Cycopathic And Secret

Cycopathic And Secret
Aku Khawatir



Dua hari berlalu setelah kejadian malam itu, Diana belum juga bertemu dengan Julian. Tiap malam Andi tidur di apartemen Diana untuk menjaganya, atas perintah Julian tentunya.


"Ih Julian mana sih?" tanya Diana sambil berjalan ke kanan dan ke kiri.


Andi yang tengah terduduk di sofa sampai pusing melihat apa yang Diana lakukan, "Lu ngapain sih? Ngalangin gue yang lagi nonton TV aja," ucap Andi.


Andi sedang menonton sebuah acara berita, si pembawa berita mengatakan menemukan tiga pasang kepala di sebuah jalan yang nampaknya tidak asing di kepala Diana. Saat mendengar itu Diana duduk di samping Andi sambil menatap televisi.


"Jangan-jangan," ucap Diana.


"Jangan-jangan apa?" tanya Andi sambil menatap Andi.


Diana tidak dapat melihat jelas kepala ketiga orang itu, karena di blur oleh pihak televisi.


"Ih jawab napa, jangan bikin gue kesel," ucap Andi yang penasaran dengan apa yang ada di pikirannya Diana.


Diana menatap Andi lalu menceritakan apa yang terjadi di malam itu, Andi nampak kaget mendengar ucapan Diana barusan.


"Apa jangan-jangan Julian yang lakuin itu?" Andi pun punya pikiran yang sama dengan Diana.


"Terus sekarang dimana Julian?" tanya Diana khawatir.


"Ah pria itu bikin kita pusing aja, aku telpon dia deh," balas Andi sambil mengambil ponselnya untuk menelpon Julian.


"Kalau bisa aku telpon sudah ku telpon sejak kemarin, lihat bahkan dia menyimpan ponselnya di sini," ucap Diana sambil menunjuk ponsel Julian yang ada di meja.


"Ahhhhhhhh," kesal Andi.


"Kalian mencari ku?" tanya seseorang yang sudah berdiri di pintu masuk.


Diana dan Andi langsung menatap ke asal suara, mata mereka membulat karena kaget. Diana berjalan ke arah pria itu lalu memeluknya, "Kamu bisa gak? Lain kali jangan buat aku kesel," tanya Diana di pelukan pria itu.


Ternyata dia adalah Julian, yah pria yang sedari tadi mereka bicarakan. Julian melepaskan pelukannya lalu menatap Diana, rupanya Diana malah sedang menangis.


"Kamu kenapa nangis?" tanya Julian sambil menghapus air matanya Diana.


"Aku khawatir sama kamu, aku takut kamu kenapa-napa, aku takut Julian," balas Diana sambil masih menangis.


"Aku gak papah Beby, aku baik-baik saja. Kamu tenang, lagian aku kan sudah ada di sini," ucap Julian sambil membelai rambut Diana lembut.


"Di sini masih ada gue kali, bisa gak usah romantis-romantisan sekarang kan?" ujar Andi sambil menatap Diana dan Julian yang sedang berpacaran.


Julian dan Diana langsung menatap ke arah Andi sambil tertawa kecil, "Aku lupa," balas Diana.


"Ya udah lu pulang aja sana, tugas lu udah selesai," Julian menyuruh Andi untuk pulang saja.


"Benarkah? Kau mengusir ku?" tanya Andi.


"Aku sudah mengirim uang ke rekening mu, jadi kau bisa pulang," balas Julian.


"Ah kalau begitu aku baru mau pulang, terimakasih sahabatku tercinta," ucap Andi senang sambil berjalan pulang dengan senang.


Diana dan Julian duduk di sofa dengan Diana yang terus memeluknya, tapi Diana teringat sesuatu sampai membuat Diana langsung terduduk dengan tegap sambil menatap Julian.


"Itu ulah mu?" tanya Diana.


"Ulahku? Apa nya yang ulahku?" tanya Julian santai.


"Yang tadi ada di berita mereka bertiga kan? Dan itu ulah mu?" tanya Diana sambil menatap Julian.


"Kenapa kamu lakuin itu? Aku kan udah bilang jangan lakuin hal seperti itu lagi. Kamu ini bagaimana sih?" tanya Diana sedikit marah pada Julian.


"Aku tidak akan pernah membiarkan kamu kenapa-napa, dan jika ada yang berani melukai mu atau membuatmu menangis aku tidak bisa tinggal diam. Aku akan membuat mereka lebih dekat pada tuhan," balas Julian santai dengan wajah tanpa dosanya.


"Tapi bisa tidak usah membunuhnya juga kan? Masih banyak cara lain selain itu Julian," ucap Diana yang merasa ada cara lain untuk membuat mereka jera dengan perbuatan.


"Aku kan hanya membantu mereka lebih dekat dengan Tuhan," balas Julian.


"Ah sudahlah terserah dirimu, tapi tolong jangan lakukan itu lagi," ucap Diana sembari memeluk Julian kembali.


"Aku akan berjanji, kita lihat saja nanti," balas Julian tidak mau berjanji kalau tidak akan membunuh manusia lagi.


"Ini kan masih sore makan yuk? Aku belum makan tau gara-gara nungguin kamu pulang," Diana mengajak Julian untuk pulang.


"Baiklah," balas Julian setuju.


Di tempat lain Andi saat ini sedang mengambil uang ke ATM untuk berbelanja, Andi mengajak kekasihnya untuk bertemu dan makan sore, sudah dua hari mereka tidak bertemu jadi Andi ingin bertemu dengannya hari ini.


Setelah menunggu di depan restoran akhirnya Lia pun datang menghampiri Andi, "Hay sayang, Julian nya udah pulang?" tanya Lia yang tau kalau Andi tidak dapat menemuinya karena menjaga Diana.


"Sudah, baiklah kita masuk sekarang," balas Andi sambil merangkul pinggang Lia dan berjalan dengan bersamaan menuju restoran tersebut.


Mereka duduk di meja samping kanan dekat jendela, "Mau pesan makanan apa?" tanya Andi.


"Mau Sushi, sama Ramyeon," balas Lia.


Andi memanggil pelayan restoran lalu memesan makanan dan juga minumannya.


"Gimana pekerjaannya? Berjalan dengan lancar?" tanya Andi.


Lia sudah masuk kerja di perusahaan Julian sebagai karyawan di bagian pengemasan barang-barang.


"Baik, semuanya berjalan dengan baik. Aku juga mau berterimakasih banyak dengan Julian," balas Lia.


"Nanti aku sampaikan," ujar Andi.


"Bolehkan aku sampaikan secara langsung pada Julian?" tanya Lia.


"Boleh kok, nanti kalau aku ketemu dengannya aku ajak kamu," balas Andi sambil tersenyum.


"Iyah," ucap Lia sambil membalas senyuman Andi.


"Emangnya Julian kemarin kemana?" tanya Lia.


"Em, dia keluar kota, ada urusan pekerjaan kayaknya," Andi tidak bisa jujur kemana Julian pergi kemarin.


Walaupun Lia pacarnya tetapi bagaimana pun ia tidak bisa mengatakan kondisi Julian yang sebenarnya seperti apa, bisa di bunuh jika ketahuan Lia tau siapa Julian yang sebenarnya. Jadi Lia tidak usah tau yang sebenarnya.


Makanan mereka pun datang.


"Abis ini kamu mau kemana lagi?" tanya Lia pada Andi sambil makan.


"Kayaknya aku harus pulang, aku mau tidur, capek jagain Diana," balas Andi, walaupun sebenarnya kerjaan dia di rumah Diana tidaklah berat. Ia tidur tepat waktu makan juga selalu tepat waktu, karena Diana juga sudah menganggap Andi sebagai kakaknya sendiri.


Mereka kembali melanjutkan makannya, setelah makan mereka pulang. Lia pulang ke rumahnya Andi karena ingin berada di dekat Andi untuk hari ini, lagian di rumahnya Andi tidak ada siapa-siapa.


Sementara itu di tempat lain Julian dan Diana baru saja akan pergi ke restoran untuk makan sore, Julian sedari kemarin belum makan sepertinya.