
Beberapa bulan setelah kejadian, hari ini Diana dan Julian berniat pindah negara. Mereka sudah mendapatkan identitas baru dari bos Diana, mereka akan pindah ke Amerika dan kepindahan itu pun akan membuat Diana kembali kerja seperti dulu.
Yakni menjadi pembunuh bayaran, namun kali ini akan sedikit berbeda karena ia akan bersama dengan Julian, yang artinya Julian akan menjadi rekan Diana.
Kini Julian dan Diana sedang ingin berpamitan pada Andi, Reksa dan yang lainnya.
"Hari ini aku akan pergi dari sini, aku tidak akan membahayakan kalian semua lagi. Karena walaupun aku tetap menggunakan indentitas Diana, para musuhku akan tetap mencari ku, apalagi setelah kejadian kemarin. Kita tidak tau apakah ada yang lepas dan kabur kan? Dan orang yang kabur kemarin mungkin saja membocorkan identitas ku," jelas Diana.
Diana berdiri di samping Julian sembari menggandeng tangannya.
"Yah kalau gue sih gimana baiknya aja, tapi kalau kalian butuh bantuan kalian tinggal bicara aja yah. Nanti kita semua pasti bantuin kok," balas Andi, ia sudah lama mengenal Julian. Walaupun kelakuan Julian memang gila, tetapi Julian tidak pernah melukainya.
Melainkan Julian selalu menolongnya, jadi Andi sudah benar-benar menganggap Julian sebagai keluarganya sendiri.
"Yah sebenarnya aku tidak suka dengan duniaku, tapi inilah duniaku dan sepertinya sampai kapanpun aku tidak akan bisa keluar dari duniaku, ini salahku sendiri sih kenapa dulu harus memilih dunia yang seperti, tapi tak apa. Mungkin kalau bukan duniaku yang yang seperti ini aku tidak akan bertemu dengan Julian, pria yang saat ini akan hidup di duniaku," ucap Diana sambil menatap Julian dan mengelus lengannya.
"Baiklah kita pamit, sebentar lagi pesawat kita akan berangkat," tambah Diana.
Saat mereka akan pergi tiba-tiba Cherly dengan nafas tak beraturan datang dan berhenti di hadapan Diana, "Kamu kok gak bilang sih mau pergi sekarang," ucap Cherly sambil memegang tangan Diana.
Diana tersenyum, "Aku gak sanggup mengucapkan salam perpisahan padamu," balas Diana.
"Tapi walau bagaimanapun kau harus berpamitan dengan ku, atau kalau tidak aku akan menyusul mu ke Amerika," ujar Cherly, tanpa sadar Cherly menjatuhkan air matanya.
"Maafkan aku yah, aku telah merebut kehidupan sahabat mu," Diana meminta maaf pada Cherly atas apa yang telah ia lakukan.
Cherly memeluk Diana, "Jangan minta maaf tetang itu, ini sudah takdir Tuhan. Lagi pula dia meninggal bukan karena mu, jadi kau tidak perlu minta maaf," balas Cherly.
"Sekarang aku benar-benar akan pergi, satu pesanku, jangan terlalu banyak minum alkohol itu bahaya untuk kesehatan mu," ucap Diana, Cherly memang wanita yang kecanduan Alkohol.
"Kenapa kau pergi dari sini? Apakah kehidupan mu saat ini tidak nyaman?" tanya Cherly sambil melepaskan pelukan Diana dan menatap Diana dengan tatapan sendu.
"Aku gak mau membahayakan orang yang bahkan tak tau masalahnya apa? Di luaran sana sekarang sudah banyak musuhku yang sudah mengincar ku karena tau aku masih hidup, jadi aku gak mau kalian juga kenapa-napa karena aku," jelas Diana sambil menghapus air mata Cherly.
"Tapi bukannya mereka bilang gak bakal kasih tau kalau kau masih hidup," balas Cherly.
"Tetap saja, ini tidak akan segampang itu. Begini saja suatu saat nanti aku akan sering mengunjungi mu di tempat rahasia," ucap Diana.
"Kau janji yah," Cherly menjulurkan jari kelingking pada Diana.
Perusahaan Julian semuanya di tanggung jawab Andi, tetapi semua pendapatannya akan di bagi dua dengan Julian. Setelah beberapa menit kemudian Diana dan Julian sudah berada di pesawat, mereka tengah menikmati indahnya pemandangan alam dari atas.
"Indah yah," ucap Diana.
Julian hanya membalas ucapan Diana dengan anggukan kecil kepalanya.
"Yang kenapa kau mau ikut denganku? Padahal ini bahaya untukmu," tanya Diana sambil menatap Julian Dalam-dalam.
"Ini juga duniaku, kau tenang saja aku sudah terbiasa dengan hal seperti ini," balas Julian santai.
"Ini tak pernah semudah itu yang, terlalu banyak musuh untuk di hadapi. Di tambah kita tidak akan pernah bisa hidup tenang, aku hanya tak mau nanti aku harus kembali memilih antara hidupku dan hidupmu lagi," ucap Diana yang tak mau membahayakan Julian.
"Kau jangan pernah meremehkan ku, aku lah yang sekarang akan menyelamatkan mu," balas Julian.
"Baiklah aku percaya itu," Diana memeluk Julian dengan erat.
Sedangkan itu di tempat lain Cherly sedang bersama Anggara di mobil, mereka berdua akan pergi ke tempat dimana Diana yang alsi di kuburkan.
Cherly sedari tadi kerjaannya hanya melamun tak karuan, ia sedih karena di tinggal Violet. Ia sudah menganggap wanita itu sebagai sahabatnya, jadi itu sedikit susah untuk ia lupakan.
Setelah beberapa menit kemudian mereka berdua sampai di tempat peristirahatan terakhir Diana, Cherly bergandengan turun dari mobil. Sesampainya di sana Cherly langsung berjongkok sambil memegang segenggam tanah, "Kenapa kau pergi dariku, kenapa kau harus pergi dengan cara seperti ini," ucap Cherly.
Anggara hanya terdiam sambil memandangi Cherly, ia ingin membiarkan Cherly melepaskan semua kesedihannya terlebih dahulu.
"Aku sekarang memang tak mungkin juga menyalahkan Violet, karena dia juga tidak membunuhmu. Tapi aku sangat menyayangkan nya, kenapa ia tidak bilang padaku kalau kau memang sudah tidak ada," ucap Cherly dengan suara sedikit tak jelas.
"Maafkan aku karena tidak ada di tempat kejadian, aku benar-benar minta maaf tidak ada di sampingmu di saat terkahir hidupmu," tambah Cherly, ia menghapus air matanya menggunakan punggung tangannya.
Anggara berjongkok di samping Cherly sambil merangkul pundak Cherly, "Jangan terlalu sedih yah, ini sudah jalan terbaik yang Tuhan berikan pada kita, setidaknya dengan adanya Violet kamu jadi bisa lebih lama bersama dengan Diana," timpa Anggara.
Cherly menyenderkan kepalanya ke pundak Anggara, "Iyah aku tau itu," balas Cherly.
"Sekarang kau baik-baik yah di sana, aku akan lebih sering mengunjungi mu nanti, jangan khawatirkan aku, hidupku akan tetap berjalan apapun yang terjadi," tambah Cherly.
Cherly menaburkan bungan ke atas makan Diana, lalu ia juga menyiramkan air yang ia bawa ke atas makan Diana. Setelah itu Cherly dan Anggara pergi dari sana, karena hari juga sudah semakin sore.
"Aku pulang yah, jangan lupa tetap bahagia," pamit Cherly sembari melengkungkan senyuman manisnya.