Cycopathic And Secret

Cycopathic And Secret
Aku Tidak Akan Berubah



Hari sudah mulai sore, Diana sudah menunggu di jemput Julian di depan gerbang bersama Cherly.


"Di pikir-pikir gue pulang dulu ajalah, soalnya kalau langsung ke rumah lu gue belum mandi di tambah mau ada perlu dulu sama Anggara," ucap Cherly.


"Ya udah sana kalau lu mau pulang dulu mah," balas Diana.


Cherly meninggalkan tempat itu dan mulai masuk ke mobilnya, setelah menunggu Julian cukup lama akhirnya pria itu datang. Diana langsung masuk ke mobil Julian saat itu juga, saat ini Julian nampak aneh, tak seperti biasanya.


"Kamu kenapa?" tanya Diana sambil menatap Julian yang sedari tadi kerjaannya hanya terdiam, bahkan menatap wajah Diana saja Julian tidak sama sekali.


Julian masih tak mau membuka mulutnya, ia langsung memajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Diana yang kaget langsung memegang erat pegangan mobil sambil menatap Julian.


"Kamu ini kenapa sih? Kalau ada masalah tuh bilang sama aku," ucap Diana yang kesal dengan kelakuan Julian.


Julian masih terdiam tanpa menatap Diana, akhirnya Diana pun menyerah untuk bertanya pada Julian, ia menunggu mereka sampai saja di apartemen untuk bertanya kembali kondisi Julian.


Beberapa menit kemudian mereka berdua pun sampai di apartemen, Julian menarik paksa Diana untuk segera masuk ke apartemennya.


Setelah sampai Julian melemparkan tubuh Diana ke kasur, dan itu benar-benar membuat Diana kesal, "Kamu kenapa sih?" tanya Diana kembali.


Julian mengeluarkan ponselnya dari daku lalu menunjukkan sebuah foto Diana, Diana terkejut tentang foto yang berada di ponselnya Julian.


"Aku minta maaf, tapi ini gak sama dengan apa yang kamu pikirkan, aku bisa jelaskan semuanya padamu," ucap Diana.


Julian merangkak menaiki tubuh Diana, Diana nampak ketakutan. Walaupun Julian pacarnya tetapi ia masih takut dengan kepribadian Julian jika sudah berubah seperti sekarang ini.


Julian menyentuh bibir Diana menggunakan jari tangannya, "Apakah aku harus membunuh pria itu?" tanya Julian sambil memiringkan kepalanya.


"Apa kamu gila? Jangan membunuh orang seenaknya," balas Diana.


"Apa kamu lupa? Aku kan memang gila," ucap Julian.


"Aku mohon jangan bunuh dia, aku cuman bantuin dia doang. Udah kok gak lebih," jelas Diana.


"Tidak, permintaan mu tidak di Terima. Aku akan tetap membunuhnya, walaupun tanpa persetujuan mu," kekeh Julian.


"Julian, jangan lakukan itu. Aku yakin semua masalah bisa di selesai tanpa kau membunuhnya, aku berjanji padamu kalau aku tidak akan dekat lagi dengan pria itu," Diana merayu Julian agar tidak membunuh pria yang ada di foto bersama Diana.


Julian duduk di samping Diana, Diana ikut terbangun dan merangkul pundak Julian sembari menyimpan dagunya di pundak Julian juga.


"Hatiku hanya untukmu, aku tidak akan pernah merubah hatiku apapun yang terjadi. Lagi pula setelah apa yang ku lalui dulu, itu tidak akan sebanding dengan apa yang akan ku lalui sekarang. Tolong jangan pergi atupun merubah hatimu untukku," ucap Diana sambil menyentuh dadanya Julian.


Julian mendekatkan wajahnya ke arah Diana, "Aku tidak akan pernah mengingkari janjiku, karena hanya pria bodoh yang melakukan itu," balas Julian sambil mencium bibir Diana.


Mereka pun menikmati ciuman itu, Diana kembali membaringkan tubuhnya sedangkan Julian pun kembali menindih tubuh Diana.


Di tempat lain saat ini Andi sedang bersama Lia di restoran, "Tumben hari ini kamu gak jagain Diana?" tanya Lia sambil makan.


"Hari ini Julian pulang lebih cepet, jadi aku bisa pulang lebih cepat juga," balas Andi.


Andi mendadak tersendat mendengar pertanyaan kekasihnya barusan, Lia pun langsung memberikan air minum pada Andi.


"Ih makannya hati-hati dong sayang," ucap Lia.


"Iyah maaf, abisnya aku kaget denger kamu ngomong gitu tentang Julian," balas Andi.


"Emangnya kenapa kalau aku tanya kek gitu? Kamu tinggal jawab aja susah banget sih," ucap Lia.


"Yah mungkin kan Julian tuh orang penting di perusahaannya, jadi dia gak mau para pesaing di perusahaannya nyakitin Diana. Kamu tau sendiri lah kalau dunia kayak gitu tuh gak seenak keliatannya," jelas Andi, ia mencoba menjelaskannya dengan sangat hati-hati, ia tidak mau salah bicara. Karena takut membuat Lia curiga.


"Oh, iya juga sih," Lia akhirnya percaya dan menganggukkan kepalanya.


Di tempat lain Cherly sampai di depan apartemen Diana, ia membunyikan bel lalu menunggu Diana membukakan pintu.Tak perlu menunggu lama akhirnya Diana membuka pintunya, Cherly yang sudah pegal akhirnya menerobos masuk tanpa menunggu Diana mempersilahkannya masuk.


Cherly duduk di sofa sambil merentangkan tangannya, sedangkan Diana hanya terdiam sambil menatap Cherly. Diana masih berdiri di depan pintu sambil memegang gagang pintu, "Dasar gak tau diri," umpat Diana bercanda.


"Biarin napa sih? Udah ah sini duduk! Gue bawain kamu makanan nih," balas Cherly sambil tersenyum dan menyuruh Diana duduk di sebelahnya.


Diana pun menutup pintunya dan duduk di samping Cherly, ternyata Cherly ke sini membawa banyak makanan untuk mereka habiskan malam ini bersama.


"Gue baru mau diet, eh lu malah bawa kayak gini," ucap Diana sambil menatap banyaknya kresek makanan yang Cherly bawa.


"Eh ngapain Diet? Hidup di dunia ini tuh gak usah mikirin penampilan kalau itu nyiksa diri kita sendiri, kita tuh sekarang harusnya nikmati aja apa yang Tuhan kasih buat kita," balas Cherly.


"Iya-iya terserah lu aja deh," ucap Diana sambil mengambil kotak pizza dan membukanya.


"Ada Julian?" tanya Cherly.


"Ada di kamar, dia lagi tidur," balas Diana sambil mulut yang penuh dengan pizza.


Cherly mengambil remote TV lalu menyalahkan televisi yang berada di depannya, ia menaikan kakinya ke sofa sambil memakan kripik singkong yang tadi ia bawa.


"Ambilin minum napa! Haus tau nih tenggorokan," ucap Cherly.


"Manja banget sih, Ambil sendiri aja kenapa sih?" balas Diana.


"Gak mau ah, kamu ambilin dong. Aku kan tamu kamu, sedangkan-" ucapan Cherly di potong oleh Diana.


"Iyah gue ambilin, maksa lu mah jadi tamu," potong Diana sambil beranjak pergi menuju dapur untuk mengambilkan minum.


Saat Diana ke dapur tiba-tiba Julian keluar dari kamarnya dan menatap Cherly yang sedang menonton televisi, Cherly menatap kagum pada Julian. Julian sangat tampan ketika bangun tidur, bahkan itu membuat Cherly tak mengedipkan matanya.


"Kenapa lu? Kek liat hantu," tanya Julian sambil menatap Cherly.


"Lu ganteng banget kalau kayak gitu, pantes aja Diana cinta mati sama lu," balas Cherly sambil tersenyum.