
Diana membuka mata indahnya karena sinar matahari dari cela-cela jendela kamar masuk ke kamarnya dan menyinari matanya, saat Diana membuka matanya dengan lebar tiba-tiba ia melihat sesosok pria yang sudah tak asing lagi paginya.
Pria itu tengah terduduk di kursi samping tempat tidurnya sambil membawa nampan yang berisikan bubur dan juga air putih. Diana tersenyum ke arah pria itu sambil duduk di tempat tidurnya.
"Pagi-pagi gini udah di sini aja, bawain sarapan lagi," ucap Diana dengan suara bangun tidurnya.
"Kamu ke kamar mandi dulu sana, nanti kita sarapan bareng di sini," balas Julian datar.
"Baiklah sayang ku," setuju Diana sambil turun dari tempat tidurnya.
Ternyata yang datang tak lain dan tak bukan adalah Julian, Diana pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Di tempat lain saat ini ada satu orang wanita dan satu orang pria sedang mengobrol bersama.
"Bagaimana rencana mu? Apakah semuanya berjalan dengan lancar?" tanya si pria.
"Untuk saat ini masih berjalan sesuai rencana. Lalu bagaimana juga dengan rencana mu? Apakah berjalan sesuai rencana juga?" tanya balik si wanita.
"Yah sama, masih berjalan sesuai rencana. Tapi aku harap semuanya memang sesuai rencana, sebentar lagi Julian akan merasakan apa yang kita rasakan," balas si pria sambil tersenyum miring.
"Aku juga libatkan sahabatku yang masih kuliah untuk melakukan rencana ini, dan sepertinya itu pun berjalan sesuai rencana kita. Sekarang kita hanya perlu menunggu b waktu itu meledak di waktu yang sangatlah tepat," ucap si wanita.
"Ya udah siap-siap sana, bukannya nanti siang lu ketemu sama Julian," si pria meminta si wanita untuk segera bersiap-siap karena akan segera bertemu dengan Julian.
"Baiklah, aku pergi dulu," balas si wanita sambil meninggalkan tempat itu.
Sedangkan itu di tempat lain Julian dan Diana sudah mau berangkat menuju kampus Diana, "Yang," Diana memanggil Julian dengan agak ragu.
"Apa? Dan kenapa suara mu keliatan lagi ragu?" tanya Julian.
"Di kampus bentar lagi mau ngadain Kontes atau apalah itu pokoknya acara yang di adakan mahasiswa bagian fashion desainer dan aku di tawarin buat jadi modelnya, gimana? Boleh gak?" tanya Diana gugup.
Julian terlihat terdiam, membuat Diana ketakutan, "Kalau misalkan kamu gak boleh gak papah kok, beneran gak papah kok. Aku cuman mau tanya aja gitu sama kamu," sambung Diana.
"Boleh kok, kamu boleh ikut jadi modelnya. Tapi bilangin sama orang yang suruh kamu jadi modelnya. Jangan suruh kamu fashion show sama cowok," balas Julian datar.
"Beneran kamu boleh?" tanya Diana sekali lagi, ia tidak percaya dengan apa yang barusan Julian katakan.
"Iyah bener," balas Julian.
"Ah aku seneng banget, aku gak bakalan sama cowok kok yang," Diana benar-benar kegirangan saat ini.
Diana memeluk lengan Julian sebagai tanda Terimakasihnya. Sampailah mereka di kampus Diana, sebelum turun Diana menatap Julian dalam-dalam terlebih dahulu.
"Kamu di kantornya hati-hati yah, aku sayang kamu," ucap Diana sambil turun dari mobil tersebut.
Setelah Diana turun Julian memperhatikan Diana sampai Diana benar-benar masuk ke arena kampus, terlihat bibirnya menyunggingkan senyuman yang sangat manis. Walaupun ia sering bertingkah dingin pada Diana tetapi Julian sangatlah tidak mau kehilangan Diana, ia sudah menganggap Diana adalah miliknya yang tidak akan ia biarkan di ambil atau bahkan di sentuh orang lain.
Setelah ia melihat Diana masuk akhirnya Julian menjalankan mobilnya untuk pergi ke kantor, kebetulan ada orang yang ingin bertemu dengannya di kantor saat ini.
Sampailah Julian di kantor, dengan gagahnya ia berjalan ke arah ruangannya sambil memasukkan tangannya ke saku celana.
Para karyawan yang melihat Julian masuk ke kantor langsung memberinya sapaan, dan Julian pun membalasnya dengan senyuman.
"Julian," saat Julian masuk ke ruangannya tiba-tiba Andi langsung memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Julian sambil menatap Andi di depannya.
Andi berdiri di hadapan pintu, "Boleh minta tolong?" tanya balik Andi.
"Pacarku lagi butuh kerjaan, lu mau kan bantuin dia buat dapetin kerjaan?" balas Andi.
"Emangnya dia mau kerja apa?" tanya Julian.
"Apa aja, yang penting kerja gitu," balas Andi.
"Ya udah suruh dia menghadap aja," ucap Julian.
"Ah makasih yah," senang Andi.
"Apaan sih? Gue kan belum nerima dia jadi pegawai, gak usah seneng dulu," balas Julian dingin.
"Biarin, emangnya gue gak boleh seneng gitu?" tanya Andi.
"Kapan dia bisa bertemu denganku?" tanya Julian.
"Hari ini juga bisa, nanti aja pas makan siang," balas Andi.
Seseorang mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk," ucap Julian.
Ternyata yang mengetuk pintu tersebut adalah ayahnya Julian, tetapi sekarang ayahnya Julian membawa seorang wanita di sampingnya. Ia berpenampilan rapih dan juga terlihat lumayan cantik, wanita yang anggun.
"Pagi anakku," ucap ayahnya Julian sambil tersenyum dan berdiri di hadapan anaknya.
Julian menatap ayahnya dengan tatapan datar, lalu ia juga sekilas menatap wanita yang ayahnya bawa dengan sangat teliti.
"Pagi juga," balas Julian.
"Aku keluar dulu yah," Andi pamit keluar karena takutnya menganggu mereka.
"Gak usah keluar, duduk aja di sofa," balas Julian yang tidak mengizinkan Andi keluar dari sana.
"Baiklah," pasrah Andi yang langsung berjalan menuju sifa dan duduk di sana.
"Ayah datang ke sini bawa Alika. Alika ini anak temennya papa, dan dia mulai hari ini akan jadi asisten baru mu. Sepertinya kamu butuh satu asisten lagi," ucap ayahnya Julian.
Julian nampak sangat tidak setuju dengan apa yang ayahnya katakan, "Aku tidak butuh seorang asisten lagi, menurutku Andi juga sudah sangat cukup untukku," balas Julian yang langsung menolak tawaran ayahnya.
"Bisa bicara berdua saja di sana?" tanya ayahnya yang mengajak Julian bicara bersama dengannya di pojokan.
"Baiklah," setuju Julian, mereka pun berjalan menuju ke pojok dan mengobrol di sana.
"Ayah tau kan kalau aku tidak mau di bantah?" tanya Julian.
"Ayah juga tidak mau memaksa kamu kalau tidak punya alasan, ayahnya Alika memaksa ayah untuk menjadikan Alika sebagai asisten kamu. Kalau ayah tidak menuruti permintaannya maka kerjasama perusahaan kita akan di tolak," jelas ayahnya Julian.
"Emangnya kenapa harus mau jadi asisten ku? Dia kan udah kaya ngapain mau kerja lagi?" tanya Julian yang kebingungan.
"Ya mana ayah tau, pokoknya kita cari tau aja nanti," balas Ayahnya.
"Ya sudahlah, aku akan jadikan dia asisten ku," balas Julian.
Setelah pembicaraan mereka selesai akhirnya mereka kembali ke tempat semula dan mengatakan bahwa Alika di Terima kerja di sana menjadi asisten Julian.