
Setelah selesai sarapan Julian mendekat ke arah Alika.
"Kau pergi ke kantor dan urus semua pekerjaan di kantor, aku akan ke kantor polisi untuk hari ini," ucap Julian.
"Baik," balas Alika sambil tersenyum ke arah Julian.
Diana berdiri di samping Julian, "Kamu bawa mobil gak? Atau kendaraan lain?" tanya Diana pada Alika.
"Enggak, semalam aku naik taksi," balas Alika sambil menggelengkan kepalanya.
"Gimana kalau ke kantornya bareng kita aja, kebetulan kita satu arah," tawar Diana.
"Emangnya boleh?" tanya Diana sambil menatap Julian.
"Boleh-boleh aja sih," balas Julian.
"Ya udah kalau gitu kita berangkat sekarang aja," ucap Diana.
Sementara itu Cherly tidak pulang, ia di rumah itu untuk menemani ibunya Julian. Anggara pun akan datang untuk menemani Cherly di rumah itu.
"Aku pergi dulu yah, jangan kemana-mana sebelum aku pulang. Nanti aku beliin makanan deh," ucap Diana pada Cherly.
"Baiklah, sekarang kalian cepat pergi. Aku sudah mulai muak melihat kalian," balas Cherly bercanda sambil cengengesan.
"Iyah kita pergi," Diana menggandeng Julian lalu berjalan pergi dari sana.
Alika ikut berjalan di belakang Diana dan Julian, setelah beberapa menit Alika pun sampai di depan gedung kantor milik Julian tersebut, ia langsung turun dan berpamitan pada Julian dan juga Diana.
"Makasih udah mau nganter aku sampai sini," ucap Diana sambil menatap Diana.
"Iyah sama-sama, kalau begitu kita pergi dulu yah," balas Diana sambil berpamitan.
Diana menutup kaca mobilnya lalu Julian pun memajukan mobil tersebut, di perjalanan Diana menatap ke arah Julian.
"Kayaknya untuk saat ini kamu harus lebih mengamankan rumahmu deh, ibumu kan belum tau siapa kamu dan ibumu juga tidak terbiasa dengan semua ini, aku tidak mau kalau dia kenapa-napa," usul Diana.
"Kamu benar, tapi aku jadi ingat sesuatu, kamu juga dulu terkena banyak teror lalu kenapa kamu gak trauma?" tanya Julian yang ternyata merasa ada yang ganjal dari Diana.
Pasalnya dari rentetan kejadian di masa lalunya Diana itu sangat tragis, tapi saat Diana di terapi dokter psikolog, dokternya mengatakan bahwa Diana tidak kenapa-napa. Otaknya berjalan seperti biasanya, tidak terlihat tanda-tanda trauma ataupun depresi.
"Apa? Maksudnya apa? Aku gak ngerti sama apa yang kamu bicarakan?" ucap Diana kebingungan.
"Sudahlah lupakan," balas Julian.
Diana nampak menghembuskan nafas beratnya sambil memalingkan tatapannya ke arah lain, setelah perjalanan yang cukup lama akhirnya mereka sampai di kantor polisi. Diana dan Julian masuk bersamaan ke kantor tersebut, setelah sampai di dalam ia langsung menghampiri Fikri yang sudah menunggunya di sana.
Julian dan Diana duduk di depan kursi Fikri, "Baik ada apa kau memintaku kemari?" tanya Julian.
"Ini ada CCTV yang kamu dapatkan dari rumah yang ada di depan rumah Anda," ucap Fikri sambil menunjukkan vidio singkat yang menunjukkan dua orang dengan pakaian serba hitam masuk ke rumah itu dengan cara memanjat.
Terlihat juga salah satu orang dari kedua pelaku itu menembak kamera CCTV yang ada di depan rumah Julian.
"Ini juga hasil otopsi yang sudah keluar dari pihak rumah sakit," ucap Fikri sambil memberikan sebuah surat.
"Wanita itu pertama di bunuh dengan cara di pukul menggunakan kayu, lalu setelah itu kepalanya di tembak dua kali. Karena di kepala korban di temukan dua peluru, setelah itu kepala korban juga lempar batu yang sudah ia bawa dari luar rumah tersebut, makannya saat di temukan kepalanya hancur, untuk membuat keadaan semakin hancur sepertinya pelaku juga memindahkan korban karena darahnya berceceran di lantai," jelas Fikri.
"Untuk saat ini belum, karena kedua pelaku tersebut bukan pembunuh biasa. Mereka bisa menyembunyikan identitasnya dengan sangat baik," balas Fikri.
"Boleh saya tanya sesuatu?" tanya Diana.
"Silahkan," balas polisi tersebut.
"Apakah mereka berdua pria?" tanya Diana.
"Seperti dari vidio ini, saya perkiraan mereka adalah wanita dan pria," balas polisi itu.
"Oh iya, beberapa hari yang lalu saya pernah dapat teror dan di sana ada sebuah foto yang di sananya juga ada sebuah tulisan dari darah, saya membawanya," Diana mengeluarkan sebuah foto dan kertas yang ia dapatkan dari terornya kemarin-kemarin.
"Kemarin saya juga tidak sengaja melihat tulisan di lantai yang juga di tulis oleh tinta darah, saya pikir tulisannya itu mirip, Anda pasti punya fotonya kan? Anda bisa buktikan sendiri ucapan ku," sambung Diana.
Fikri membuka ponselnya, ia memang memfoto tulisan kemarin untuk ia jadikan barang bukti atau petunjuk, ternyata ucapan Diana benar. Jadi kemungkinan besarnya orang itu adalah orang yang sama.
"Kapan kau mendapatkan teror ini?" tanya Fikri.
"Aku lupa kapan harinya, tapi aku menulisnya di sebuah buku. Nanti aku akan kirimkan hari, tempat, jam dan juga bagaimana letak kotak itu aku temukan," balas Diana.
"Kamu menulisnya?" tanya Julian sambil menatap Diana.
"Yah, aku berpikir itu akan di butuhkan suatu hari nanti, dan ternyata itu memang di butuhkan hari ini," balas Diana agak sedikit panik, Diana malah panik.
"Awalnya saya dan yang lainnya berpikir bahwa ini kelakuan seorang pembunuh berantai yang dulu pernah membuat kota ini ketakutan, tapi akhirnya saya pastikan bahwa itu bukanlah ulahnya. Karena dari yang saya liat caranya membunuh pun sangatlah berbeda, karena pelakunya sekarang dengan sengaja tidak membawa tubuh korban," jelas polisi itu kembali.
"Memangnya kasus pembunuh berantai yang dulu bagaimana?" tanya Diana penasaran.
"Iyah korbannya selalu hilang, dan hanya meninggalkan bekas api yang di gunakan untuk membunuh korbannya," balas Fikri.
"Oh, saya juga merasa kalau orang ini menulis dengan sarung tangan yang sama, Anda bisa mengeceknya," ucap Diana.
"Baiklah nanti saya akan cek," ujar Fikri.
"Tapi bagaimana kamu tau kalau ini sama?" tanya Fikri, ia merasa Diana kayaknya mengerti dengan beberapa petunjuk.
"Saya suka liat buku-buku detektif dan saya juga sedikit mempelajarinya," jawab Diana sambil cengengesan, raut wajahnya nampak berubah. Yang awalnya begitu berantusias mendadak kikuk.
"Sudah cukup kan?" tanya Julian.
"Iyah cukup, untuk hari ini sampai di sini saja. Nanti akan saya kabari kalau ada informasi baru," balas Fikri.
Diana dan Julian bangun dari duduknya dan mulai pergi dari sana, Julian membukakan pintu untuk Diana masuk ke mobil.
"Makasih sayang," balas Diana sambil tersenyum dan masuk.
"Sama-sama," Julian menutup pintunya kembali, lalu setelah itu Julian pun ikut masuk ke mobilnya.
Mereka kini sudah meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba Julian membawa Diana ke tempat dimana Julian sering menghabisi korbannya.
Hay semuanya, aku bakalan ganti judul sama sampul cerita ini. Tapi untuk alurnya aku gak bakalan ganti kok, rasanya judul sama sampul yang kali ini gak cocok.