
Julian dan salah satu polisi sampai di luar, di luar rumah Julian juga sudah terdapat banyak orang yang ingin melihat apa yang terjadi di dalam. Namun beberapa orang polisi melarangnya untuk masuk, takut ada barang bakti yang hilang.
"Apakah kau punya musuh?" tanya polisi tersebut sambil menatap Julian, ia juga mengambil buku untuk mencacat beberapa infomasi penting dari Julian.
"Saya rasa saya tidak punya musuh, tapi itu pun masih saya yang rasa. Yah mungkin di luaran sana ada yang benci saya tanpa sepengetahuan saya," balas Julian, ia berlaga agak sedikit syok dengan kejadian kali ini.
"Kenapa ada yang benci dengan Anda?" tanya polisi itu kembali.
"Yah Anda tau sendiri lah, saya dan ayah saya punya perusahaan yang cukup besar. Mungkin ada pesaing ayah saya yang dulu pernah ayah saya dan saya kalahkan saat mempromosikan perusahaannya," balas Julian.
"Kau benar juga, baiklah untuk kelanjutannya nanti saya hubungi lagi Anda," ucap polisi tersebut.
Polisi itu kembali masuk ke rumah Julian untuk memindahkan mayat itu ke ambulans, karena akan di bawa ke rumah sakit terlebih dahulu untuk di otopsi.
Setelah melihat polisi itu masuk Julian segera menelpon Andi dan menyuruh pria itu untuk segera datang ke rumah tersebut, tak hanya itu Alika juga datang ke rumahnya Julian. Ia tau kondisi di sana dari tetangganya Julian, karena ia juga cukup dekat dengan ibunya Julian ia pun langsung datang ke sana.
Alika sudah sampai di rumahnya Julian, ia di bolehkan masuk karena mengaku kerabat dari ibunya Julian. Ia menghampiri ibunya Julian yang sedang bersama Diana dan Cherly di kamarnya.
"Tante," sapa Alika sambil menatap ibunya Julian.
"Siapa dia?" tanya Cherly pada Diana sambil berbisik.
"Mana aku tau," balas Diana yang juga tidak tau siapa wanita itu.
Ibunya Julian menatap Alika lalu tersenyum ke arah Alika, "Ternyata kamu, kapan kamu pulang ke Indonesia?" tanya ibunya Julian.
Alika duduk di samping ibunya Julian, tetapi sebelum menjawab ucapan ibunya Julian, Alika menatap ke arah Diana dan Cherly terlebih dahulu.
"Gak papah kan aku duduk di sini?" tanya Alika sambil tersenyum sopan.
"Oh gak papah, ya udah kita tinggal ke luar dulu yah. Takutnya kalian mau berduaan dulu," balas Diana.
"Gak usah, kalian di sini aja. Aku cuman mau ngobrol-ngobrol doang kok," ucap Alika.
"Kalian berdua aja dulu, aku mau ke dapur dulu sama Cherly," balas Diana yang tetap ingin pergi dari sana.
"Baiklah kalau memang maunya begitu," ujar Alika sambil tersenyum.
Diana dan Cherly pun meninggalkan kamar tersebut, mereka berjalan ke arah dapur untuk minum. Rasanya tenggorokan mereka sangat kering untuk saat ini, mungkin ini akibat terlalu banyak tegang dan panik.
"Lu gak takut apa pacaran sama Julian?" tanya Cherly pelan-pelan sambil celingukan memastikan tidak ada Julian di sana.
"Enggak kok, emangnya kenapa?" tanya balik Diana.
"Hidupnya Julian tuh banyak bahayanya, musuhnya tuh kek nya di mana-mana," balas Cherly.
"Tapi aku percaya Julian bisa lindungi aku," yakin Diana.
"Yakin lu dia bisa lindungi lu? Kayaknya enggak deh, mungkin untuk saat ini bisa tapi gak tau deh untuk kedepannya," tanya Cherly.
"Jangan mikirin yang aneh-aneh deh, percaya aja lah," balas Diana yang akan tetap percaya kalau Julian bisa melindungi dirinya.
"Iyalah terserah kamu, pokoknya aku cuman mau bilang sama kamu. Tinggalin dia sebelum terlambat," pesan Cherly, bukan apa-apa ia hanya tidak mau sahabatnya kenapa-napa hanya karena seorang pria yang dicintainya.
"Iya-iya," ledek Diana.
"Ngapain juga gue salahin lu, emangnya nanti yang bakalan bunuh gue tuh elu? Kan enggak, jadi gak bakalan gue salahin," ucap Diana sambil tertawa kecil.
"Udah ah ke depan lagi yuk, kayaknya polisinya udah mau pada pulang deh," sambung Diana, ia mengajak Cherly untuk pergi ke depan.
"Enggak ah, takut. Gue tunggu di sini aja, lu pergi sendiri aja ke depan," balas Cherly yang tak mau ikut dengan Diana.
"Baiklah, kalau begitu kamu tunggu di sini. Atau kalau kamu mau pulang, pulang aja deh," ucap Diana.
"Lu gila apa gimana sih? Mana mau gue pulang sendiri setelah kejadian ini, mana ini udah malem banget," balas Cherly.
"Ya udah kalau gitu berarti lu tunggu di sini," ucap Diana.
"Iyah Diana, kan tadi juga gue udah bilang sama lu. Kalau gue mau tunggu di sini aja, Kadang-kadang otak lu agak geser dikit yah," balas Cherly sembari menekankan setiap kata-katanya.
"Oh iya, ya udah ah gue pergi dulu," ucap Diana sambil berjalan pergi dari sana.
Setelah itu Diana sampai di ruangan tamu, ia melihat Julian sedang duduk di sana sendirian sambil melamun. Diana berjalan mendekati Julian, setelah sampai ia langsung duduk di sana sambil menatap Julian.
"Sayang, kita tidur yuk. Kamu pasti capek," ucap Diana.
Julian menatap ke arah Diana dengan tatapan Dingin, "Aku belum ngantuk, lagian aku juga gak capek kok," balas Julian.
"Polisi udah pada pulang?" tanya Diana.
"Udah," balas Julian.
"Kamu lagi nungguin siapa?" tanya Diana kembali.
"Andi," jawab Julian singkat.
"Aku cuman mau bilang sama kamu, biarin lah polisi aja yang tuntaskan masalah ini. Kamu gak usah ikut campur, aku cuman khawatir kamu kenapa-napa aja," pesan Diana untuk Julian.
Julian mengelus rambut Diana, "Kamu tenang saja, aku tidak akan terluka sedikit pun. Aku janji," balas Julian, yang artinya ia memang akan mencari orang yang melakukan ini sendirian.
Diana menghembuskan nafas beratnya sambil memalingkan tatapannya ke arah depan, ia menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi.
"Percuma aja sih aku larang kamu, kamu bakalan gak pernah nurut sama ucapan aku," ucap Diana yang sudah pasrah dengan apa yang akan Julian lakukan.
"Yah sudah kalau begitu kamu percaya saja kalau aku akan kembali dengan selamat," Julian kembali meyakinkan Diana.
"Ya sudahlah aku percaya kalau begitu," pasrah Diana.
Setelah menunggu beberapa menit Andi pun sampai ke rumahnya Julian, ia berjalan menghampiri Julian.
"Sayang kamu bisa tinggalin aku sama Andi doang kan?" tanya Julian.
"Iyah silahkan," balas Diana sambil berdiri dan pergi dari sana, Diana kembali ke dapur menghampiri Cherly yang ternyata masih berada di kursi meja makan.
Diana duduk di samping Cherly dengan wajah yang masam.
"Kenapa sih?" tanya Cherly.
"Tau ah," balas Diana sinis.