
Beberapa hari kemudian, hari ini Violet sudah dapat menjenguk Julian di rumah sakit, setelah beberapa hari kemarin Julian tidak di perbolehkan bertemu dengan siapapun selain perawat yang mengurusnya di sana.
"Hay baby," sapa Violet yang masuk ke ruangan itu sembari membawa bunga dan juga buah untuk kekasihnya itu.
Julian tersenyum tipis saat melihat Violet masuk, Violet mencium kening Julian lalu menyimpan bunga itu di meja.
"Bagaimana kabarmu? Masih sakit?" tanya Violet.
"Aku sudah tidak papah," balas Julian dingin.
"Oh iya, aku minta maaf yah. Karena aku kamu jadi kayak gini, mungkin kalau-" Tiba-tiba Julian menutup mulut Violet menggunakan telunjuknya, membuat Violet menghentikan ucapannya.
"Sudah jangan di teruskan, lagi pula ini bukan salahmu, pria itu menangkap ku karena salahku," potong Julian.
"Baiklah," Ucap Violet sambil menurunkan tangan Julian yang masih berada di mulutnya.
"Aku bawa buah buat kamu, makan buah yah," tambah Violet, Violet duduk di samping Julian. Julian pun mendudukkan tubuhnya sambil merangkul pundak Violet dan menyenderkan kepalanya ke lengan Violet.
Tiba-tiba Andi datang untuk menjenguk Julian, ia di beritahu Violet kalau Julian sudah bisa di jenguk.
"Ah kamu mah datang di waktu yang tidak tepat," ucap Violet sambil tersenyum.
"Biarin, lagian Julian lagi sakit jangan dulu di ajakin macem-macem," balas Andi, Andi berjalan menuju tempat tidur Julian.
Andi duduk di kursi yang ada di samping ranjang Julian, "Gimana udah agak enakan?" tanya Andi, sebagai teman yang baik ia juga khawatir dengan kondisi temannya itu.
"Yah seperti yang lu liat aja sekalian," bukannya Julian yang balas ini mah malah Violet.
"Gak nanya lu," ucap Andi.
"Tapi gue juga sama kena tembakan tau, harusnya lu juga nanya gue bambang," balas Violet sedikit berteriak.
"Sayang berisik nanti di denger orang suara kamu," ucap Julian.
"Oh iya maaf," balas Violet sambil menatap Julian dan cengengesan.
"Emang kamu ke tembak?" tanya Julian.
"Iyah cuman udah gak papah kok," balas Violet, kemarin perut Violet memang sempat tertembak, namun ia bisa mengambil peluru itu sendiri.
Jadi sekarang ia sudah baik-baik saja, lagian untuk Violet hanya kena satu tembak itu hanyalah hal biasa yang bisa ia atasi sendiri. Asalkan tembakan jangan ke tempat-tempat tertentu, seperti kepala, wajah, jantung, dan hatinya saja.
"Hari ini mereka bakalan pulang, lu gak mau perpisahan dulu gitu? Atau mau bilang terimakasih sama mereka?" tanya Andi pada Violet.
"Kapan berangkatnya?" tanya balik Violet.
"Nanti siang," jawab Andi.
Sambil ngobrol dengan Andi, Violet juga sembari menyuapi Julian buah-buahan yang tadi ia bawa.
"Katanya juag sih mereka bakalan di jemput langsung sama bos ku, karena mau memastikan juga berkas-berkasnya itu asli atau enggak," tambah Andi.
"Iyah," ucap Violet.
"Mau buah gak?" tanya Violet.
"Boleh," balas Andi.
Violet pun menawarkan buahnya pada Andi.
"Sayang aku pulang dulu yah," pamit Violet, tapi sebelum pamit Violet mencium kening dan mengelus Julian beberapa kali.
"Jangan lupa, abis dari sana langsung ke sini lagi," balas Julian, ternyata Julian masih rindu dengan Violet.
"Baik aku akan kembali ke sini setelah semuanya selesai," ucap Violet setuju.
Setelah berpamitan Violet langsung pergi dari sana, sedangkan itu di markas pertemuan bos dulu Violet sudah datang dengan beberapa anak buahnya termasuk seseorang yang dulu pernah membantu Violet menyamar menjadi Diana.
Violet sampai di markas itu dengan elegan nya Violet masuk dan menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sana, Violet menggunakan dress panjang berwarna hitam rambut ia sengaja tidak ia ikat. Ia juga menggunakan sepatu Hills yang juga berwarna hitam, di tangannya Violet menggenggam map berwarna coklat.
Lalu langkah indah Violet berhenti di hadapan seorang pria yang sudah tua namun masih terlihat gagah dan mempesona, Violet memberikan map itu.
"Inikan yang kau inginkan?" tanya Violet sambil memiringkan kepalanya sedikit.
Pria itu langsung mengambilnya dan memeriksa semua berkas-berkas itu, "Baik ini memang asli, aku ambil," balas pria itu.
"Ternyata tingkah mu tetap seperti dulu, walaupun sekarang wajahmu tak begitu terlihat bak iblis lagi," tambah pria itu.
Violet tersenyum tipis, "Oh bukannya sekarang kebanyak iblis memang bersembunyi di wajahnya yang imut kan?" tanya Violet.
"Yah mungkin kau benar, tapi sekarang waktu ku sudah habis (Melihat jam tangan), jadi aku harus pergi sekarang. Terimakasih sudah membantuku kembali," pria itu berjalan meninggalkan Violet.
"Tunggu," ucap Violet.
Pria itu kembali menghentikan langkahnya tanpa berbalik ke arah Violet. Violet berjalan ke hadapan pria itu kembali, "Aku punya satu permintaan sederhana padamu, maukah kau mengabulkannya?" tanya Violet.
"Katakan," balas pria itu.
"Jangan katakan pada siapapun lagi kalau aku masih hidup, jangan sampai ada orang yang tau kalau aku masih hidup di sini. Aku ingin menjadi Diana untuk selamanya," jelas Violet, ia hanya ingin kembali menjadi Diana lagi.
"Baiklah itu permintaan yang mudah, aku akan mengabulkan itu," menurut nya permintaan Violet itu sangatlah mudah.
"Ok, kalau begitu kau bisa melanjutkan langkahmu," Violet menggeser tubuhnya untuk mempersilahkan pria itu melanjutkan langkahnya.
Pria itu akhirnya benar-benar pergi dari sana di ikuti dengan yang lainnya, setelah Violet atau Diana melihat dia pergi ia baru sadar ternyata rekannya dulu tak ikut. Violet duduk di kursi lalu datanglah Andi yang ikut duduk di samping Kursi Violet.
"Di eh Violet," panggil Andi.
Violet langsung menatap Andi, "Panggil gue Diana aja, dan anggap kejadian kemarin itu Violet cuman seorang iblis yang datang sesaat buat bunuh Malik," balas Violet.
"Apa?" tanya Andi, walaupun ia mendengar ucapan Diana tak tau kenapa ia ingin kembali mendengarnya.
"Gak bisa di ulang," balas Diana sinis.
"Terus ngapain lagi manggil?" tanya Diana.
"Cuman mau tanya uang kemarin udah ku bagikan sama mereka," balas Andi.
"Yah terus?" tanya Diana.
"Yah udah gitu," balas Andi.
"Gak jelas lu," Diana berdiri dan berjalan meninggal tempat menyeramkan itu, Diana ingin kembali ke rumah sakit untuk melihat Julian, tetapi sebelum pergi ia akan membeli makanan terlebih dahulu.
Sementara itu kini Alika sudah benar-benar melupakan semua dendamnya pada Julian, alasan paling utaman nya adalah karena ia takut pada Violet. Ia tidak mau di bantai habis-habisan sama seperti Malik yang Violet bantai. Teman prianya Alika juga akhirnya ingin berbaikan dengan Julian karena alasan yang sama dengan Alika pastinya.