
Waktu terus berlalu kini semua murid telah pulang dengan berbondong-bondong menuju parkiran
Berbeda dengan gadis cantik ia Begitu malas untuk kembali kerumah yang nampaknya adalah rumah bagi setiap orang untuk bisa melepaskan segala keresahan namun itu tidak berlaku untuknya baginya dirumah mentalnya menjadi berantakan
Clarissa yang dulu adalah gadis ceria dan selalu bahagia semenjak kepergian ibunya Clarissa menjadi gadis pendiam dan dingin terlebih saat ayahnya memilih menikah dengan sahabatnya sendiri
Clarissa yang tak menerima pernikahan ayahnya membuat ayahnya menjadi seorang pria yang Clarissa benci
Huh
Menghembuskan napas kasar Clarissa akhirnya memutuskan bangkit dan meraih tas ranselnya Clarissa berjalan nampak Sunti dan sepi karena semua telah pulang Clarissa memasuki mobil kesayangannya dan melajukan untuk pulang ke rumah
Setibanya di rumah Clarissa dengan berat hati melangkah masuk
"Sayang kau sudah pulang?" Tanya Adel
Clarissa tak menjawab hanya menatap tajam pada wanita yang berada di depannya terlihat ia bersama dengan ayah
melangkah masuk tanpa harus menjawab pertanyaan dari wanita yang begitu ia benci melihat itu ayah Clarissa menjadi murka
"Apa kau bisa hah" bentak ayahnya
Sontak Clarissa menghentikan langkahnya menatap ayahnya kemudian tersenyum kecut pada pria paru baya yang dulu adalah cinta pertamanya
Pernikahan ayahnya baru menjelang beberapa bulan saja namun ayahnya sudah nampak bukan seperti ayahnya
"Cla capek yah" ucapnya melangkah pergi
"Clarissa " teriak ayahnya
"Sudah lah mas biarkan anak kita istirahat" ucap Adel tersenyum
"Dia keterlaluan padamu sayang" ucap ayah Clarissa dengan lembut
Cup
Adel mencium lelaki di depannya dengan tanpa rasa jijik sedikitpun
"Kau ingin membuat ku memakan mu sekarang sayang"
Keduanya pun larut dalam gulatan penuh keringat tanpa keduanya sadari Clarissa memandang keduanya dari lantai atas
"Menjijikkan"
Ucap Clarissa
"Sudah cukup sekarang waktunya membuat dua benalu tunduk padaku" ucapnya dengan senyum devilnya
Clarissa melangkah turun sambil memenang satu map coklat di tangannya Clarissa menatap dua orang yang belum menyelesaikan kegiatannya berjalan memungut baju mereka yang berserakan di lantai Clarissa melempar dengannya dengan keras hingga menengai wajah Adel
Keduanya langsung menghentikan kegiatan panasnya Adel yang melihat Clarissa memengan handphone di tangannya dengan buru-buru ia mengambil pakaian dan memakainya
"Clarissa" bentak ayahnya
Clarissa menatap tajam pada pria yang begitu ia benci
Clarissa tak menjawab ia justru melempar dokumen yang sedari tadi ia bawah
"Apa ini sayang?" Tanya Adel berusaha lembut
"Itu tentu pembagian harta untuk tuan Abyan" ucapnya
Mendengar itu keduanya merasa senang dengan wajah bersinar tuan Abyan mengambil dan membacanya
"Apa-apaan ini hah" bentaknya
"Clarissa mengapa isinya hanya satu minimarket?" tanya Adel
Clarissa menyinggung senyumnya dan mendudukkan dirinya di sofa
"Bukannya itu memang harta tuan Abyan?" tanyanya
"Clarissa " geram tuan Abyan
"Tapi cla kita masih sekolah dan kamu tak mengerti bisnis biar ayahmu yang mengurus semuanya"ucap Adel dengan lembut
"Nyonya Abyan saya tak perlu nasehat anda saya bisa mengurus perusahaan dan beberapa bisnis milik bunda saya " ucapnya
"Tapi bukannya sebaiknya itu"
"Diam" bentak Clarissa yang sudah muak dengan wajah sok polos milik Adel
"Heh anak kurang ajar jangan membentak istri saya" teriak tuan Abyan
"Aiss,,tuan Abyan sebaiknya suruh Istri anda untuk hormat pada nyonya di rumah ini dan satu lagi mulai besok kau akan turun menjadi staf biasa" ucap Clarissa hendak pergi
"Cla tapi mama banyak kebutuhan sayang" lirih Adel berusaha untuk mengambil hati Clarissa
Lagi-lagi Clarissa tersenyum sinis melihat air mata palsu milik sahabatnya itu berbalik badan dan menatap wanita itu
"Tenang saja saya akan memunuhi itu semua" ucapnya membuat Adel tersenyum senang
"Tapi dengan satu syarat kau harus menjadi pembantu yang baik" ucap Clarissa
"T-tapi"
"Shittt,,jika kalian berdua tak terima silahkan angkat kaki dari rumah saya"
Clarissa tak memperdulikan keduanya ia melangkahkan kakinya menuju kamar
"Mas bagaimana ini" ucap Adel pada suaminya
"Diamlah setidaknya kita masih bisa tinggal di sini" ucap ayah Clarissa
Disisi lain Keenan sedang duduk di gazebo halaman belakang mansionnya menatap lurus kedepan isi kepalanya terus memikirkan gadis yang ia temui disekolah
"Mengapa aku memikirkannya " gumamnya sambil menggeleng kepala
"Sayang kau sedang apa?" ucap Clara yang sudah ada di samping putranya
"Mommy"
Clara mengelus rambut Keenan dengan penuh kasih sayang kemudian tersenyum hangat pada putranya
"Kau sedang memikirkan apa hm"
"Memikirkan kekasihnya mom" ucap Kania
Clara menatap netra mata putranya " apa itu benar?" Tanyanya
"Tidak mommy Kania berbohong"
"Lalu mengapa kau kelihatan gugup hah"
"Shittt diamlah Kania" ketus Keenan
"Keenan tatap mommy" ucap Clara
Keenan menuruti keinginan ibunya menatap netra mata lembut ibunya yang kian menjadi sendu apa ibunya marah pikir Keenan
"Mommy Keenan tak memiliki kekasih percaya lah jangan dengarkan Kania mom" ucap Keenan dengan cepat
Clara tersenyum hangat kemudian kembali memeluk kedua anak-anaknya
"Mommy tak marah jika kalian berdua sudah memiliki kekasih tapi ingatlah sayang fokus lah pada impian kalian " ucapnya
"Dan kau Keenan jagalah kekasihmu jaga perasaan dirinya "
"Keenan janji mommy "
Ketiganya berpelukan cukup lama saat sedang berpelukan tiba-tiba seseorang datang memeluk dengan erat
"Apa kalian melupakan Daddy" ucap Leo
"Tentu tidak tuan" ketus Kania