Cycopathic And Secret

Cycopathic And Secret
Di kampus



Di kampus acaranya sudah di mulai beberapa menit yang lalu, kini hanya tinggal menunggu dia peserta lagi untuk penampilan Diana. Tapi kali ini Diana masih ribut dengan pria tadi, karena pakaiannya yang mereka berikan pada Diana tidak sesuai dengan yang ada dalam foto.


Pria itu bernama Melvin, rekannya wanita yang pada waktu itu meminta pada Diana untuk menjadi modelnya. Hari ini wanita itu agak tidak enak badan jadi sekarang wanita itu sedang di ruangan UKS, untuk menggantikannya jadi hanya Malvin lah yang mengurusnya.


"Ini gak sama kayak yang waktu itu," ucap Diana sambil menatap gaun putih yang menurutnya itu terlalu terbuka.


"Yang mana? Ini kok gaunnya. Cuman satu-satunya juga lagi," balas Malvin.


"Enggak, gue juga liat. Beneran bukan yang ini, ini mah gaun apa? Modelan kek begini mah gue juga bisa kali bikinnya," timpa Cherly setuju.


"Bener kan? Emang bukan yang ini," tanya Diana sambil menatap Cherly.


Cherly pun menganggukkan kepalanya.


"Ah udah ah, gue gak mau jadi modelnya. Ini tuh gak sesuai perjanjian," balas Diana, ia dan Cherly hendak meninggalkan tempat itu.


Tetapi tiba-tiba Melvin berdiri di depan Diana dan juga Cherly dengan raut wajah memelas, "Tolong lah, kita gak punya model lain. Kalau mau cari lagi juga ini waktunya udah mepet banget, tolong lah sekali ini aja. Kamu mau apapun aku bakalan berikan padamu," ucap Malvin.


"Ya udah deh, iyah gue mau," balas Diana tak tega melihat Malvin.


Cherly menarik Diana ke tempat yang sepi, "Lu yakin mau lakuin ini? Kalau Julian tau gimana? Dia pasti marah, lu tau sendiri kan Julian kek gimana kalau dia marah?" tanya Cherly.


"Lu tenang aja, yang penting gak ada orang yang kirim foto ku ke Julian aja," balas Diana, ia merasa kalau tidak ada yang mengirimkannya pada Julian, Julian tidak akan marah.


"Kalau ada gimana?" tanya Cherly kembali.


"Udah ah, jangan di pikirin, kasian tau, dia udah bikin ini semua dengan susah payah masa mau aku ancurin gitu aja," balas Diana.


Sedangkan itu di tempat lain kini Julian sudah berada di kantor, Alika berjalan menghampiri Julian yang tengah berada di ruangannya.


"Maaf Tuan, hari ini ada rapat," ucap Alika pada Julian.


"Tidak usah panggil saya Tuan, panggil saja saya Julian," balas Julian sambil tersenyum dan membalas tatapan Alika.


"Ah baiklah Tuan, eh maksud aku Julian," ucap Alika yang masih merasa kaku jika harus memanggil Julian dengan namanya.


"Ya sudah kita akan pergi beberapa menit lagi, kau siapkan dulu barang-barang yang harus kita bawa," balas Julian.


"Baik," balas Alika, wanita itu kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil buku dan barang-barang yang lainnya.


Sedangkan Julian kini mengambil jas nya yang ia simpan di sofa saat baru masuk, ia akan rapat di kafe dengan seorang pengusaha yang akan mengadakan kerja sama dengan Julian.


Alika kembali masuk ke ruangannya untuk menjemput Julian, "Saya sudah siap, bagaimana kalau kita berangkat sekarang?" tanya Alika.


"Yuk," balas Julian sambil berjalan keluar dari ruangan itu, di ikuti oleh Alika dari belakang.


Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil, "Kita ke kafe Cemara," ucap Alika mengingatkan Julian takutnya Julian lupa.


"Iyah," balas Julian dingin.


Ponsel Julian berbunyi, ia melihat notifikasi yang masuk ke ponselnya, dan tiba-tiba Julian menghentikan mobilnya secara mendadak membuat Alika kaget. Kepala Alika pun hampir terbentur ke mobilnya Julian.


"Eh maaf, kamu gak papah?" tanya Julian sambil menatap Alika dan memegang Alika.


"Ah gak papah kok," balas Alika sambil mencoba baik-baik saja. Padahal kepalanya agak sedikit sakit akibat benturan barusan.


"Gak usah, beneran aku gak papah kok. Emangnya barusan kamu kenapa?" tanya Alika penasaran kenapa Julian mengerem mendadak mobilnya.


Untung di belakang tidak ada mobil lain, kalau saja ada mungkin mereka sudah tabrakan.


"Gak papah kok, kita lanjutin lagi aja jalannya, nanti yang lainnya nungguin kita lama," balas Julian sambil memajukan kembali ponselnya.


Di tempat lain Diana baru saja selesai, ia sudah berganti pakaian lagi. Ia sudah berada di kantin bersama Cherly, mereka tengah makan siang, acara tadi membuatnya kelelahan.


"Pulang dari sini lu mau kemana?" tanya Cherly dengan mulut penuh makanan.


"Gak tau, tapi kayaknya aku bakalan langsung pulang aja deh ke apartemen," balas Diana santai.


"Aku ikut deh ke apartemen kamu, soalnya lagi males di rumah," ucap Cherly yang ingin ikut bersama Diana.


"Ok, gue juga bosen di apartemen sendirian," balas Diana setuju.


Tiba-tiba Melvin duduk di samping Diana, Diana menatap Melvin dengan tatapan risih.


"Gak papah kan aku duduk di sini?" tanya Melvin sembari menatap Diana dan Cherly bergantian.


"Gak papah sih, Cuman kek yang gak ada tempat aja lu duduk di sini?" balas Diana sinis sembari memalingkan tatapannya ke arah depan.


"Aku sendiri, kan gak asik kalau sendirian. Jadi pengen bareng kalian gitu biar asik," ucap Melvin.


"Sok kenal banget sih lu jadi orang, kebiasaan deh orang-orang mah, kalau di kasih hati suka minta jantung. Untung juga kan tadi lu Diana tolongin," timpa Cherly sedikit tidak suka pada Melvin.


"Kan kita udah kenal tadi, jadi aku gak sok kenal gitu. Di tambah emangnya gak boleh yah aku deket sama kalian? Kan cuman mau deket doang," balas Melvin.


"Ah sudahlah terserah kamu," ujar Diana tak mau ambil pusing.


"Oh iya, kalian udah punya pacar?" tanya Melvin.


"Emangnya kenapa nanya gitu? Gak baik tau baru kenal udah tanya kek gitu," balas Cherly.


"Ih maksud aku tuh kalau kalian punya pacar aku gak bakalan terlalu deket gitu, kek jaga jarak aja gitu. Soalnya nanti kalian malah ada yang marah lagi, kalau enggak ada pacar mah kan jadi agak lebih bebas aja gitu," jelas Melvin.


"Udah kita berdua udah punya pacar," balas Diana.


"Oh gitu yah," ucap Melvin sambil menganggukkan kepalanya.


"Iyah begitu," balas Cherly.


"Eh bentar," Melvin membersihkan mulut Diana yang saat itu ada sisa makanannya.


Diana terdiam sambil menatap Melvin, ia kaget dengan apa yang Melvin lakukan. Namun tiba-tiba ia sadar dan segera menepis tangan Melvin yang ada di wajahnya.


"Gue bisa sendiri," ucap Diana sembari memalingkan wajahnya.


"Yah gue cuman mau ngambil sisa makanan yang nempel di wajah lu aja," balas Melvin.


"Iyah makasih udah di ambilin," ucap Diana tanpa menatap wajah Melvin.