
Setelah beberapa rencana mereka siapkan kini mereka sudah mulai ingin melancarkan rencananya, pertama Diana Andi dan Cherly menunggu Alika di restoran itu. Tadi Diana menelpon Alika kalau ia butuh bantuan, sedangkan pelanggan di restoran itu semuanya adalah anak buah Julian.
Tadi Reksa meminta pelanggan untuk meninggalkan tempat itu karena ada seseorang yang akan menyewanya, sebagai gantinya makanan yang mereka makan di gratiskan semuanya.
Alika datang tanpa rasa curiga sedikit pun, Alika duduk di samping Diana, "Apa yang bisa aku bantu?" tanya Alika.
Tiba-tiba pintu restoran di tutup dan semua jendela pun di tutup, jendela kaca di tutup oleh gorden. Kini Alika mulai panik, tetapi ia berusaha tidak memperlihatkan kepanikannya di depan Diana dan yang lainnya.
"Sebenarnya kita di sini semuanya cuman mau tau aja apa alasan kamu melakukan ini? Di tambah apakah penculikan ini ada hubungannya atau tidak denganmu," ucap Andi dengan nada suara beratnya.
"Kita tidak akan melukaimu asalkan kau berkata jujur, kita juga akan memaafkan apa yang kau lakukan pada ku kemarin-kemarin ini," sambung Diana.
"Maksudnya apa? Aku gak ngerti," Alika masih tidak mau angkat bicara, ia tetap bertingkah seolah-olah ia tak tau apa-apa.
"Kau mau mati?" tanya Diana sekali lagi.
Tubuhnya Alika sedikit bergetar, Alika memang tak sekuat yang di bayangkan. Kini ia benar-benar ketakutan, karena ia melihat Diana seperti bukanlah Diana yang biasanya ia lihat. Gadis manis yang lucu, namun Diana saat ini malah mengeluarkan aura yang seperti iblis.
"Baiklah kalau kau tak mau jujur, aku bisa saja menembakkan pistol ini tepat di kepala mu. Karena tanpa kau angkat bicara pun aku akan menemukan Julian," sambung Diana. Ia memegang pistol yang ia sembunyikan di saku bajunya.
"Baiklah aku akan mengatakan yang sejujurnya pada kalian," Alika pun menyerah.
Ia mulai mengatakan kenapa ia melakukan ini, dan semua kelakuannya ia jelaskan secara rinci dan detail.
"Tapi untuk penculikan Julian aku benar-benar tidak tau apa-apa?" ucap Alika.
Sebenarnya Alika memang bisa bela diri, tapi untuk melawan anak buahnya Julian yang banyak saat ini itu tidak akan membuatnya keluar dari sana dengan selamat.
"Jangan bohong," ucap Andi.
"Sudahlah, aku percaya kalau dia tidak bohong. Lagian dia hanya beranggotakan dua orang, nama mungkin menatap Julian," timpa Diana.
"Ucapan Diana ada benarnya Juga," setuju Cherly.
"Lalu sekarang kita harus apa? Untuk cari Julian?" tanya Andi semakin kebingungan.
"Untuk sekarang tahan wanita ini di penjara untuk sementara waktu," balas Diana.
Dua orang anak buah Julian membawa Alika untuk di masukan ke penjara bawah tanah, Namun tiba-tiba seorang pria menghadap ke arah Diana.
"Aku ada sedikit petunjuk tentang Julian," ucap Pria itu.
"Apa?" tanya Diana.
Pria itu pun lalu memberikan sebuah rekaman di ponselnya yang memperlihatkan segerombolan orang keluar dari rumahnya Julian, sambil membawa dua kotak besar.
"Kapan kau mengambil rekaman ini?" tanya Diana.
"Aku mengambilnya tadi malam, aku ingin melawannya atau mencari tau apa yang terjadi tapi kalau aku nekat aku akan mati di sana saat itu juga, kalau aku mati maka tidak akan ada yang bisa melaporkan semua ini, makannya aku memilih untuk diam saja dan bersembunyi di pohon," balas pria itu.
"Siapa Malik?" tanya Andi.
"Dia Malik," Diana menunjukkan Malik yang ternyata ada dalam rekaman itu.
"Kok kamu bisa tau itu Malik?" tanya Reksa heran.
"Ceritanya panjang, sekarang kita siapkan senjata terlebih dahulu. Karena yang kita hadapi bukanlah orang biasa, Malik ini adalah orang yang kejam dan sangatlah licik. Kita kembali di ruangan senjata," ucap Diana, Diana berjalan mendahului mereka ke ruang senjata.
Andi mengikuti Diana dari belakang lalu saat mereka memasuki lorong Andi menarik tangan Diana, "Siapa kau sebenarnya?" tanya Andi.
"Nanti pun kau akan tau siapa aku," balas Diana sambil melepaskan tangannya Andi dengan paksa.
Diana kembali melanjutkan langkahnya menuju ruangan senjata di sana, ia mengambil beberapa pistol dan juga pisau.
"Lebih baik kau tunggu saja di sini, biarkan aku Reksa dan yang lainnya yang melawan orang itu. Aku tidak mau kau kenapa-napa dan malah menjadi beban kita," Andi masih menganggap Diana sebagai orang yang lemah.
"Jangan katakan itu padaku saat ini, katakan saja itu nanti pada dirimu sendiri," balas Diana.
"Daripada berdebat mending kau segera ambil senjata mu sendiri," Diana memberikan sebuah senjata api yang besar pada Andi. Setelah itu ia meninggalkan tempat itu, ia berjalan menuju Cherly yang nampak tengah kebingungan.
"Dengarkan aku, sekarang aku tidak bisa menjelaskan apapun padamu. Karena waktunya tak memungkinkan, sekarang kau tunggu saja di sini, telpon Anggara untuk menjaga mu di sini. Aku akan jelaskan semuanya setelah aku kembali," ucap Diana.
"Baik," balas Cherly yang mau ikut saja dengan apa yang Diana ucapkan.
Reksa menghampiri Diana, "Kita cari tempat malik kemana?" tanya Reksa.
"Kirim beberapa orang untuk mencarinya, aku akan menunggunya di sini," balas Diana.
"Aku akan pergi ke penjara bawah tanah," Diana pergi dari sana untuk bertemu Alika.
Alika di jaga oleh dua orang pria, Diana meminta mereka untuk pergi dari sana. Ada hal yang ingin ia katakan pada Alika, setelah kedua orang itu pergi Diana melepaskan kunci gembok penjara itu lalu mengeluarkan Alika.
Alika malah menyerang Diana, namun dengan mudah Diana membalikan serangannya, ia mengeluarkan pisau dari sakunya lalu mengarahkan tepat ke leher Alika. Sedangkan kedua tangan Alika Diana pegang dengan hanya sebelah tangannya.
"Jangan buat aku membunuhmu sekarang juga, ada hal yang ingin ku tawarkan padamu," ucap Diana.
"Katakan," balas Alika.
"Ikut dengan ku membebaskan Julian, lalu setelah itu ku bebaskan kau atau kau mati sekarang," ucap Diana.
Alika nampak terdiam sejenak, hingga akhirnya mengiyakan tawaran Diana. Diana mendorong tubuh Alika lalu memberikan pistol ke Alika yang sudah ia siapkan.
"Tapi jangan coba-coba untuk membunuhku, karena aku akan dengan mudahnya membunuhmu terlebih dahulu," bisik Diana, setelah itu ia meninggalkan Alika.
Alika mengikuti langkah Diana dari belakang, mereka yang sudah siap menyerbu tempatnya malik pun menunggu kabar di ruang tenang. Setelah beberapa menit kemudian seseorang menelpon Reksa dan mengatakan kalau mereka menemukan tempat Malik berasal.
Diana dan yang lainnya segera naik mobil dan meninggalkan Cherly sendirian di sana, karena Diana melarang Cherly menelpon Anggara sebelum mereka pergi, setelah tersisa Cherly barulah ia menelpon Anggara.