
Saat Julian akan memesan makanan tiba-tiba ponselnya berbunyi, ia langsung mengajar telpon nya.
"Ada apa Ma?" tanya Julian pada orang yang berada di sebrang telpon.
"Kamu ke rumah sekarang yah, papa mu sakit katanya mau ketemu kamu," balas ibunya Julian.
Ternyata yang menelpon dirinya adalah ibunya sendiri, "Iyah aku pulang ke rumah sekarang sama Diana," ucap Julian menuruti perintah ibunya.
"Ya udah Mama tunggu di rumah," balas ibunya Julian sambil mematikan telponnya.
"Siapa yang telpon?" tanya Diana sambil menatap Julian.
"Ibuku, dia minta aku pulang. Katanya Papa sakit, dan mau ketemu aku," balas Julian sambil menyimpan kembali ponselnya di saku celana.
"Boleh aku ikut?" tanya Diana.
"Boleh aku juga tadi bilang kamu akan ikut pulang denganku," balas Julian.
Mereka akhirnya keluar lagi dari restoran itu dan berjalan menuju mobilnya. Setelah beberapa menit kemudian mereka sampai di rumahnya Julian, Diana dan Julian masuk bersamaan.
"Julian," panggil ibunya yang melihat Julian ada di depan pintu masuk.
"Papa nya di mana?" tanya Julian sambil menghampiri ibunya.
"Papa di kamar, Mama udah telponin kamu dari kemarin cuman malah gak di angkat-angkat. Sebenarnya Mama mau bawa dia ke rumah sakit tapi Papa malah gak mau, ia dari kemarin cuman mau ketemu kamu katanya," balas ibunya Julian.
"Ya udah aku ke kamar dulu," ucap Julian.
"Aku tunggu di sini aja yah, sama ibu kamu," Diana tidak mau ikut dengan Julian, ia rasa Julian perlu bicara berdua dengan papa nya.
"Iyah," balas Julian sambil berjalan menuju lantai tiga.
Diana duduk di samping ibunya Julian, "Kalau boleh tau emangnya Om sakit apa yah tante?" tanya Diana sambil menatap ibunya Julian.
"Tante juga kurang tau, kemarin-kemarin sih masih baik-baik saja. Cuman tiba-tiba penyakit jantungnya kambuh lagi," balas ibunya Julian.
"Bukannya penyakit jantungnya kemarin ini udah agak membaik yah tante," ucap Diana heran.
"Iyah, mungkin kayaknya salah makan deh," ibunya Julian merasa sepertinya ayahnya Julian salah makan yang mengakibatkan jantungnya kembali sakit.
"Udah di periksa?" tanya Diana.
"Udah, tadi dokter pribadinya baru aja pulang. Tapi katanya bentar lagi mau ke sini lagi buat ngecek keadaannya lagi," jawab Ibunya Julian.
Diana pun menganggukkan kepalanya sambil memalingkan tatapannya, sedangkan itu di kamar Julian sedang duduk di samping ayahnya. Walaupun dia ayah tirinya tapi Julian juga sudah menganggapnya ayah kandungnya sendiri.
Ayahnya Julian tersenyum saat ia melihat Julian duduk di samping tubuhnya yang terbaring lemah di kasur, "Akhirnya kamu datang juga," ucap ayahnya.
"Kita ke rumah sakit aja," ujar Julian yang ingin membawa ayahnya ke rumah sakit.
"Tidak, sepertinya ini sudah waktunya aku pergi. Belakangan ini tubuh ku benar-benar sakit dan sangat lemah, kini aku sudah tidak bisa lagi menahannya," balas Ayahnya.
"Lalu kenapa kau ingin bertemu denganku?" tanya Julian.
"Aku hanya ingin menitipkan istriku padamu, aku ingin pergi dengan tenang. Tolong jaga dia dan tolong jangan lukai dia," balas ayahnya dengan suara yang sangat lemah.
"Aku akan menjaganya, kau tenang saja," ucap Julian santai.
"Walaupun kau bukan anakku, tetapi aku sudah mewariskan semua kekayaannya ku padamu. Tapi tolong juga biaya istriku," balas Ayahnya Julian yang kembali meminta permohonan pada Julian.
Julian terdiam.
"Katakan pada istriku kalau aku sangatlah mencintainya, cintaku akan tetap hidup walaupun tubuh ku sudah mati," ayahnya Julian mengucapkan ucapan terkahir nya pada Julian.
Matanya mulai tertutup perlahan dengan di barengi nafas terakhirnya juga, Julian berjalan ke luar untuk mengatakan apa yang sudah terjadi. Dari atas Julian menatap ke arah ibunya dengan tatapan datar dan dingin.
"Ma Papa udah gak ada," ucap Julian.
Ibunya yang kaget langsung menatap ke arah Julian, "Kamu jangan bercanda Julian, mana mungkin. Barusan Mama baru aja bicara padanya dan dia baik-baik saja," balas ibunya Julian tidak percaya.
Diana pun ikut kaget dengan apa yang Julian katakan, "Ini beneran? Kamu gak lagi bercanda kan?" tanya Diana sambil merangkul ibunya Julian.
"Aku tidak pernah bercanda soal kematian," balas Julian.
Ibunya Julian langsung berlari ke arah Julian sambil menangis. Ia menatap Julian dengan tatapan tidak percaya, "Katakan padaku kalau kamu sedang berbohong," titah ibunya.
Julian memegang kedua lengannya ibunya, "Lebih baik Mama lihat sendiri saja," balas Julian.
Diana berjalan menghampiri Julian, sedangkan ibunya Julian berjalan masuk ke kamar yang di dalamnya terdapat suaminya yang sudah tidak bernyawa.
Diana menangis sambil memeluk Julian, "Aku bahkan sudah menganggapnya sebagai ayahku sendiri, setelah kepergian kedua orang tuaku. Merekalah yang sayang padaku selain dirimu," ucap Diana sambil tersedu-sedu.
"Sudahlah jangan ditangisi, kematian akan tetap datang apapun yang terjadi. Mungkin ini memang sudah waktunya," balas Julian sambil membalas pelukan Diana.
Dokter pribadi ayahnya Julian pun datang, ia langsung menghampiri Julian yang sedang berdiri di depan kamar ayahnya.
"Ada apa?" tanya dokter itu yang belum tau kalau ayahnya Julian sudah tidak ada.
"Kau lihat sendiri saja di kamar," balas Julian.
Pria itu pun langsung berjalan masuk untuk melihatnya, Julian membawa Diana juga masuk ke kamar tersebut. Julia melepaskan Diana lalu pergi ke arah ibunya, ia membantu ibunya untuk bangun dan pergi dari sana karena dokter harus mengurus mayat ayahnya.
"Bu kita pergi yah, biarin dokter yang menangani semuanya," ucap Julian.
Ibunya sangat lemas, ia tidak habis pikir kenapa suaminya bisa pergi begitu cepat meninggalkan dirinya, tapi ia menuruti apa yang Julian katakan. Ia bangun dan pergi dari sana, menunggu di samping kamar.
Diana ikut keluar bersama dengan Julian dan ibunya Julian, "Kamu jagain dia dulu, ada yang ingin aku lakukan," Julian meminta Diana menjaga ibunya.
"Iyah," balas Diana.
Julian kembali masuk ke kamar tersebut, ia tadi sempat menemukan toples obat ayahnya yang nampak berbeda dari biasanya. Ia mengambil toples itu sambil memperhatikannya, sedangkan dokter itu kini sudah beres dengan pekerjaannya. Ia menatap Julian yang tengah memegang toples obat. Dokter itu menghampiri Julian dan mengambil toples obat itu.
"Bukannya kemarin saya kasih obatnya yang berbeda, kenapa ini malah ada di sini?" dokter itu malah bingung kenapa obat itu ada di sana.
"Memangnya kau kasih obat yang mana?" tanya Julian.
"Kemarin aku kasih obat yang lain, karena kan ayahmu penyakit jantungnya sudah agak membaik jadi aku kasih yang dosisnya agak rendah," balasnya.
"Lalu mengapa ini ada di sini?" tanya Julian kembali.
"Saya juga tidak tau, biar saya cek dulu isi obat ini apa? Nanti hasil tesnya saya kirimkan padamu," balas dokter itu sambil memasukan toples obat itu ke tasnya.
Di tempat lain seorang wanita dan pria yang merencanakan balas dendam pada Julian semakin bahagia.
"Aku yakin sebentar lagi ayah tirinya Julian akan mati, aku sudah menukar obatnya kemarin saat kita bertemu di kantor," ucap wanita itu.
"Kau memang cerdas, besok waktunya aku yang bertindak," balas si prianya.