Cycopathic And Secret

Cycopathic And Secret
Akhirnya terbalaskan



Julian membuka pintu mobil belakang, ia menggunakan topeng. Ia menatap kedua wanita itu dengan tatapan datar.


"Tolong bebaskan kita, kita janji kita gak bakalan bilang sama siapapun," mohon salah satu wanita itu sambil menangis.


"Aku tidak peduli," balas Julian sambil menembak kedua wanita itu tepat di kepalanya.


Mereka berdua pun mati di tempat, untuk menghilangkan barang bukti. Julian mendorong mobil itu ke jurang, karena di sana telat di samping jurang, jadi seolah-olah ini adalah kecelakaan. Hujan pun tiba-tiba turun, Julian segera berlari ke arah ketiga pria tadi, ia langsung memasukan mereka bertiga ke mobilnya.


Di tempat lain Diana kini terbangun, ia mencari keberadaan Julian. Diana pergi keluar kamar karena tidak menemukan Julian di kamarnya, saat ia melihat ke sofa ia malah melihat Andi tengah tertidur di sana. Diana berjalan menghampiri Andi lalu membangunkannya.


"Andi bangun Andi bangun," ucap Diana.


Andi terbangun dengan wajah kaget, "Ada apa? Ada maling? Atau ada orang yang mau bunuh kamu?" tanya Andi panik.


"Enggak ada sih," balas Diana dengan polosnya.


"Terus kenapa di bangunin?" tanya Andi.


"Cuman mau nanya Julian kemana? Terus kamu ngapain ada di sini?" balas Diana.


"Kirain ada apa? kan kaget aku jadinya," ucap Andi yang berpikir terjadi sesuatu pada Diana.


Diana pun duduk di samping Andi, "Cepet ceritain Julian kemana?" tanya Diana sekali lagi.


"Aku gak tau, pokoknya tadi Julian suruh aku datang ke sini buat jagain kamu. Udah gitu aja, dia gak bilang mau kemana-mananya," balas Andi yang memang tidak tau kepergian Julian.


"Baiklah aku akan menunggunya pulang di sini," ucap Diana sambil melipat tangannya di dada.


Di tempat lain, Ian, Dika dan juga Kevin sudah terikat di sebuah kursi dengan Julian di depannya. Julian menyunting obat pada tubuh mereka yang akhirnya membuat mereka cepat sadar, Ian membuka matanya di ikuti oleh yang lainnya.


Julian juga membalut kaki mereka dengan perban, Julian tidak mau mereka mati karena kehabisan darah sebelum waktunya.


Ian menatap Julian dengan wajah ketakutan, sedangkan Julian hanya tersenyum kepada mereka, "Akhirnya kalian bangun juga ternyata, aku pikir kalian akan langsung mati begitu saja," ucap Julian.


"Lepasin kita semua, kitakan gak jadi culik pacarmu tadi," balas Kevin, rupanya Kevin sudah tau siapa pria itu.


"Oh benarkah? Tapi aku tadi sudah terlanjur ajak kalian main, kalian juga sekarang sudah masuk ke permainan ku. Jadi kalian nikmati saja permainan yang ku buat kali ini," ledek Julian.


"Tolong, kami mohon lepaskan kami. Jika kau memintaku untuk mencium kaki mu pun kamu akan melakukannya," mohon Dika dengan wajah yang sudah pucat.


"Sudahlah jangan dulu banyak bicara, aku akan membutuhkan teriakan mu nanti. Permainan ku kan baru aja di mulai, begini jika kalian keluar dengan selamat maka aku akan membebaskan kalian semua. Tapi jika tidak-" Julian tidak melanjutkan ucapannya, ia malah tertawa kegirangan.


Mereka bertiga sudah semakin ketakutan, rasanya makhluk yang kini ada di hadapannya sudah bukan manusia lagi.


"Baiklah, kita mulai dari mana sekarang? Dari mata kalian atau dari kaki kalian dulu," tanya Julian.


"Baiklah aku akan mulai dari kau dulu," tanpa memperdulikan ucapan Ian Julian menarik Ian dari kursinya, ia membawa Ian ke sebuah ruangan.


Julian melepaskan tangan Ian, Ian berpikir kalau ia akan di bebaskan tapi ternyata tidak. Ian di masukan ke kandang harimau dan di tinggal di sana sendirian, sementara itu Julian kembali ke tempat Dika dan juga Kevin. Di depan mereka berdua terdapat sebuah gorden berwarna hitam, Julian menarik gorden tersebut lalu dari balik gorden itu terlihat lah Ian yang sedang di kejar kedua harimau.


Julian tersenyum lebar, "Ini pertunjukan untuk kalian berdua, semoga kalian menikmatinya," ucap Julian yang kembali duduk di kursi nya dan ikut menonton aksi kejar-kejaran harimau nya dan juga Ian.


"Tolong lepasin kita, aku mohon tolong," ucap Kevin ketakutan.


"Sudahlah kalian jangan banyak bicara, nikmati saja. Aku pikir kalian seharusnya memikirkan cara untuk bebas dari harimau itu, agar kalian selamat nanti," balas Julian tanpa memalingkan tatapannya dari harimau itu.


Julian tertawa terbahak-bahak saat melihat wajah ketakutan Ian, lalu akhirnya Ian mati karena tubuhnya sudah tidak kuat lagi menahan gigitan dari Harimau tersebut. Setelah itu Julian masuk ke kandang tersebut sambil membawa cambuk agar harimau nya tidak menyerang dirinya, ia memenggal kepala Ian dan memasukannya kedalam tas. Setelah itu ia kembali keluar dari dan menghadap ke arah Kevin dan juga Dika.


"Sekarang giliran siapa yah, tapi nampaknya sekarang harimau ku sudah kenyang. Aku apakan yah kalian berdua," ucap Julian berpura-pura berpikir, padahal ia sudah tau apa yang akan ia lakukan pada kedua orang itu.


Julian sudah memikirkan semuanya dengan sangat hati-hati tadi.


"Lebih baik kau lepaskan saja kamu ini, apakah kau tidak kasihan pada kami? Bukannya apa yang kau lakukan sebenarnya sudah jauh dari cukup untuk membalas kan dendam," balas Dika membujuk Julian.


"Cukup katamu, ini belum seberapa dengan apa yang pernah aku lakukan pada musuh-musuhku," ucap Julian sambil tersenyum.


"Katamu aku harus kasian pada kalian? Oh tidak akan pernah," sambung Julian.


"Baiklah aku punya permainan lain untuk kalian," lanjut Julian sambil menguarkan sebuah pistol dari saku jasnya.


Julian memundurkan langkahnya, lalu mengarahkan pistol itu ke kepala Kevin. Nampaknya Kevin sudah terlihat pasrah, sebanyak apapun ia memohon sepertinya Julian tidak akan pernah melepaskannya.


Julian melepaskan satu tembakannya, "Kena," Julian ternyata tidak menembak kepala Kevin melainkan sebuah kaca yang ada di atas kepala mereka.


Lalu setelah itu serpihan kaca kecil berjatuhan ke atas kepalanya, membuat Kevin dan Dika terluka. Mereka berdua masih sadarkan diri walaupun wajah dan tubuhnya sudah terkena serpihan kaca yang sangat banyak.


Mereka berteriak kesakitan, Julian kembali berjalan mendekati mereka, "Nampaknya kalian masih terlihat kuat," ucap Julian.


"Kalau kau mau bunuh kita, bunuh saja sekarang," ucap Kevin dengan nada suara yang sudah tidak jelas.


"Ada satu hal lagi yang ingin aku berikan pada kalian," Julian tiba-tiba menyiramkan air yang sudah ia campur dengan garam ke tubuh mereka, seketika mereka kembali berteriak kesakitan.


Julian tertawa bahagia melihat mereka, rasanya kepuasannya sudah kembali terpenuhi. Setelah sekian lama akhirnya rasa ini sudah ia rasakan kembali, ia benar-benar merindukan saat-saat seperti ini dalam hidupnya.


Kevin sudah tidak dapat menahan rasa sakitnya lagi, akhirnya ia mati di sana saat ini juga. Di ikuti oleh Dika yang juga menghembuskan nafas terakhirnya saat itu juga, Julian mengecek mereka berdua.


"Ternyata kalian semua lemah, padahal ini masih belum puncaknya," ucap Julian yang berharap mereka masih hidup.


Setelah itu ia memenggal kepala mereka berdua lalu memasukannya ke dalam tas bersamaan dengan kepalanya Ian tadi, sedangkan tubuh kedua orang itu di bakar lalu abunya ia masukan ke dalam cairan kimia.