Cycopathic And Secret

Cycopathic And Secret
Pembalasan



Diana dan Julian sampai di apartemen Diana, Julian mendudukkan Diana di sofa. Saat ini Diana masih menangis, ia mengingat kejadian dulu saat ia di culik oleh kakaknya Julian.


"Hey, sudah jangan menangis. Kau sekarang sudah aman bersamaku di sini," ucap Julian yang duduk di samping Diana.


"Aku tidak bisa tenang, aku takut Julian aku takut," balas Diana yang saat ini pikirannya tidak tenang.


"Kita ke kamarmu yah, kamu tidur aja buat nenangin pikiran kamu," Julian membantu Diana untuk berjalan menuju kamarnya.


Setelah sampai di kamar Diana Julian menidurkan Diana di kasurnya, "Aku ke dapur dulu yah ambil minum buat kamu," ucap Julian.


Sambil menangis Diana pun menganggukkan kepalanya, beberapa menit berlalu Julian kini sudah kembali lagi dari dapur sambil membawa segelas air putih untuk Diana.


"Kamu minum dulu," Julian membantu Diana untuk duduk.


Diana pun duduk dan meminum sedikit airnya, setelah itu ia kembali menidurkan tubuhnya dengan tangan yang terus menggenggam tangan Julian.


"Jangan tinggalin aku di sini, aku takut," ucap Diana sambil menatap Julian yang saat ini duduk di samping Diana yang tertidur.


"Pokoknya kamu tenang saja, aku tidak akan membiarkan kamu kenapa-napa tenang saja," balas Julian.


Julian mengelus lembut kening Diana berkali-kali untuk membuatnya tertidur pulas dan tenang kembali, setelah beberapa menit menunggu Diana tertidur akhirnya Diana pun tertidur pulas sambil memeluk tangan Julian.


Dengan perlahan Julian melepaskan tangan Diana, ia menelpon Andi sambil berjalan keluar dari kamar Diana. Ia takut menganggu tidur Diana kalau menelponnya di kamar.


"Dimana?" tanya Julian saat Andi mengangkat telpon nya.


"Di rumah, ada apa lagi sih?" tanya balik Andi.


"Sekarang ke apartemen Diana, kau tolong jaga Diana dulu aku ada urusan mendadak," balas Julian.


"Emangnya mau kemana sih? Lagian ngapain harus di jaga sih? Biasanya juga kan Diana di sana sendirian," tanya Andi heran.


"Gak usah banyak tanya, pokoknya sekarang kamu kamu sini," balas Julian yang langsung mematikan telponnya secara sepihak.


Julian duduk di sofa untuk menunggu kedatangan Andi ke sana. Beberapa menit berlalu, Andi pun datang ke apartemen Diana.


"Gue pergi dulu, nanti gue ke sini lagi. Lu jangan pulang dulu sebelum gue balik lagi ke sini," titah Julian saat melihat Andi masuk.


"Baiklah," balas Andi.


Julian pun berjalan meninggal tempat itu, ia berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobilnya ada sebuah tempat yang ingin ia kunjungi terlebih dahulu untuk saat ini. Di perjalan wajahnya nampak tidak mengeluarkan ekspresi apapun, jadi sebenarnya tidak ada yang tau apa rencananya saat ini.


Tak di sangka, ternyata ia berhenti di sebuah rumah tua yang dulu sering ia kunjungi, setelah di larang oleh Diana ia tidak pernah mengunjungi tempat penuh dosa itu lagi. Julian turun dari mobilnya laku berjalan masuk ke rumah itu, Julian tersenyum miring saat melihat kedua peliharaan Harimau barunya.


Pelihara ia dulu sudah mati karena tidak di beri makan, ia beberapa hari lalu membeli Harimau lagi dari penjual ilegal temannya Andi untuk di jadikan peliharaannya lagi. Tapi saat ini Andi lah yang selalu memberi mereka makan, dagingnya sekarang daging sapi yahh bukan daging manusia seperti dulu.


"Malam ini aku berjanji pada kalian kalau kalian akan berpesta makanan, tunggu sampai aku pulang," ucap Julian, ia masuk ke kamarnya.


Di kamar ia berjalan mengambil sebuah peti di dalam lemari, ia membuka peti itu. Di dalam peti tersebut terdapat sarung tangan, topeng, topi, beberapa pisau kecil, tembakan dan juga sebuah jas.


Setelah semuanya terpakai Julian meninggalkan tempat itu lagi, lalu menaiki mobilnya untuk mencari orang yang tadi telah membuat kekasihnya menangis dan ketakutan.


Julian sudah menghafal merek mobilnya, nomor flat mobil dan juga bentuk wajah ketiga pria itu dengan baik. Kini ia hanya tinggal mencari ketiga orang tadi, ia sudah hafal dimana tempat para orang seperti mereka berkumpul.


Kalau tidak di klub malam untuk mencari mangsa yah berati di sebuah jalanan sepi, ia yakin kalau mereka semua pasti belum pulang ke rumahnya masing-masing. Kalaupun sudah pada pulang maka Julian akan membunuh mereka satu-persatu.


Julian mencari mereka ke beberapa klub malam, tapi rupanya mereka tidak ada di sana. Julian tadi melepaskan topeng, sarung tangan dan juga topinya sebelum masuk ke klub. Setelah menurutnya tidak ada di klub akhirnya ia mencari mereka di jalanan sepi, yang ada di beberapa tempat di jakarta ini.


Akhirnya setelah ketiga jalan sepi yang ia datangi kini mereka pun di temukan oleh Julian, mereka sedang nongkrong rupanya di sebuah warung kopi dengan dua orang wanita, senyuman iblis di wajah Julian mulai terlihat kembali.


Tidak mau gegabah Julian menunggu mereka pergi dari sana, setelah beberapa menit berlalu akhirnya ketiga pria itu pergi dari sana dengan kedua wanita itu. Mereka masuk ke mobilnya lalu menjalankan mobilnya dan pergi dari sana, dengan jarak yang agak jauh agar tidak terlalu di curigai Julian mengikuti mereka.


Di dalam mobil orang yang Julian incar rupanya sedang tertawa sambil bersenandung, mereka nampak sangat bahagia.


"Ah malam ini akhirnya aku punya teman juga," ucap seorang pria bernama Ian sambil merangkul pundak wanita yang duduk di sampingnya.


"Aku akan membuatmu puas malam ini, asalkan permintaan ku kau kabulkan," balas wanitanya.


"Akan ku lakukan, kau tenang saja," balas Ia sambil tersenyum senang. Ian menyenderkan kepalanya ke pundak Diana.


Tiba-tiba Kevin yang sedang menyetir mendadak mengerem mendadak membuat yang lainnya kesal, "Kau ini gila?" tanya Dika karena kelakuan Kevin yang mengerem mobilnya secara mendadak.


"Kau liat sendiri di depan ada mobil yang tiba-tiba berhenti," balas Kevin tak mau di salahkan.


Mereka pun menatap ke arah depan, dan ternyata benar saja, di depan ada mobil yang berhenti.


"Biar aku urus dia," ucap Ian dengan kesal turun dari mobil lalu berjalan menghampiri mobil itu.


Rupanya Kevin dan juga Dika ikut turun untuk memarahi si pemilik mobil tersebut yang berhenti seenaknya.


"Hey, keluar kau!" titah Ian sembari memukul kaca mobil depan dengan keras.


Nampaknya orang yang berada di mobil itu tak mau turun sama sekali, ia masih terdiam di mobilnya.


"Kayaknya dia takut deh sama kita," ucap Dika sambil tertawa meremehkan orang yang berada dalam mobil.


"Cepat buka, kau harus ganti rugi. Gara-gara kau kepala kami hampir geger otak," ucap Ian kembali.


Tiba-tiba sang pemilik itu menurunkan kaca mobilnya dan tanpa di sangka pria dalam mobil itu menembakkan peluru ke kaki ketiganya, membuat mereka terjatuh.


"Ah siapa pria itu, kenapa ia tiba-tiba menembak kita?" tanya Ian sambil menahan kesakitan nya.


Pria itu keluar dari mobilnya lalu memukul kepala mereka bertiga menggunakan pemukul bisbol, dan ketiganya pun pingsan.


Pria itu adalah Julian, ia tau kalau di mobilnya masih ada orang lain. Akhirnya sebelum pergi ia berjalan ke arah mobil mereka dengan tenang, sedangkan di dalam kedua wanita tadi sudah nampak ketakutan. Awalnya mereka mau kabur tapi nampaknya itu akan terlihat percuma saja, pada akhirnya pria itu akan menembaknya. Jadi ia akan memohon saja di hadapannya.