Cycopathic And Secret

Cycopathic And Secret
Mulai Ada Hal Aneh



Hari sudah siang, siang ini Andi dan Julian sedang makan siang di restoran yang berada di dekat kantor. Mereka hendak menemui kekasihnya Andi sembari makan siang di sana, kekasihnya Andi berbeda dengan kekasihnya dulu.


Mereka baru jadian beberapa bulan lalu, Andi memang pria yang suka sekali berganti-ganti pasangan, tetapi untuk kali ini entah kenapa Andi malah merasa nyaman pada wanitanya, mungkin Andi sudah mulai jatuh cinta pada kekasihnya.


"Pacarmu dimana? Aku sudah menunggunya cukup lama," tanya Julian yang sudah mulai bosan menunggu kedatangan wanita itu.


"Sebentar napa," balas Andi sambil celingukan mencari pacarnya.


Tak lama setelah itu tiba-tiba pacarnya Andi datang dan langsung menghampiri Andi, "Maaf yah lama, soalnya ada masalah di jalan," ucap wanita bernama Lia tersebut.


"Gak papah kok," balas Julian sembari tersenyum.


Andi menatap Julian, "Tadi aja marah-marah lu," ucap Andi dalam batinnya.


Julian membalas tatapan Andi, "Kalau mau marah bisa ngomong langsung aja gak?" tanya Julian yang sepertinya sudah tau isi batinnya Andi.


"Ah udahlah, ini pacarku yang sempat aku omongkan tadi," balas Andi yang memperkenalkan pacarnya.


"Siapa namanya?" tanya Julian.


"Namanya Lia," balas Andi.


"Kamu saya Terima kerja, mulai besok kamu udah bisa masuk," ucap Julian.


"Makasih yah udah mau Terima aku kerja," balas Lia dengan senang hati.


"Makasih juga dong sama aku, kalau bukan karena aku kamu juga gak bakalan di terima tau," ledek Andi yang merasa dirinya tidak di anggap.


"Aku juga pastinya akan berterimakasih padamu, kalau bukan karena kamu aku tidak akan bertemu dengan bos yang baik seperti Julian kan," balas Lia sambil menatap Andi dan mengelus tangannya.


"Baik?" Andi malah mempertanyakan kata baik yang di ucapkan Lia untuk Julian, yang menurutnya tidak baik sama sekali.


"Memangnya kenapa? Dia kan baik," tanya balik Lia.


"Aku sudah selesai makan, jadi aku akan pergi dari sini. Masih banyak kerjaan yang harus aku selesaikan, aku kasih kau lima menit untuk bersama," ucap Julian yang berdiri dan pergi dari sana.


Julian berjalan menuju ke kantornya untuk kembali menyelesaikan pekerjaannya tetapi tiba-tiba di perjalanan ia melihat orang yang sedang di rampok. Namun seperti biasa Julian tidak peduli dengan hal itu, ia melanjutkan langkahnya dengan wajah yang santai seakan-akan tidak ada yang terjadi.


Sementara itu di tempat lain saat ini Diana dan Cherly sedang bersantai di kantin yang berada di kampus, sebenarnya mereka sudah selesai kuliah namun tidak mau pulang sekarang, mereka masih mau bersantai di sana.


"Pulang sekarang atau nanti aja?" tanya Cherly.


"Bentar dulu napa, masih males pulang nih," balas Diana.


"Eh nanti malam kita ke klub yuk, udah lama tau gak ke sana," ajak Cherly.


"Lu mau gue mati ngajak ke sana?" tanya Diana sambil menatap tajam Cherly.


"Yah lu gak udah bilang sama Julian, lagian kita ke sana buat minum doang kok. Masa Julian gak boleh," balas Cherly.


"Enggak, pokoknya gak mau. Emangnya lu pikir si Julian gak punya mata-mata apa? Temennya kan banyak," ucap Diana yang tetap tak mau pergi.


"Ah ribet lu," balas Cherly.


"Ya udah nanti malam gue nginep di rumah lu ajalah, soalnya gue lagi males pulang ke rumah," sambung Cherly.


"Boleh, sekalian gue juga bete di rumah sendirian," setuju Diana.


"Bukannya si Julian suka nginep di sana?" tanya Cherly.


"Lu pernah main enak-enak gak sama Julian?" Tanya Cherly agak sedikit liar. Cherly bertanya sambil berbisik dan tertawa.


"Lu gila yah? Ngapain lu nanya kayak gitu? Inget yah gue gak pernah ngapa-ngapain sama Julian," balas Diana jujur, ia memang tidak pernah melakukan hal yang terlalu berlebihan dengan Julian.


Paling Julian hanya mencium bibirnya dan keningnya atau pipinya juga, tapi terkadang mereka juga berpelukan sambil tertidur.


"Ah masa sih gak ngapa-ngapain? Kok gue gak percaya," tanya Cherly kembali sambil tertawa.


"Eh bambang gak semua orang itu sama dengan apa yang lu pikirin, terserah sih lu mau percaya atau enggak sama gue. Jangan bilang kalau lu sering lakuin itu sama Anggara," balas Diana agak acuh.


"Kagak sering kok," ujar Cherly.


"Iyah kagak sering tapi pernah," balas Diana jutek.


Cherly pun tertawa sambil memukul mejanya perlahan, "Iyah tapi lu jangan bilang-bilang yah," balas Cherly.


"Ya kagak lah ngapain juga gue kasih tau orang kalau lu kayak gitu, kagak ada untungnya buat gue," ucap Diana.


"Bener juga sih," balas Cherly sembari menggaruk kepalanya.


"Ah udah ah kalau bicara terus sama lu takutnya makin ngawur," ucap Diana sembari berdiri dan berjalan pergi dari sana.


"Ih tungguin," balas Cherly sambil berjalan mengikuti Diana, setelah berada di samping Diana Cherly langsung menggenggam tangannya.


"Mau pulang aja nih?" tanya Cherly.


"Iyalah kan gue gak bakalan nginep di sini," balas Diana sembari menatap ke arah Cherly sekilas.


"Bagus deh, gue ikut ke apartemen lu yahh, soalnya Anggara masih kerja sekarang. Gue gak mau di rumah sendirian, orang tua gue juga kerja pasti belum pulang," ucap Cherly.


"Ya udah terserah lu," balas Diana pasrah.


Mereka berdua pun berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobil Cherly dan pergi ke apartemen Diana, tetapi setelah sampai di mobil Cherly tiba-tiba di depan mobilnya terdapat sebuah kotak berwarna putih. Cherly yang penasaran dengan kotak itu pun langsung mengambilnya.


"Kotak apaan ini? Lu ulang tau Diana?" tanya Cherly sembari menggoyangkan kotak tersebut.


"Gue gak ulang taun, lagian gue juga gak tau itu kotak isinya apa. Ya udah lu buang aja ke tong sampah, gak penting banget sih," balas Diana.


"Ah gue penasaran, gue buka dulu aja ahh," ucap Cherly yang langsung membuka kotak itu.


Saat Cherly berhasil membuka kotak itu tiba-tiba Cherly melemparkan kotak itu ke aspal, Diana kaget dengan suara kotak itu yang tiba-tiba di lempar Cherly.


"Kenapa sih lu?" tanya Diana sambil menatap Cherly.


"Lu liat deh isi kotaknya," titah Cherly sambil menatap kotak tersebut tanpa berkedip.


Diana menatap kotak yang Cherly lempar tersebut, lalu dengan perlahan-lahan Diana mengangkat kotak itu kembali untuk melihat isinya dengan jelas. Diana sama terkejutnya dengan Cherly saat tau isi kotak nya.


"Ini kan foto almarhum orang tua gue," ucap Diana.


Di kotak itu terdapat foto kedua orang tua Diana, yang di coret dengan darah segar. Karena di dalamnya juga terdapat sebuah kepala kucing yang bau darahnya sangatlah menyengat. Di foto kedua orang tua Diana terdapat tulisan.


"Aku akan membunuhmu seperti seseorang membunuh mereka," Kira-kira seperti itulah tulisannya.


"Gue gak berani liat, mending lu buang sekarang," ucap Cherly sembari menutup matanya karena tidak sanggup melihat isi kotaknya.


"Enggak, gue mau bawa kotak ini pulang. Gue harus kasih tau Julian," balas Diana.