggapan seperti itu? Sebenarnya gue juga udah curiga tapi gue gak punya bukti buat bilang sana orang-orang," tanya Cherly, sebenarnya ia juga memang Alika lah dalang dari semua teror tersebut.


"Aku emang gak tau apa motif dari Alika melakukan ini, tapi aku tau Alika yang melakukan ini adalah. Saat kematian pembantu di rumahnya Julian, Cherly bicara padaku kalau Alika mengambil sesuatu dari samping mayat, dan yang ia ambil adalah satu rambutnya yang saat ia melakukan aksinya tertinggal," jelas Diana.


"Bagaimana kamu bisa tau kalau yang ia ambil adalah rambut? Sedangkan kamu sendiri tidak melihat dia mengambilnya, kan Cherly yang melihatnya," tanya Reksa.


"Gampang, karena saat ia mengambil rambutnya, rambut itu kembali jatuh ke lantai dimana aku berada, awalnya aku hanya mengira itu mungkin hanya rambutnya yang jatuh pada saat itu juga. Karena saat aku tanya ia bilang itu memang rambutnya, lalu aku sadar padahal pada saat itu rambut yang ia ambil dengan rambutnya berbeda warna," jawab Diana.


"Rambutnya sekarang berwarna hitam sedangkan kemarin rambutnya berwarna pirang, dan rambut yang aku temui itu berwarna pirang. Lalu di tempat itu tidak ada satu pun orang yang warna rambutnya pirang," sambung Diana.


"Ah iya bener, waktu di CCTV pun rambut cewek nya pirang," Cherly ingat vidio CCTV yang Diana tunjukan padanya, Diana mendapat itu dari kantor polisi.


"Iya kan?" tanya Diana.


"Bener sih hari kemarin rambutnya Alika masih warna pirang," Andi pun sedikit mulai terbuka otaknya.


"Tulisan tangannya Alika pun hampir mirip dengan tulisan yang kita temui di setiap teror tersebut," ucap Diana.


"Lalu apa alasan kamu bilang kalau Alika bukanlah pelaku dari penculikan Julian?" tanya Andi.


"Karena ekspresi Alika tadi benar-benar tidak di buat-buat, lagian jika memang Alika yang menculik Julian kenapa tidak dari dulu aja. Kenapa ia harus capek-capek melakukan serangkaian teror yang pastikan tidak berarti sama sekali untuk Julian," balas Diana.


"Yah bisa aja mungkin memang karena Julian tidak mempan di teror makannya dia menculik Julian," ucap Andi.


"Daripada ribut, mending kita pancing Alika kemari untuk mengatakan semuanya," usul Reksa.


"Ide bagus," setuju Diana.