Cycopathic And Secret

Cycopathic And Secret
Berangkat Kuliah



Hari sudah kembali berlalu, Diana semalam menginap di rumahnya Julian untuk menemani ibunya Julian karena ia sepertinya masih terpukul atas kepergian suaminya tersebut.


Ini sudah pukul setengah delapan pagi, jadi Diana harus bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Hari ini adalah pertunjukan fashion show nya Diana, jadi ia tidak bisa bolos karena sudah mengambil keputusan menerima tawaran tersebut. Jadi mau tidak mau ia harus datang, ia harus bertanggung jawab.


"Tante aku gak papah tinggalin tante di sini sendirian? Kalau misalkan tante masih butuh aku, aku gak bakalan ke kampus aja deh," tanya Diana sambil menatap ibunya Julian yang berada di sofa ruang tengah.


"Kamu pergi aja, tante gak papah kok," balas ibunya Julian.


"Ya udah aku pergi dulu yah, jangan lupa makan yah tante, nanti tante sakit lagi," ucap Diana sambil berpamitan.


Sebelum pergi Diana bersalaman terlebih dahulu dengan ibunya Julian, setelah bersalaman Diana langsung berlari menuju ke arah luar. Tadi Julian pagi sekali sudah meninggalkan rumahnya entah kemana, bahkan saat Diana bangun pun pria itu sudah tidak ada di rumahnya.


Diana mencari taksi di depan rumah Julian, tapi tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di hadapannya, "Masuk," ucap seseorang di dalam mobil tersebut.


Diana membungkukkan kepalanya untuk melihat siapa pria yang berada di dalam mobil tersebut, "Oh kirain siapa," ucap Diana, setelah itu ia mulai masuk ke mobil tadi.


Mobil itu pun kembali berjalan untuk mengantarkan Diana pergi ke kampus, "Di suruh Julian?" tanya Diana.


"Iyalah, kalau gak di suruh sama Julian mana mau aku," balas Andi, ternyata orang yang berada di dalam mobil itu adalah Andi.


"Benar juga yah, tapi lu tau gak pagi ini Julian pergi kemana?" tanya Diana sambil menatap Andi, berharap Andi akan tau kemana Julian pergi.


"Tau, hari ini gue juga belum bicara apapun sama dia, belum ketemu juga," balas Andi yang memang tidak tau dimana Julian kini berada.


"Ih gue kira lu tau," Diana sedikit kecewa karena Andi tidak tau keberadaan Julian.


Ia hanya takut Julian melakukan hal yang gegabah, karena kemarin Julian cerita padanya kalau kematian ayahnya bukanlah karena penyakitnya. Melainkan adanya pembunuhan yang kemungkinan besar mengganti obat milik ayahnya dengan dosis yang berbeda.


Diana kembali menatap ke arah depan, ia pusing memikirkan Julian yang bisanya cuman bikin dirinya khawatir. Karena kalau di biarkan begitu bisa saja Diana mulai lelah dengan jalan kehidupan Julian.


Beberapa menit kemudian mereka berdua pun sampai di kampus, Diana turun dari mobil Andi. Tapi sebelum meninggalkan Andi, Diana menatap Andi terlebih dahulu dari jendela kaca dengan tatapan tajam.


"Jangan bilang Julian sewa lu buat mata-matain gue?" tanya Diana.


"Emangnya kalau iya kenapa?" tanya balik Andi.


"Ihhhhhhhhh gak lucu tau gak, lu mending pulang aja sana! Gue bisa jaga diri baik-baik kok," balas Diana yang meminta Andi untuk pulang saja.


"Tidak akan," balas Andi yang malah menutup jendela kaca tersebut, dan itu berhasil membuat Diana kesal.


"Ah terserah lu lah," pasrah Diana, wanita itu kini mulai berjalan menuju kampus. Tetapi tiba-tiba tubuhnya bertubrukan dengan seorang pria yang kelihatannya sedang terburu-buru.


"Aduh maaf yah? Kamu gak papah kan?" tanya pria yang menabrak tubuh Diana.


"Gak papah, gak papah apanya? Lu liat nih! Sakit tau," balas Diana sambil menegang kepalanya.


"Ih dasar cowok brengsek, sakit tau. Mana malah di tinggalin lagi, ahhhhh bikin kesel doang lu," umpat Diana sambil melanjutkan langkahnya.


"Hay cantik, gimana? Udah siap tampil," tanya Cherly yang mendadak berada di samping Diana.


"Diem lu, gue lagi kesel sama seseorang," balas Diana dengan nada yang masih terdengar kesal.


"Keselnya sama orang lain kok marah-marahnya sama gue sih, udah ah jangan marah-marah. Kita ke ruangan ganti, kan bentar lagi kamu mau jadi model," ucap Cherly sambil menarik Diana untuk pergi dari sana.


Sesampainya di ruangan ganti, di sana sudah ada seorang wanita yang waktu itu memohon bantuan pada Diana.


"Akhirnya kakak datang juga, aku udah tegang di kira kakak gak bakalan datang," ucap wanita itu sambil berjalan ke hadapan Diana.


"Kan aku udah janji, jadi aku gak bakalan mengingkarinya," balas Diana.


"Iyah kan soalnya kemarin ayah tirinya kak Julian pacar kakak meninggalkan," ucap wanita itu lagi.


"Kamu tau dari mana?" tanya Diana sambil menatap wanita itu dengan tatapan yang tak mudah di katakan.


Wanita itu langsung menatap Diana, "EM anu kak, dari temen aku yang kebetulan rumahnya ada di deket sana," balas wanita itu.


"Oh gitu," ucap Diana sambil menganggukkan kepalanya.


"Bentar yah Kak, bajunya lagi di bawa dulu sama temen aku," ujar wanita itu kembali.


Setelah menunggu hampir beberapa menit akhirnya pria yang membawa pakaian nya datang, wajahnya seperti tidan asing di mata Diana. Ia merasa pernah bertemu dengan pria ini namun entah dimana.


"Diana, Diana, Woy Diana lu liatin apa sih?" tanya Cherly membuyarkan lamunan Diana.


"Ih kaget," balas Diana kaget.


"Ngapain liatin tuh cowok ampe segitunya? Suka lu sama dia? Mau lu di kubur hidup-hidup sama Julian kalau ketahuan suka sama cowok lain?" tanya Cherly.


"Ya ampun lu apaan sih? Orang gue cuman liatin aja. Emang setiap orang yang kita liatin itu berarti kita suka sama orang itu? Kan enggak juga. Gue cuman ngerasa pernah ketemu sama dia tapi gak tau dimana," balas Diana.


"Eh kamu orang yang tadi aku tabrak kan? Sekali lagi maaf yah, tadi lagi buru-buru ambil baju soalnya takut telat," ucap pria itu sambil menatap Diana.


"Oh gue inget sekarang, lu yang tadi nabrak gue langsung pergi kan? Kurang ajar lu," akhirnya Diana ingat pria itu.


Di tempat lain Julian sedang berada di rumah sakit tempat dokter pribadi ayahnya bekerja, ada beberapa hal yang dokter itu ingin bicarakan pada Julian perihal kematian ayah tirinya. Karena ada beberapa hal janggal yang terjadi saat itu, dari mulai toples obat yang berbeda? Lalu sebuah air minum yang ternyata sudah tercampur beberapa bahan kimia di dalamnya. Tapi sepertinya air itu masih utuh belum ada yang meminumnya.


"Bagaimana hasil tesnya?" tanya Julian serius.


"Ini adalah hasil tes obat kemarin," dokternya itu memberikan sebuah kertas yang berisi hasil pemeriksaan obat kemarin.